
Mobil yang dikendarai oleh Aldo itu berhenti di depan rumah dua lantai milik keluarga Lili. Lili langsung membantu Kei agar turun dari mobil. Sedangkan Aldo masih di dalam mobil dengan meremat kemudinya. Aldo merasa gugup karena setelah sekian lama, ia bertemu lagi dengan kedua orangtua Lili.
"Pak, ayo mau masuk dulu apa enggak? Kalau enggak ya sudah ini bawa Kei langsung pulang" ucap Lili yang jengah karena menunggu Aldo terlalu lama di dalam mobil.
"Eh... Iya ini masuk" ucap Aldo yang langsung keluar dari dalam mobil.
Aldo berulangkali menghela nafasnya untuk menetralkan rasa gugupnya itu. Pasalnya ia sedikit canggung apabila bertemu dengan orang yang waktu itu anaknya dituduh macam-macam olehnya.
"Tenang, pak. Ini cuma ketemu doang lho, nggak lagi mau ngelamar gadis di depan orangtuanya" ledek Lili yang tahu kalau Aldo sangat gugup.
"Memangnya kamu mau ku lamar? Kalau iya, langsung saja nih mumpung sudah di sini. Biar saya lamar kamu jadi istri sekaligus ibu dari anak saya" ucap Aldo.
Kini Aldo malah balik menggoda Lili. Sontak saja Lili langsung menatap kesal kearah Aldo itu. Inginnya Lili itu adalah hanya bercanda saja namun Aldo malah membalikkannya. Sungguh seperti senjata makan tuan saja.
"Dih... Ogah" ucap Lili yang langsung melengoskan wajahnya.
Bahkan kini Lili langsung saja berlalu pergi dari hadapan Aldo. Lili masuk dalam rumah dengan Aldo yang kini hanya bisa geleng-geleng kepala dan tertawa. Ternyata menggoda Lili seperti ini sungguh menyenangkan baginya.
Aldo pun mengikuti Lili dari belakang dan memasuki rumah gadis itu. Aldo hanya melihat Mama Ningrum yang menatapnya sinis di ruang tamu. Kemungkinan besar, Papa Dedi sedang tidak ada di rumah karena masih bekerja.
"Ngapain kamu di sini? Nggak cukup buat anak saya kesusahan saat skripsinya? Atau nggak puas ngucapin kalimat pedas untuknya itu" ucap Mama Ningrum tanpa basa-basi.
__ADS_1
Aldo yang mendengar hal itu sedikit tak menyangka kalau Mama Ningrum masih mengingat kejadian waktu itu. Aldo sedikit melirik kearah sekitar ruangan yang sama sekali tak menampakkan Lili dan Kei.
"Itu sudah prosedur dari kampus. Saya juga sudah profesional sebagai seorang dosen. Jika ingin menjadi seorang mahasiswa yang tahan banting ya seperti itu. Skripsi harus sempurna, entah itu penelitiannya maupun tata bahasanya. Saya tak ingin meluluskan seorang mahasiswa yang asal-asalan saja" ucap Aldo yang kini langsung berucap dengan bahasa formalnya.
Tentu saja Aldo langsung mengubah bahasanya dan raut wajahnya menjadi lebih serius. Apalagi ini sudah menyangkut profesinya dan skripsi. Kalau nanti pembicaraan ini tentang Kei, raut wajahnya akan lebih santai saja.
Mama Ningrum yang mendengar ucapan Aldo itu sedikit tertohok. Pasalnya ia memang menilai ini semua dari sisinya saja. Sebenarnya ia juga suka dengan penilaian Aldo yang sedikit keras dan tegas saat bimbingan skripsi. Namun ia tak tega melihat anaknya itu yang terlihat sangat frustasi karena sikap Aldo.
Bahkan kini Aldo langsung duduk di kursi sofa ruang tamu sebelum dipersilahkan untuk duduk. Mama Ningrum memilih diam saja dan membiarkan Aldo melakukan apapun di rumahnya. Lagi pula tamu adalah raja sehingga ia memilih menjamunya dengan baik.
