Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Surprise


__ADS_3

Aldo menyiapkan hadiah khusus untuk calon istrinya yang sudah lulus sidang skripsi. Walaupun prosesnya setelah ini panjang dan Lili akan segera menikah dengannya, namun setidaknya ini bentuk perhatiannya. Lagi pula jarang sekali ia memberikan surprise romantis pada kekasihnya itu.


Waktu memintanya sebagai kekasih saja dengan paksaan. Tak ada moment romantis saat dia menyatakan cinta pada Lili. Ia ingin mengulang semuanya itu dengan cara yang berbeda. Bahkan Aldo rela untuk tak jadi berangkat ke rumah sakit demi mempersiapkan semua ini.


"Tolong persiapkan semuanya dengan benar. Itu bunga juga yang fresh. Masa sudah ada cokelat-cokelatnya gitu dipasang" ucap Aldo mengomentari semua pegawai yang memasang bunga dekorasi.


Sedari tadi Aldo terus berkomentar tentang kinerja mereka. Aldo ingin semuanya sempurna sehingga baru sedikit salah saja minta diganti. Hal itu membuat para pegawai risih dan semakin lama mengerjakannya.


"Lebih baik bapak istirahat di dalam ruangan saja. Di sini malah membuat bapak pusing lho. Apalagi kami mondar-mandir begini" ucap salah satu ketua pegawai di sana.


"Tapi awas ya, jangan sampai ada yang salah. Saya tak ingin calon istri saya kecewa karena kinerja kalian yang buruk" ucap Aldo dengan ucapan pedasnya itu.


Ketua pegawai itu hanya menghela nafasnya pasrah. Ia tak menyangka kalau akan mempunyai client yang super rempong seperti ini. Apalagi Aldo yang terlalu sering mengatur, membuat pekerjaan akan semakin bertambah lama.


Aldo langsung pergi setelah melihat anggukkan kepala dari ketua pegawai itu. Setelah melihat Aldo pergi, semua pegawai di sana menghela nafasnya lega. Pasalnya mereka tadi bekerja di bawah intimidasi dari Aldo yang membuatnya tak bisa berkonsentrasi.


"Ayo mulai lagi. Jangan sampai kita belum selesai dan malah mengecewakan client" seru ketua pegawai itu.


Semua pegawai yang tadi menghentikan pekerjaannya itu segera saja melanjutkan aktifitasnya. Jangan sampai mereka diomeli oleh Aldo yang sangat menyebalkan itu. Setidaknya semua pekerjaan harus tepat waktu walaupun clientnya menyebalkan.


***

__ADS_1


"Mau kemana sih?" tanya Lili yang sedari tadi mendumel.


Pasalnya setiap Lili menanyakan tentang kemana nereka pergi, selalu tak ada jawaban dari Aldo. Bahkan Aldo yang tadi tiba-tiba datang mengejutkannya di rumah, tak memberitahunya kemana akan pergi. Lili yang memang tak mempunyai persiapan apapun, kini pergi hanya dengan menggunakan piyama.


"Jangan banyak tanya. Nanti kamu juga akan tahu kita akan kemana" ucap Aldo.


Lili menghela nafasnya kasar. Ia sangat penasaran dengan tujuan mereka pergi. Apalagi Aldo yang mengenakan pakaian rapi dengan kemeja biru lautnya. Sedangkan dia berada di sampingnya menggunakan piyama. Sangat aneh jika nanti Aldo membawanya pergi di tempat sebuah pertemuan atau acara resmi.


Tak berapa lama, mobil berhenti di sebuah pantai. Lili mengernyitkan dahinya heran. Pasalnya udara di luar begitu dingin. Sangat aneh malam-malam begini ke pantai, kecuali kalau ada acara di tempat ini.


"Ini kita mau ngapain di pantai? Apa ada acara di sini? Kalau iya, kenapa Pak Aldo nggak ngijinin Lili buat ganti baju sih? Kalau mereka pada pakai pakaian resmi dan rapi gimana?" tanya Lili yang terus menerus berceloteh.


Tanpa banyak kata, Aldo segera saja mengambil kaos yang ada di kursi belakang kemudian menutup mata Lili menggunakan itu. Sungguh hal itu membuat Lili terkejut dan memberontak. Lili takut kalau sampai Aldo berbuat yang tidak-tidak kepadanya.


