Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Hilang 2


__ADS_3

"Astaga... Rasanya aku bisa depresi kalau kaya gini terus. Apalagi sudah setengah jam kita berkeliling tapi nggak juga nemuin Kei" kesal Aldo yang sudah menggerutu.


Aldo dan Lili yang ada di sampingnya sudah berkeliling area dekat sekolah namun tak juga menemukan keberadaan Kei. Ia tak menyangka kalau Kei bisa menghilang seperti ini karena kejadian tadi pagi. Lili hanya diam sambil terus melihat kearah jalanan dengan tatapan khawatirnya.


"Ini semua gara-gara kamu. Seharusnya kamu itu nggak berangkat duluan dan ninggalin Kei gitu aja" ucap Aldo yang kini menyalahkan Lili.


"Saya ada perlu sama Pak Sandy pagi ini. Makanya saya buru-buru berangkat ke kampus. Saya pikir anda juga akan meluangkan waktu untuk menemani Kei sekolah. Lagian saya ini bukan siapa-siapanya Kei walaupun kami dekat" kesal Lili yang tak terima disalahkan terus menerus.


Aldo menatap sinis Lili yang mengucapkan hal itu kepadanya. Lagian menurutnya tetap Lili yang bersalah. Aldo memang tak terlalu suka kalau berurusan langsung dengan ibu-ibu di sekolah anaknya. Apalagi saat pertama kali menginjakkan di sana, ia sudah menjadi pusat perhatian.


"Jadi kamu ingin saya jadikan apa? Mau saya jadikan istri saya dan ibu dari Kei tapi nolak. Jangan cuma mau dikejar terus kalau tak pernah berniat memberi kepastian" ucap Aldo dengan sinisnya.


Lili memilih diam saja daripada menyela ucapan Aldo itu. Pasalnya itu hanya menimbulkan keributan besar dan pencarian Kei terhambat. Apalagi kini mereka tak tahu sama sekali bagaimana keadaan Kei.


"Coba ke taman yang di dekat panti asuhan" ucap Lili.


"Yang benar saja Kei sampai di sana? Itu jaraknya jauh dari sekolah. Pasti Kei bakalan capeklah kalau ke sana" ucap Aldo yang menolak usulan dari Lili itu.


"Diam deh. Mending ke sana kenapa sih? Lagian nggak ada salahnya buat nyoba ke sana" kesal Lili karena Aldo banyak ngomong.


Akhirnya Aldo hanya bisa menganggukkan kepalanya pasrah mendengar perintah dari Lili itu. Mobil akhirnya melaju menuju kearah taman yang dimaksud oleh Lili. Walaupun kemungkinannya kecil, namun setidaknya mereka sudah berusaha. Kalau sampai tak ketemu juga, Aldo langsung akan melaporkan kejadian ini pada kepolisian setempat.


***

__ADS_1


"Wah... Telimatacih cudah bantu Kei adi" ucap seorang bocah laki-laki bernama Kei yang tak lain adalah anak dari Aldo.


Kini Kei sedang berada di sebuah Panti Asuhan yang lumayan jauh dari sekolahnya. Ia juga bingung kenapa bisa sampai sejauh itu berjalan dari sekolahnya. Bahkan saking tak sadarnya, Kei tak merasakan lelah sama sekali.


Ia tadi ditolong oleh salah satu anak yang tinggal di Panti Asuhan karena diganggu oleh preman. Beruntung anak-anak itu dibekali bela diri dari sekolah juga pengelola Panti Asuhan. Alhasil Kei kini ikutan bersama anak-anak lainnya menuju Panti Asuhan.


"Sama-sama. Lagi pula kamu ngapain sih jalan sendirian, mana masih pakai baju sekolah lagi" tanya seorang bocah laki-laki yang sudah berumur 20 tahun, Ageng.


"Kei kabul dali cekolah dala-dala nambek cama papa. Bialin caja papa mikil talo Kei diculik" ucap Kei dengan santainya.


"Kamu nggak boleh membuat khawatir orangtua. Kasihan mereka, pasti sekarang sedang khawatir dan sedih karena kamu dikira hilang. Lebih baik aku antar kembali ke sekolah ya" ucap Ageng berusaha membujuk Kei.


