
Lili sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah setelah dirawat selama satu minggu. Ia juga sudah bisa berjalan dengan normal karena memang tak ada yang perlu dikhawatirkan tentang kondisi Lili. Hanya memang untuk menggerakkan kakinya perlu hati-hati dan tak boleh dipaksakan berpikir terlalu keras agar tak terasa nyeri pada kepalanya.
"Mau papa ambilkan kursi roda untuk bantu kamu keluar rumah sakit?" tanya Papa Dedi pada sang anak.
"Tidak perlu, pa. Kaki Lili kan memang harus sering-sering digunakan untuk jalan. Bisa-bisa nanti jadi kaku kalau nggak digunakan" ucap Lili menolak usulan papanya.
"Baiklah. Tapi kalau merasa sakit, bilang ya sama papa" ucap Papa Dedi.
Lili menganggukkan kepalanya dengan cepat. Sedangkan Mama Ningrum yang mendengar perbincangan keduanya hanya bisa tersenyum. Ia sedari tadi sudah siap dengan barang-barang perlengkapan Lili, namun keduanya masih berdebat tentang kursi roda. Setelah mendapatkan kesepakatan, akhirnya mereka bertiga keluar dari ruang rawat inap Lili.
Lili berjalan di depan dengan Mama Ningrum dan Papa Dedi mengikuti dari belakang sambil membawa koper dan tas milik anaknya. Tak berapa lama, mobil yang dikendarai oleh sopir keluarganya mendekat saat melihat majikannya sudah sampai depan rumah sakit. Barang-barang dimasukkan dalam bagasi kemudian mereka masuk mobil. Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang hingga akhirnya mereka sampai di sebuah rumah lantai 2.
"Lho... Kok kita kesini? Bukannya rumah yang biasanya Lili tempati itu yang di sebelah sana" tanya Lili sambil menunjuk kearah rumah yang berbeda beberapa blok itu.
"Iya, papa dan mama memutuskan membeli rumah ini dan pindah ke sini. Mama dan papa kan nggak punya kenangan bersama Lili di rumah itu makanya kita ingin mengukir semuanya dari awal di sini" ucap Mama Ningrum tersenyum sendu.
Lili tahu kalau mamanya itu sedang dalam fase merasa menyesal dan sangat bersalah kepada anaknya. Lili pun sebenarnya tidak masalah kalau tinggal di rumahnya yang dulu walaupun tak ada kenangan bersama orangtuanya. Namun demi menghargai usaha orangtuanya untuk memulai semuanya dari nol, Lili pun hanya bisa menganggukkan kepalanya setuju.
"Terimakasih sudah mengusahakan yang terbaik untuk Lili. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki semuanya. Lili bahagia karena kalian mau memulai semuanya dari nol kembali. Ayo kita bangun keluarga kecil bahagia ini sama-sama" ucap Lili dengan antusias.
__ADS_1
Bahkan Lili langsung memeluk sang mama yang berada disampingnya kemudian diikuti oleh papanya. Mereka bertiga berpelukan di depan rumah baru yang akan menjadi saksi tentang keharmonisan keluarga. Kedua orangtua Lili langsung memeluk pelipis gadis itu secara bersamaan.
"Semoga Kei dan Mas Aldo juga bahagia dengan kehidupan baru yang mereka jalani" gumam Lili lirih hingga tak ada yang bisa mendengarnya.
Mereka bertiga segera melepaskan pelukannya kemudian berjalan masuk dalam rumah. Dengan senyum yang terus terukir di bibir ketiganya, mereka masuk rumah yang diharapkan bisa dijadikan awal baru untuk kehidupan yang lebih baik.
"Untuk sementara, kamu tidur di lantai bawah dulu. Kan kakimu masih sedikit sakit, bahaya kalau naik turun tangga" ucap Papa Dedi.
"Berarti kamarku yang asli di atas, pa?" tanya Lili dengan tatapan penasaran.
