
Semalam, Lili dan Aldo membuat story pada aplikasi pesan berwarna hijau dengan gambar yang sama. Foto keduanya yang berpelukan dengan sebuah buket bunga besar di tangan Lili. Sontak saja orang-orang di kampus begitu heboh, apalagi dosen-dosen di sana.
Bahkan beberapa dosen langsung mengirimkan foto keduanya pada sebuah grup dengan mahasiswanya. Beberapa mahasiswa terkejut sekaligus senang karena dugaan tentang hubungan keduanya benar adanya. Sedangkan Kei sendiri, ia juga melihat story papa dan mamanya itu.
"Wah... Ndak bica dibialtan. Cemalam Kei ndak diajak ke pante. Pantas caja cemalam papa minta Kei buwat tidul cepat. Telnata ada udang di balik batu" gumam Kei sambil memegang ponsel milik omanya.
Tadi Kei yang sudah mandi dan memakai seragam sekolahnya itu meminjam ponsel sang oma untuk melihat tayangan video kartun. Namun dengan isengnya, Kei membuka aplikasi pesan berwarna hijau di ponsel omanya. Terlihatlah story milik mama dan papanya yang diunggah semalam.
"Oma, napa ndak bilang talo mama dan papa cemalam itu peldi beldua?" tanya Kei pada omanya yang baru saja datang dan memintanya segera sarapan.
"Memangnya Kei tahu darimana kalau mama dan papa semalam pergi berdua?" tanya Mama Nei yang sedikit bingung dengan pertanyaan cucunya.
"Lahacia. Talian cemua boonin Kei ya. Ah... Kei ndak cuka. Pada ndak nomong cama Kei" ucap Kei yang langsung meletakkan ponsel omanya di atas meja.
Sedangkan Kei tak menjelaskan darimana dia tahu tentang story di aplikasi pesan itu. Kei langsung saja berjalan menuju ruang makan, meninggalkan Mama Nei yang kebingungan. Mama Nei kemudian melihat kearah ponselnya dan membukanya.
Sontak saja Mama Nei langsung menepuk dahinya pelan. Ia sekarang tahu kalau Kei ternyata mengetahui semua itu dari aplikasi pesan miliknya. Mama Nei yakin kalau habis ini akan terjadi perdebatan antara Aldo dengan Kei.
***
"Papa, ndak oleh ladi detat-detat cama mama. Papa culanin Kei. Macak iya Kei ndak diajak peldi cama mama cemalam. Kei ndak cuka" seru Kei saat melihat papanya masuk dalam ruang makan.
"Kamu ngomong apa sih, Kei? Kan mama itu calon istrinya papa, masa iya nggak boleh dekat-dekat. Aneh ah kamu ini" ucap Aldo sambil geleng-geleng kepala.
Papa Tito dan Mama Nei hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah keduanya. Kei yang posesif dan tak memperbolehkan Lili dekat dengan Aldo, sedangkan laku-laki dewasa itu sama sekali tak peka. Apalagi Aldo yang memang tak sadar kalau story di aplikasi itu sudah menimbulkan keributan.
"Cemalam papa peldi cama mama beldua tan? Napa ndak ajak Kei? Napa Kei ditindalin ditu caja. Ndak cayang cama nanakna nih papa tuh" protes Kei yang terus saja menyalahkan Aldo.
Aldo hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Kini ia paham dengan protes yang dilayangkan oleh Kei. Ternyata anaknya itu protes karena tak diajak pergi semalam. Lagian ia memang sengaja tak mengajak Kei pergi karena tak ingin moment romantis itu terganggu.
"Kan itu hadiah buat mama, Kei. Papa kasih hadiah makan malam buat mama sebagai perayaan kelulusannya. Kei kan sudah kasih hadiah sama mama jadi ya nggak usah ikut. Lagian di pantai itu dingin, kasihan nanti kamu masuk angin" ucap Aldo memberi alasan agar Kei berhenti mengoceh.
Kei tak menggubris alasan dari Aldo itu. Justru ia menatap sinis papanya. Menurutnya, Aldo itu hanya bersembunyi di balik kata hadiah saja. Tentu saja itu bukan alasan sebenarnya. Aldo ingin berduaan tanpa gangguan Kei, itulah alasan sebenarnya.
Kei langsung saja melaksanakan sarapannya. Lagi pula oma dan opanya sudah makan lebih dulu. Aldo langsung menatap kedua orangtuanya agar dibantu supaya Kei tidak mengomeli dirinya lagi. Ia malas mendapatkan ocehan panjang lebar dari Kei.
***
"Kei, kamu berangkat sekolah diantar sama siapa? Nanti di sekolah mau ditunggu mama atau oma?" tanya Aldo.
