Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Kejutan


__ADS_3

"Pa, lihat ini..." seru Mama Irene dengan mata membulat sambil menatap sebuah kertas putih yang dipegangnya.


Papa Madin dan Mama Irene yang tadi sehabis membagi-bagikan uang ke para tetangga sekitar itu pun setelah selesai langsung saja kembali pulang. Mereka segera kembali ke rumah karena sudah tak tahan dengan bau yang ada di sekitar lingkungan kontrakan itu. Mereka tentu beralasan ingin memulung dengan membawa sebuah karung yang ada di pundaknya.


Saat mereka tengah beristirahat di kamar, ada seseorang yang mengetuk pintu rumah membuat Mama Irene langsung saja membukanya. Dahinya mengernyit heran saat melihat ada seorang berpakaian rapi dengan jas hitam dibadannya datang dengan membawa sebuah amplop putih.


"Cari siapa, tuan?" tanya Mama Irene penasaran.


"Saya hanya ingin mengantarkan ini kepada Tuan Madin" ucap laki-laki itu sambil menyerahkan sebuah amplop.


Mendengar ucapan dari orang didepannya ini sontak saja membuat Mama Irene mengernyitkan dahinya heran. Namun tak ayal Mama Irene segera saja mengambil sebuah amplop yang disodorkan. Bahkan orang yang datang itu langsung saja pergi tanpa mengucapkan kata pamit membuat Mama Irene kebingungan.


"Jangan-jangan ini cek lagi didalam amplopnya" gumam Mama Irene yang kemudian langsung masuk dalam rumahnya.


Mama Irene bisa berpikiran seperti itu karena hari ini sudah banyak kiriman amplop yang dalamnya merupakan uang untuk Papa Madin. Sehingga Mama Irene menduga jika dalam amplop ini sebuah cek karena tipis tak seperti yang sebelumnya. Dengan langkah cepat, Mama Irene langsung saja masuk dalam kamarnya untuk menemui suaminya yang sedang tidur.


Dengan tak sabar, Mama Irene membuka amplop itu kemudian membaca tulisan yang ada di kertas itu. Matanya membulat saat sudah membaca tulisan yang ada di kertas itu. Raut wajahnya terlihat panik dan khawatir karena ternyata apa yang dipikirkannya tak menjadi kenyataan.


"Apa sih, ma? Ada yang ngirimin duit lagi?" tanya Papa Madin yang samar-samar mendengar suara istrinya.


"Bukan, pa. Kita dapat somasi dari Arlin" serunya dengan tatapan tak percaya.

__ADS_1


Papa Madin yang tadinya memejamkan matanya dan hanya mengubah posisi tidurnya itu pun langsung saja duduk dari baringannya. Matanya langsung melotot tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh istrinya. Papa Madin langsung merebut kertas yang ada ditangan istrinya itu kemudian membacanya secara langsung.


Memang benar adanya jika yang datang tadi merupakan salah satu tim pengacara Arlin yang mengurus masalah ini. Arlin mengajukan somasi sekaligus peringatan kepada Papa Madin agar bilang kepada semua orang kalau apa yang diceritakannya itu tak benar. Papa Madin juga harus meminta maaf kepada Arlin secara terbuka. Kalau dalam 1x24 jam tidak dilaksanakan, maka dengan paksa akan ada laporan kepolisian.


"Kita tak mungkin melakukan ini. Bisa digeruduk banyak orang yang sudah kasih uang kalau sampai mereka tahu jika kita hanya bersandiwara" ucap Papa Madin dengan raut paniknya.


"Tapi kita juga nggak bisa mengabaikan ini, pa. Apalagi Aldo yang tanpa kasihannya akan tetap melanjutkan proses hukum kalau sampai kita tak mengikuti ini" ucap Mama Irene ketakutan.


Tentunya mereka berdua takut akan banyaknya orang yang membenci keduanya karena menipu dengan sandiwara yang diciptakan. Terlebih lagi mereka harus mengembalikan uang donasi padahal semuanya sudah keduanya gunakan. Keduanya pusing sambil mengacak rambutnya tak gatal karena pikirannya seketika buntu.


