Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Sanggahan


__ADS_3

"Maaf ibu-ibu, saya bukan calon istri dari papanya Kei. Saya ini sahabat mendiang istrinya dan diminta untuk menjaga Kei. Jadi jangan salah paham yang nanti malah membuat Kei menjauh dari saya karena ucapan kalian" ucap Lili menyanggah semua gosip itu.


"Wah... Kayanya nggak mungkin kalau bukan calon istrinya. Kalaupun memang sahabat istrinya yang dulu meninggal, kok kelihatan akrab dengan suaminya. Wah... Jangan-jangan mbak ini yang menyakiti ibunya Kei hingga meninggal demi mendapatkan bapaknya" seru salah satu ibu-ibu.


Lili langsung memelototkan matanya tak terima dengan tuduhan yang dilayangkan oleh salah satu wali siswa itu. Ingin sekali ia menjitak ibu-ibu itu karena merasa bahwa harga dirinya dilukai. Ngapain juga sampai menyakiti Arlin, toh kenal saja tidak.


Bahkan ia mengenal Arlin itu hanya sebatas saat peristiwa transmigrasi itu. Apalagi ia juga tak mengenal terlalu jauh kepribadian dari Arlin. Lagian ngapain juga melakukan hal itu hanya demi mendapatkan Aldo. Dosen menyebalkan yang rasanya ia ingin menendang kakinya itu.


"Sembarangan ya ibu ini kalau bilang. Ini bisa saya tuntut atas pencemaran nama baik" seru Lili yang tak terima dengan ucapan ibu-ibu itu.


"Jangan pikir saya akan takut dengan anda walaupun di sini mungkin saya yang paling muda" lanjutnya.


Lili benar-benar marah dengan ucapan ibu-ibu yang bernama Bu Wulan itu. Sedangkan Bu Nawang yang melihat kemarahan dari Lili pun langsung mengelus lengan gadis itu. Bu Nawang juga sedikit tak menyangka kalau ucapan teman seusianya itu sepedas itu.


"Bu Wulan, anda itu terlalu terbawa perasaan karena nonton sinetron mungkin. Jangan menuduh orang sembarangan. Kita nggak tahu lho bagaimana orang itu di kehidupan nyata" ucap Bu Nawang.


Beberapa ibu-ibu yang lainnya juga langsung menarik tangan Bu Wulan. Mereka tak ingin kalau sampai terjadi keributan di sekolah ini. Apalagi ini hanya mengenai sebuah gosip yang belum tentu benar kejadiannya. Bu Nawang pun langsung menarik tangan Lili agar keduanya segera menjauh dari kerumunan ibu-ibu itu.


"Sabar ya, nak. Mereka kalau ngomong itu suka asal. Jangan dimasukkan ke hati" ucap Bu Nawang yang kini duduk di samping Lili.


"Saya masih tak terima kalau dibilang menyakiti oranglain hanya demi mendapatkan seorang laki-laki" ucap Lili.


Kedua tangan Lili masih mengepal dengan eratnya. Bahkan matanya berkilat tajam karena sangat tersinggung dengan ucapan ibu itu. Bu Nawang mengelus lembut punggung Lili dan memberikannya sebotol air mineral. Lili pun menerimanya kemudian meminumnya dengan cepat.


Lili memilih untuk menjauh dari ibu-ibu lainnya saat menunggu Kei. Apalagi kalau sudah berhubungan dengan Bu Wulan. Lili rasanya ingin sekali mencakar-cakar wajah Bu Wulan karena ucapan nyinyiran itu.


"Ibu-ibu, hari ini anak-anak akan makan bersama di dalam kelas. Jadi jangan heran kalau mereka tidak keluar saat istirahat"


Pengumuman dari pesan yang ada di ponselnya membuat Lili menghela nafasnya pasrah. Setidaknya setelah ada Kei datang, ia bisa menetralkan emosinya. Namun yang ada malah Kei istirahat di dalam kelas. Mana pengumumannya dadakan lagi, pasti kasihan untuk yang tak membawa bekal.


***


"Ante Lili napa? Tok mutana tayak cedih dan kecal ditu. Ada yang nakitin Ante Lili?" tanya Kei yang saat ini sudah keluar dari kelasnya.

