Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Penculikan


__ADS_3

"Bagaimana bisa anakku dibawa sama wanita itu? Padahal Nadeline sudah ku peringatkan untuk tak mempercayai orang asing" gumam Brama sambil mengepalkan kedua tangannya.


Brama tak menyangka jika wanita yang notabene adalah mantan istrinya itu datang kembali. Padahal dari informasi yang ia dengar terakhir kali, wanita itu sudah bahagia bersama dengan suami barunya. Brama segera mengambil jas yang ia sampirkan di kursi kerjanya kemudian pergi menuju sekolah anaknya.


Tak berapa lama mengendarai mobilnya, Brama sampai di sekolah Nadeline. Di sana sudah ada Aldo, Papa Tito, Kei, satpam, dan guru-guru. Kei terlihat menangis dengan wajah yang basah dengan air mata. Kei juga berada di dalam gendongan Aldo. Ia merasa sangat bersalah karena tak memaksa Nadeline ikut masuk ke dalam sekolah.


"Brama..." panggil Papa Tito saat melihat Brama sudah sampai.


"Om..." sapa Brama dengan sedikit menganggukkan kepalanya.


"Apa kamu mengenal siapa perempuan yang ada di CCTV itu? Kami rencananya akan melaporkan kejadian ini pada pihak yang berwajib. Tapi kami menunggu persetujuan kamu dulu" ucap Papa Tito.


"Untuk saat ini, tak perlu bawa pihak yang berwajib. Itu adalah mama kandungnya Nadeline, mantan istri saya. Biar kami urus semua ini secara kekeluargaan dulu" ucap Brama memutuskan.


"Baiklah. Berarti ini bukan kasus penculikan anak ya, pak? Karena kami juga khawatir kalau yang lainnya dengar bisa membuat wali siswa pada panik" ucap salah satu guru.


Brama hanya menganggukkan kepalanya. Aldo menenangkan anaknya yang masih khawatir dengan kondisi Nadeline. Semuanya membubarkan diri dengan Aldo, Papa Tito, Brama, dan Kei yang masih berada di sana. Mereka sebenarnya masih terkejut dan penasaran dengan fakta yang baru saja terdengar jika Nadeline merupakan anak broken home.


"Lebih baik kamu ke rumah kami dulu untuk menenangkan diri, nak. Kita pikirkan bagaimana menyelamatkan Nadeline agar bisa kembali pada kita. Kami tahu kalau hubunganmu dengan dia tak baik-baik saja" ucap Papa Tito.


"Benar. Kami cuma khawatir kalau sampai anda gantung diri di kamar. Kan kasihan sama Nadeline" ucap Aldo membuat Papa Tito langsung mencubit perutnya.


Aldo sedikit meringis akibat cubitan yang dilayangkan oleh papanya itu. Papa Tito kesal dengan anaknya yang dalam kondisi seperti ini malah ucapannya pedas seperti itu. Seperti tak punya rasa simpati antar sesama. Papa Tito segera merangkul bahu Brama dan membawanya masuk dalam mobil.


"Mobil kamu biar nanti dibawa sama sopir yang om suruh. Dalam kondisi seperti ini tak baik jika kamu mengendarai mobil sendirian" ucap Papa Tito.

__ADS_1


Brama hanya menganggukkan kepalanya. Pikirannya buntu karena selalu dihantui rasa khawatir akan keselamatan anaknya. Ajeng bukanlah wanita penyuka anak terutama Nadeline. Dulu saja wanita itu meninggalkan Nadeline dengan begitu tega tanpa mau memberikannya ASI. Saat ini, Brama yakin jika Ajeng tak peduli akan nasib anaknya yang kelaparan.


***


"Mama, Nadeline lapar" rengek Nadeline pada Ajeng yang sedang mengemudikan mobilnya.


"Jangan manja dan berisik kamu itu, Nad. Tahan sebentar kenapa sih" sentak Ajeng.


Ajeng tak tahan dengan rengekan dari Nadeline yang sedari tadi meminta makan. Padahal ia tadi sudah berusaha bersikap lembut untuk menahan semuanya. Mendapatkan bentakan yang baru pertama kali ia terima, Nadeline mengubah raut wajahnya menjadi ketakutan.


