
"Hei... Cewek jadi-jadian. Main seenaknya saja pergi tanpa menolong saya. Dipikir saya bola yang dianggurin gitu aja di lantai" ketus Ibu Nami yang baru saja datang dengan langkah kaki tertatih.
Fina menahan tawanya seakan ingin meledek Ibu Nami. Namun Lili sudah memelototinya agar tidak menertawakan wanita paruh baya itu. Bahkan Lili langsung saja berdiri kemudian memapah Ibu Nami agar bisa segera duduk di kursi.
"Saya nggak butuh bantuanmu" ucap Ibu Nami dengan ketusnya sambil melepas paksa pegangan tangan Lili.
"Dih... Nggak tahu diri banget sih, bu. Beruntung teman saya masih mau bantuin buat memapah sampai duduk dengan nyaman. Emang nggak punya hati. Udah deh Li, nggak usah jadi baik buat orang kaya gitu. Justru do'ain aja tuh ibu-ibu biar gelinding terus masuk selokan" ucap Fina dengan harapan akan terjadi karma untuk Ibu Nami.
Ibu Nami benar-benar kesal dibuat oleh Fina. Apalagi ucapan pedas Fina itu, membuat telinganya panas. Lili pun memilih angkat tangan kemudian pergi dari hadapan Ibu Nami. Lili menarik tangan Fina agar segera pergi dan tak terjadi keributan.
"Dasar anak muda tak punya sopan santun sama orangtua. Awas saja kamu, saya laporkan polisi" teriak Ibu Nami.
"Laporin aja, saya nggak takut" teriak Fina.
Lili hanya bisa geleng-geleng kepala melihat keduanya. Tak ada yang mengalah diantara keduanya membuat Lili pusing sendiri. Tak lupa juga dengan teriakan keduanya membuat ia pusing sendiri.
***
Lili menggandeng tangan Kei berjalan kearah kampus. Tak lupa dengan Fina yang mengikuti keduanya dari belakang. Bahkan sedari tadi Fina terus mengoceh tentang kejadian di sekolah. Lili yang mendengarnya ingin sekali menyumpal mulutnya itu.
"Fin, bisa nggak kalau diam saja sebentar? Itu mulutnya mau ku sumpal pakai batu apa?" ketus Lili.
"Habisnya aku sebal sama ibu gempal itu. Main seenaknya sendiri. Nggak mau minta maaf lagi, kaya nggak punya salah sama sekali" ucap Fina dengan menggebu-gebu.
"Ante Pinpin, ndak oleh itutan dahat cama olanglain. Talo meleta dahat, tita do'ain caja bial dapat idayah" ucap Kei menceramahi.
"Betul itu kata Kei. Biarin saja, kita nggak boleh jahat balik. Apa bedanya dong kita sama dia?" ucap Lili.
__ADS_1
Fina hanya bisa mendengus kesal karena tak ada yang menyetujui ucapannya untuk membalas Ibu Nami. Padahal ia sudah memikirkan banyak rencana untuk membalas perbuatan Ibu Nami. Sedangkan Lili memilih segera menarik tangan Kei agar tak mendengar rencana buruk dari Fina.
***
"Ini makanlah. Makan yang banyak, tadi kan kamu belum makan nasi sama sekali" ucap Lili sambil meletakkan nasi goreng di depan Kei.
"Matacih, ante" ucap Kei sambil tersenyum manis.
Lili menganggukkan kepalanya kemudian mengelus lembut rambut Kei. Lili pun ikut makan di sana dengan lahap, sedangkan Fina pergi ke ruang dosen. Tak berapa lama, tiba-tiba saja kursi yang ada di meja kantin keduanya itu bergerak hingga menimbulkan bunyi.
Lili dan Kei pun mengalihkan pandangannya kearah seseorang yang menarik kursi itu. Ternyata itu adalah Aldo yang tersenyum tipis kearah keduanya. Bahkan Aldo langsung duduk kemudian menarik piring berisi nasi goreng milik Kei.
"Ini puna Kei" seru Kei yang tak terima dengan apa yang dilakukan oleh papanya itu.
"Minta sedikit, Kei. Papa lapar ini" ucap Aldo yang kemudian makan dengan lahapnya.
