Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Gara-Gara Macan


__ADS_3

"Memangna da macan di mencen Kei? Celama Kei inggal di cini, ndak ada tuh macan. Talo di cini yang dalak tayak macan ya tuh papa" ucap Kei dengan polosnya malah menunjuk kearah Aldo.


Padahal Lili tak bermaksud untuk menunjuk langsung pada Aldo namun anaknya malah memperjelas. Lili hanya bisa menahan tawanya mendengar apa yang diucapkan oleh Kei. Sedangkan Aldo mendengus kesal karena merasa diejek oleh anak dan mahasiswanya itu.


Aldo yang kesal dengan keduanya itu pun memilih pergi dari ruang tamu. Aldo memilih untuk masuk dalam kamarnya buat membersihkan dirinya. Sedangkan Kei hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena bingung dengan sikap papanya itu.


"Ante Lili napa?" tanya Kei sambil menatap kearah Lili yang seperti menahan sesuatu.


"Eh... Nggak papa kok. Macannya sekarang sudah pergi. Jadi ayo kita bermain bersama, mumpung tante ada di sini" ajak Lili mengalihkan pembicaraannya.


Kei pun hanya menurut saja kemudian mengajak Lili pergi ke kamarnya. Tentu saja di sana mereka akan bermain dengan berbagai mainan dan permainan yang ada di kamar itu. Kei begitu bahagia karena bisa merasakan diajak bermain oleh sosok seorang wanita dewasa seperti ibunya.


Tanpa mereka semua sadari, semua kejadian itu tak luput dari pandangan Mama Nei dan Papa Tito. Keduanya yang tadi mendengar suara panggilan Kei memanggil seseorang pun langsung membuntutinya. Alhasil mereka mendapatkan pemandangan yang begitu menghangatkan hati. Ingin sekali kalau mereka bisa bersatu, namun semua ini hanyalah masalah waktu.


"Jangan berharap lebih dengan mereka, ma. Nanti jatuhnya malah kecewa kalau keduanya tak bisa bersatu. Kita berdo'a saja demi kebaikan mereka, semoga saja kalau jodoh ya segera dipersatukan" ucap Papa Tito.


"Iya, bahagia sekali hati ini melihat senyuman Kei" ucap Mama Nei sambil tersenyum kearah suaminya.


***

__ADS_1


"Ante, Kei cenang cekali kalna belmainna ada yang temani lho. Biacana cih ada temani, api tuma bibi dan oma. Yang lainna cama cekali ndak temani, apaladi papa" ucap Kei terus berceloteh saat ditemani bermain oleh Lili.


"Oh ya? Mungkin papanya Kei sedang sibuk dengan pekerjaannya jadi tidak bisa menemani. Kamu harus mengerti kalau papa sibuk bekerja juga karena biar bisa beliin kamu makanan" ucap Lili mencoba bijak dalam menasihati Kei.


Pasalnya saat dirinya masih menjadi Arlin, Aldo memang sangat sibuk bekerja sehingga jarang menemani Kei bermain. Kei pun jadi sering bertemu dengan Aldo karena Arlin waktu itu sering mengajak anaknya ke tempat kerjanya. Sungguh hal itu mungkin takkan pernah dirasakan lagi oleh Kei karena Arlin sudah meninggal.


Sedangkan untuk pendamping Aldo nanti, seharusnya bisa mendekatkan hubungan Kei dengan papanya. Namun jika calon istri Aldo tak bisa melakukan hal itu, sudah pasti hubungan keduanya akan semakin renggang. Lili mengelus lembut rambut Kei sambil tersenyum bahagia.


"Talo papa ndak kelja belalti Kei ndak matan ditu, ante?" tanya Kei dengan polosnya.


"Iya dong karena semua bahan makanan yang dimasak itu harus dibeli pakai uang. Kecuali kalau Kei bisa menanam semua sayuran dan bumbu sendiri, tinggal petik deh. Itu pun paling tidak harus mengeluarkan uang untuk perawatannya. Jadi jangan mengeluh ya kalau papanya sibuk. Suatu saat nanti, papa juga akan meluangkan waktunya untuk Kei kalau pekerjaannya tinggal sedikit" ucap Lili memberitahu.


