Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Hati Ke Hati


__ADS_3

Klik...


"Lho... Mas Aldo" panggil Lili setelah menyalakan lampu yang ada di dapur.


Terlihat jelas kalau itu memang Aldo yang sedang membuat minuman teh hangat. Aldo yang merasa lampu dapur menyala pun segera saja melihat siapa yang datang. Tadi ia sedang melamun sehingga tak mendengar jika ada yang memanggil.


"Kenapa belum tidur?" tanya Aldo yang tahu kalau Lili sedang berada di belakangnya.


"Tadi Baby Della terbangun. Ini langsung nggak bisa tidur habis nidurin dia" ucap Lili yang kemudian mengambil air minum dalam gelasnya.


"Kenapa nggak tidur di kamar saja? Malah pindah ke kamar Kei. Kita bisa gantian jaga" ucap Aldo dengan nada datarnya.


Walaupun Aldo masih tak mau melihat atau betinteraksi dengan Lili, namun jika sudah berhubungan mengenai anaknya pasti dia akan selalu standby. Apalagi kesehatan Baby Della dan istrinya adalah yang utama.


"Lili baru ingin tidur sama Kei, mas. Baby Della juga anteng kalai tidur di dekat Kei" jawab Lili seadanya.


Ada rasa sedih di hati Lili saat melihat suaminya itu seperti menjauhinya. Padahal niatnya jujur kepada Aldo agar semakin memperkuat hubungan rumah tangganya. Namun pada kenyataannya berbanding terbalik. Aldo malah terlihat sangat kecewa padanya.


Aldo hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Ia duduk di meja makan dengan Lili yang ada di hadapannya. Suasana diantara keduanya begitu canggung dan seperti tengah ada perang dingin.


"Mas, seharusnya kamu jangan bersikap seperti ini sama aku. Apalagi aku yang memang sudah jalan takdirnya seperti itu. Kalau kamu kaya gini, kesannya jadi kamu menyalahkanku" ucap Lili yang menatap sendu suaminya.


"Bersikap bagaimana? Aku biasa saja tuh" ucap Aldo dengan acuh.


Bahkan Aldo sama sekali tak mau melihat kearah wajah Lili. Apalagi tatapan sendunya itu membuat dia sedikit terpengaruh. Aldo menghela nafasnya kasar berulangkali untuk menenangkan hatinya.


"Baiklah. Terserah kamu saja. Mau marah? Silahkan salahkan siapa saja yang kamu mau. Kalau kaya gitu, kesannya kamu menyalahkanku yang masuk dalam tubuh Kak Arlin. Kalau bisa memilih, aku juga nggak ingin seperti itu" seru Lili yang sudah tak tahan dengan sikap suaminya.

__ADS_1


Greppp...


Lili langsung berdiri kemudian pergi beranjak pergi dari dapur. Aldo yang melihat hal itu segera saja ikut berdiri kemudian memeluk istrinya dari belakang. Lili sempat terkejut, namun tak ayal ia memilih diam saja dibandingkan mengomel.


"Maaf... Mari kita bicarakan semua ini dari hati ke hati untuk menemukan solusinya" ucap Aldo dengan nada lembutnya.


"Baiklah. Aku merendahkan egoku untuk hubungan rumah tangga kita. Tapi jika nantinya kamu malah menjauhiku, terserah" ucap Lili memutuskan.


Aldo menganggukkan kepalanya dan membawa Lili pergi dari dapur. Keduanya akan berbicara empat mata di halaman belakang rumah. Dinginnya pagi hari itu, membuat Aldo terus memeluk istrinya. Apalagi keduanya hanya mengenakan baju tidur yang lumayan tipis.


***


"Aku hanya butuh waktu untuk menerima semua fakta yang ada. Aku tak bermaksud untuk menjauh atau bersikap bagaimana begitu sama kamu" ucap Aldo menjelaskan.


"Kamu bisa bilang kepadaku jika memang butuh waktu. Bukan malah langsung diam dan membelakangi tidur" ucap Lili yang menatap Aldo dengan tatapan kecewanya.


