Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Rengekan


__ADS_3

"Terimakasih sudah menerima Kei untuk menginap di rumah ini. Maaf juga kalau mungkin Kei nakal atau merepotkan kalian" ucap Mama Nei.


Saat ini Mama Nei dan Mama Ningrum sedang berada di ruang tamu. Sedangkan Lili ditemani oleh Kei sedang membereskan semua perlengkapan bocah cilik itu di kamar. Mama Nei dan Mama Ningrum saling berbincang terutama mengenai Kei yang menginap semalam.


"Kei sama sekali tak merepotkan kok. Dia juga nggak nakal, justru saya senang karena ada Kei di sini. Rumah jadi ramai, biasalah kalau hanya punya anak tunggal yang udah besar pasti ya suasananya sepi" ucap Mama Ningrum sambil terkekeh geli.


"Sama. Di rumah kalau cuma ada Aldo juga sepi. Mana tuh anak wajahnya datar dan nggak pernah senyum lagi. Tambah suram kan suasana rumah" timpal Mama Nei sambil tertawa.


Mama Ningrum juga ikut tertawa mendengar apa yang diucapkan oleh Mama Nei. Ia menyetujuinya, terlebih saat melihat raut wajah Aldo yang tak pernah senyum itu. Membayangkan kalau suasana rumah sangat sepi dan begitu suram karena penghuninya pun langsung menggelengkan kepalanya.


Keduanya asyik berbincang seperti dua orang teman lama yang baru bertemu. Bahkan keduanya tak menyadari kehadiran Kei dan Lili yang sudah duduk di ruang tamu. Apalagi kedua wanita paruh baya itu duduk saling berhadapan dan seakan fokus dengan pembicaraannya.


"Oma dan nenet tok acik banet docipna, ante? Apa meleta ndak cadal cudah ada tita di cini?" tanya Kei pada Lili yang duduk di sampingnya.


"Mereka bukan gosip, Kei. Tapi lagi ngomongin orang" ucap Lili sambil terkekeh geli.


"Cama caja dong, ante" seru Kei sambil memelototkan matanya.


Tentu saja seruan Kei itu membuat terkejut Mama Ningrum dan Mama Nei. Keduanya segera mengalihkan pandangannya kearah Kei yang menatap Lili dengan sedikit sinis. Keduanya baru sadar kalau sudah ada Lili dan Kei di sana. Keduanya malah memberikan cengirannya karena merasa tertangkap basah sedang bergosip.


"Dangan ajak nenet buwat docip dong, oma. Yebih baik colawatan dalipada docip" ucap Kei.


"Ish... Siapa juga yang sedang gosip, Kei. Kita ini lagi bicarain trend tas dan fashion tahu. Ah... Cowok mah nggak akan paham" ucap Mama Nei memberi alasan.

__ADS_1


Tadi memang kedua wanita paruh baya itu sedang membicarakan mengenai fashion dan tas setelah berbincang tentang Kei. Keduanya seakan sudah klop karena selera tas dan fashion yang hampir sama. Bahkan mereka merencanakan untuk berbelanja bersama.


"Ish... Payin pitim nih, oma. Kei nelti tok. Oma mawu nabisin wuwang opa tan? Hayo... Kei bilanin opa nih lencanana" ucap Kei dengan sedikit mengancam Mama Nei.


Lili dan Mama Ningrum hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah lucu Kei. Bahkan mata Kei yang menatap selidik kearah Mama Nei itu begitu menggemaskan. Sedangkan Mama Nei kesal dengan cucunya yang seakan ingin menjatuhkan harga dirinya.


Padahal memang benar adanya kalau dia menghabiskan uang suaminya untuk belanja. Walaupun suaminya tak pernah juga protes karena uangnya takkan habis kalau ia gunakan. Namun yang membuatnya kesal pada cucunya itu kenapa harus diucapkan di depan oranglain.


"Sudah nggak papa, mbak. Lagian kita memang yang harus menghabiskan uang suami biar uangnya nggak menjamur di lemari" ucap Mama Ningrum yang seakan membela Mama Nei.


