Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Dalang


__ADS_3

"Sialan... Berani-beraninya dia mau mencelakai Kei dan Lili. Pasti dia mau menculik Kei itu agar Aldo tunduk sama perintahnya" seru Aldo yang langsung menatap tajam lurus ke depan.


Seruan itu membuat Mama Nei dan Mama Ningrum yang tadi fokus berbincang pun langsung mengalihkan pandangannya. Keduanya terkejut dengan seruan itu, apalagi Aldo sampai mengumpat. Keduanya segera mendekat ke sana dengan Kei yang tertidur dalam gendongan Mama Nei.


"Ada apa, Al? Kamu bisa mengganggu Kei yang tertidur pulas ini lho" ucap Mama Nei mencoba menegur anaknya.


"Ini lho, ma. Kita sudah tahu dalang dari kejadian ini" ucap Papa Tito.


Papa Tito segera saja menyerahkan ponselnya pada Mama Ningrum. Mama Nei ikut melihat dengan sedikit kesusahan karena menggendong cucunya. Papa Tito segera mengambil Kei masuk dalam gendongannya. Ia yakin kalau setelah ini istrinya itu akan mengumpat karena tahu dalangnya.


"Wah... Perempuan ular ini ternyata. Tadi waktu kita berdebat di kampus, mama udah curiga nih sama dia. Ternyata dia punya rencana jahat sama anak dan cucu kita" ucap Mama Nei dengan kedua tangan yang mengepal erat.


"Gimana kalau kita labrak saja ini perempuan?" tanya Mama Ningrum pada calon besannya.


"Besok pagi kita ke kampus. Labrak langsung" ucap Mama Nei penuh keyakinan.


Dua wanita paruh baya itu benar-benar geram dengan Bu Amel. Pasalnya ini sudah termasuk tindakan kriminal. Apalagi Mama Nei yang memang tak suka dengan Bu Amel saat berdebat tadi dengan anaknya.


"Kita buat rencana" ucap Mama Ningrum.


Mama Nei menganggukkan kepalanya kemudian duduk di kursi. Keduanya begitu serius membicarakan tentang rencana untuk balas dendam. Sedangkan para laki-laki hanya menatap tak percaya kearah kedua wanita itu.


"Kok jadi kaya gini? Besok kira-kira bakalan terjadi apa di kampus?" tanya Papa Tito sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Kayanya nggak terjadi apa-apa, pa. Kayanya Bu Amel juga nggak akan berangkat ke kampus buat kerja. Apalagi pasti dia tahu kalau tengah dicari" ucap Aldo yang kemudian merebahkan kepalanya pada sandaran sofa.


Papa Tito dan Papa Dedi hanya menganggukkan kepalanya. Keduanya juga memilih untuk bersantai sebentar dan memikirkan rencana yang lebih efektif. Apalagi ada kemungkinan kalau Bu Amel tidak akan muncul di kampus besok.

__ADS_1


***


Kondisi Lili sudah stabil, bahkan gadis itu sudah sadar. Hal pertama yang ia cari saat sadar adalah Kei. Bahkan wajahnya begitu panik saat tak melihat Kei berada di sampingnya.


"Kei... Mana Kei? Apa Kei baik-baik saja?" tanya Lili dengan lirih saat sadar dari obat biusnya akibat jahitan di perutnya.


"Lili, tenang dulu" ucap Mama Ningrum yang melihat anaknya menatap dengan mata berkaca-kaca.


"Tapi Kei mana, ma?" tanya Lili.


Mama Ningrum mengelus lembut kepala anaknya itu. Ia yakin kalau anaknya akan menjadi seorang ibu sambung yang sangat menyayangi Kei. Apalagi Lili yang rela terluka dan terbaring di atas brankar rumah sakit demi menyelamatkan Kei.


"Kei baik-baik saja. Kei dibawa pulang sama oma dan opanya. Tak baik juga kalau Kei lama-lama di rumah sakit" ucap Mama Ningrum menjelaskan.


Lili menganggukkan kepalanya mengerti kemudian Mama Ningrum membantu anaknya untuk minum. Lili sedikit tenang karena Kei selamat dari kejaran para preman itu. Semalam, Kei dan kedua orangtua Aldo pulang ke rumah. Pasalnya kondisi Mama Nei yang memang sedang tidak enak badan. Ditambah dengan Kei yang tak boleh yang namanya terlalu lama berada di rumah sakit. Sedangkan Aldo sendiri baru pulang ke rumahnya tadi pagi untuk istirahat.


