
"Iya, memang itu si duda yang dulu jadi dosen pembimbing skripsimu itu yang menggendongmu sampai kamar" ucap Mama Ningrum dengan santainya.
Lili masih terkejut dan menatap tak percaya kedua orangtuanya yang seakan santai saja melihat kenyataan itu. Padahal Lili tahu kalau Papa Dedi tak menyukai kehadiran Aldo. Lili langsung menatap Papa Dedi seakan meminta penjelasan.
Lili yakin kalau semalam pasti ada sesuatu yang terjadi antara Aldo dan kedua orangtuanya. Ia harus mencari tahu karena tak ingin semuanya semakin runyam. Namun melihat wajah orangtuanya yang tampak santai itu membuat Lili sedikit menghela nafasnya lega.
"Sudah jangan lagi membahas hal itu di depan makanan. Ayo kita sarapan, papa ada rapat penting pagi ini" ucap Papa Dedi mengajak anak dan istrinya agar segera sarapan.
Lili dan Mama Ningrum menganggukkan kepalanya mengerti. Ketiganya segera melakukan sarapan dalam keadaan hening. Setelah sarapan usai, ketiganya segera saja pergi untuk melaksanakan kegiatannya masing-masing.
"Maaf ya, Pak Yono. Semalam malah Pak Yono mengantar Ageng ke cafe" ucap Lili yang tak enak hati terhadap sopir keluarganya itu.
"Tak apa, neng. Lagian ada uang jalan juga yang dikasih sama Pak Aldo. Tapi maaf, neng. Itu kok yang teman yang bapak antar itu kaya jadi pesuruh sih sama yang punya tempat kerjanya" ucap Pak Yono yang kemudian malah menceritakan Ageng.
"Maksudnya bagaimana, pak?" tanya Lili yang penasaran.
"Iya, masa waktu bapak sampai di depan cafe kan dia keluar tuh dari mobil. Ada seorang perempuan yang ada di depan pintu cafe langsung memaki-maki itu teman neng. Ish... Bapak kasihan. Mana katanya nggak bisa ganti rugi, jangan belagu gitu. Ngeri pokoknya" ucap Pak Yono dengan bergidik ngeri melihat peristiwa kemarin.
Lili yang mendengar hal itu langsung mengerutkan dahinya pelan. Ganti rugi? Kayanya ini akibat dari Ageng mengundurkan diri dari cafe tersebut. Memang kemarin ia belum sempat menginterogasi Ageng karena kasihan kalau laki-laki itu kelamaan di mansion Aldo.
"Itu kayanya karena Ageng mau resign dadakan, makanya diperlakukan seperti itu" ucap Lili berusaha menanggapi seadanya.
"Tapi nggak kaya gitu juga, neng. Bapak sarankan buat bantu deh tuh temannya. Kasihan amat dia. Kalau perlu tendang saja itu yang marahi" ucap Pak Yono dengan menggebu-gebu.
Sepertinya ucapan Pak Yono itu benar adanya. Ia setuju dengan Pak Yono. Ia akan membantu Ageng walaupun harus menggunakan kekuasaan orangtuanya. Ah... Tak lupa dengan meminta sedikit bantuan dari Aldo.
__ADS_1
Lagi pula Ageng resign dari pekerjaannya sekarang juga agar bisa lebih berkembang lagi. Berkembang dalam hal pengalaman juga gajinya yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan Panti Asuhan. Lili akhirnya menganggukkan kepalanya setuju.
"Iya, pak. Sebenarnya yang kasih pekerjaan baru itu Pak Aldo karena kasihan dengan Ageng. Apalagi dia harus membiayai anak-anak Panti Asuhan yang banyak begitu. Nggak menyangka juga kami kalau sampai permasalahannya bisa sepanjang ini" ucap Lili sambil geleng-geleng kepala.
"Wah... Coba cek itu surat kontraknya. Mungkin ada yang melanggar atau bagaimana. Kita nggak mungkin melihat dari satu sisi saja" ucap Pak Yono.
Lili menganggukkan kepalanya mengerti. Ia harus mencari informasi selengkapnya dahulu sebelum bertindak. Jangan sampai ia gegabah dan malah menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.