"Aku hanya shock. Suami mana yang tak terkejut jika mendapatkan fakta itu? Apalagi kamu masuk dalam tubuh Arlin yang notabene kita sudah tinggal bersama. Jiwa kamu belum menikah denganku waktu itu. Apa itu tak termasuk kita belum menikah?" tanya Aldo yang kebingungan dengan apa yang terjadi.


"Kita saja nggak pernah tidur berdua atau melakukan hubungan suami istri. Selalu ada Kei di tengah-tengah kita. Menurutku kita tak berbuat dosa karena tidak melakukan hubungan suami istri yang seharusnya. Toh ini memang merupakan takdir yang harus dijalani dan Tuhan punya rencana baik untuk kehidupan kita selanjutnya" ucap Lili.


Aldo terdiam mendengar apa yang diucapkan oleh Lili. Memang benar adanya jika keduanya jarang bersentuhan badan kecuali saat membantu Lili berjalan. Aldo merasa kalau dia sudah bersikap kekanak-kanakan karena pemikirannya pendek.


"Maafkan aku. Aku tak bisa berpikiran jernih karena terlalu shock. Namun aku sudah menerima jika kamu adalah istriku sekarang. Setidaknya aku sudah sedikit lega karena rasa penasaranku sudah teratasi" ucap Aldo.


Lili hanya menganggukkan kepalanya. Ia paham dengan apa yang dirasakan oleh suaminya itu. Keduanya memilih saling diam dan memeluk di gazebo belakang rumah itu. Apalagi Aldo yang takut jika akan kehilangan sosok istri yang begitu sabar mengurus dan mencintainya.


***

__ADS_1


"Aldo, Lili..." panggil Mama Nei pada sepasang suami istri yang tidur di gazebo belakang rumah itu.


Oekkk... Oekkk...


Bahkan tangisan bayi yang ada di dekat keduanya sama sekali tak membuat mereka bangun. Pagi ini, Mama Nei dan Papa Tito dibangunkan oleh Kei yang terbangun karena tangisan Baby Della. Bahkan Kei sudah berusaha membuat adiknya diam namun tak berhasil.


Mama Nei yang dibangunkan oleh Kei pun segera memeriksa kondisi cucunya yang ternyata popoknya sudah penuh. Setelah membersihkan semuanya, Baby Della tetap menangis. Mama Nei yakin jika Baby Della tengah haus. Makanya ia langsung mencari keberadaan anak dan menantunya.


"Papa, mama... Baby Della nanis lho. Malah pada tidul di cini, memangna ndak dinin apa?" seru Kei yang menggoyang-goyangkan tangan mamanya.


"Eh... Kalian kok ada di sini?" tanya Lili yang langsung terbangun karena mendengar suara tangisan dan teriakan anak kecil.


"Mama dimana cih? Itu Baby Della nanis lho" seru Kei yang memarahi mamanya.


"Astaga... Maafkan mama yang malah ketiduran di sini. Sini Baby Della-nya, ma" ucap Lili sambil meraih anak perempuannya yang pasti sudah sangat kehausan.


Mama Nei segera saja menyerahkan Baby Della kepada Lili. Bahkan Mama Nei juga sudah membawakan kain penutup untuk menyusui. Aldo masih tertidur pulas, tak terganggu sama sekali dengan keributan yang ada. Sedangkan Mama Nei langsung menggeplak tangan Aldo.


Plakkk...


"Aldo, bangun kamu. Anaknya nangis kok malah tiduran di sini" seru Mama Nei membuat Aldo langsung terbangun dengan cepat.


Bahkan Aldo sampai mengelus tangannya yang panas akibat geplakan dari Mama Nei. Aldo mendengus kesal karena mamanya itu sangat mengganggu tidurnya. Namun Aldo langsung melihat kearah Lili yang sibuk menyusui anak perempuannya.


"Apa? Mau marah sama mama? Sini kalau berani" ucap Mama Nei yang menantang anaknya.


"Enggak, ma. Apaan sih pagi-pagi ngajak ribut orang. Sana mama masak saja biar anak-anak sama aku" ucap Aldo yang malah mengusir mamanya.

__ADS_1


Mama Nei menggerutu kesal dan berlalu pergi sambil menghentak-hentakkan kakinya. Sedangkan Aldo langsung menggendong Kei yang kebingungan. Terlihat sekali kalau Kei juga masih mengantuk.


__ADS_2