Kei yang mendengar hal itu langsung menganggukkan kepalanya dengan antusias. Kei bahkan langsung berdiri dari duduknya kemudian memeluk Lili dengan erat. Entah mengapa, nasihat yang diberikan oleh Lili itu semakin mengingatkannya pada Arlin yang baru sadar dari komanya.


Lili yang mendengar gumaman pelan itu hanya bisa mengelus punggung Kei dengan lembut. Andai ia bisa mengucapkan sesuatu kalau yang ada dalam tubuh Arlin waktu itu adalah dirinya. Namun tak mungkin juga ia mengatakan hal itu pada Kei karena semua kejadian itu berada di luar nalar manusia.


***


Kei dan Lili keluar dari kamar setelah gadis itu memandikan bocah cilik itu. Kei yang tadinya akan dimandikan oleh salah satu maid langsung menolak kemudian meminta Lili membantunya mandi. Lili pun merasa tak keberatan dengan permintaan Kei.

__ADS_1


"Wah... Cucu oma seharian ini enggak kelihatan batang hidungnya ternyata lagi sama Tante Lili" ucap Mama Nei yang melihat kedatangan cucunya bersama dengan Lili.


"Oma uga ndak nyaliin Kei tok" ucap Kei membela diri.


Mama Nei hanya menatap sinis kearah Kei. Pintar sekali cucunya itu membela diri sehingga dirinya merasa dipojokkan. Padahal biasanya Kei yang akan mencarinya namun ini malah cucunya yang ingin dicari. Kei pun langsung duduk di kursi sofa yang ada di ruang keluarga.


"Tante, emm... Lili harus pulang dulu karena hari sudah sore. Khawatir kalau nantinya orangtua Lili cariin" ucap Lili yang langsung berpamitan.


Apalagi pertemuan sebelumnya itu membuat Lili merasa canggung berada di dekat Mama Nei. Mama Nei yang mendengar pamitan dari Lili itu langsung berdiri kemudian merangkul pundak gadis itu. Mama Nei sedikit menarik bahu Lili agar duduk di sofa ruang keluarga.


"Kenapa kamu buru-buru? Nggak takut sama mama kan ya? Kan waktu itu sudah mama bilang panggilannya apa kok sekarang jadi berubah menjadi tante lagi sih" ucap Mama Nei sedikit kesal.


Sebenarnya Mama Nei tahu kalau Lili ini merasa sedikit canggung dengannya karena pertemuan di kampus waktu itu. Apalagi waktu itu Mama Nei lebih banyak diam karena kesalahpahaman. Namun kini Mama Nei sudah sadar kalau perbuatannya itu salah sehingga memilih untuk mendekatkan diri pada Lili.


"Oma, angan buat ante Lili tatut dong. Cini cama Kei aja, ante. Talo oma dahat ama ante, Kei atan indungi engan cedenap jiwa dan laga" ucap Kei dengan percaya dirinya.


Mendengar ucapan dari Kei itu sontak saja membuat Mama Nei dan Lili terkekeh pelan. Sungguh lucu sekali tingkah bocah kecil itu dalam mencairkan suasana yang tegang itu. Akhirnya Lili dan Mama Nei malah berbincang seru hingga gadis itu lupa kalau harus segera pulang.


"Saya kira kamu sudah pulang. Mau ikut makan malam juga di sini?" tanya Aldo yang tiba-tiba saja datang ke ruang keluarga.

__ADS_1


Sontak saja pertanyaan yang diajukan oleh Aldo itu membuat Lili dan Mama Nei terkejut. Pasalnya itu malah terkesan seperti sebuah usiran halus pada Lili. Lili menjadi canggung rasanya karena kehadirannya di sini begitu tak diharapkan oleh Aldo. Bahkan malah seperti dikira akan menumpang makan.


Mama Nei menatap tajam kearah Aldo yang wajahnya sama sekali tak menampilkan rasa bersalahnya. Aldo bahkan langsung duduk di samping Kei yang juga menatapnya dengan sinis.


__ADS_2