Kei dengan tegas segera saja menggelengkan kepalanya. Ia tak mau diantar kembali ke sekolah. Ia lebih nyaman berada di Panti Asuhan ini. Banyak temannya, bahkan mereka saling berbagi makanan dan cerita. Kei suka suasana yang ramai begini.


"Tapi nanti Kak Ageng kerja sore sampai malam. Ini kamu nanti nggak ada yang antar lho, soalnya pengelola Panti Asuhan semua cewek. Yang paling besar di sini hanya kakak, jadi harus dipastikan kalau semuanya sudah ada di sini kalau kakak pergi" ucap Ageng memberitahu.


"Baitlah. Nanti bial Kei itut Kak Ageng peldi bekelja caja. Capa tahu ada yang kenal cama Kei telus ajak ulang. Coalnya Kei lupa dalan ulang" ucap Kei.


Ageng hanya menganggukkan kepalanya pasrah. Saat nanti ia bekerja dan tak bertemu keluarga Kei, pastinya ia harus membawa bocah kecil itu kembali ke Panti Asuhan. Kei dibiarkan bersama anak-anak yang lainnya di sebuah taman dengan Ageng yang mengawasi.


Kebanyakan anak-anak Panti Asuhan di sana memang tidak bersekolah karena keterbatasan biaya. Yang sekolah hanya beberapa saja, itupun karena mendapatkan beasiswa. Ageng pun dulu juga mendapatkan beasiswa sekolahnya namun ia memilih keluar agar bisa mencari uang untuk membantu Panti Asuhan.


"Kei..." teriak Lili saat melihat Kei tengah berlarian di taman bersama yang lainnya.

__ADS_1


Sontak saja Kei langsung mengalihkan pandangannya kearah suara seseorang yang memanggilnya. Kei begitu senang melihat Lili menemukan dirinya. Namun yang membuatnya kesal adalah sang papa yang kini berdiri di belakang Lili.


"Ante Lili..." seru Kei sambil melambaikan tangannya kearah gadis itu.


Kini Lili langsung saja berlari kearah Kei kemudian memeluknya erat setelah sampai di depan bocah cilik itu. Lili begitu takut kalau terjadi sesuatu pada Kei. Beruntung dia mempunyai kepekaan yang begitu tinggi tentang keberadaan Kei.


"Kamu kemana aja sih, nak? Kenapa malah ninggalin sekolah. Kami khawatir" ucap Lili dengan mata berkaca-kaca.


"Mamapin Kei. Abisna Kei kecal cama papa. Papa ilang talo Kei manda" kesal Kei yang kini mengadu pada Lili.


"Memang benar kok. Kei memang manja" ucap Aldo yang tak mau disalahkan.


Lili hanya bisa menghela nafasnya lelah menghadapi Aldo yang sama sekali tak bersikap dewasa. Padahal menghadapi anak kecil itu harus sabar bukan malah menghakimi atau menyalahkannya. Kei menatap sinis papanya yang sama sekali tak mau mengalah dengannya.


"Sudah. Ayo Kei, kita pulang" ajak Lili yang langsung melerai keduanya.


"Bental. Tenalan dulu cama teman-teman Kei" ucap Kei yang langsung menarik tangan Lili kearah Ageng dan anak-anak Panti Asuhan lainnya.


"Ini Kak Ageng. Dia tindal di Anti Ahan itu lho. Kak Ageng baik, adi antu Kei yang diadang cama pleman" seru Kei dengan antusias menceritakan kejadian tadi.


Cerita Kei itu membuat Lili dan Aldo terlejut. Bahkan kini keduanya langsung memeriksa semua anggota tubuh Kei untuk memastikan bocah kecil itu baik-baik saja. Mereka tak ingin kalau sampai terluka. Tak berapa lama, keduanya menghela nafasnya lega karena semuanya aman.


"Makanya jangan berani-berani keluar sendiri, Kei" tegur Aldo pada anaknya.

__ADS_1


"Jangan marahi Kei, pak" tegur Lili membuat Aldo menghela nafasnya kesal.


__ADS_2