
"Aldo, ingat ini rumah sakit. Apalagi disini ada Arlin, apa kau ingin membuat istirahatnya terganggu?" kesal Papa Tito yang langsung menarik tangan anaknya agar tidak lagi memukuli tembok.
"Biar. Biarin Arlin terganggu dan segera bangun" seru Aldo berteriak histeris.
Papa Tito langsung memeluk anaknya itu dengan erat. Terlebih Aldo masih meronta dalam pelukan papanya karena masih ingin memukul tembok. Sepertinya Aldo belum puas untuk meluapkan semua perasaannya sehingga masih ingin memukuli tembok itu. Bahkan tembok yang tadi dipukuli oleh Aldo saja sudah berlumuran darah dari buku-buku tangannya yang terluka.
Papa Tito memeluk anaknya dengan erat kemudian membawanya keluar dari ruangan Arlin sekuat tenaga. Walaupun Aldo masih memberontak, namun Papa Tito takkan membiarkan anaknya itu malah mengganggu Arlin yang sedang istirahat. Bahkan Aldo sampai menangis karena rasa bersalahnya yang tidak bisa menjaga istrinya dengan baik.
"Biarkan Aldo disana, pa. Aldo nggak mau jauh-jauh dari Arlin" serunya tak terima dipaksa keluar dari ruang rawat inap istrinya.
Dugh...
Tiba-tiba saja, Papa Tito langsung melepaskan pelukannya dari sang anak kemudian menghempaskan Aldo pada rerumputan yang ada didekat taman rumah sakit. Aldo terjatuh dan terjengkang kebelakang karena tak siap dengan dorongan dari papanya itu.
Aldo sedikit merasakan sakit pada bagian siku tangannya namun ia abaikan. Rasa sakit dihati juga pikirannya membuat ia lupa kalau kini tangannya juga berdarah. Aldo langsung saja berdiri kemudian hendak melenggang masuk dalam kamar rawat inap istrinya. Papa Tito yang melihat hal itu langsung saja mencegahnya.
"Jangan pernah kau masuk dalam ruangan Arlin kalau otakmu saja masih geser. Luruskan dulu otakmu" ucap Papa Tito dengan nada sinisnya.
"Dia istriku. Aku berhak untuk menemuinya" seru Aldo tak terima.
"Dia memang istrimu, tapi papa sebagai mertuanya tak rela jika menantuku dirawat oleh orang tak waras sepertimu. Tenangkan dulu hati dan pikiranmu, barulah kau temui Arlin yang sedang sakit. Kau bahkan tidak memikirkan anakmu yang ketakutan melihatmu kalap seperti tadi" ucap Papa Tito dengan menatap tajam anaknya.
Papa Tito langsung saja pergi meninggalkan Aldo yang termenung setelah mendengar ucapannya. Papa Tito tak peduli jika anaknya itu tersinggung karena baginya mereka harus sama-sama berpikir jernih saat ini. Apalagi mereka harus menemukan siapa pelaku tabrak lari ini.
__ADS_1
Terlebih Kei dan Mama Nei kini juga butuh kehadirannya karena takut juga iba terhadap apa yang terjadi pada Aldo. Sedangkan Aldo sendiri kini termenung dengan kaki lemahnya yang langsung meluruh ke rerumputan yang ada disana. Ia merasa bodoh karena tak mampu berpikir jernih dalam menyelesaikan masalah ini.
"Bodoh sekali kau, Al. Harusnya kamu bantuin papamu untuk menangkap pelaku tabrak lari dan menenangkan mama juga anakmu. Bukan malah kaya orang tak waras seperti ini" ucapnya lirih.
Setelah menangis sendirian di taman rumah sakit, Aldo segera saja bangkit kemudian menghapus air mata yang mengalir pada kedua pipinya. Ia berlalu pergi dari taman tanpa menghiraukan orang-orang yang melihatnya dengan tatapan aneh. Tujuannya saat ini adalah mencari keberadaan anaknya.
***
Sedangkan kini dialam bawah sadar...
Lili berjalan-jalan disuatu bukit hijau yang begitu menyejukkan hati. Walaupun ia terluka karena kecelakaan, namun melihat tubuhnya baik-baik saja sungguh membuatnya bahagia. Bahkan kini Lili langsung saja melompat-lompat diatas bukit itu tanpa menggunakan alas kaki. Hatinya merasa bahagia karena seperti terlepas dari beban yang begitu berat dalam pundaknya.
"Apa ini aku sudah terbebas dari tubuh Arlin? Tapi masalah mengungkap dalang peristiwa kecelakaan Arlin itu masih belum terungkap. Ini juga belum satu bulan, masih ada waktu beberapa hari lagi" ucap Lili kebingungan.
