Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Kesal


__ADS_3

Kei benar-benar kesal dengan papanya yang kini telah mengakui perbuatannya itu. Setelah tadi didesak oleh Kei dan Mama Nei, akhirnya Aldo mengakui kalau dia tak mengantarkan Lili sampai rumahnya. Tentu saja hal itu membuat Kei dan Mama Nei marah pada Aldo.


"Papa tidak mengantarkan Tante Lili sampai ke rumahnya. Soalnya semalam Tante Lili itu meminta diturunkan di halte dekat tempat tinggal kita itu lho. Ya udah karena Tante Lili itu maksa, akhirnya papa turunin aja dia disana. Lalu papa pergi deh" ucap Aldo dengan sedikit berbohong.


Walaupun alasan sebenarnya Lili turun dari mobil itu karena terpaksa setelah ketakutan yang dialaminya. Aldo yang memang tak ingin mengungkapkan ketakutan Lili saat menaiki mobilnya pun tak menjadikannya sebagai samsak hidup dari anak dan mamanya. Namun tanpa Aldo sadari, Mama Nei tahu kalau anaknya ini hanya memberi alasan saja.


"Halusna, walupun Ante Lili makca tu ndak oleh papa tulutin. Itu dah alam lho, papa. Talo teljadi cecuatu engan ante, gimana?" tanya Kei yang meluapkan kekesalannya itu.


Sungguh kesabarannya benar-benar diuji oleh Aldo. Ia tak menyangka kalau papanya itu bisa melakukan itu pada Lili. Padahal papanya itu selalu menghargai dan menghormati seorang perempuan namun dengan Lili sangat berbeda perlakuannya.


Kei menghela nafasnya kasar saat melihat Aldo hanya diam saja saat ia memarahinya. Bahkan Aldo seperti merasa tak bersalah sama sekali telah melakukan semua itu pada Lili. Padahal Kei saja yang tak mengetahui kalau Aldo itu kepikiran semalaman dengan kondisi Lili.


"Pototna papa halus cali alamat lumah Ante Lili dan antal Kei ke cana. Kei halus matikan talo Ante Lili aik-aik aja" ucap Kei menyuruh Aldo untuk mencari dimana alamat Lili tinggal.


"Darimana papamu bisa mendapatkan alamat mahasiswa di sini, Kei? Sudahlah, mungkin hari ini dia tidak berangkat ke kampus karena ada acara. Besok juga berangkat lagi" ucap Aldo yang tampak frustasi dengan keinginan anaknya itu.


Kei yang mendengar hal itu segera saja memelototkan matanya kearah Aldo. Tentu saja Kei tak terima dengan pernyataan itu. Seharusnya Aldo itu bisa bertanggungjawab dengan apa yang diperbuatnya. Menurut Kei, papanya itu harus meminta maaf kepada Lili. Namun malah Aldo seakan terus membuat alasan agar menghindar dari semuanya.


"Kei ndak mau tau. Pototna tita hali ini halus temui Ante Lili. Papa halus minta mamap. Adi lati-lati halus dentel dong" seru Kei.


Tentu saja Mama Nei menatap puas kearah cucunya yang begitu berani kepada Aldo itu. Mama Nei memperhatikan anaknya yang tampak frustasi dengan permintaan cucunya itu. Dalam hati, Mama Nei tersenyum penuh kemenangan karena melihat anaknya semakin mati kutu.


"Baiklah, papa akan ke ruang administrasi kampus dulu untuk meminta alamat rumah Tante Lili" ucap Aldo memutuskan untuk menuruti perintah dari anaknya itu.

__ADS_1


"Kenapa nggak telfon saja dari sini, Al? Kamu itu lho kalau sudah pusing pasti langsung nggak bisa mikir" ucap Mama Nei dengan sindiran pedasnya.


Aldo hanya bisa menepuk dahinya pelan sambil meringis. Ia merasa seperti orang bodoh di saat hal penting seperti ini. Padahal biasanya kalau mengenai bab mata pelajaran atau kuliah selalu menjadi nomor satu. Namun saat menjalankan sesuatu yang sebenarnya mudah, membuat ia seperti orang linglung hanya karena dipojokkan Kei.


Aldo segera menghubungi bagian administrasi kampus untuk menanyakan mengenai alamat rumah dari Lili. Dengan alasan ada barang yang tertinggal di ruangannya, membuat pihak administrasi itu memberikan alamat rumah Lili.


"Nih... Udah sana buruan pergi" ucap Aldo yang seakan mengusir Kei dan mamanya setelah memberikan sebuah kertas.


"Nenak caja main culuh tita peldi. Dikilana tita di cini tuh ndak ungguin papa buwat inta mamap cama Ante Lili. Ayo itutan" seru Kei yang mengajak papanya segera pergi ke rumah Lili.


Aldo pikir setelah dirinya mendapatkan alamat rumah Lili, ia takkan lagi disuruh untuk datang ke sana. Namun pikirannya salah, ternyata Kei tetap mengajaknya pergi ke sana. Mama Nei juga memelototkan matanya kearah Aldo agar menuruti keinginan dari Kei.


