
Lili mendumel terus menerus setelah mendapatkan gombalan receh dari Aldo. Bahkan Lili sampai dibuat terdiam apalagi melihat raut wajah Aldo yang seakan mengejeknya. Untung saja wajah Lili tak memerah bahkan tidak salah tingkah sama sekali.
"Awas aja tuh dosen dingin. Bakalan aku bejek-bejek mukanya biar nggak songong lagi" gumam Lili sambil meremat bantal yang ada di pangkuannya.
Aldo dan Mama Nei memang sudah pulang sejak satu jam yang lalu. Tak lupa kalau setelah mengucapkan gombalan receh itu, Aldo terus saja menggoda Lili. Walaupun Lili tak terpengaruh sama sekali karena hatinya sudah terlalu sakit dengan ucapan Aldo. Tak lupa dengan traumanya yang sampai saat ini masih terus membekas dalam ingatannya.
"Nak, boleh mama tanya sesuatu?" tanya Mama Ningrum hati-hati.
Pasalnya sedari tadi Lili menampakkan raut wajah kesal dan gemas secara bersamaan dengan meremat bantal terus menerus. Hal ini membuat Mama Ningrum penasaran sekaligus khawatir. Ia juga ingin sekali untuk anaknya itu bisa terbuka kepadanya.
Masih mending ini melampiaskan semua masalahnya pada bantal, nantinya ia khawatir kalau pelampiasannya berbeda. Makanya kini ia memilih untuk menanyakannya langsung. Lili yang mendengar suara dari mamanya pun langsung mengalihkan pandangannya kearah wanita paruh baya itu.
"Tanya apa, ma?" tanya Lili sambil menghela nafasnya pasrah.
"Kamu ada hubungan dengan si Aldo, dosen kamu itu?" tanya Mama Ningrum dengan kikuk.
"Ada" jawab Lili singkat.
Sontak saja Mama Ningrum langsung menutup mulutnya tak percaya. Ternyata apa yang dipikirkannya tentang yang diucapkan oleh Mama Nei itu benar adanya. Walaupun sebenarnya tak ada yang salah dengan hubungan keduanya itu, namun Mama Ningrum seperti merasakan sesuatu yang tidak nyaman.
__ADS_1
Lili yang melihat ekspresi mamanya itu menatap aneh pada Mama Ningrum. Lili yang memang punya pemikiran berbeda dengan Mama Ningrum tentunya akan bersikap santai saja. Sepertinya salah penangkapan antara Mama Ningrum atas ucapan Mama Nei itu membuat semuanya rumit.
"Kamu pacaran sama dosen kamu sendiri?" tanya Mama Ningrum secara langsung.
"Mana ada begitu" seru Lili tak terima.
"Lho itu kamu bilang tadi kalau ada hubungan dengan dosenmu itu" ucap Mama Ningrum sambil mengernyitkan dahinya heran.
Lili yang mendengar ucapan mamanya itu sontak saja menepuk dahinya pelan. Ia tak menyangka kalau mamanya bisa menyimpulkan hal seperti itu. Padahal hubungan yang dimaksud oleh Lili itu bukanlah tentang pacaran. Namun hubungan antara dosen dan mahasiswanya.
"Apaan sih, ma? Orang benar kan kalau Lili ada hubungan dengan Pak Aldo. Kan dia dosen aku, ya kami berhubungan sebagai pembimbing skripsi dan mahasiswanya dong" kesal Lili dengan pemikiran dari mamanya itu.
Sontak saja Mama Ningrum menghela nafasnya lega karena anaknya itu tak pacaran dengan Aldo. Sebenarnya Aldo dan Mama Nei itu orang baik, hanya saja Mama Ningrum seperti tidak nyaman dengan status dosen itu sebagai duda. Bukannya duda tak baik, hanya saja Aldo itu merupakan suami dari sahabat baik Lili.
"Habisnya kalian terlalu dekat. Apalagi mana ada dosen pembimbing skripsi sampai jenguk mahasiswanya. Kan jarang ya" ucap Mama Ningrum mengutarakan alasannya hingga bisa berpikiran seperti itu.