Lili menghela nafasnya lelah kemudian memilih untuk duduk diatas rerumputan dan menatap langit yang begitu cerahnya. Ia masih tidak menyangka berada ditempat yang sejuk dan sepi seperti ini. Seharusnya ia terbangun di rumah sakit, namun malah disebuah bukit.
"Ah... Makhluk banyak dosa kaya gue mana bisa masuk surga secepat ini" gumamnya sambil terkekeh.
Disaat Lili masih melamunkan nasibnya yang berada disini, tiba-tiba saja ada seorang perempuan yang duduk disampingnya. Lili yang merasa diperhatikan pun langsung mengalihkan pandangannya kearah samping kemudian terkejut saat melihat siapa yang ada didepannya. Lili menggeser tubuhnya menjauh dari perempuan yang amat dikenalnya itu.
"Hai Lili..." sapa perempuan itu sambil melambaikan tangannya.
"Arlin..." seru Lili dengan raut wajah terkejutnya.
__ADS_1
Perempuan yang ada disamping Lili itu adalah Arlin. Sosok wanita yang tubuhnya digunakan Lili untuk dimasuki raganya. Akhirnya Lili tersenyum karena saat ini dirinya tidak sendirian berada disini. Lili yakin pertemuannya dengan Arlin ini pasti mengisyaratkan sesuatu tentang nasibnya kedepan.
"Apa ini sudah saatnya aku kembali dalam ragaku yang asli? Atau aku akan tetap dalam ragamu?" tanya Lili sambil memandang lurus kedepan.
"Aku juga tak tahu. Mungkin setelah perbincangan ini, kita akan tahu takdir apa yang terjadi" ucap Arlin sambil geleng-geleng kepala.
Arlin sendiri tak tahu akan seperti apa kedepannya. Namun yang pasti, Arlin asli sudah meninggal sehingga tinggal menunggu takdir saja. Entah Lili akan seterusnya tinggal dalam raganya atau kembali pada tubuh aslinya. Kalau Lili kembali kedalam raga aslinya, sudah pasti tubuhnya juga ikut meninggal bersama dengan jiwanya.
"Kalau begitu untuk apa kita disini? Lebih baik segera pergi kemudian tahu takdir apa yang akan terjadi" kesal Lili yang merasa dipermainkan oleh Arlin.
Arlin hanya tertawa kecil melihat kekesalan dari Lili. Namun setidaknya kini ia sudah lebih sedikit tenang karena anak dan suaminya pernah merasakan kebahagiaan juga kehangatan dari dirinya. Walaupun bukan dari jiwanya yang asli.
"Apapun takdir yang nantinya kamu jalani, aku disini hanya ingin mengucapkan terimakasih pada kamu karena sudah memberikan kebahagiaan pada anak dan suamiku. Jika setelah ini kamu kembali pada tubuhmu, aku harap kamu juga masih bisa memberikan kasih sayang pada keduanya. Kalau masih berada dalam tubuhku, aku harap kamu memberikan kebahagiaan untuk mereka karena sebenarnya memang aku sudah tidak ada didunia ini" ucap Arlin dengan tatapan sendunya.
Lili yang mendengar hal itu tentunya hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Ia tak bisa memilih takdir mana yang harus ia jalani setelah ini. Setelah terbangun, ia pasti akan menemukan jawabannya namun ia takut untuk melihat kenyataan yang ada.
"Masalahmu mengenai dalang kecelakaanmu?" tanya Lili mengalihkan pembicaraan.
"Kamu bisa selesaikan setelah terbangun dari tidur panjangmu. Entah itu nanti saat jadi Lili ataupun Arlin" ucap Arlin sambil tersenyum.
Lili hanya menganggukkan kepalanya kemudian menatap lurus kedepan. Ia bingung sendiri dengan ini semua, namun ia haruslah menerima segala takdir yang akan menghampiri.
"Terimakasih karena berkat tubuhmu, aku bisa tahu tentang kebusukan orang-orang terdekat. Apapun takdirnya nanti, aku hanya ingin mengucapkan terimakasih. Berbahagialah di surga, Arlin" ucap Lili dengan tulus.
__ADS_1
Arlin menganggukkan kepalanya. Keduanya saling memeluk dan mengusap punggung lawannya dengan lembut. Seakan mereka saling menguatkan, hingga ada sebuah sinar putih yang menarik Lili hingga pelukan keduanya terlepas.
"Selamat menjalani kehidupan aslimu, Lili" gumam Arlin yang kemudian menghilang dibawa oleh cahaya lain.