__ADS_1


Kei yang sudah keluar dari kelasnya itu pun langsung menemui Lili. Biasanya Lili akan berbaur dengan ibu-ibu lainnya untuk menjemput Kei di depan kelas saat pulang sekolah. Namun untuk hari ini, Lili sama sekali tak terlihat membuat Kei langsung mencarinya.


Kei melihat kalau Lili tengah berada di bawah pohon sambil melamun. Segera saja Kei menemui Lili yang terlihat pandangannya sendu. Bahkan Lili seperti lesu, hal itu membuat Kei sedikit khawatir.


"Eh... Kamu udah keluar, Kei?" tanya Lili yang terkejut saat Kei berada di depannya.


"Iya, udah dali tadi. Ante napa?" tanya Kei yang kini wajahnya ikut terlihat sendu saat melihat Lili sedang dalam kondisi tak baik-baik saja.


"Nggak papa. Mungkin Tante Lili kurang tidur dan badannya sedikit capek. Maafin tante yang nggak jemput kamu di depan kelas ya" ucap Lili dengan tatapan merasa bersalah.


"Ndak apa. Ante Lili talo capek lancung ulang caja. Ndak ucah nunduin Kei, bial anti atu dalan tati ke tampusna papa" ucap Kei sambil mengelus lembut lengan Lili.


Lili begitu terharu dengan kepekaan Kei ini. Bahkan Kei juga mengerti kalau saat ini Lili sedang tidak baik-baik saja. Lili langsung memeluk Kei dengan erat karena merasa sedikit tenang setelah mendengar ucapan bocah cilik itu.


"Terimakasih karena sudah mengerti keadaan Kei. Tante nggak papa kalau nungguin Kei. Lihat Kei dan main bersama kamu itu sudah membuat rasa lelah tante langsung hilang" ucap Lili sambil tersenyum.


"Halusna Kei yang matacih. Ante Lili ni dah tayak mamana Kei tau. Macak yang dagain, buat betal, dan nunduin cekolah itu malah Ante Lili" ucap Kei sambil terkekeh pelan.


Lili hanya tersenyum mendengar apa yang diucapkan oleh Kei itu. Lili segera mengambil tas sekolah Kei kemudian menggandeng tangan bocah kecil itu. Mereka segera berjalan kaki menuju kampus.


***


Kini mereka tengah berada di mansion Aldo. Setelah dari kampus tadi, Aldo yang sudah selesai dengan jam mengajarnya pun membawa Kei dan Lili pulang ke mansion. Kei langsung tidur sedangkan Aldo memutuskan untuk berbincang dengan Lili.


Mereka saat ini sedang berada di ruang keluarga. Tentu saja ruang keluarga itu begitu hening karena memang Lili malas kalau sudah berbincang dengan Aldo. Saat mendengar ucapan Aldo yang ingin mengajaknya nikah, barulah Lili bereaksi.


"Maksud bapak ini apa? Ngajak nikah kayak mau mengajak ke pasar" ucap Lili dengan ketus.


"Lha ya gimana? Saya bingung mau ngajak nikah itu harus bagaimana. Kan dulunya saya dijodohkan dan langsung nikah. Kalaupun tunangan, sih ya udah tinggal tukar cincin. Nggak tahu juga mau ngomong apa" ucap Aldo yang bingung dengan keinginan Lili.


"Astaga... Pak, jangan bercanda soal pernikahan. Apalagi saya tahu kalau bapak ini masih cinta sama Mbak Arlin. Jangan dipikir saya mau jadi pelarian ya. Lagian saya nggak punya perasaan apa-apa sama bapak" ucap Lili dengan tegas.


Mendengar ucapan berujung penolakan dari Lili itu pun langsung membuat Aldo berdiri dari duduknya. Bahkan kini Aldo langsung saja berjalan mendekat kearah Lili membuat gadis itu sedikit takut. Apalagi di sana hanya ada mereka berdua saja.

