Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Kei Dalam Bahaya 2


__ADS_3

"Mama..." ucap lirih Kei dengan wajah memerah dan nafas tersengal-sengal.


Tentunya Arlin begitu shock hingga ingin meraih Kei masuk dalam pelukannya. Bahkan sang sopir juga melakukan hal yang sama namun langsung ditepis oleh Nada dan Rio. Sungguh pasangan yang tidak punya hati menurut mereka karena tanpa sebab langsung saja menyandera Kei.


Bahkan penjual yang ada di kantin dan beberapa mahasiswa yang baru saja datang begitu kaget dengan kejadian tiba-tiba ini. Mereka ingin sekali menolong namun Rio dan Nada mengancam akan melukai Kei jika semua mendekat.


"Kalau kalian datang kemari, akan kucolokkan ini garpu pada mata atau leheranya" ancam Nada sambil mengacungkan sebuah garpu.


Arlin sudah menangis karena melihat anaknya dalam bahaya seperti ini. Padahal tadi mereka hanya makan tanpa adanya kerusuhan yang dibuat. Namun tiba-tiba mereka datang dengan langsung membuat Kei dalam bahaya.


"Tolong panggilkan Pak Aldo, dosen Fakultas Kedokteran. Bilang kalau anaknya di kantin dalam bahaya" seru Arlin dengan tatapan permohonan.


Kakinya sudah terasa kram saat terlalu lama berdiri seperti ini hingga tangannya mencengkram erat pada meja yang ada disana. Salah satu mahasiswa disana langsung dengan sigap berlari memanggil Aldo. Rio dan Nada seketika sedikit lengah karena melupakan jika dua orang didepannya ini adalah keluarga dari salah satu dosen disini.


Bahkan sopir tadi terus mengawasi keduanya agar bisa menyelamatkan anak majikannya. Terlebih beberapa orang disana sudah berteriak karena melihat anak kecil diperlakukan seperti itu. Kini kondisi Kei juga sudah lemas dengan mata yang hendak menutup.


"Itu lepasin anak kecilnya. Jangan nyakitin dia, lihat itu dia udah lemas. Pikir dong pakai otak" seru salah satu mahasiswa.


"Kalian ini ada masalah apa? Kok sampai datang-datang terus nglakuin seperti ini sama anakku" seru Arlin dengan kesal.


Bugh...


Arrrgghhh...

__ADS_1


Tiba-tiba saja dari arah belakang kedua pelaku, ada seorang mahasiswa yang berani memukul tengkuk Rio. Tadi mahasiswa itu berjalan mengendap-endap sambil memberi kode pada Arlin agar terus mengajak pelaku berbicara dan sang sopir yang harus bersiap menangkap Kei.


Happp...


Kei berhasil masuk dalam tangkapan sopir setelah Rio mengerang kesakitan akibat pukulan dalam tengkuknya. Arlin sedikit menghela nafasnya lega setelah melihat keadaan anaknya yang baik-baik saja. Semua mahasiswa langsung saja menyandera Nada dan Rio agar mereka tak kabur.


Padahal tadi Nada sudah melihat kearah sekitar untuk melarikan diri namun dengan sigap mahasiswa disana mengetahui gerak-gerik gadis itu. Nada menatap khawatir kearah Rio yang masih mengerang kesakitan dengan dipegangi oleh beberapa mahasiswa.


"Hei... Dia kesakitan, ngapain juga kalian pegang tuh tangannya" seru Nada tak terima.


"Tadi aja dia terus mencekik leher anak kecil yang sudah kesakitan tanpa mau melepaskan cekikannya kok" sentak salah satu mahasiswa.


Kei kini sudah berada didalam pelukan Arlin. Arlin segera menenangkan bocah kecil itu dengan diberikan air minum. Beruntung bocah kecil itu sudah dapat menetralkan nafasnya walaupun kini malah menangis sesenggukan dalam pelukan Arlin. Arlin merasa bersalah pada anaknya ini karena tak bisa melakukan apa-apa untuknya disaat kondisi darurat seperti itu.


"Astaga... Ada apa ini?" seru Aldo yang langsung mendekat kearah anak dan istrinya.


