
Aldo yang melihat anaknya dibawa kabur oleh Lili itu pun langsung berseru tentang anaknya yang diculik. Sontak saja beberapa orang yang ada di sana hanya bisa menahan tawanya. Pasalnya Lili itu sudah terkenal dengan dekat bersama Kei juga Mama Nei. Jadi tak mungkin kalau Lili akan menculik Kei, sehingga mereka memilih untuk diam di tempatnya.
"Hei... Dia itu penculik anak. Gimana kalau Kei sampai dijual?" seru Aldo yang kepanikan sendiri.
"Neng Lili mah nggak mungkin menculik Den Kei, Pak Aldo. Kan biasanya memang mereka berdua duduk makan siang di kantin. Sama mamanya Pak Aldo juga. Paling juga Neng Lili lagi ngajak jalan-jalan di taman kampus" ucap salah satu ibu kantin.
Aldo kesal karena tak ada yang mempercayainya. Saking kesalnya, Aldo memilih untuk pergi saja dari kantin. Meninggalkan semua orang yang tampak menahan tawanya. Melihat Aldo pergi, Fina yang masih duduk di sana langsung tertawa terbahak-bahak.
Hahahaha...
"Asli ini mah, gokil. Tuh Lili juga berani banget langsung gendong dan bawa pergi Kei. Siap-siap aja tuh anak kena amukan Pak Aldo. Cari gara-gara aja sih" ucap Fina sambil tertawa.
Fina pun memilih untuk membayar makanan yang tadi sudah dimakannya dan juga Lili. Ia segera mencari keberadaan Lili dan Kei yang kemungkinan juga akan diamuk oleh Aldo. Fina tak bisa membayangkannya kalau sampai Lili diomeli Aldo karena seenaknya membawa Kei.
***
"Celu cekali, ante" seru Kei yang sangat senang karena bisa kabur dari papanya.
Hah... Hah... Hah...
Lili mencoba menetralkan nafasnya karena berlari sambil menggendong Kei. Bahkan kini Lili membawa Kei keluar kampus. Berbeda dengan prediksi ibu-ibu kantin yang ada di sana. Lili membawa Kei ke warung depan kampus karena di sana juga ada Pak Yono, sopir keluarganya.
"Talik napas, kelualkan..." titah Kei pada Lili.
Lili pun melakukan apa yang diucapkan oleh Kei itu. Jantung Lili masih berdetak begitu kencangnya dan pernafasannya belum teratur. Bahkan Lili seperti tengah memacu adrenalinnya akibat kejadian barusan. Ia bahkan sudah terlihat seperti penculik yang pintar.
__ADS_1
"Maafkan tante yang membawamu pergi dari papa ya, Kei. Habisnya tante kangen sekali dengan Kei ini" ucap Lili setelah berhasil menetralkan pernafasannya.
"Ndak apa, ante. Ladian Kei duga cuka tok talo dibawa peldi cama ante" ucap Kei dengan antusias.
Keduanya pun segera masuk dalam warung itu dan duduk di sebelah Pak Yono. Bahkan Pak Yono yang sangat terkejut dengan kedatangan Lili juga Kei itu hampir saja menyemburkan minuman yang baru ia minum. Apalagi melihat wajah anak majikannya yang bercucuran keringat seperti habis berlari jauh.
"Lho... Katanya mau bimbingan skripsi sama dosen, neng. Kok ini baru satu jam di dalam kampus udah keluar saja" ucap Pak Yono dengan mengernyitkan dahinya heran.
"Dosennya belum datang, pak. Makanya Lili mau makan di sini dulu" ucap Lili dengan santai.
Pak Yono hanya menganggukkan kepalanya kemudian matanya tertuju pada bocah kecil yang kini duduk berada di tengah-tengah antara dia dengan Lili. Pak Yono seperti mengingat-ingat dengan siapa bocah cilik ini. Namun tak berapa lama, ia mengingatnya karena pernah datang ke rumah majikannya.
"Mau pesan apa, neng?" tanya Pak Yono.
Pak Yono menganggukkan kepalanya kemudian meminta pada penjualnya untuk menyediakan apa yang diinginkan oleh Lili. Sedangkan Lili dan Kei sendiri malah berbincang seru. Di sana juga ada beberapa mahasiswa yang sedang nongkrong. Namun itu bukanlah warung tongkrongan anak geng-geng begitu.
