
"Sebenarnya kamu itu kenapa? Kok malah kaya bete terus kaya gini. Padahal ini hanya masalah kecil lho, bisa kita bicarakan semuanya dengan baik-baik" ucap Aldo saat mereka sudah sampai di rumah.
Keduanya kini hanya berdua di kamar. Sedangkan Kei tadi langsung dibawa oleh Mama Nei ke kamarnya saat melihat barang bawaan Aldo yang banyak. Apalagi melihat wajah tak bersahabat yang terlihat pada Lili.
"Ya emang hanya masalah kecil. Lagian aku juga nggak permasalahkan kok. Kei mau belanja apa aja juga terserah, kan itu yang dipakai uang hasil kerja keras kamu" ucap Lili dengan santai.
Bahkan Lili yang nada bicaranya santai itu justru membuat Aldo merasa kalau itu sebuah sindiran padanya. Justru ucapan seperti itu malah membuat Aldo seperti tengah disalahkan oleh Lili. Sedangkan Lili sendiri hanya bisa menghela nafasnya pasrah saja.
"Lili dengarkan aku. Uang yang aku hasilkan itu juga milikmu. Kamu berhak untuk mengaturnya. Tapi kalau masalah aku yang memanjakan Kei dengann barang-barang mahal atau mewah, itu hanya sebagai bentuk perhatianku pada dia. Dia jarang sekali beli mainan, mungkin satu tahun sekali baru beli. Jadi kalau sekarang belinya agak banyak dan mahal, itu menurutku wajar" ucap Aldo memberi penjelasan.
"Aku tidak mempermasalahkan hal itu. Pokoknya tenang saja. Lagian kamu mau membelikan Kei mainan atau baju mahal itu tidak masalah buatku. Sudah ya, nggak usah dibahas. Aku mau mandi lalu siapin makan malam" ucap Lili.
Lili segera saja pergi ke kamar mandi, meninggalkan Aldo yang sepertinya tak setuju dengan ucapan istrinya. Namun ia membiarkan Lili menenangkan dirinya dulu. Pasalnya ia yakin kalau Lili tengah memendam sesuatu yang membuatnya jengkel.
***
"Mama ndak malah tan cama Kei? Kei ndak atan bolos-bolos ladi talo beli mainan tok. Danji..." ucap Kei yang berjanji pada Lili kalau dia takkan boros lagi dalam berbelanja mainan.
Kini keduanya sedang berada di gazebo belakang rumah. Keduanya ingin menikmati suasana malam tanpa adanya gangguan. Pasalnya Aldo sedang sibuk di ruang kerjanya, sedangkan Mama Nei dan Papa Tito sibuk di kamar.
"Enggak kok. Tapi lain kali kalau belanja itu dilihat dulu barangnya penting dan bermanfaat tidak. Soalnya ini kan barangnya Kei sudah punya, walaupun beda warnanya saja. Tapi kan fungsinya sama. Jadi besok lain kali dipilih yang memang belum punya" ucap Lili memberi nasihat.
"Bait, mama. Inatin Kei talo lupa ya. Makyum, Kei tan memang cuka tilaf talo liat mainan banak" ucap Kei dengan tatapan bersalahnya.
"Iya, mama ngerti kok. Mama juga kadang suka kaya gitu. Makanya kalau belanja harus ada yang mendampingi biar nggak khilaf. Biar uangnya juga bisa kita sisihkan untuk bersedekah pada orang yang membutuhkan" ucap Lili.
Kei menganggukkan kepalanya antusias. Tentu saja ia senang karena kini ada yang mau mengajaknya berbincang malam begini. Biasanya ada Aldo, hanya saja laki-laki itu sering sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan oma dan opanya juga sibuk dengan pekerjaan, membuat Kei sering bermain sendirian.
"Iya, mama. Mama becok antal Kei ke cekolah ndak? Kei tanen diantal dan ditundu mama di cekolah" tanya Kei dengan tatapan penuh harap.
"Iya, besok mama antar Kei ke sekolah. Bahkan mama juga nungguin sampai jam istirahat. Tapi pulangnya dijemput sama nenek ya, soalnya mama ada tugas di rumah sakit" ucap Lili yang langsung memberitahu semua kegiatannya.
"Ciap, mama. Ndak papa nenek yang demput. Yang pentin ada yang temani Kei campe jam itilahat" ucap Kei dengan senang.