"Nadeline nggak mau sama mama. Nadeline mau sama papa saja. Kembalikan Nadeline sama papa. Cuma papa yang sayang sama Nadeline" seru Nadeline berusaha memberontak pada kursinya.


"Astaga... Bodohnya kau ini, Jeng" gumam Ajeng yang melihat respons anaknya.


"Enggak... Seharusnya Nadeline nggak percaya sama omongan orang asing. Di sini mama yang jahat. Jangan-jangan mama bukanlah ibu kandung Nadeline" seru Nadeline yang kini malah menangis.


Ajeng yang memang tak punya kesabaran besar untuk anaknya pun segera menghentikan mobilnya kearah pinggir jalan. Apalagi kondisi Nadeline yang memang terus memberontak dan berteriak. Hal itu mengganggu konsentrasinya dalam berkendara.


"Diam, Nadeline. Mau mama buang kamu di sini? Lihat sekitar sini, di sini gelap dan nggak ada orang lewat. Rasain kamu nggak bisa pulang. Mau kamu?" sentak Ajeng pada Nadeline.


Nadeline melihat kearah sekitar dan ternyata memang di sana begitu gelap. Nadeline tak tahu dibawa kemana karena jalannya begitu asing untuknya. Nadeline ketakutan jika hilang di sini dan takut melihat wajah mamanya yang tampak mengerikan.


Seharusnya ia mendengar pesan papanya dan Kei. Ia menyesal karena mempercayai seseorang yang mengatasnamakan sebagai mamanya. Sedangkan Ajeng yang melihat Nadeline diam pun langsung melajukan kembali mobilnya.


"Kita mau kemana, mama?" tanya Nadeline dengan takut-takut.

__ADS_1


"Ke tempat dimana kamu nggak akan pernah ketemu sama papa kamu" sentaknya.


Nadeline hanya bisa menangis dalam diam. Ia ingin kembali ke rumahnya dan tak mau lagi bersama dengan mamanya. Ia ingin kembali papanya dan keluarga Kei. Mereka selalu menjaga dan tak pernah membentaknya.


***


"Om sudah menemukan dimana titik keberadaan Nadeline dan mantan istrimu. Kita bisa langsung ke sana" ucap Papa Tito memberitahu Aldo dan Brama yang tengah duduk di gazebo halaman belakang rumah.


Pasalnya Brama sedari tadi seperti orang kebingungan dan tak bisa berpikir jernih. Aldo sampai kesal sendiri dengan Brama karena malah diam saja. Padahal mereka harus memikirkan bagaimana menyelamatkan Nadeline.


"Benarkah, om? Dimana? Biar Brama susul dia" ucap Brama yang pandangan matanya kembali berbinar cerah.


"Kita ke sana bersama-sama. Kamu masih kaya orang linglung, tak mungkin saya membiarkanmu sendiri ke sana" ucap Papa Tito.


Brama hanya menganggukkan kepalanya. Ketiganya segera pergi dengan Lili yang membawakan makanan dalam kotak bekal. Apalagi Brama dan Aldo yang sedari tadi memang belum makan sama sekali. Tugasnya sekarang adalah membuat Kei tenang. Pasalnya anak laki-lakinya itu sedari tadi terlihat murung.


"Kei, papa dan yang lainnya sudah berangkat untuk menjemput Nadeline. Kamu pasti akan bertemu lagi dengan dia. Kamu juga harus menjaga Nadeline jika nanti sudah bertemu ya" ucap Lili yang melihat anaknya terdiam di depan TV.


"Kei merasa bersalah, mama. Kei juga kesal sama Nanad yang ngeyel sama Kei. Padahal Kei sudah bilang sama dia untuk duduk di sana saja" ucap Kei dengan menggebu-gebu.


"Kei pasti akan menjaga Nanad dari semua orang yang ingin melukainya. Dia kan juga saudaranya Kei" lanjutnya dengan yakin.


"Anak mama memang luar biasa" ucap Lili yang langsung memeluk anaknya itu.


Lili juga segera menyuapi anaknya makan karena sedari tadi Kei tak mau menyentuh makanannya. Dia masih belum tenang jika belum ada kabar tentang Nadeline itu. Setelah ditenangkan Lili dan ada kabar mengenai Nadeline sedang dijemput, barulah Kei mau makan.

__ADS_1


__ADS_2