***


"Pasti nggak akan datang, ma. Percaya deh sama Aldo. Lagian dia itu pasti takut sama kita. Bu Amel itu juga tahu bagaima koneksi kita kalau mengenai hal seperti ini. Pasti dia sudah memikirkan dimana tempat bersembunyi" ucap Aldo.


"Ah... Nggak seru. Padahal mama mau labrak dia dan menghajarnya sampai babak belur lho ini. Mama juga sudah merencanakan semua ini sama calon mertuamu. Suruh dia keluar dari tempat persembunyiaannya lah, Al" ucap Mama Nei dengan sedikit merengek.


Kini ketiganya sudah berada di ruang makan untuk melaksanakan sarapan. Aldo tadi sudah meminta ijin kepada orangtua Lili untuk pulang sebentar. Pasalnya semalam ia belum sempat membersihkan diri lagi karena sibuk mengurus Lili.


"Ada-ada aja sih, ma. Ini Aldo mau lihat dulu ke kampus. Siapa tahu nongol kan ya? Atau enggak kita pancing aja dengan menyebarkan video CCTV seperti apa yang dilakukannya?" Tanya Aldo.


"Ide yang bagus. Kirim aja video CCTV itu ke grup kampus atau mahasiswa" ucap Mama Nei dengan antusias.

__ADS_1


Aldo pun menganggukkan kepalanya kemudian segera mengirimkan rekaman CCTV ke sebuah grup mahasiswanya. Ia juga meminta tolong pada Fina untuk menyebarkan video itu ke grup lainnya. Pasti akan cepat menyebar jika yang menyebarkan semua itu adalah Fina. Pasalnya Fina mempunyai grup khusus kelompok yang tukang gosip.


"Kita tinggal tunggu dia ngamuk-ngamuk terus keluar dari tempat persembunyiannya" ucap Aldo dengan senyum sinisnya.


"Mama udah nggak sabar buat jambak rambutnya dan cakar wajah songongnya itu" ucap Mama Nei dengan menggebu-gebu.


"Sabar, ma. Nanti darah tingginya kumat lho" tegur Papa Tito.


Mama Nei tak menggubris teguran dari Papa Tito itu. Ia sudah terlanjur kesal dengan Bu Amel yang membuat kebahagiaan anak dan cucunya hilang. Mereka segera melaksanakan sarapan tanpa Kei. Saat ini Kei masih tidur karena semalam tidurnya tak nyenyak. Semalam Kei sering mengigau membuat Mama Nei dan Papa Tito begadang.


"Aldo berangkat ke kampus dulu. Nanti kalau ada informasi tentang Bu Amel, langsung Aldo kabari. Nanti juga Aldo akan langsung ke rumah sakit untuk menjenguk Lili" ucap Aldo.


Kedua orangtua Aldo langsung saja menganggukkan kepalanya. Keduanya akan pergi ke rumah sakit kalau Kei sudah bangun dari tidurnya. Aldo segera pergi dari rumah menuju kampusnya dengan mobil. Dalam pikirannya selalu memikirkan bagaimana cara membalas tingkah dari Bu Amel.


***


Semua mahasiswa yang ada di sana menatap kedatangan Aldo yang wajahnya sangat datar dan dingin. Bahkan tatapan Aldo begitu tajam tak seperti biasanya. Mereka sudah tahu mengenai kejadian penusukan Lili. Bahkan semua dosen begitu shock melihat rekaman CCTV yang beredar itu.


"Bagi siapapun yang bisa menemukan keberadaan Bu Amel, akan saya beri uang 20 juta rupiah. Tenang saja, kalian hanya perlu memberitahukan dimana keberadaannya saja. Tak perlu kalian ikut menangkap perempuan itu" seru Aldo tiba-tiba.


Sontak saja semua mahasiswa langsung berbisik. Mereka begitu antusias dengan sayembara yang diadakan oleh Aldo. Sedangkan Aldo sendiri segera saja pergi dari sana. Bahkan beberapa dosen yang mendengar itu hanya geleng-geleng kepala. Mereka antara percaya dan tidak mengenai apa yang beredar.


"Ini Bu Amel nggak masuk kampus ya? Takut kayaknya karena pasti sudah tahu kalau dicari oleh Pak Aldo" ucap Fina yang tadi mendengar pengumuman dari Aldo.


"Nggak. Sama sekali nggak kelihatan batang hidungnya" ucap Nabila sambil geleng-geleng kepala.


Pagi itu kampus benar-benar dihebohkan dengan sayembara yang diadakan oleh Aldo. Tak lupa juga dengan pihak kampus yang langsung saja mencari kebenarannya. Pihak kampus juga langsung mengirim surat pemanggilan pada Bu Amel namun belum direspons.

__ADS_1


__ADS_2