"Tuh kan benar apa yang dikatakan nenekmu. Kasihan uangnya nanti kalau jamuran karena nggak digunakan" ucap Mama Nei dengan nada sombongnya.


Tentu saja Kei yang kalah dalam berdebat dengan omanya itu langsung memeluk Lili. Lili yang mengerti kekesalan Kei pun langsung mengelus lembut punggung bocah kecil itu. Gerutuan lirih yang hanya bisa Lili yang mendengarnya itu pun membuat gadis itu menahan tawanya.


Tentu saja Kei langsung menegakkan kepalanya tiba-tiba membuat Lili sedikit terkejut. Apalagi mendengar ajakan dari Kei yang membuatnya sedikit terkejut. Mama Nei pun langsung menatap cucunya yang sepertinya sangat kesal padanya.


"Aduh... Bisa digeprek papamu nanti oma kalau nggak pulang sama kamu" ucap Mama Nei dengan hebohnya.


"Bialin. Cekalian caja dideplek patek cabe ima belas" seru Kei acuh tak acuh.


Tentu saja Mama Nei langsung memelototkan matanya mendengar ucapan Kei itu. Ia seakan tak terima dengan Kei yang sepertinya mempunyai dendam padanya. Kei pun malah langsung berdiri dari duduknya kemudian menarik tangan Lili.


"Ayo, ante" rengek Kei yang kekeh dengan keinginannya.

__ADS_1


"Kei harus pulang, nak. Papanya kangen lho, masa tega biarin papa rindu sama Kei" ucap Lili membujuk Kei.


"Ndak, Kei malas ulang" ucap Kei dengan masih merengek.


Lili langsung menatap mamanya dan Mama Nei untuk meminta pertolongan. Sepertinya ini semua karena Mama Nei yang terlalu mengusili cucunya sehingga Kei tak mau pulang. Mama Nei pun langsung saja berdiri kemudian duduk di samping Lili.


"Kei, ayolag pulang. Maafin oma ya karena jahilin dan ngajak debat kamu" ucap Mama Nei dengan tatapan memelas.


"Kei ndak atan luluh cama wadah memelas oma. Oma pintal ektin" ucap Kei yang langsung mengalihkan pandangannya.


Mama Nei langsung menganga tak percaya mendengar apa yang diucapkan oleh Kei itu. Sungguh ia tak menyangka kalau kali ini Kei tak terpengaruh dengan wajah memelasnya. Padahal ia sudah berakting sebagus mungkin namun ternyata Kei tahu kalau itu hanya sandiwara saja.


"Itu oma beneran sedih lho, Kei. Masa nanti malam nggak tidur bareng sama Kei lagi. Pasti opa juga sedih di rumah" ucap Lili membujuk Kei.


"Ohong ih... Tan Kei tidulna cendili, tadang cama papa" ucap Kei memberi alasan.


"Kalau gitu, berarti papa yang nanti sedih karena dua harian tidak tidur dengan Kei" ucap Mama Ningrum yang ikut membujuk.


"Nenet dan ante mau ucil atu dali lumah ini ya? Tok pada nyuluh Kei ulang cih. Talian ndak cenang talo atu ninap di cini?" tanya Kei dengan wajah sedihnya.


Tentu saja Lili dan Mama Ningrum langsung gelagapan karena ucapan dari Kei itu. Mereka tak bermaksud untuk mengusir Kei. Ini semua memang karena Aldo tak mengijinkan Kei menginap. Aldo ingin tidur bersama anaknya malam ini sehingga menyuruh mamanya membujuk Kei agar pulang.


Namun kini malah Kei seperti ngambek pada Mama Ningrum dan Lili. Tentu saja hal itu membuat keduanya gelagapan dan panik sendiri. Ternyata Kei bisa salah paham juga dengan tindakan yang mereka lakukan. Lili langsung menatap mamanya yang juga merasa tak enak hati.

__ADS_1


"Gini aja deh, Kei maunya gimana? Kami nggak bermaksud mengusir kamu lho. Hanya saja kan Kei mempunyai orangtua yang merindukan anaknya pulang. Kei boleh kalau mau menginap di sini lagi, tapi pulang dulu ya hari ini" ucap Mama Ningrum memberikan saran dengan lembut.


__ADS_2