
Nada yang mendengar ucapan dari Arlin itu pun seketika menegang. Bahkan raut wajahnya langsung pias dan pucat pasi. Ia tak menyangka kalau Lili itu ternyata mempunyai sahabat lain selain dirinya. Ia begitu yakin kalau Lili itu hanya mempunyai sahabat dirinya saja hingga tak pernah bertanya tentang dekat dengan siapa selain dia.
"Ehmm... Kalau itu aku nggak tahu. Soalnya aku kan bukan sahabatnya Lili yang mbak maksud" ucap Nada dengan gugup.
Arlin hanya menganggukkan kepalanya kemudian menatap Nada dengan tersenyum sinis. Melihat hal itu tentu membuat Nada langsung kepikiran dan mengingat lagi siapa orang yang ada didepannya ini sehingga tahu akan Lili. Ia kesal karena Lili menceritakan dirinya yang dibantu dalam hal masalah biaya kuliah.
"Saya cuma mau bilang aja sih. Tahu diri itu penting, jangan memanfaatkan oranglain demi mencapai tujuanmu. Eh setelah tujuannya tercapai, malah nusuk dari belakang" ucap Arlin dengan santai.
Bahkan kini matanya berbinar cerah saat melihat Papa Tito sudah datang dengan membawa bakso diatas nampan. Tentunya dibawakan oleh salah satu pelayan kantin disana. Ia tak mempedulikan sama sekali Nada yang masih berdiri didekatnya. Lagi pula Nada hanya diam mematung setelah mendengar ucapannya itu.
Sedangkan Mama Nei dan Kei sedari tadi hanya diam karena tak paham dengan apa yang mereka bicarakan. Lagi pula mereka juga sepertinya juga tak saling kenal hanya sedikit tahu saja menantunya itu. Setelah bakso diletakkan didepan masing-masing orang yang duduk disana, Arlin segera saja mengambil tempat sambalnya.
Arlin dengan brutalnya langsung saja mengambil sambal itu dengan sendok lumayan banyak. Hal itu membuat Papa Tito, Mama Nei, dan Nada yang melihatnya hanya bisa bergidik ngeri. Namun Arlin atau jiwa Lili yang memang menyukai pedas itu terlihat begitu santai.
"Mama, angan anyak-anyak ntal cakit pelut dan dimalahin papa lho" tegur Kei sambil berulangkali mencecap lidahnya.
Kei seperti membayangkan bagaimana pedasnya bakso milik mamanya itu. Namun ia juga tak berani mencobanya karena pasti lambungnya tak akan kuat. Mama Nei dan Papa Tito hanya membiarkannya saja karena mereka tahu kalau Arlin masih emosi dengan kejadian hari ini.
"Kalau nggak pedas itu kagak enak, nak. Biarlah toh papa nggak lihat kalau mama lagi makan pedas seperti ini" ucap Arlin acuh.
"Mama talo cakit pelut angan alahin tami lho ya. Ita dah plingatin" ucap Kei tak mau disalahkan.
__ADS_1
Arlin menganggukkan kepalanya sambil mengacungkan dua jempolnya kearah Kei. Kei langsung disuapi oleh Mama Nei karena Arlin sudah sibuk dengan bakso pedasnya. Bahkan melihat kuah merah yang ada di mangkok Arlin saja sudah membuat mereka bergidik ngeri.
Nada yang sedari tadi dicuekin pun memilih mendekat kembali kepada kekasihnya. Arlin tak peduli akan hal itu pasalnya jiwa Lili sudah tak lagi punya perasaan pada kekasihnya itu. Lagi pula jika nanti ia kembali ke tubuhnya, ia akan langsung memutus hubungannya dengan kekasihnya itu dan juga sahabatnya. Ia tak mau dekat-dekat dengan orang munafik.
"Astaga... Kuah baksonya kok merah banget gini sih. Ini berapa sendok sambalnya?" tanya Aldo yang tiba-tiba datang.