"Cama mama. Api papa ndak oleh detat-detat. Papa kelja caja" ucap Kei yang langsung berjalan keluar dari mansion.
__ADS_1
Aldo hanya bisa menghela nafasnya sabar untuk menghadapi Kei yang sudah seperti ini. Ia harus mengalah dan tidak dekat dengan Lili. Kei pasti akan ngambek padanya kalau sampai ia terus saja berdekatan dengan Lili.
Aldo segera menyusul anaknya kemudian memasuki mobil. Kendaraan roda empat itu melesat menuju rumah Lili. Tak butuh waktu lama, mobil milik Aldo memasuki halaman rumah Lili. Tak biasanya, Lili sama sekali belum terlihat di luar rumah.
"Mama, Kei cudah datang. Api Kei malas tulun dali mobil dan macuk ke dalam. Keluallah dali lumah" teriak Kei dari dalam mobilnya.
Aldo sampai menutup telinganya karena mendengar teriakan dari Kei itu. Sungguh teriakan itu begitu memekakkan telinga. Bahkan Pak Yono yang sedang duduk di luar rumah pun sampai geleng-geleng kepala.
"Den Kei, jangan teriak-teriak. Kasihan tetangganya, nanti pada protes. Lebih baik Den Kei ini minta tolong sama Pak Yono biar nanti bapak yang panggilkan Mbak Lili" ucap Pak Yono memberitahu.
"Mamapin Kei, Pak Nono. Kei telalu antucias buat temu mama. Tolong pandiltan mama ya, Pak Nono" ucap Kei dengan sopannya meminta tolong.
Pak Yono menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Saat Pak Yono hendak memanggil Lili, gadis itu muncul dari balik pintu rumah. Lili mendengar jelas teriakan Kei itu sehingga mempercepat sarapannya.
"Mama..." seru Kei sambil melambaikan tangannya.
"Walah... Walah... Untung Mbak Lili segera datang. Ini anaknya sudah rindu berat sampai teriak-teriak manggilnya" ucap Pak Yono.
"Maafin Kei ya, Pak Yono. Soalnya dia sudah nggak ketemu Lili sehari sih jadinya kangen gitu" ucap Lili sambil terkekeh pelan.
Pak Yono menganggukkan kepalanya kemudian pergi ke tempatnya lagi. Lili segera masuk dalam mobil dan Kei langsung duduk di atas pangkuannya. Kei memeluk erat Lili yang ada di depannya ini.
"Manja" sindir Aldo pada Kei.
Aldo berdecih sinis melihat tingkah anaknya itu. Aldo segera saja melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan sedang. Aldo membiarkan Lili berdekatan dengan Kei agar ia tak mendapatkan tatapan sinis dari anaknya. Malas sekali dia kalau sampai harus berdebat dengan Kei pagi-pagi.
***
"Kamu mau dibawain bekal nggak? Ini nanti Pak Yono mau antar bekal untuk Kei soalnya tadi cuma masak sedikit di rumah, jadinya belum sempat kebawa deh" ucap Lili bertanya pada calon suaminya setelah Kei masuk dalam kelasnya.
"Nggak usah deh. Ini biar aku jajan di kantin kampus saja. Kamu juga nanti mending makan di kantin kampus saja biar kita makan sama-sama" ucap Aldo.
"Tapi ini istirahat nanti Kei mau makan apa coba? Ah baiklah... Biar Kei nanti dibawakan Pak Yono masakan rumah dulu saja. Siangnya kita ketemu di kantin kampus" ucap Lili.
Cup...
Aldo menganggukkan kepalanya mengerti kemudian segera berpamitan pada Lili. Aldo mencium kening Lili sekilas dan berlalu pergi. Lili hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah calon suaminya yang tak tahu tempat itu. Padahal Lili sudah memperingatkan agar tak asal memberikan ciuman kepadanya.
***
Saat Aldo datang ke kampus, semua mata terlihat mengarah kepadanya. Itu karena story yang ada di aplikasi pesan berwarna hijau itu. Aldo hanya bisa menghela nafasnya lelah karena lupa mengaktifkan privasi pada storynya. Ia yakin kalau nanti Lili datang, pasti akan lebih heboh lagi.
__ADS_1
"Pak Aldo, foto anda ada di grup mahasiswa. Jadi perbincangan lho ini" ucap Pak Sandy yang langsung menunjukkan sebuah foto pada layar ponselnya.
"Itu siapa yang kirim ke grup mahasiswa ya, pak?" tanya Aldo.
"Bu Amel, pak. Heran juga sih sama Bu Amel, ngapain juga kaya gitu sampai disebar. Padahal nggak ada yang salah juga kalau ada mahasiswa yang mempunyai hubungan dengan dosennya. Mereka terlalu melebih-lebihkan sepertinya" ucap Pak Sandy.