"Kita temui Arlin, minta maaf lalu kasih uang padanya agar mau diam saja" ucap Mama Irene memberikan ide.


"Uang dia sudah banyak, mana mau terima duit kita yang nggak seberapa. Kita juga mau menemuinya dimana? Baru mau masuk perusahaan dan area komplek mansion Aldo saja sudah diusir sama satpam" ucap Papa Madin.


"Coba dulu, pa. Ayo kita ke perusahaannya" ucap Mama Irene sambil menarik tangan suaminya.


Mereka pun langsung berganti baju kemudian bersiap-siap ke perusahaan Arlin. Sebisa mungkin mereka ingin menemui Arlin dan meminta maaf namun tak perlu didepan media. Hal ini karena ia tak mau kalau sampai reputasi yang dibangunnya kemarin hancur seketika. Ia masih tak menyangka kalau Arlin ternyata bergerak secepat ini.


***


"Kita mau ketemu sama Arlin, penting" seru Papa Madin yang ditahan didepan perusahaan anaknya oleh satpam.

__ADS_1


Tentunya kedatangan Papa Madin di perusahaan ini membuat satpam langsung gerak cepat mengamankan. Apalagi hari ini sudah banyak orang yang mendatangi perusahaan ini demi bertemu dengan Arlin akibat video yang viral itu. Beberapa karyawan perusahaannya kebanyakan tak percaya pada Papa Madin karena sudah tahu bagaimana sifat aslinya.


"Tidak bisa. Bu Arlin tak bisa diganggu dan anda juga tak boleh memasuki area perusahaan lagi" seru satpam itu.


Memang Arlin dan Aldo masih ada di perusahaan ini namun wanita itu sudah bilang kalau dirinya tak mau menemui siapapun. Bahkan perusahaan lain yang sudah mendapatkan surat dari Arlin tentang ganti rugi pun tak diindahkan sama sekali kehadirannya. Bagi Arlin, sekali sudah tak membuatnya mood maka ia takkan pernah mau untuk ditemui oleh orang itu.


"Itu Arlin..." seru Mama Irene sambil menunjuk kearah satu keluarga kecil yang sedang berada di lobby perusahaan.


Disana ada Arlin yang memangku anaknya dengan didorong kursi rodanya oleh Aldo. Mereka yang sebelumnya saling tertawa dengan bercanda ria itu pun langsung menatap malas kearah seseorang yang memanggilnya. Bahkan Kei sudah menyembunyikan wajahnya pada dada sang mama.


Aldo tetap melajukan kursi roda Arlin dengan biasa saja seakan tak menganggap jika ada dua orang itu. Saat mereka akan mendekati keduanya, satpam langsung saja memegang erat tangan Papa Madin dan Mama Irene.


"Arlin, papa ingin bicara sebentar dengan kamu" seru Papa Madin dengan tatapan memelasnya.


"Bagaimana kejutan yang ku berikan untuk kalian? Sudah sampai?" tanya Arlin dengan sinisnya.


Arlin dan Aldo terkekeh sinis melihat wajah pucat yang terlihat pada mereka. Mungkin mereka tak menyangka jika Arlin bisa mengucapkan hal seperti itu. Arlin sudah begitu muak dengan apa yang dilakukan oleh Papa Madin dan Mama Irene itu. Ia sudah sakit hati dengan kelakuan mereka dan hanya ingin segera membalas semuanya.


"Kejutan apa?" tanya Papa Madin dengan canggung.


"Tentunya surat somasi dong. Saya tunggu permintaan maaf di medianya, kalau tidak ya katakan selamat datang penjara" ucap Arlin.

__ADS_1


Segera saja Aldo mendorong kursi roda Arlin melewati kedua orang yang memberontak dalam pegangan satpam. Mereka segera pergi dan masuk dalam mobilnya untuk pulang ke mansion.


__ADS_2