Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Kedatangan


__ADS_3

"Mana ada peraturan begitu? Apa ada surat perjanjian kerjanya sebelum kamu bekerja di sana?" tanya Aldo dengan tatapan penasaran.


"Tidak ada, pak. Sepertinya ini peraturan dibuat karena saya resign secara mendadak" ucap Ageng.


Bayangan tentang dirinya yang terlepas dari pekerjaannya di cafe dan memulai kehidupan barunya pun seketika kandas. Lebih tepatnya harus diundur entah sampai kapan. Pasalnya kemarin hanya dua hari saja, namun ini bertambah menjadi satu bulan. Bukan tak mungkin jika nanti akan bertambah lagi.


"Kita temui manager kamu itu. Jangan mau kamu dibodohi dengan bekerja tanpa gaji seperti ini" ucap Aldo.


"Jangan, pak. Nanti malah bapak repot dan mendapatkan masalah. Lagi pula hanya satu bulan saja seperti ini" ucap Ageng sambil geleng-geleng kepala.


"Hei... Bisa saja mereka menambah waktunya. Apalagi mereka hanya menyuruhmu saja tanpa ada perjanjian apapun. Kita harus tegas dan jangan mau dibodohi oleh orang" ucap Aldo dengan tegas.


Akhirnya Ageng hanya menganggukkan kepalanya pasrah. Memang benar apa kata Aldo, ia tak boleh dibodohi oleh orang-orang yang berkuasa itu. Apalagi Aldo yang notabene lebih paham tentang hal seperti ini mau membantunya, pasti akan dibantu bernegosiasi.


Tak berapa lama, mobil milik Aldo berhenti di depan cafe itu. Keduanya turun dengan Ageng yang berjalan menunduk di belakang Aldo. Ia sedikit takut dengan tatapan pekerja lainnya di sana.


"Jangan tundukkan kepalamu. Kamu bisa melindungi Kei dan adik-adikmu di Panti Asuhan, kenapa dengan mereka malah tunduk seperti ini?" ucap Aldo sedikit kesal dengan tingkah Ageng.


Ageng yang mendengar hal itu langsung saja menegakkan kepalanya. Keduanya segera menuju ruang manager yang ternyata sudah terbuka. Tanpa mengetuk pintu, Aldo langsung masuk ruangan itu dan melihat seorang laki-laki tengah duduk santai sambil makan.


"Wah... Karyawannya tenaga diperas, managernya enak-enakan makan di sini" sindir Aldo membuat laki-laki yang sedang makan itu mengalihkan pandangannya.


"Anda siapa?" tanya manager cafe bernama Pak Hendri itu kebingungan.


"Saya Aldo. Langsung saja, saya ke sini ingin meminta surat perjanjian kerja antara cafe ini dengan Ageng. Dia bekerja di sini sebagai cleaning service, kenapa malah disuruh antar makanan? Bukannya dia juga sudah mengajukan resign. Walaupun resign mendadak, jangan juga peras tenaganya dong. Kecuali kalau ada perjanjiannya" ucap Aldo to the point.


Pak Hendri yang mendengar pernyataan Aldo itu langsung mengalihkan pandangannya kearah Ageng. Ia sampai tak sadar kalau di sana ada Ageng yang melihat kejadian itu. Pasti Ageng sudah mengadu yang tidak-tidak pada orang di depannya ini.


"Ada surat perjanjiannya. Kalau resign mendadak wajib mengganti 10 kali lipat dari gaji. Dia tak mampu membayarnya sehingga saya meminta untuk menggantinya dengan bekerja selama sebulan tanpa digaji" ucap Pak Hendri menjelaskan.


"Mana surat perjanjiannya? Tunjukkan pada kami. Saya akan menuntut anda kalau surat perjanjiannya itu tidak ada" ucap Aldo.


Pak Hendri sedikit gelagapan di saat diminta untuk menunjukkan surat perjanjian itu. Ia tadi hanya asal bicara agar terlihat meyakinkan. Bahkan matanya sedari tadi melirik tajam kearah Ageng yang berdiri dengan kepala tegaknya.


"Itu tidak bisa ditunjukkan kepada oranglain. Ini sifatnya rahasia" elak Pak Hendri memberi alasan.