__ADS_1


"Kamu pikir saya main-main? Saya tak pernah mempermainkan yang namanya pernikahan. Apa wajah saya ini kelihatan lagi bercanda? Saya serius. Hanya saja saya ini tidak bisa mengutarakan isi perasaan saya dengan kalimat romantis" ucap Aldo.


Bahkan kini kedua tangan Aldo sudah berada di samping kanan dan kiri bahu Lili. Hal ini tentu saja membuat Lili gugup sendiri karena sebelumnya belum pernah berada di posisi seintim ini. Lili berusaha untuk tak melihat kearah Aldo yang memandangnya begitu intens.


"Ta... Tapi kan bapak masih cinta sama Mbak Arlin. Pokoknya saya nggak mau" tolak Lili yang terus mencari alasan agar Aldo tak mengajaknya menikah.


Lili seketika baru ingat dengan ucapan mamanya tentang Aldo itu. Ternyata dugaan Mama Ningrum tentang Aldo yang mempunyai perasaan padanya itu ternyata benar adanya. Lili kini malah takut kalau misalnya dia hanya dijadikan pelampiasan saja. Apalagi saat awal bertemu berawal dari masalah Arlin yang meninggal.


"Persetan dengan cinta. Saya yakin kalau kamu bisa menjadi ibu yang baik untuk Kei. Anak saya harus bahagia" ucap Aldo.


Kini Lili paham dengan maksud Aldo mengajaknya menikah. Ternyata ini semua untuk kebaikan Kei. Ada sedikit rasa kecewa yang dirasakan oleh Lili saat mendengar hal itu. Pasalnya ia malah hanya akan dinikahi untuk menjadi ibu dari Kei. Aldo tak membutuhkan seorang istri karena cintanya hanya untuk Arlin.


"Mending bapak cari babysitter atau perempuan lain saja untuk jadi ibu yang baik bagi Kei. Bagi saya, pernikahan itu bersatunya dua cinta. Cinta perempuan pada sang lelaki begitupun sebaliknya. Saya berhak bahagia. Jadi saya hanya akan menikah dengan orang yang benar-benar mencintai saya" ucap Lili dengan tegasnya.


Brugh...


Lili langsung saja bangkit dari posisi duduknya kemudian menabrak bahu Aldo agar lepas dari kungkungannya. Bahkan Lili langsung saja keluar dari mansion Aldo. Ia meninggalkan Aldo yang terdiam setelah mendengar ucapannya itu.


"Sialan..." seru Aldo yang kakinya bahkan langsung menendang angin.


"Kamu harus jadi milikku, Lili. Kau sudah masuk dalam kehidupanku. Jangan harap kamu bisa keluar" gumam Aldo penuh obsesi.


Sepertinya Aldo tengah kerasukan sesuatu atau mungkin pikirannya sedang bercabang sehingga tak bisa berpikir baik. Bahkan terlihat sekali kalau ada ketakutan dalam pancaran mata laki-laki itu. Entah kejadian apa yang membuatnya menjadi seperti ini.


Lili ketakutan dengan sikap Aldo yang tiba-tiba berubah seperti ini. Bahkan dalam pancaran matanya, bagi Lili itu Aldo sedang kerasukan jin. Tatapan mata yang penuh obsesi sehingga membuat dia takut.


***


"Ngeri banget tuh tatapannya. Kaya singa mau nerkam" gumam Lili yang kini sudah berada di dalam taksi yang dipesannya.


Sedari masuk dalam taksi, Lili terus saja memikirkan tentang perubahan sikap Aldo itu. Padahal pagi tadi Aldo masih bersikap biasa saja dengannya. Namun saat sudah sampai di mansion malah langsung berubah.


"Apa dia aneh gara-gara ku kasih kotak bekal makanan warna pink ya? Dia ngambek, terus sikapnya jadi aneh gitu" gumam Lili sambil geleng-geleng kepala.

__ADS_1


Tak berapa lama, taksi yang dinaiki oleh Lili itu sampai di rumah. Lili langsung keluar dari taksi itu setelah membayar jasanya. Lili segera berlari masuk dalam rumah dengan raut wajahnya yang ketakutan. Hal itu membuat Mama Ningrum yang melihatnya langsung berdiri dengan tatapan khawatirnya.


__ADS_2