Tak berapa lama, mobil yang dikendarai oleh Pak Yono sampai di halaman kampus. Lili segera saja turun kemudian memasuki area kampus dengan tergesa-gesa. Ia menuju tempat dimana kertas-kertas tulisan skripsinya berhamburan kemarin.
"Waduh... Kok udah bersih aja nih tempat. Masa harus nyari di tong sampah sih?" gerutunya saat melihat tempat dimana ia bertabrakan dengan Aldo.
Lili pun hanya bisa menghembuskan nafasnya pasrah kemudian berjalan dengan langkah lesunya. Lili segera melihat kearah tempat sampah terdekat namun tidak ada sama sekali kertas-kertas itu. Walaupun hanya dilihat sekilas saja olehnya.
"Pak, kertas yang kemarin di lorong sana pada dibersihin kemana ya? Soalnya itu kertas skripsi saya. Ini saya cari di tempat sampah yang dekat juga kayanya nggak ada" tanya Lili pada seorang cleaning service di kampusnya.
Mendengar ucapan dari cleaning service kampusnya itu sontak saja membuat Lili menghela nafasnya lega. Beruntung Aldo juga dengan sigapnya menghubungi salah satu petugas kebersihan di kampusnya. Itu artinya skripsi miliknya dapat terselamatkan.
"Oh iya... Atas nama Lilian, bukan?" tanya cleaning service itu.
Lili menganggukkan kepalanya kemudian diarahkan ke dekat ruangan khusus petugas kebersihan kampus. Di sana ia diminta untuk menyimpan kertas itu. Lili sangat senang setelah mendapatkan kertas skripsinya kembali, walaupun ada beberapa yang kotor karena terinjak.
***
"Liliput..." seru Fina yang melihat Lili keluar dari ruang petugas kebersihan.
__ADS_1
Fina dan Lili sudah beberapa hari tak bertemu karena kesibukannya masing-masing. Apalagi Fina juga sekarang tengah melakukan penelitian di salah satu rumah sakit karena skripsinya.
"Oiii... Pin pin lama nggak kelihatan nih. Sibuknya melebihi pengangguran kaya aku" ucap Lili dengan sedikit menyindiri temannya itu.
"Ya maklumlah. Namanya juga baru awal skripsi, sok sibuk sih kayanya" ucap Fina sambil terkekeh pelan.
"Mau kemana loe?" tanyanya yang melihat Fina membawa kertas skripsinya.
"Mau ke sekolah Kei. Itu anak kalau nggak ditungguin, entar kabur kaya kemarin. Setelah Kei pulang langsung ke kampus buat nyelesaiin nih skripsi" ucap Lili dengan santai.
Fina hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Ada yang dia ingat saat Lili mengatakan tentang kertas skripsinya. Ia langsung mengambil ponselnya dan melihat sesuatu yang membuatnya membulatkan mata.
"Berarti yang video kemarin di grup kelas itu beneran loe?" seru Fina.
"Video apa?" tanya Lili yang memang tak membuka pesan pada grup kelasnya.
Fina segera saja menyerahkan ponselnya pada Lili. Di sana terdapat sebuah video adegan tabrakan Lili dan Aldo hingga kertas berhamburan. Bahkan adegan tarik-tarikan juga. Yang membuat Lili terkejut adalah judul video yang disebar itu.
"Drama percintaan dosen dengan mahasiswinya. Tarik-tarikan bak film"
"Astaga.... Siapa itu yang bikin tulisan norak?" seru Lili kesal.
Fina hanya bisa menahan tawanya melihat raut wajah kesal yang ditampilkan oleh Lili. Namun jika memang Lili berhubungan dengan Aldo, ia menyetujuinya. Asalkan itu dosen dingin tak lagi mempersulit Lili dalam urusan kampus. Apalagi Lili dan Kei sudah dekat.
"Cieee... Calon istrinya Pak Aldo. Wah... Kayanya aku perlu dekat-dekat denganmu tuh biar nilaiku bagus" ucap Fina seakan ingin memanfaatkan Lili.
__ADS_1
"Pinpin..." teriak Lili.