"Cih... Dikira saya bodoh? Saya juga seorang atasan jadi tahu mana yang sifatnya rahasia dan tidak. Di sini ada seseorang yang kemungkinan menandatangani surat perjanjian, jadi ia berhak melihatnya" ucap Aldo dengan sinisnya.


Pak Hendri hanya terus terdiam dan mencoba berpikir tentang alasan yang tepat. Aldo tersenyum sinis kearah Pak Hendri itu. Sedangkan Ageng yakin kalau ia memang tak pernah menandatangi surat apapun itu.

__ADS_1


"Nggak bisa jawab dan menunjukkan bukan? Saya akan bawa kasus ini ke pihak yang berwajib, biar ditelusuri. Mulai hari ini juga, jangan pernah menghalangi Ageng untuk resign. Kalau sampai anda membuat ulah dengan Ageng, saya pastikan cafe ini rata dengan tanah" ancam Aldo pada Pak Hendri.


Pak Hendri ingin sekali protes pada ucapan Aldo itu. Namun ada sesuatu hal dalam dirinya agar menahan semuanya. Apalagi wajah Aldo ini terasa familiar. Ia yakin kalau orang yang ada di hadapannya itu bukanlah orang biasa. Lebih baik dia sedikit berhati-hati sampai tahu orang yang kini tengah ia hadapi.


Aldo langsung menarik tangan Ageng agar segera pergi dari sana. Aldo mengantarkan Ageng hingga ke Panti Asuhan. Aldo membeli tanah yang ada di sebelahnya dan kini dalam proses pembangunan. Setelah selesai pembangunan itu, barulah mereka akan pindah. Untuk Panti Asuhan lama akan direnovasi dan dijadikan gedung serbaguna.


"Terimakasih, Pak Aldo" ucap Ageng setelah mereka sampai di depan Panti Asuhan.


"Jangan sampai lagi saya melihat kamu ditindas seperti itu. Kamu harus berani melawan jika itu memang bukan tugas kamu" ucap Aldo memberi pesan.


"Siap, pak" ucap Ageng dengan tegas.


***


Mama Nei dan Papa Tito kembali ke negara kelahirannya setelah berperang dengan segudang pekerjaan. Inginnya mereka liburan di luar negeri setelah menyelesaikan pekerjaan, namun keduanya sudah diminta segera pulang oleh Aldo. Apalagi dua hari yang lalu Kei juga mengomeli keduanya yang terlalu lama pergi.


"Oma cama opa ndak cayang cama Kei. Peldi ke lual negli lama-lama tayak ndak puna kelualda" ucap Kei dengan sedikit menyindir.


"Mereka kan keluarganya semua bule-bule, Kei. Kita nggak dianggap" ucap Aldo yang malah memanas-manasi anaknya.


Alhasil keduanya memilih pulang daripada panas telinga diceramahi anak dan cucunya. Keduanya sudah berada di Bandara, menunggu Aldo dan Kei yang akan menjemput. Bahkan Kei rela untuk tidak bersekolah demi menyambut kedatangan Mama Nei dan Papa Tito.


"Sabar, ma. Mungkin saja mereka bangunnya terlambat jadi sampai sini juga siangan" ucap Papa Tito menenangkan istrinya.


"Tahu gitu..."


"Oma... Opa..." teriak seorang bocah kecil yang berlari menuju keduanya.


Teriakan seorang bocah kecil yang tak lain adalah Kei itu menghentikan gerutuan Mama Nei. Keduanya segera mengalihkan pandangannya kearah Kei yang kini sudah berada di depan mereka.


"Kei..." seru Mama Nei yang langsung memeluk cucunya dengan erat.


Bahkan Papa Tito juga langsung memeluk keduanya dengan erat. Mereka bertiga meluapkan kerinduan yang sudah lama terpendam. Bahkan mereka melupakan Andre yang ada di dekat ketiganya.


"Tolong... Sudahi drama kangen-kangenannya. Kita harus segera pulang sebelum menjadi bahan tontonan di sini" tegur Aldo.


Ketiganya langsung saja melepaskan pelukannya kemudian menatap kearah Aldo. Mama Nei menatap sinis anaknya yang sifatnya tak berubah dan masih sama seperti terakhir bertemu. Bahkan wajahnya itu tak tampak menunjukkan kebahagiaan karena bertemu dengan orangtuanya.