"Pak Aldo, kasih makanan itu pada Kei. Dia belum makan lho soalnya tadi makanannya diambil sama temannya" ucap Lili menegur aksi Aldo itu.
Mendengar hal itu, Aldo segera saja menghentikan kegiatannya. Aldo menatap Lili dengan tatapan penasaran. Aldo penasaran dengan sebenarnya apa yang terjadi. Sedangkan Kei langsung mengambil lagi piring miliknya itu.
"Betal matanan Kei diambil cama Kepin. Kepin lapal dan ndak bawa matanan, matana puna Kei diambil" ucap Kei yang sedikit membela Kevin.
"Kei bohong ya? Papa yakin kalau makananmu itu sebenarnya direbut kan? Kelihatan kok kalau Tante Lili juga terkejut sama pengakuanmu" ucap Aldo sambil geleng-geleng kepala.
Sebenarnya Lili juga merasa terkejut dengan ucapan Kei yang berbohong dan lebih membela temannya. Namun Lili sekarang paham kalau Kei tak ingin temannya dimarahi oleh sang papa. Apalagi papanya itu sering emosi kalau ada yang mengganggunya.
"Enggak, sudahlah ini masalah juga sudah selesai. Ayo kita makan" ajak Lili mencoba untuk mengalihkan perhatiannya.
__ADS_1
Aldo pun hanya diam saja walaupun dalam otaknya sudah merencanakan sesuatu untuk mencari tahu kejadian sebenarnya. Ia tak ingin kalau sampai anaknya berada dalam bahaya jika tak segera menyelesaikannya.
"Jadi gimana, kamu mau diajak nikahnya kapan? Papa kamu sudah merestuinya lho" ucap Aldo dengan berbisik tepat pada telinga Lili dengan tiba-tiba.
"Kata siapa papa sudah merestui? Jangan asal ya bapak ini" ketus Lili.
Sebenarnya Lili sangat terkejut dengan ucapan Aldo itu. Dalam hatinya, ia tak menyangka kalau papanya dengan semudah itu memberi kesempatan pada Aldo. Entah apa yang terjadi saat kejadian malam itu, sehingga Papa Dedi bisa memberikan restu.
"Tanya saja sama papamu itu. Memang dia sudah merestui kok. Tinggal kitanya saja, terutama kamu" ucap Aldo sambil menaikturunkan alisnya untuk menggoda Lili.
Lili hanya bisa mendengus kesal dengan apa yang diucapkan oleh Aldo itu. Apalagi wajahnya yang seakan menggoda atau meledek dirinya. Ia masih harus mengetahui perasaannya sendiri agar bisa menentukan langkah apa yang akan diambil.
"Jadi gimana?" lanjutnya bertanya.
"Entahlah, saya mau ke dukun dulu untuk memastikan perasaan itu ada atau tidak" ucap Lili dengan asalnya.
"Mana bisa menetapkan perasaan dengan pergi ke dukun" kesal Aldo dengan jawaban Lili itu.
"Ini papa dan ante napa pada nomel-nomel cih?" tanya Kei yang sedari tadi diam.
Kei sebenarnya kesal dengan tingkah Lili dan Aldo yang malah berdebat tak jelas. Padahal ia sedang asyik makan namun malah mendengar perdebatan tak jelas itu. Kei pun memilih mengajukan protes dibandingkan keduanya yang terus saja berdebat. Kini keduanya langsung kicep apalagi Kei sudah memelototkan matanya.
"Tante Lili tuh Kei, nggak mau jadi istri papa dan ibu buat kamu" ucap Aldo yang tiba-tiba langsung mengadu pada Kei.
Mendengar hal itu sontak saja membuat Lili menatap Aldo dengan tatapan tak terima. Padahal bukan seperti maksud dari perdebatan keduanya itu.
"Ante Lili ndak mau dadi mamana Kei? Kei akal ya?" tanya Kei dengan pandangan sendunya.
__ADS_1
Bahkan kini Lili langsung melirik tajam kearah Aldo yang tersenyum penuh kemenangan. Aldo benar-benar merasa puas dengan apa yang terjadi. Ia yakin kalau kini Lili akan semakin terpojok dengan ucapan Kei.