
Sialan...
Arrghhhh...
Ternyata beberapa polisi sudah masuk dalam gedung tua itu dan melepaskan tembakan pada kaki dan tangan Dokter Adnan. Sehingga kursi yang tadinya ingin dilemparkan Dokter Adnan pada Aldo langsung terjatuh.
Aldo dengan cepat melepaskan istrinya dan membawanya mendekat pada papanya. Ternyata Papa Tito juga ikut dalam aksi penyelamatan menantunya itu. Apalagi kini Papa Tito berada dalam barisan para polisi.
"Pa, titip Lili. Aldo harus memberi pelajaran pada si Adnan yang nggak pantas jadi dokter itu" ucap Aldo dengan tegas.
"Jangan gegabah, Al. Ada polisi, jangan sampai kamu ikut jadi tersangka" ucap Papa Tito memperingatkan.
Aldo hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Melihat istrinya sudah lemas dengan beberapa lebam yang ada pada pipinya membuat Aldo naik pitam. Apalagi di kedua sudut bibir istrinya itu terdapat darah yang keluar.
"Dasar sialan... Kau pikir ketika masuk penjara nanti bisa hidup tenang dan keluar dengan mudah? Saya takkan membiarkannya. Asal kau ingat, kau itu hanya bagaikan debu yang harus segera dimusnahkan" ucap Aldo dengan menatap tajam kearah Dokter Adnan.
Dokter Adnan tak menjawab apapun atau membalas ucapan dari Aldo. Pasalnya ia menahan rasa sakit di tangan dan kakinya. Saat ini, Dokter Adnan dibawa oleh beberapa polisi untuk keluar dari gedung tua itu.
"Al, ayo buruan ikut keluar. Kamu mau uji nyali di sini apa?" ucap Papa Tito yang langsung memanggil anaknya itu.
Pasalnya Aldo hanya diam berdiri dan menatap kearah kepergian Dokter Adnan. Bahkan kedua tangannya mengepal erat karena begitu emosi dengan kelakuan dari pegawainya itu. Mendengar panggilan sang papa, Aldo segera saja mengalihkan pandangannya dan menganggukkan kepala.
"Biar Aldo saja yang gendong Lili, pa. Aldo tahu kalau punggung papa kan memang suka encok" ucap Aldo yang tiba-tiba meledek papanya.
"Enak saja kau bilang. Dalam kondisi seperti ini malah meledek orangtuanya" ucap Papa Tito yang kemudian melenggang pergi setelah memberikan Lili pada gendongan Aldo.
"Ayo kita pulang, Kei pasti sudah menunggu kepulanganmu" bisik Aldo tepat pada telinga istrinya itu.
__ADS_1
Lili hanya menjawab dengan anggukan kepala. Pusing di kepalanya membuat dia memilih diam saja. Apalagi badannya terasa lemas karena banyak tenaga ia gunakan untuk memberontak. Aldo membawa Lili keluar gedung tua itu dengan hati-hati.
"Saya akan mengurus orang itu esok hari. Kondisi istri saya tidak mungkin memberikan keterangan" ucap Aldo setelah bergabung bersama dengan pihak yang berwajib.
"Kami mengerti, pak. Kalau begitu, kami undur diri terlebih dahulu" ucap salah satu polisi.
Aldo dan Papa Tito menganggukkan kepalanya. Ketiganya segera masuk dalam mobil dengan satpam rumah sakit yang mengemudikan. Ada juga di belakangnya, mobil polisi mengikuti kendaraan Aldo.
"Langsung pulang ke rumah kami saja, pak. Nanti bapak bisa istirahat di ruang tamu" ucap Papa Tito pada satpam itu.
"Eh... Apa tidak apa-apa, pak? Saya ijin tidur di pos satpam rumah saja" ucap satpam itu tak enak hati dengan tawaran Papa Tito.
"Pos satpam mana bisa buat tidur leluasa. Sudah jangan membantah. Dikasih tidur di kasur empuk kok malah ditolak. Aneh sekali..." ucap Aldo dengan sedikit menyindir satpam di rumah sakitnya itu.