Setelah selesai rapat tadi, Aldo langsung saja mencari keberadaan keluarganya. Papanya memberitahu mengenai mereka yang datang ke kampus tempatnya bekerja untuk makan. Aldo yang melihat pesan yang dikirim papanya itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Seharusnya kalau memang mau makan, bisa di restorant yang lebih variatif menunya bukan malah di kantin.
"Nggak ngitung" jawab Arlin cuek.
Aldo mendengus kesal kemudian duduk disamping istrinya. Walaupun tadi sempat terkejut dengan kedatangan Aldo yang tiba-tiba, namun Arlin tetap saja melanjutkan makannya. Papa Tito memberi kode pada anaknya untuk membiarkannya dulu.
"Aaaaa... Ini baksonya enak" ucap Arlin dengan mengarahkan sendok berisi bakso kearah suaminya.
"Ini pedas sekali lho. Bisa sakit perut nanti kamu, sudah nggak usah dimakan" tegur Aldo setelah menetralkan rasa pedas di lidahnya dengan susu
Bahkan Aldo kini berusaha merebut mangkok yang ada dihadapan istrinya itu. Namun Arlin dengan mudahnya langsung melindungi mangkok itu dengan memposisikan badannya miring. Ia langsung saja menyantap makanan itu dengan cepat sampai habis. Aldo hanya bisa menghela nafasnya gusar melihat tingkah istrinya itu.
"Alhamdulillah..." ucap Arlin setelah menyelesaikan kegiatan makannya.
Ia langsung minum air mineral yang ada di botol pada hadapannya. Semuanya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Arlin yang begitu berani memakan makanan pedas seperti itu. Padahal wanita itu baru beberapa hari bangun dari komanya.
__ADS_1
"Tadi habis darimana?" tanya Aldo sambil makan bakso yang baru saja diantar oleh pelayan kantin.
"Dari ngusir Pak Cipto and the genk" ucap Arlin dengan santai.
Aldo menghentikan makannya kemudian menatap istri dan papanya. Akhirnya Papa Tito menjelaskan kalau mereka sudah menemukan bukti kecurangan dari Pak Cipto yang menyebabkan perusahaan jadi goyah. Bahkan mereka juga mengusir sekalian Pak Cipto dari rumah yang diberikan dari perusahaan.
Papa Tito juga menceritakan tentang kejadian Pak Cipto ingin memukul Arlin. Hal ini tentunya membuat Aldo geram bahkan ingin sekali menghajarnya. Namun Arlin langsung mengelus lembut lengan suaminya agar tak terpancing emosi karena tadi Pak Cipto sudah diberi pelajaran oleh Papa Tito.
"Mereka sekarang udah pergi dari rumah itu?" tanyanya.
"Belum. Waktunya masih sekitar 1 jam lagi untuk mereka mengosongkan rumah. Kalau tidak, ya terpaksa kita panggil polisi" ucap Arlin dengan santai.
Aldo menganggukkan kepalanya setelah mendapatkan jawaban dari Arlin. Bahkan sedari tadi ia mencoba mengamati tubuh istrinya untuk mengetahui apakah ada yang terluka atau tidak. Ia sedikit menghela nafasnya lega karena istrinya aman dan tak ada lecet sedikitpun.
"Kamu masih ada rapat, pa?" tanya Arlin sambil mengusap keringat yang keluar dari dahi anaknya.
"Enggak. Aku masih harus mengajar dua kelas habis ini" ucap Aldo dengan tak enak hati.
"Baiklah. Kalau begitu, aku dan yang lainnya pamit dulu. Kami harus kembali memeriksa lokasi perumahan" ucap Arlin yang berpamitan kepada suaminya.
Aldo menganggukkan kepalanya kemudian mengantar mereka ke tempat parkir mobil. Aldo sedikit kecewa karena dirinya tak hadir disisi istrinya dalam kondisi seperti ini. Beruntung Arlin memahami posisinya itu.
__ADS_1
"Titip istri, anak, dan mamaku, pa" seru Aldo setelah melihat mobil akan segera melaju.