"Hei... Bocah tengil. Apa kau tidak rindu dengan orangtuamu ini? Peluk atau cium kami, masa cuma dilihatin doang" kesal Mama Nei.

__ADS_1


"Pelukan dan ciuman ini hanya untuk calon istrinya Aldo seorang" ucap Aldo dengan percaya dirinya.


Dugh...


Awww...


Mama Nei langsung saja mendekati anaknya itu kemudian memukul kepalanya. Aldo pun langsung mengelus kepalanya yang terasa nyeri. Apalagi pukulan mamanya itu benar-benar kencang. Sedangkan Papa Tito langsung menggendong cucunya dan melangkahkan kakinya pergi.


"Al, koper mama dan papa dibawa. Kami duluan, ayo ma" ajak Papa Tito menghentikan perdebatan keduanya itu.


Sontak saja Aldo memelototkan matanya tak terima dengan perintah yang diberikan oleh papanya itu. Sedangkan Mama Nei memberikan senyum penuh kemenangan kearah Aldo. Mama Nei segera menggandeng tangan Papa Tito kemudian pergi berlalu dari hadapan Aldo.


"Main seenaknya saja suruh bawa koper. Dipikir ini koper dua itu kecil apa? Ini isi koper apaan sih? Kok berat dan besar kaya gini" kesal Aldo yang kedua tangannya penuh dengan pegangan koper.


Aldo menarik koper itu dengan susah payah. Sesampainya di depan mobil, ternyata kedua orangtuanya dan Kei malah memejamkan matanya di sana. Mana pintu mobil dibuka lagi, memang dasar ceroboh. Aldo segera saja memasukkan koper itu ke dalam bagasi dan ia masuk mobilnya.


"Ma, pa... Bangun deh. Kalian baru saja datang kok udah tidur saja" ucap Aldo sambil melajukan mobilnya.


"Apa sih, Al? Emangnya kalau habis pulang langsung tidur itu masalah? Toh kami kelelahan karena perjalanan yang cukup lama" ucap Papa Tito memberi alasan.


"Gitu aja capek. Kalau kerja, nggak ada tuh capeknya" sindir Aldo pada kedua orangtuanya yang sangat maniak dalam bekerja.


"Soalnya ada duitnya kalau kerja itu. Kalau pulang ke negara ini kan ngeluarin duit" ucap Mama Nei yang ternyata belum tertidur.


"Aldo mau lamaran lho ini sebentar lagi. Emm maksudnya tiga hari lagi" ucap Aldo memberitahu.


Keduanya sontak saja membuka mata. Tak menyangka kalau anaknya itu ternyata akan mengucapkan hal yang membuat terkejut. Keduanya saling pandang dan menatap Aldo secara bersamaan. Keduanya menuntut penjelasan lebih dari Aldo mengenai ucapannya.


"Sama siapa?" tanya Mama Nei.


"Sama Lili dong" ucap Aldo dengan bangganya.


"Setan apa yang merasuki Lili hingga dia mau dilamar sama kamu? Pasti kamu guna-guna atau paksa?" tanya Mama Nei beruntun.


Aldo hanya bisa mendengus kesal mendengar ucapan dari mamanya itu. Sepertinya kedua orangtuanya itu sama sekali tak percaya dengan ucapannya. Apalagi tak percaya dengan Aldo yang bisa mendapatkan Lili.


"Enak saja. Lili itu cinta sama aku. Kita saling mencintai dong dan menginginkan agar segera serius dalam menjalin hubungan" ucap Aldo dengan percaya dirinya.


"Percaya diri sekali. Pokoknya mama harus ketemu dulu sama Lili sebelum lamaran itu. Siapa tahu Lili memang kena guna-guna kamu deh, nggak mungkinlah dia mau sama kamu" ucap Mama Nei kekeh dengan pendiriannya.

__ADS_1


Papa Tito yang mendengar hal itu masih terdiam. Apalagi kini Aldo yang memutuskan menikah dengan Lili. Seperti masih tak percaya, walaupun pandangan mata Aldo itu menunjukkan keseriusan. Papa Tito harus mencari tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi selama mereka pergi.


__ADS_2