Tentu saja itu membuat satpam itu kicep. Bahkan memilih untuk mengikuti kemauan dari pemilik rumah sakit. Butuh waktu hampir 2 jam untuk sampai mansion kediaman Aldo. Satpam itu hanya bisa memelototkan matanya melihat hunian mewah ini.
Satpam itu segera saja masuk dalam mansion mengikuti Aldo dan Papa Tito. Salah satu maid langsung menunjukkan kamar untuk istirahat satpam. Mama Nei yang melihat kehadiran suami, anak, dan menantunya segera saja mengikutinya.
"Biar mama saja yang ganti pakaian Lili. Kalian bersih-bersih dulu. Apalagi sebentar lagi sudah shubuh lho" ucap Mama Nei.
"Sekalian siapin kotak obat, ma. Buat obatin wajah Lili" ucap Aldo setelah meletakkan Lili di atas ranjang.
Mama Nei menganggukkan kepalanya mengerti. Papa Tito segera saja keluar dari kamar Aldo untuk membersihkan diri. Begitu pula dengan Aldo yang memilih membersihkan diri di kamar lain dengan membawa baju ganti. Mama Nei mengganti baju Lili dan menyeka tubuhnya dengan kain basah.
"Ya Allah, nak. Kenapa ini punggungmu juga lebam gini?" gumam Mama Nei dengan mata yang berkaca-kaca.
Apalagi saat melihat punggung Lili yang lebam dan wajahnya yang bengkak. Baru beberapa bulan lalu Lili mengalami penusukan, sekarang malah penculikan. Mama Nei hanya berharap kalau ujian di rumah tangga anaknya itu sampai di sini saja.
__ADS_1
"Ini kalau Kei lihat pasti langsung nangis" lanjutnya yang langsung membayangkan jika cucunya itu melihat keadaan dari Lili.
Tak berapa lama, semuanya sudah selesai. Bahkan luka pada wajah Lili sudah terobati. Gadis itu tertidur dan hanya meringis sedikit kala diobatì oleh Mama Nei. Beliau memaklumi itu karena kejadian hari ini memang telah menguras tenaganya.
Setelah membersihkan Lili, Mama Nei keluar dari kamar untuk menemui Aldo dan Papa Tito. Mereka bertiga memutuskan untuk tidak kembali tidur karena memang hari sudah pagi. Apalagi sebentar lagi ada Kei yang pasti akan mencari keberadaan mamanya.
***
"Papa, mama mana?" tanya Kei yang kini berada di dalam gendongan Papa Tito.
Papa Tito yang tadinya akan mengambil pakaian kerjanya sontak saja terkejut dengan Kei yang bangun. Semalam memang Kei tidur di dalam kamar Mama Nei dan Papa Tito karena Aldo yang pergi ke rumah sakit. Lagi pula Papa Tito juga malah ikut keluar rumah.
"Eh... Kamu sudah bangun?" tanya Aldo basa-basi yang kemudian mengambil Kei dalam gendongan papanya.
"Ish... Malah tana balit. Mama mana?" tanya Kei dengan bibir mengerucut kesal.
"Mama masih tidur di kamar" ucap Aldo.
"Antal Kei ke cana" ucap Kei dengan menyuruh papanya mengantarkannya ke kamar Lili.
Aldo hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Namun tak ayal, Aldo membawa Kei menuju ke kamarnya. Namun sebelum itu Aldo membawa Kei menuju kamar bocah kecil itu. Kei harus mandi dulu sebelum nanti ketemu Lili yang pasti akan membuatnya malas membersihkan diri.
"Padahal cuma temu bental caja. Tok papa nebelin cih, mandi bica anti lho" ucap Kei yang protes pada Aldo.
"Biasanya kamu kalau ketemu mama udah nggak mau pisah sih. Mandi aja susah" ucap Aldo tak mau kalah.
"Tan Kei mau dimandiin cama mama" ucap Kei lagi.
__ADS_1
"Mama lagi capek jadi nggak bisa mandiin kamu" ucap Aldo memberi alasan.