
"Eh..."
Lili tersadar dan kembali pada kenyataan setelah ada seseorang yang menepuk bahunya. Ia yang tadinya terfokus dengan bayangan Amira pun langsung mengalihkan pandanganya kearah seseorang yang menepuk bahunya. Lili sedikit terkejut saat melihat siapa orang yang ada dibelakangnya itu.
"Bapak ngapain ke sini?" tanya Lili dengan tatapan penasarannya.
Seseorang yang menepuk bahu Lili itu ternyata adalah Aldo. Bahkan Lili juga menatap heran pada sekeliling taman itu. Pasalnya semua orang menatapnya dengan pandangan khawatirnya. Bahkan dalam tatapan Aldo pun sangat berbeda.
Lili segera saja mengalihkan pandangannya pada kursi taman yang ia tadi lihat. Ternyata di sana sudah tidak ada Amira yang berlarian. Lili yang melihat hal itu langsung mengusap wajahnya dengan kasar. Sepertinya tadi ia sedang berhalusinasi tentang Amira yang ada di sini.
"Saya hanya menyadarkanmu dari lamunan. Jangan suka melamun, nanti dibawa sama seseorang di dunia lain bakalan bikin gaduh irang banyak. Apalagi kejadiannya di rumah sakit saya. Saya tak ingin rumah sakit saya nama baiknya jadi tercoreng" ucap Aldo dengan ucapan pedasnya.
Aldo yang tadinya sedang memimpin rapat dan mengetahui adanya hal tak beres pada semua penanggungjawab divisi pun memilih memberi waktu jeda 30 menit. Waktu jeda 30 menit untuk mereka menyiapkan laporan yang diinginkannya. Kalau laporan itu tak ada, maka bersiaplah angkat kaki dari rumah sakit miliknya.
Saat tengah jalan-jalan di area rumah sakit, samar-samar ia mendengar ucapan ibu-ibu. Mereka bilang adanya gadis aneh yang kemungkinan tengah kesurupan di taman. Sontak saja Aldo langsung melihat keadaan gadis itu di taman. Tak diduga, ternyata gadis yang dimaksud oleh ibu-ibu itu adalah Lili.
Benar saja, Lili seperti orang linglung. Bahkan pandangannya kosong dan seperti tengah memanggil sesuatu dengan mulutnya yang komat-kamit. Aldo pun langsung menepuk pundak dari Lili agar gadis itu segera kembali ke dunianya karena itu bukanlah kejadiab kesurupan.
"Mana ada saya kesurupan? Gadis sholehah seperti saya ini pasti dilindungi oleh malaikat dan Allah" ucap Lili tak terima.
"Buktinya saja mulut kau komat-kamit. Apa jangan-jangan kau tengah mengucapkan kalimat mantra dari dukun?" tanya Aldo yang menuduh Lili.
__ADS_1
"Sembarangan kalau ngomong, pak" kesal Lili dengan tuduhan yang dilayangkan oleh Aldo kepadanya.
Apalagi tatapan ngeri yang ditujukan kepadanya oleh orang-orang yang ada di taman itu. Mereka semua segera saja membubarkan diri setelah tahu kalau dirinya baik-baik saja. Aldo pun hanya mengedikkan bahunya acuh kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di taman itu.
Aldo memilih untuk merilekskan pikirannya agar tak pusing saat memikirkan rumah sakitnya ini. Lili pun juga ikut duduk di sana walaupun jaraknya sedikit jauh. Mereka terdiam sambil memandang ke atas langit, tanpa ada pembicaraan apapun.
"Pak Aldo yang galak, bukannya anda itu seharusnya ada di ruang rapat? Kok malah di sini. Wah... Masa rapatnya sebentar sekali sih" ucap Lili yang seakan menuduh dosennya itu.
"Apa urusannya dengan anda? Toh ini rumah sakit milikku, jadi saya mau mimpin rapat 1 detik atau menit itu pun menjadi urusan saya" ucap Aldo dengan sewot.