"Masuk yuk. Udah malam, waktunya kita istirahat" ucap Lili mengajak Kei untuk masuk dalam rumah.
Kei menganggukkan kepalanya mengerti. Lili menggendong Kei kemudian masuk dalam mansion. Bahkan Lili langsung menuju kamar Kei karena melihat lampu ruang kerja suaminya masih menyala. Terlihat sekali kalau suaminya itu masih sibuk bekerja.
***
__ADS_1
"Selamat atas pernikahannya, Bu Aldo" ucap Bu Laili yang merupakan wali murid dari salah satu siswa di sekolah Kei.
"Terimakasih, Bu Laili. Maaf kami tak mengundang teman-teman Kei karena undangannya terbatas" ucap Lili.
Saat sampai di sekolah, Lili segera saja duduk di tempat biasanya wali siswa menunggu setelah mengantar Kei masuk kelasnya. Beberapa wali siswa segera saja mendekati Lili dan mengucapkan selamat atas pernikahannya.
Sebenarnya Lili tahu maksud mereka mendekatinya itu. Pasti akan menanyakan tentang tak diundangnya teman-teman Kei. Padahal mereka sangat berharap akan diundang ke acara pernikahan itu. Bahkan mereka hanya mendengar informasi pernikahan dari guru di sekolah.
"Memangnya undangannya berapa? Masa sekelas pak Aldo hanya mengundang 100 orang. Kan tidak mungkin" ucap Bu Laili mempertanyakan tentang undangannya.
"Kurang lebih 1000 undangan. Itu pun sebenarnya masih kurang banyak yang belum diundang. Biasa, tamunya Pak Aldo kan nggak cuma dari kampusnya saja tapi beberapa dokter juga" ucap Lili dengan sedikit sombong.
Beberapa ibu-ibu di sana hanya bisa melengoskan kepalanya mendengar apa yang diucapkan oleh Lili. Mereka seperti mendengar kalau Lili tengah menyombongkan acara pernikahannya itu.
"Sombongnya, bu. Dulu saya aja sebar undangan 2000 orang juga biasa saja" ucap Ibu Naima dengan sedikit sinis.
"Lha itu ibu juga sombong. Kok bilang jumlah undangannya berapa" ucap Lili dengan sedikit menyindir.
Ibu Naima yang merasa tersentil pun langsung meninggalkan kerumunan ibu-ibu itu. Ia kesal dengan sikap Lili yang sepertinya tak mau mengalah. Lili hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah ibu-ibu yang ada di sana.
Semua ibu-ibu pun membubarkan diri. Namun tidak dengan Ibu Laili dan Ibu Sukma yang duduk di samping Lili. Mereka ingin lebih mengenal bagaimana pribadi Lili itu. Padahal aslinya mereka hanya ingin tahu tentang rumor Lili yang mendekati banyak pria berstatus duda.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Ibu Sukma itu membuat Lili langsung mengalihkan pandangannya. Tatapan Lili menajam mendengar apa yang diucapkan itu. Ia tak menyangka ada gosip yang menyertai pernikahannya ini.
"Maksud anda apa? Pak Brama itu hanya ayah dari temannya Kei. Bahkan saya baru mengenal Pak Brama itu saat mengantar Kei di sekolah ini. Sedangkan mengenal Pak Aldo, itu sudah lama. Apalagi saya itu mahasiswanya sendiri" ucap Lili dengan tegas.
"Jangan seakan-akan anda membuat isu kalau saya itu suka berganti-ganti pacar ya, bu. Jangan menilai orang yang tak anda kenal dengan pasti itu sembarangan" lanjutnya.
Bahkan setelah mengucapkan hal itu, Lili segera saja pergi dari hadapan Bu Laili dan Bu Sukma. Bu Laili menyenggol Bu Sukma yang tampak terdiam setelah dibalas tegas oleh Lili. Bu Sukma masih shock kalau wanita muda yang baru saja menikah itu ternyata bisa tegas juga dalam berucap.
"Udahlah, bu. Kalau ngomong itu mbok ya hati-hati. Itu tadi pedas sekali lho. Saya kalau jadi Bu Lili juga langsung marah" ucap Bu Laili memperingati.
"Lho... Kok jadi menyalahkan saya, bu? Ini kan juga ide ibu untuk kita cari tahu tentang gosip yang beredar itu. Ibu juga kok malah diam aja kaya patung sih" ucap Bu Sukma yang kini menyalahkan temannya.
