
"Kamu sudah merasa enakan?" tanya Aldo yang kini menemani Lili di kamar.
Hanya ada keduanya di kamar itu. Pasalnya Kei dibawa nenek dan omanya untuk makan. Aldo langsung menemani istrinya itu di saat tak ada gangguan dari anaknya. Bahkan kini Aldo sudah memeluk Lili dari samping membuat perempuan itu mengelus lembut rambut suaminya.
"Iya, berkat semangat dari Kei nih jadi cepat sembuhnya. Anak itu membuatku semakin bersemangat untuk sembuh. Apalagi Kei yang sedih kalau aku sakit. Kasihan tuh Kei karena terlalu pusing memikirkan mamanya yang sakit mulu" ucap Lili sambil terkekeh pelan.
"Ini kan sakitnya karena ada orang jahat yang menyakitimu. Kalau nggak ada yang jahat, pasti juga kamu sehat-sehat saja" ucap Aldo dengan menatap intens istrinya itu.
"Aku merasa sangat bersalah karena tak bisa menjagamu dengan baik" lanjutnya.
Lili hanya bisa tersenyum tipis menanggapi apa yang diucapkan oleh suaminya itu. Namun ia juga tak bisa menyalahkan Aldo sepenuhnya tentang kejadian yang menimpanya akhir-akhir ini. Ini semua memanglah musibah sekaligus cobaan untuk kehidupan rumah tangga keduanya.
"Jangan seperti ini. Mungkin kejadian ini nanti bisa membuat kita jauh lebih kuat lagi dalam hubungan rumah tangga" ucap Lili mencoba menenangkan suaminya.
"Padahal aku lagi mau program punya baby secepatnya lho. Kalau kamu sakit kan aku jadi puasa lagi programnya" ucap Aldo dengan wajah yang disedih-sedihkan.
"Program baby sama batu saja sana. Dah tahu istrinya lagi sakit malah minta program baby" ucap Lili dengan sedikit ketus.
"Uluh... Kan aku cuma bercanda sayangku, cintaku" ucap Aldo yang kemudian menguyel-uyel pipi istrinya itu.
"Ish... Jangan uyel-uyel pipi. Mending kamu uyel-uyel saja pipinya Kei yang gembul itu" ucap Lili kesal dengan sikap Aldo.
"Bisa dicubit aku sama Kei kalau uyel-uyel pipinya. Padahal kalau mama atau kamu yang uyel-uyel, dia pasrah saja lho. Kei itu sensi sekali kalau sama papanya" ucap Aldo yang kesal dengan anaknya itu.
__ADS_1
Pasalnya ia seperti seorang ayah tiri bagi Kei. Padahal dengan keluarganya yang lain, Kei itu mau untuk dicium atau diuyel-uyel pipinya. Bahkan dengan Papa Tito dan Papa Dedi, Kei terlihat biasa saja. Hal itu membuat Aldo merasa diayahtirikan oleh anaknya.
"Habisnya Papa Aldo kan galak makanya Kei malas dekat-dekat" ucap Lili membuat Aldo kesal.
Lili hanya bisa terkekeh geli melihat wajah cemberut dari Aldo. Sedangkan Aldo sendiri langsung memeluk Lili dari samping dengan erat. Aldo memilih untuk memejamkan matanya sebentar, setidaknya agar ia bisa membuang rasa lelahnya.
***
"Dokter Adnan semalam ditangkap polisi?" tanya Mega pada beberapa kerumunan perawat dan dokter yang ada di rumah sakit.
"Iya, dia nyulik istrinya pemilik rumah sakit ini. Itu lho si Lilian, makanya dia hari ini kan nggak masuk praktik" jawab Mia, salah satu perawat yang ada di sana.
Mega hanya bisa menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Ia memang belum mengetahui tentang kejadian ini karena baru saja sampai di rumah sakit. Ia dan Lili juga berada dalam satu shift yang sama sehingga kalau temannya tak berangkat maka ia akan tahu saat sore hari.
"Pak Aldo sendiri yang minta ijin buat Lili agar tak praktik selama 4 hari ke depan. Katanya sakit akibat peristiwa penculikan semalam. Tapi Pak Aldo nggak kasih tahu seberapa parah dan bagian mana yang sakit" ucap Dokter Agnes.