Aldo mendengus kesal mendengar ucapan dari Pak Sandy itu. Beberapa kali memang Bu Amel yang tak lain adalah salah satu dosen yang mengidolakannya itu membuat masalah dengannya. Apalagi kalau ia sedang dekat dengan seorang wanita, pasti ada saja ulahnya agar ada masalah.
"Biarkan sajalah, Pak Sandy. Itu hubungan saya dengan Lili juga karena kami saling cinta. Lagian ini juga tak berpengaruh apa-apa dengan urusan kampus" ucap Aldo yang pasrah saja.
"Iya, pak. Biarkan saja Bu Amel berulah. Pasti dia seperti ini agar Lili dituding jelek oleh oranglain. Tahu sendiri kalau Bu Amel itu suka sekali membuat masalah apalagi senang cari perhatian" ucap Pak Sandy sambil menepuk bahu Aldo untuk menenangkan laki-laki itu.
Aldo pun segera masuk dalam ruangannya dan langsung mengirim pesan pada Lili. Ia takkan membiarkan Lili menjadi bahan gunjingan di kampus ini. Sebaiknya memang Lili tak jadi datang ke kampus agar tak mendengar ucapan yang membuat telinga panas.
***
"Kenapa nggak jadi makan di kampus?" tanya Lili saat mereka kini malah janjian makan siang di sebuah restorant.
Lili yang mendapatkan pesan dari Aldo agar segera menyusul makan siang di sebuah restorant saja. Sebenarnya Lili sedikit bingung, namun ia yakin kalau Aldo mempunyai alasan tersendiri. Sedangkan Kei hanya menurut saja dibawa kemanapun oleh Lili.
"Nggak papa. Ingin suasana yang beda saja. Lagian kamu juga tidak ada urusan di kampus bukan?" ucap Aldo berusaha meyakinkan.
Lili hanya menganggukkan kepalanya walaupun sedikit ragu dengan ucapan Aldo. Lili langsung saja memesan beberapa makanan untuk ketiganya. Kei duduk di pangkuan Aldo yang menciumi pipi anaknya itu.
"Papa dangan cium-cium Kei. Atu cudah becal lho ini" ucap Kei yang protes dengan tindakan papanya itu.
"Baru umur segini saja udah bilang kalau besar. Gimana kalau besok udah SD, SMP, atau SMA? Pasti papa udah nggak bisa lagi nih peluk kaya gini" ucap Aldo dengan langsung memeluk Kei.
Kei hanya pasrah saja dengan tindakan yang dilakukan oleh papanya itu. Pasalnya ia memang tak suka jika dicium atau dipeluk papanya dan opanya. Ia lebih suka diperlakukan seperti oleh Mama Nei dan Lili.
Tak berapa lama, makanan yang dipesan sudah datang. Mereka makan dengan tenang. Lili dengan telaten menyuapi Kei dan Aldo secara bergantian. Aldo makan disuapi oleh Lili karena ingin merasakan seperti Kei. Kei pun tak protes karena di sini ia bisa melihat keduanya secara langsung.
***
"Astaga... Ada-ada saja ini orang-orang" ucap Lili dengan kesalnya saat membuka ponsel.
Fina mengirim sebuah tangkapan layar di sebuah grup chat yang dimana Lili bukan anggotanya. Ternyata di sana Lili sedang menjadi topik pembicaraan karena story Aldo semalam. Pantas saja Aldo memilih untuk makan siang di restorant. Pasti Aldo tak ingin kalau ia mengetahui ini dan jadi bahan perbincangan ketika datang.
"Pada kurang kerjaan. Apa salahnya juga sih kalau pacaran sama dosen di kampus sendiri? Yang penting kan bukan suami orang" ucapnya.
Lili sangat kesal dengan komentar yang ditinggalkan oleh mahasiswa-mahasiswa di sana. Kebanyakan tidak setuju dengan hubungan keduanya. Banyak yang bilang kalau Lili tak pantas bersanding dengan dosennya. Apalagi mereka sampai menghina fisik Lili yang tak secantik Arlin.
__ADS_1
"Memangnya mereka cantik? Ah... Aku dan Kak Arlin sama-sama cantik. Mereka nggak cantik dan kalah saing makanya hujat kaya gitu" gumamnya meyakinkan diri.
Lili pun segera saja tidur setelah tadi menghabiskan waktu seharian dengan Kei dan Aldo. Bahkan Kei yang kelelahan sampai tidur di dalam mobil dan tak jadi menginap di rumahnya. Lagian menurut Aldo tak baik jika Kei terus menginap di rumah Lili saat kondisi belum ada hubungan suami istri antara dia dengan gadis itu.