Lili pun menatap sinis kearah Aldo yang seperti tak menyukai kehadiran dirinya. Niatnya bertanya juga dengan nada baik-baik. Lagi pula Lili baru sadar dari dunia fana yang menggelayutinya. Beruntung juga ada Aldo yang menyadarkannya kembali. Kalau tidak, ia sudah tak tahu lagi sampai kapan akan terjebak dalam dunia itu.
"Sepertinya aku harus menjenguk Amira di makamnya. Dia pasti memperlihatkan dirinya di depanku karena rindu padaku" gumamnya pelan.
Lili bertekad untuk mengunjungi Lili di makamnya. Sepertinya halusinasinya mengenai melihat Amira itu pertanda kalau gadis cilik itu ingin dijenguk. Semua gerak-gerik yang ditunjukkan oleh Lili itu sangat terlihat dalam pandangan Aldo.
"Tadi siapa yang duduk disebelahmu?" tanya Aldo tiba-tiba.
Aldo hanya tak ingin kalau Lili itu sampai kesurupan seperti yang orang-orang yang tadi bicarakan. Apalagi melihat Lili yang terdiam dan menggumamkan kalimat-kalimat yang mengarah pada nama seorang perempuan. Ia yakin kalau Lili masih memikirkan tentang kejadian tadi.
Lili yang mendengar kalau ada yang mengajaknya bicara pun langsung melirik kearah sampingnya. Ternyata Aldo yang mengajaknya bicara. walaupun laki-laki menatap lurus ke depan. Lili pun melakukan hal yang sama dengan Aldo, menatap ke depan dan menjawab pertanyaan laki-laki itu.
__ADS_1
"Siapa maksudnya, pak? Lha ini yang duduk di samping saya itu Pak Aldo sendiri" ucap Lili sambil terkekeh pelan.
"Bukan saya, bodoh. Tapi yang di kantin tadi" ucap Aldo yang langsung menoyor pelipis Lili.
Lili pun mengerucutkan bibirnya kesal sambil mengusap pelipisnya. Kesal sekali dirinya dengan Aldo itu yang langsung main menoyor kepalanya. Lili menatap sinis kearah Aldo yang bersikap santai dan tak merasa bersalah sama kali.
"Bukannya yang duduk di samping saya itu juga dokter di rumah sakit ini, pak. Seharusnya bapak sebagai pimpinan di rumah sakit ini tahu dong siapa dokter yang ada di sini. Bahkan itu Dokter Fadly memuji bapak setinggi langit, seakan seseorang yang paling cerdas dan sempurna. Padahal..."
Lili menjeda ucapannya sambil melihat kearah Aldo dari atas ke bawah. Aldo yang melihat itu mengernyitkan dahinya heran. Pasalnya ia tak paham dengan apa yang dimaksud oleh Lili ini.
Ia juga tak mengenal Dokter Fadly yang katanya memuji dirinya itu. Lagi pula untuk urusan penerimaan dokter di rumah sakit ini juga bukan atas persetujuannya. Melainkan atas persetujuan papanya. Ia pun ke sini juga atas perintah dari papanya itu.
"Padahal apa?" tanya Aldo penasaran.
"Padahal menyebalkan dan galak" seru Lili yang langsung berdiri dari duduknya.
Bahkan Lili segera saja berlari pergi dari hadapan Aldo sebelum laki-laki itu mengamuk. Apalagi tadi Lili sempat melihat wajah Aldo yang memerah karena sedang ingin marah. Sungguh hal itu membuat Lili sedikit takut sehingga memilih pergi saja. Tak lupa Lili tertawa terbahak-bahak karena sudah menjahili Aldo.
"Awas saja kau. Akan ku buat kau kesusahan" kesalnya.
Aldo mengusap wajahnya kasar. Padahal ia tak galak, namun memang tegas dan disiplin. Namun memang semuanya jadi salah mengartikan. Ia pun merasa bodo amat dengan tanggapan oranglain. Pasalnya bagi Aldo, ketegasannya ini juga untuk mewujudkan generasi yang disiplin dan tak lemah.
__ADS_1