Ibu Laili hanya bisa menghela nafasnya kasar. Ia juga merasa sedikit bersalah, namun rasa penasarannya itu begitu besar. Apalagi waktu itu ia pernah melihat langsung bagaimana perang mata antara Aldo dengan Brama saat di sekolah. Jika seperti ini, pasti mereka takkan bisa lagi mendekati Lili.
***
"Huh... Ngeselin amat sih ibu-ibu kepo itu. Ingin sekali ku sumpal mulutnya pakai kain biar nggak bisa ngomong" gumam Lili yang terus menggerutu menuju taman sekolah anaknya itu.
__ADS_1
Ia memilih berpindah teman dengan jarak yang sedikit jauh dari kumpulan wali siswa lainnya. Ia tak ingin menjadi pusat perhatian dan omongan ibu-ibu di sana. Ia kesal karena mulut ibu-ibu di sana itu sama sekali tak bisa direm.
"Apa aku pindahin aja Kei dari sekolah ini? Ke sekolah dekat rumah aja kayanya di sana juga bagus" lanjutnya yang malah memikirkan untuk Kei pindah sekolah.
"Ah... Tapi Aldo pasti tidak setuju dengan saranku. Sebenarnya siswa dan guru di sini baik-baik, hanya saja ya itu lho mulut walinya" ucapnya sambil mendengus kesal.
Lili pun memilih bermain dengan ponselnya dan tak lagi memikirkan mengenai Kei yang pindah sekolah. Pasti idenya itu takkan disetujui oleh Aldo dan orangtuanya. Apalagi sekolah ini memang sudah terkenal dengan keunggulan akademiknya.
"Mama..." seru Kei yang berlarian bersama dengan Nadeline.
Saking fokusnya dengan ponsel membuat Lili tak menyadari jika jam sudah menunjukkan waktu istirahat. Lili langsung berdiri kemudian merentangkan kedua tangannya kearah dua anak kecil itu.
Happp...
"Duh... Kok malah pada lari-larian gini sih. Nanti kalau jatuh bagaimana?" ucap Lili dengan rasa khawatirnya.
Lili merasa khawatir dengan dua bocah cilik yang ada di dalam pelukannya ini. Kalau mereka tak hati-hati dalam berlari, sudah pasti akan terjatuh begitu saja. Keduanya kini malah melepaskan pelukannya dari Lili dan cengengesan saja.
"Maaf mama. Tadi kita kira juga mama nggak nunggu, kita cari. Bikin panik saja" ucap Nadeline yang juga ikut memanggil Lili dengan panggilan mama.
"Mama pindah tempat buat nungguin kalian. Di sana agak panas soalnya" ucap Lili memberi alasan.
Padahal dia panas telinganya karena mendengar ocehan ibu-ibu itu. Ketiganya pun kini duduk di kursi taman. Segera saja Lili mengambil bekal makanan yang telah disiapkannya untuk mereka berdua.
Lili harus menyuapi makanan keduanya karena mereka sangat lama dalam makan. Apalagi kini pada kedua tangan Kei dan Nadeline sudah ada mainan yang dipegang. Pasti mereka akan lebih mementingkan mainnya dibandingkan dengan makan.
"Buruan dikunyah itu makanannya. Bentar lagi selesai lho istirahatnya" tegur Lili pada keduanya yang malah asyik bermain.
"Cabal mama. Ladian ini tita matanna memang halus pelan-pelan. Nanti telcedak" ucap Kei memberi alasan.
Lili mendengus kesal dengan anaknya itu. Setiap kali ditegur sama saja dengan Aldo yang selalu memberi alasan. Setelah beberapa menit makan, bel sekolah tanda masuk berbunyi padahal makanannya belum habis.
"Tuh kan, makanannya belum habis tapi bel dah bunyi" ucap Lili dengan lesu.
"Ndak papa, mama. Kita cudah tenyang. Kita macuk dulu. Nanti talo belangkat kelja itu hati-hati ya mama" ucap Kei yang langsung menggandeng tangan Nadeline menuju kelasnya.
"Astaga... Main tinggal-tinggal aja" gumam Lili sambil geleng-geleng kepala.
Lili segera membereskan kotak bekal makanan keduanya. Ia harus segera berangkat ke rumah sakit karena jam shift siang sebentar lagi akan dimulai.
__ADS_1