Lili hanya menggelengkan kepalanya atas pemikiran dari mamanya itu. Ia bisa dekat dengan keluarga dosennya itu juga karena kasus Arlin dan kedekatannya bersama Kei. Kalau ia tak dekat dengan Kei atau tidak ada sangkut pautnya dengan masalah Arlin juga takkan pernah mengenal mereka.
Tak lupa juga ia mengenal semua itu akibat peristiwa transmigrasinya ke dalam tubuh Arlin. Apalagi sampai menjadi istri Aldo dan ibu dari Kei sehingga saat melihat keduanya ada sedikit perasaan ingin dekat dengan mereka.
__ADS_1
"Udahlah, ma. Jangan mikir aneh-aneh tentang hubunganku dengan Pak Aldo. Kami tak ada hubungan apapun kecuali antara mahasiswa dan dosennya. Lagian Kak Arlin baru saja meninggal, tak bisa Lili langsung bisa dekat dengan Pak Aldo. Tapi kalau suatu saat nanti takdir menyatakan aku berjodoh dengan Pak Aldo, ya mana bisa kita menentangnya" ucap Lili menjelaskan dengan bijak.
Mama Ningrum hanya bisa menganggukkan kepalanya mengerti. Benar apa yang dikatakan oleh Lili, kalau memang sudah menjadi takdirnya ya pasti ada saja jalannya. Hal ini juga yang membuat Lili berusaha bersikap santai menghadapi gombalan receh dari Aldo.
"Li, kalau tentang kejadian masa lalu yang kamu ingat hingga jadi sakit seperti ini. Apa kamu mau cerita sama mama?" tanya Mama Ningrum lagi dengan mengubah topik pembicaraan.
Lili yang tadinya dengan santainya masih makan buah yang ada di atas nakas pun langsung menghentikan kegiatannya. Lili sedikit kurang nyaman saat mamanya itu menanyakan tentang masa lalu yang tak ingin ia ungkap. Namun jika ia seperti ini terus, pasti kehidupannya juga takkan tenang.
"Siapa tahu mama bisa bantu kamu untuk menyembuhkan lukamu di masa lalu. Memang sih mama juga termasuk dalam orang yang menyakiti kamu, jadi mama ingin bisa tuh nolongin kamu keluar dari rasa sakit itu" lanjutnya setelah melihat Lili hanya diam saja.
Lili yang melihat pancaran ketulusan dari mata Mama Ningrum pun langsung saja memeluknya. Mama Ningrum sempat terkejut dengan pelukan tiba-tiba dari anaknya itu. Namun tak ayal, Mama Ningrum juga langsung membalas pelukan itu dengan erat.
"Terimakasih, ma. Sudah mau berubah dan menjadikan Lili jadi tempat luapan perhatian juga kasih sayang. Lili sayang sama mama" ucap Lili dengan nada yang begitu lirih.
Mama Ningrum yang mendengar ucapan sayang dari anaknya pun matanya langsung berkaca-kaca. Ia kira anaknya itu masih membencinya namun ternyata Lili sangat sayang padanya. Memang benar adanya kalau ia harus sabar dalam menghadapi anaknya itu. Apalagi dulunya ia dan suaminya tak pernah peduli dengan Lili, pasti anaknya itu juga butuh beradaptasi.
"Mama yang seharusnya berterimakasih kepada kamu, Li. Terimakasih karena kamu mau memaafkan mama dan memberi kami kesempatan untuk berubah. Mama juga sayang sama kamu" ucap Mama Ningrum.
Lili hanya menganggukkan kepalanya. Sepertinya kini Lili sudah bisa membuka hatinya untuk memaafkan kedua orangtuanya. Ini adalah jalan satu-satunya agar kelak bisa berdamai dengan masa lalunya dan hidup bahagia.
__ADS_1
"Jadi kamu mau cerita sama mama mengenai hal itu?" tanyanya setelah melepaskan pelukannya.
Lili hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas semua ucapan mamanya. Ia akan menceritakan semuanya tapi nanti saat sudah ada papanya. Apalagi semua ini juga berkaitan dengan papanya sendiri. Mama Ningrum pun menyetujuinya untuk menunggu sang suami datang.