Tadi saat ia dipanggil oleh salah satu mahasiswa dan diceritakan sekilas, ia segera saja pergi berlari menyusul anak juga istrinya. Ia tak menyangka kalau anaknya berada disini yang tentu membuat khawatir terlebih kondisinya. Sesampainya disana, ia sedikit menghela nafasnya lega karena sang anak sudah berada dalam pelukan istrinya.


"Kalian tak apa?" tanya Aldo pada istrinya dengan raut wajah khawatirnya.


Arlin hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban karena harus menenangkan anaknya ini. Bahkan Arlin harus duduk karena tak sanggup berdiri lama disaat menggendong anaknya ini. Aldo langsung saja menatap kearah dua pelaku yang kini masih dipegangi tangannya oleh beberapa mahasiswa disana.


"Kalian apakan anakku? Salah apa mereka?" sentak Aldo yang langsung mencengkeram kerah baju Rio.

__ADS_1


Ia tak terima anaknya dicekik, tentunya anak sekecil itu bisa saja trauma karena perilaku seperti ini. Bahkan kini Aldo menatap tajam kearah Rio yang masih sedikit kesakitan. Rio dengan wajah menantangnya langsung saja menatap kearah Aldo.


"Biar kalian tak lagi macam-macam padaku terutama wanita itu. Dia yang nantinya hanya akan menghancurkan rencanaku kalau masih tak mau menurut pada kami" sentak Rio dengan wajah memerah.


Tentunya Aldo hanya bisa geleng-geleng kepala karena tak mengerti dengan arah pembicaraan dari Rio ini. Perasaan dari kemarin istrinya atau dia tidak pernah berurusan dengannya lalu sekarang ini apa yang dibicarakan. Aldo menatap istrinya yang dijawab gelengan kepala olehnya. Sepertinya Aldo paham dengan apa yang dimaksud oleh istrinya itu.


"Rencana apa yang kamu maksud? Istriku dan saya tak mengenal kalian berdua. Lalu maksudnya apa?" tanya Aldo dengan nada penuh penekanan.


"Lepas..." sentak Rio dengan memegang tangan Aldo yang mencekiknya.


Tentu Rio takkan pernah memberitahu rencana apa yang hendak dirusak oleh Arlin atau Aldo. Yang ada, malah semuanya menjadi berantakan atau kemungkinan besar keduanya akan masuk penjara. Ini semua rencana berhubungan dengan Arlin yang notabene katanya sahabat Lili.


"Tidak akan. Sebelum kau mengatakan rencana yang dimaksud. Pasti rencana itu buruk sehingga kau tak mau mengucapkannya" ucap Aldo sambil tersenyum menyeringai.


Rio dan Nada hanya bisa menggeleng tak percaya. Pasalnya mereka pikir, menghadapi Aldo sangat mudah karena laki-laki itu selalu berpikir lurus namun ternyata sangat cerdik. Bahkan kini Aldo hanya terus mengeratkan cekikannya pada Rio sampai laki-laki itu nafasnya tersengal-sengal.


"Pak Aldo, lebih baik bawa mereka ke polisi saja. Daripada mengotori tangan anda sendiri" ucap salah satu mahasiswa memperingatkan.


Aldo yang kalap ingin menghabisi Rio pun kini langsung menganggukkan kepalanya. Aldo melepaskan cekikannya tiba-tiba membuat tubuh Rio meluruh ke lantai. Tentunya mahasiswa lain langsung membawanya pergi agar diserahkan ke pihak yang berwajib.


"Jangan bawa kami pergi ke kantor polisi" seru Nada.


"Kami tak bersalah" serunya lagi.

__ADS_1


Tentu hal ini tak digubris sama sekali oleh Aldo. Ia tadi sudah meminta salah satu mahasiswa untuk mengawasi Rio dan Nada. Tentunya hingga sampai ke pihak yang berwajib dengan benar. Ia juga langsung menghubungi pengacaranya agar mengurus semia ini. Ia tak mau kalau Rio dan Nada bisa kabur begitu saja karena tak ada pengawasan darinya.


__ADS_2