"Ante, tau ndak? Kei celing ke kampus lho buwat caliin ante. Eh malah temuna cama Ante Pina. Dia ilang talo Ante Lili cudah lama ndak ke kampus. Ante Pina mau antal Kei ke lumah ante, tapi atu ndak mawu coalna ental papa malahin" ucap Kei sambil mengerucutkan bibirnya kesal.
"Maafin tante karena nggak datang ke kampus lama ya, Kei. Habisnya tante bingung mau ngapain ke kampus, kan udah nggak ada kuliah" ucap Lili dengan sedikit merasa bersalah.
Kei pun menganggukkan kepalanya mengerti. Pak Yono datang dengan membawa gorengan dan biskuit untuk keduanya. Bahkan Lili juga menyuapi Kei dengan pisang goreng yang masih hangat. Kei begitu suka dengan apa yang dibawakan oleh Pak Yono itu. Apalagi ini baru pertama kalinya ia makan gorengan seperti ini.
"Nenak banet, ante. Becok buwatin Kei tayak dini ladi ya" ucap Kei mengungkapkan keinginannya.
"Siap... Oh ya, oma sama opa ke luar negeri ya?" tanya Lili pada Kei.
__ADS_1
"Iya. Katana cih ndak tau campe tapan di cana. Kei tadina mau diajak cama oma, api tuh papa malah-malah dan nomelin oma" ucap Kei yang mengadu pada Lili.
Lili terkekeh pelan mendengar aduan dari Kei itu. Apalagi perubahan wajah Kei yang kesal karena perbuatan Aldo itu. Gemas sekali ia melihat wajah Kei yang menggemaskan. Sedangkan Pak Yono hanya mendengarkan perbincangan mereka yang terlalu heboh itu.
"Kei oleh ninap di lumah ante ndak?" tanyanya.
"Emm... Boleh sih, Kei. Tapi minta ijin sama papamu itu lho yang susah" ucap Lili yang meluruhkan bahunya lesu.
Bahkan ia merasa sedikit bersalah kepada Kei. Apalagi melihat wajah sedih Kei. Ia tak bisa mendapatkan ijin dari Aldo karena peperangan antara keduanya masih berlangsung. Akhirnya keduanya pasrah saja hingga nanti ada keajaiban sehingga Kei bisa menginap di rumah Lili lagi.
***
Sedangkan di sisi lain, Aldo sedang mencari keberadaan Kei dan Lili di taman kampus. Namun di sana ternyata tidak ada batang hidung keduanya. Aldo hanya bisa mendengus kesal karena merasa dibohongi oleh salah satu penjual di kantin.
"Sialan... Dosen pintar kaya aku dibohongin gini" kesalnya.
"Kemana lagi tuh orang nyulik Kei" lanjutnya sambil mengedarkan pandangannya kearah sekitar kampus.
Tak disangka, ia melihat teman Lili yang tadi juga berada di kantin. Ternyata Fina yang keluar area kampus membuat Aldo langsung mengikutinya dari jauh. Ia yakin kalau Fina itu akan pergi menemui Lili. Ia pastikan kalau nanti akan segera bertemu dengan Lili dan Kei.
Namun dahinya mengernyit heran karena Fina pergi keluar kampus. Sepertinya Aldo salah dalam menebak kemana perginya Fina. Sekarang malah Aldo berpikir jika Fina akan pulang ke rumah. Aldo pun memilih berhenti mengikuti Fina kemudian membalikkan badannya. Namun mendengar suara panggilan itu membuat Aldo membalikkan tubuhnya kembali.
"Wooooyy... Lili..." seru Fina sambil melambaikan tangannya dari arah luar warung.
Bahkan kini Aldo menyipitkan matanya untuk melihat siapa yang melambaikan tangan dari dalam warung itu. Sedikit tak jelas, pasalnya jarak yang lumayan jauh. Juga warung yang hanya sedikit terbuka bentuknya hingga sangat susah. Namun mendengar seruan itu tentunya Aldo tahu dengan siapa yang dimaksud.
__ADS_1