Papa Dedi menganggukkan kepalanya. Tentunya ia mengusahakan yang terbaik dan membuat nyaman anaknya. Untuk saat ini memang Lili harus tidur di kamar bawah untuk keselamatannya. Terlebih tangga naik turun akan bahaya bagi kondisi kaki Lili yang memang belum stabil.
"Istirahatlah, nak. Kami akan keluar" ucap Papa Dedi membuat Lili menganggukkan kepalanya.
Lili langsung merebahkan dirinya di atas kasur setelah kedua orangtuanya keluar dari kamarnya. Lili menatap langit-langit kamarnya sambil berpikir akan melakukan apa setelah ini. Tentunya ia juga harus memikirkan kelanjutan kuliahnya yang satu bulan ini dirinya sudah cuti.
"Skripsi dari awal lagi dong. Kesal juga ya ketemu sama dosen killer itu. Apalagi kalau di kampus nggak pernah nunjukkin tuh senyum. Beda banget kalau waktu di rumah" ucap Lili senyum-senyum sendiri.
Lili masih membayangkan jika nanti ketemu dengan Aldo yang notabene adalah dosen pembimbing skripsinya sendiri. Ia bingung nantinya harus berbuat apa. Terlebih ada rasa rindu dalam hatinya ketika kini sudah tak lagi bersua dengannya. Ia khawatir kalau tak bisa membendung perasaannya ketika berhadapan dengan Aldo.
__ADS_1
"Semoga saja aku tidak keceplosan memanggilnya Mas Aldo. Kalau iya, pasti dia akan langsung ngomong ketus sama gue" ucapnya sambil menghela nafas kasar.
Menurut apa yang disarankan oleh dokter, Lili diperbolehkan beraktifitas normal setelah satu minggu keluar rumah sakit. Selama satu minggu itu juga, Mama Ningrum dan Papa Dedi akan mengurus administrasi kembalinya Lili ke kampus. Kemungkinan besar, Lili sudah tak bisa menggunakan beasiswanya karena terkendala beberapa hal.
"Ah... Jangan lupakan untuk mengurus dua manusia kurang bersyukur itu" gumamnya.
Lili langsung teringat akan Nada dan Rio yang harus segera ia bereskan. Lili pun langsung mengambil laptop yang ada pada meja belajarnya. Ia segera membuka laptop itu kemudian memasukkan email yang ia gunakan untuk mengirimkan beberapa bukti kejahatan Rio dan Nada.
Namun saat dirinya membuka email, matanya terpaku pada pesan yang baru beberapa menit yang lalu dikirim kepadanya. Tertulis disana nama Aldo sebagai pengirimnya membuat Lili langsung membuka pesan itu.
Degh...
Pesan yang dikirim Aldo itu membuat dada dan hatinya bergemuruh. Ia tak menyangka kalau Aldo akan membuka ponsel Arlin hingga bisa menemukan beberapa bukti tentang Rio yang dikirimnya dulu.
"Siapa kamu? Kenapa istriku mengirim bukti kejahatan mahasiswaku kepadamu? Apa gara-gara ini yang membuat istriku dicelakai oleh Rio? Jawab!!"
Lili membaca pesan yang dikirimkan oleh Aldo itu dengan tangan sedikit gemetar. Ia tak menyangka kalau Aldo akan menuduhnya seperti ini. Namun Lili yakin kalau Aldo membuka riwayat pesan ponsel Arlin untuk mencari penyebab kecelakaan istrinya. Ia juga sedikit terkejut karena ternyata Arlin meninggal untuk kedua kalinya ini akibat ulah Rio.
"Kamu sudah menghancurkan Lili dan Arlin secara bersamaan, Rio. Setelah ini, aku yang akan menghancurkanmu tanpa sisa" gumamnya sambil mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
Tak lupa juga dengan Nada yang masih menjabat sebagai sahabatnya. Ia akan menemui mereka dua hari lagi untuk melihat bagaimana wajah-wajah pengkhianat itu. Ia yakin kalau keduanya akan mati berdiri saat melihat kehadirannya yang sudah sehat.