"Saya ke sini untuk mengucapkan terimakasih pada keluarga tante dan Lili karena sudah mengijinkan Kei menginap di sini. Maafkan Kei jika dia merepotkan atau membuat kalian ribet" ucap Aldo yang langsung membahas tujuannya datang kemari.
"Kei tidak merepotkan kami. Tolong Pak Aldo, kalau memang tak bisa menjemputnya itu beri kabar Lili. Kasihan kalau Kei harus menunggu atau nanti pulang malam-malam jika anda kemalaman datang" ucap Mama Ningrum.
Lili juga membawa satu paper bag di tangannya kemudian diletakkannya di atas meja ruang tamu. Lili memberikan Kei ke dalam gendongan Aldo. Aldo pun menerimanya dengan senang hati kemudian Lili duduk di samping mamanya.
"Ini bajunya Kei yang kemarin. Sudah dicuci dan disetrika" ucap Lili.
"Terimakasih. Ayo Kei ucapkan terimakasih sama Tante Lili dan nenek. Kita harus pulang, pamitlah" ucap Aldo menyuruh Kei untuk segera mengucapkan terimakasih.
Kei pun menegakkan tubuhnya kemudian menatap Lili dan Mama Ningrum. Kedua perempuan itu tersenyum kearah Kei yang tampak lesu. Kei seperti tak rela kalau harus pulang ke mansion Aldo yang sepi itu. Apalagi oma dan opanya kini sedang tidak berada di rumah.
__ADS_1
"Napa tita halus pulang cih, pa? Di cini caja. Kei cuka di cini. Di lumah cepi. Oma dan opa duga lama cekali pulangna" ucap Kei yang seakan protes dengan keputusan Aldo.
"Kan ada papa di rumah, Kei. Kita pulang dulu ya, masa mau nginap di rumah Tante Lili seterusnya. Nanti rumah kita ditinggali hantu lho kalau ditinggal lama-lama sama penghuninya" ucap Aldo yang seperti menakut-nakuti anaknya.
Sedangkan Lili sendiri hanya bisa menahan tawanya. Padahal Kei itu tidak pernah takut dengan yang namanya hantu. Namun Aldo malah mencoba menakutinya dengan hal itu. Kei bahkan kini langsung menatap sinis kearah Aldo tanpa takut.
"Kei ndak tatut tuh cama hantu. Lebih tatut cama muta celam papa" ucap Kei.
Hahaha...
Lili dan Mama Ningrum sudah tak bisa menahan tawanya lagi. Apalagi wajah masam Aldo yang kini terlihat. Tentu saja kedua perempuan itu sangat terhibur dengan perdebatan keduanya. Aldo pun menghela nafasnya pasrah karena merasa dinistakan oleh anaknya itu.
"Wajah papa tuh tampan lho, Kei. Masa kamu lebih takut lihat wajah papa dibandingkan hantu" ucap Aldo.
Kei pun memilih diam saja dan menatap kearah Lili yang masih tertawa. Kei tersenyum kearah Lili yang langsung memberikan ciuman jarak jauh. Aldo yang melihat kekompakan keduanya langsung saja meraup wajah Kei.
"Sudah. Ayo buruan pamit. Nanti keburu malam kita sampai rumahnya" ucap Aldo yang memaksa Kei segera berpamitan.
"Huh... Papa tuh danggu caja. Ante Lili dan nenet, Kei pamit ya. Kei ulang dulu, dangan tangen cama Kei. Matacih cudah ijinin Kei ninap di cini" ucap Kei sambil tersenyum.
"Sama-sama, Kei. Pasti nenek kangen dengan kamu. Pokoknya sering-sering main ke sini ya" ucap Mama Ningrum.
__ADS_1
Kei hanya menganggukkan kepalanya antusias. Ia berjanji akan kembali menginap atau sering bermain di rumah Lili. Aldo dan Kei pun berpamitan kemudian menuju mobilnya. Aldo mengendarai mobilnya kemudian pulang ke mansionnya. Lili dan Mama Ningrum saling merangkul di depan rumah setelah melihat mobil Aldo pergi.