Aldo pun akhirnya menganggukkan kepalanya dengan pasrah. Kei terpekik senang setelah melihat apa yang dilakukan oleh Aldo. Kei langsung merentangkan kedua tangannya kearah Aldo agar segera digendong papanya. Aldo pun memeluk leher dari papanya itu kemudian mereka keluar dari ruang dosen diikuti oleh Mama Nei.


"Sepertinya ini rumahnya deh, alamat dan nomornya sudah sesuai dengan yang ada di pagar nih" ucap Mama Nei sambil menunjuk pada nomor yang ada di pagar rumah.


Aldo menganggukkan kepalanya karena alamatnya memang sesuai dengan apa yang ditulisnya pada kertas. Akhirnya Aldo turun dari mobilnya itu kemudian memencet bel yang ada di dekat gerbang. Tak berapa lama, seorang pria paruh baya datang dengan berlari kemudian membuka gerbang rumah.


"Sedang mencari siapa, tuan?" tanya pria itu yang tak lain adalah penjaga kebun di rumah Lili yang bernama Pak Nono.


"Apa benar ini rumah dari Lilian? Yang kuliah di kampus A" tanya Aldo.


"Benar, tuan. Ini memang rumah nona Lili. Tapi maaf, nona Lili sedang tidak berada di rumah" ucap Pak Nono dengan tak enak hati.

__ADS_1


Mendengar apa yang diucapkan oleh Pak Nono itu membuat Aldo mengerutkan dahinya. Paslanya saat ini Lili tidak masuk kuliah, jadi tak mungkin kalau gadis itu pergi ke kampus. Kei dan Mama Nei yang berada di dalam mobil juga mendengar apa yang dibicarakan oleh Aldo dengan Pak Nono itu.


Mereka berdua yang mendengar hal itu benar-benar hanya bisa meluruhkan bahunya lesu. Tak menyangka kalau usaha keduanya membuat Aldo minta maaf pada Lili itu gagal karena gadis itu ternyata tidak ada di rumah. Kei juga sangat sedih karena tak bisa bertemu dengan Lili.


"Lili sedang pergi kemana ya? Soalnya ada hal penting yang ingin kami bicarakan" ucap Aldo yang merasa tak tega melihat Kei lesu karena mendengar Lili tidak ada di rumah.


"Nona Lili semalam masuk rumah sakit. Badannya demam tinggi dan pingsan. Sampai saat ini Nona Lili dan orangtuanya masih berada di rumah sakit" ucap Pak Nono.


Sontak saja apa yang diucapkan oleh Pak Nono itu membuat Aldo, Kei, dan Mama Nei terkejut. Mereka tak menyangka kalau Lili ternyata masuk rumah sakit. Sedangkan Aldo sendiri sudah berpikiran macam-macam mengenai Lili yang tadi tak berada di rumah.


"Papa, ayo cucul Ante Lili ke lumah cakit. Tacian Ante Lili macuk lumah cakit gala-gala papa" seru Kei yang malah menuduh papanya sebagai penyebab Lili masuk rumah sakit.


Walaupun pada kenyataannya, Lili memang masuk rumah sakit karena traumanya yang disebabkan oleh ulah Aldo. Namun Aldo tak mengakui dan menyadarinya kalau itu memang ulah Aldo.


Mama Nei juga berpikiran sama dengan Kei. Ia berpikir kalau Lili sakit karena ulah Aldo yang tidak mengantarnya sampai ke rumahnya. Pak Nono hanya bisa menatap curiga kearah Aldo yang membuat laki-laki itu harus menjelaskannya.


Setelah mendapatkan alamat rumah sakit yang ditempati oleh Lili, Aldo masuk dalam mobilnya. Aldo segera saja mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit.


"Papa, pototna anti halus minta mamap yang cungguh-cungguh cama Ante Lili. Kei tau nih talo Ante Lili cakit kalena tena angin alam gala-gala dalan tati ulang ke lumahna. Anggungdawab" ucap Kei yang meminta pertanggungjawaban pada Aldo.


Aldo hanya diam, namun pikirannya melalangbuana. Tentu saja Aldo sudah kepikiran mengenai apa yang diucapkan oleh Kei itu. Ia sedikit khawatir kalau Lili memang sakit karena ulahnya. Atau mungkin saja karena dirinya yang mengebut saat mengemudikan mobilnya.


"Sudah, Kei. Nanti kita tanya sama Tante Lili ya penyebab dia masuk rumah sakit. Nggak baik nuduh orang sembarangan" ucap Mama Nei memberi pengertian cucunya.

__ADS_1


Mama Nei menatap anaknya dengan pandangan yang sulit diartikan. Mama Nei seperti mengetahui apa yang ada di pikiran Aldo sehingga membuat laki-laki itu sedikit takut. Tak menyangka kalau tatapan mamanya itu sedikit membuatnya terintimidasi.


__ADS_2