Tak...


Aldo langsung menyentil dahi Lili membuat gadis itu diam seketika. Bahkan Lili langsung mengusap dahinya karena terasa nyeri. Aldo hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kecerewetan calon istrinya itu.


"Cerewet sekali. Yang mau ngapa-ngapain kamu di sini juga siapa? Enakan juga di hotel. Jangan mikir aneh-aneh, belum juga lihat eh udah pikirannya kemana-mana" ucap Aldo yang seperti menceramahi Lili.


"Habisnya dari tadi nggak dikasih tahu mau kemana dan ngapain sih" ucap Lili tak mau kalah.

__ADS_1


Bahkan Lili sudah mengerucutkan bibirnya kesal. Aldo segera saja keluar dari mobil dan membuka pintu yang ada di sebelah Lili. Aldo langsung menarik tangan Lili keluar dari mobil. Aldo menggandeng calon istrinya itu dengan pelan.


"Dingin..." gumam Lili yang langsung memeluk tubuhnya sendiri.


Aldo yang melihat Lili kedinginan pun hanya bisa menepuk dahinya pelan. Ia lupa membawa jaket untuk calon istrinya itu. Tak berapa lama, keduanya sudah sampai di dekat area yang akan digunakan sebagai surprise. Mata Lili yang sedari tadi masih ditutup pun langsung dibuka oleh Aldo.


Lili mengerjapkan matanya berulangkali. Ia menatap sekitarnya dan begitu terkejut saat melihat dua buah kursi dengan satu meja di sana. Bahkan di atas meja itu terlihat kalau ada beberapa makanan. Di sana juga ada lampu-lampu kecil dengan dekorasi bunga mawar putih. Lili membekap mulutnya dengan kedua tangan, seakan tak percaya atas apa yang dilihatnya.


"Astaga..."


Lili terkejut saat di depannya ada Aldo tengah bersimpuh sambil memegang sebuah cincin. Terlalu lama larut dalam memperhatikan area sekitar membuatnya tak sadar jika Aldo ada di hadapannya. Mata Lili berkaca-kaca melihat Aldo yang sangat romantis itu. Padahal Lili tahu kalau Aldo bukanlah laki-laki yang romantis.


"Lili, walaupun kita sudah lamaran dan akan segera menikah namun aku ingin kembali mengulang acara lamaran ini. Apalagi waktu itu aku memaksa kamu untuk menikah. Lili, malam ini aku ingin mengungkapkan kalau aku mencintaimu. Tolong terimalah pernyataan cinta dari seorang laki-laki yang tidak romantis ini" seru Aldo.


Lili tak dapat berkata apa-apa. Di bawah cahaya kecil lampu, bintang dan bulan, hingga ombak pantai ini menjadi saksi tentang ungkapan cinta Aldo yang begitu tulus. Bahkan kedua pipinya sudah basah dengan air mata yang terus keluar dari matanya.


"Aku mau..." seru Lili yang kemudian memegang tangan Aldo yang membawa cincin.


Aldo segera memasangkan cincin itu pada tangan kanan di jari manis Lili. Setelahnya Aldo berdiri dan memeluk Lili dengan erat. Lili pun membalas pelukan Aldo sama eratnya. Bahkan Lili sudah terisak dan menangis tepat pada dada bidang Aldo.


"Terimakasih sudah mencintaiku sebesar ini. Terimakasih juga sudah memberikan kejutan romantis ini. Padahal dengan melamar langsung dan datang ke rumah itu sudah membuktikan perasaanmu. Tapi saya menghargai ini semua. Terimakasih" ucap Lili dalam pelukan Aldo.

__ADS_1


"Ini juga sebagai hadiah atas lulusanya sidang skripsimu. Tadi pagi Kei pulang langsung marah-marah karena aku belum kasih hadiah. Padahal aku ingin mengucapkan hal itu saat berdua saja" ucap Aldo yang langsung mengadu pada Lili tentang ulah anaknya itu.


Lili hanya bisa terkekeh pelan mendengar aduan Aldo tentang Kei. Ia sangat bahagia karena pada umurnya ini diberikan sosok laki-laki yang akan menjadi imamnya. Bahkan ia juga diberikan sosok anak yang akan melengkapi hidupnya.


__ADS_2