Semalam memang dirinya begitu khawatir dengan keadaan sahabatnya itu. Namun Lili malah menolak untuk diajaknya pulang. Seharusnya semalam ia menemani Lili hingga jemputannya datang. Namun semuanya sudah terjadi dan tak akan bisa terulang kembali.
"Udah, jangan ngerasa bersalah seperti itu. Lagian ini memang musibah. Memang dasarnya Dokter Adnan saja yang sudah punya niatan jahat kepada Lilian" ucap Mia menenangkan Mega yang merasa sangat bersalah.
"Iya, percuma juga merasa bersalah seperti ini. Ah... Besok aku akan jenguk Lili pagi-pagi deh. Setidaknya untuk memastikan keadaannya" ucap Mega.
"Kami akan menjenguk Lilian sore ini karena memang kita dapat shift pagi. Kamu bisa menyusulnya besok ke sana, Mega" ucap Mia.
__ADS_1
Mega hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Tak mungkin ia ijin pada rumah sakit untuk ikut rombongan menjenguk Lili. Yang ada nanti di rumah sakit ini malah kekurangan tim dokter. Apalagi sampai sekarang belum ada pengganti dari Dokter Adnan.
Berita mengenai Dokter Adnan yang menculik Lili memang langsung menyebar di rumah sakit. Apalagi satpam yang berjaga semalam langsung memberikan pengumuman pada semua rekannya untuk melarang Dokter Adnan dan keluarganya memasuki halaman rumah sakit.
Bahkan Aldo memberi peringatan kepada siapapun yang bekerja dengannya untuk tak berhubungan dengan Dokter Adnan. Jika sampai itu terjadi, Aldo takkan segan-segan memecatnya. Aldo tak ingin kalau sampai ada yang berencana jahat kepada rumah sakitnya ini.
***
"Bagaimana kabarmu, Li? Kok bisa kaya gini sih? Mending besok kalau kamu pulang malam itu kita nggak boleh ada yang pergi duluan. Harus saling nunggu biar kalau ada sesuatu itu menghadapinya bersamaan" seru Mega yang pagi itu sudah mendatangi mansion milik Aldo.
Mega yang nantinya akan masuk shift sore lagi tentu hanya bisa meluangkan waktunya pada pagi hari. Bahkan saat ia diijinkan masuk dalam kamar Lili, gadis itu langsung berseru heboh. Apalagi melihat pipi Lili yang masih bengkak dan membiru.
"Baik-baik saja. Iya, seharusnya memang kita saling menunggu saja. Tapi kalau bisa menunggunya di tempat yang ramai" ucap Lili sambil tersenyum.
Beruntung di kamar itu tak ada Kei dan Aldo sehingga keduanya lebih leluasa untuk berbincang. Aldo pergi bekerja sedangkan Kei berangkat sekolah. Walaupun tadi ada drama Kei tak mau sekolah, namun setelah dibujuk akhirnya berangkat juga.
"Kamu diapain waktu diculik sama orang nggak waras itu? Kamu nggak dijamah-jamah gitu kan badannya" tanya Mega dengan tatapan penasarannya.
"Ya enggaklah. Cuma ditampar aja nih, mayan juga tuh telapak tangannya. Mungkin banyak kapalannya jadi ya rasanya keras sekali tamparannya" ucap Lili sambil terkekeh pelan.
"Ya elah... Malah ngelawak nih bocah. Kok ya ada ya dokter kaya gitu. Dulu kok bisa lulus tes psikotest gitu. Kayanya dia punya gangguan kejiwaan deh" ucap Mega sambil geleng-geleng kepala.
"Terobsesi sama cewek cantik kaya aku ini, Mega. Tahu sendiri kan kalau cewek cantik kaya aku ini banyak sekali fansnya" ucap Lili sambip menaikturunkan alisnya.
__ADS_1
"Dih... Kalau fansnya kaya Dokter Adnan itu sih mending gue nggak usah punya fans. Daripada tiap hari diculik kalau keinginannya nggak terpenuhi, kan ngeri" ucap Mega sambil bergidik ngeri membayangkan tentang ucapan Lili itu.
Keduanya terus saja berbincang hingga siang hari. Mega sempat bertemu dengan Kei dan menemaninya bermain. Saat sore, Mega langsung berangkat ke rumah sakit dari rumah Lili. Ia juga minta ijin agar bisa membersihkan diri di kamar mandi dekat dapur.