
Lili berjalan ragu kearah ruangan Aldo untuk berkonsultasi mengenai skripsinya yang sudah tertunda sekitar satu bulan lamanya. Setelah berbincang dengan Fina tadi, ia terlebih dahulu ke kamar mandi untuk merapikan dirinya. Lebih tepatnya bukan merapikan diri, namun mempersiapkan hatinya dalam menghadapi Aldo.
Ada sedikit ragu dalam hatinya saat akan bertemu Aldo, terlebih setelah pertemuan kemarin di kantor polisi itu. Namun ia juga tak ingin mengecewakan kedua orangtuanya jika sampai ia tak segera menyelesaikan skripsinya. Apalagi masalah yang dihadapi hanyalah karena rasa takutnya pada dosen pembimbing skripsinya.
"Bismillah... Semoga tuh dosen habis kena bisikan malaikat baik di jalan. Auranya juga positif biar nggak ngomelin dan nyalahin skripsi yang aku buat mulu" gumam Lili saat sudah berada di depan ruangan Aldo.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk" seru seseorang dari dalam ruangan Aldo.
Ceklek...
Lili membuka pintu kemudian masuk dengan sedikit menundukkan kepalanya. Ia tak mau melihat wajah Aldo pada pagi hari yang belum tahu bagaimana auranya. Ia berjalan mendekat kearah meja ruangan Aldo dengan pelan karena merasakan aura negatif mulai merasuki tubuhnya. Badannya merasa merinding sambil mulai mengelus lengan atas tangannya sendiri.
"Bagus, baru kelihatan ya kamu. Skripsi kamu mulai dari awal lagi. Silahkan buat judul baru dan ajukan penelitian kembali" ucap Aldo dengan nasa dinginnya.
Bahkan Lili yang akan duduk di depan meja Aldo pun langsung kembali menegakkan tubuhnya. Ia menatap tak percaya dengan ucapan Aldo yang seakan menghantam otaknya. Bahkan rasanya Lili ingin menginjak-injak mulut Aldo itu agar tak berucap seenaknya. Lili segera menegakkan kepalanya dan menatap kearah Aldo seakan tak terima dengan ucapan yang disampaikan dosennya itu.
"Saya kan baru sadar dari koma, pak. Ya tentunya saya baru kelihatan dong, kecuali roh saya yang berkeliaran entah dimana. Atau mungkin berkeliarannya masuk dalam raga istri anda" ketus Lili tak terima.
__ADS_1
Bahkan Lili keceplosan mengucapkan sesuatu yang tak disukai oleh Aldo. Ini sudah menyangkut istrinya yang sudah meninggal. Bahkan kini Aldo langsung menatap tajam kearah Lili membuat gadis itu langsung menutup mulutnya. Ia sungguh tak menyangka kalau kalimat mengenai dirinya masuk tubuh Arlin itu malah diucapkannya.
"Jangan bawa-bawa nama istri saya dalam masalah skripsi. Saya tak mau tahu, anda koma itu urusanmu. Salah sendiri ceroboh dan ditabrak orang" ucap Aldo dengan nada datarnya.
"Saya sudah berusaha untuk merevisi skripsi ini sejak kemarin masih sakit lho, pak. Kok kaya nggak dihargai sama sekali sih? Ya memang itu urusan saya kalau kecelakaan, tapi kan saya koma juga bukan keinginan saya" seru Lili tak terima.
Walaupun ada rasa takut dalam hatinya setelah tahu kalau dia keceplosan, namun ia berusaha untuk menepisnya. Ia harus bisa mempertahankan apa yang sudah ia kerjakan selama beberapa hari ini. Terlebih ini menyangkut skripsinya yang tak jadi-jadi walaupun sudah sejauh ini.
Sebisa mungkin, Lili akan mencoba terus berargumen untuk tetap melanjutkan yang sudah ada. Pasalnya memikirkan judulnya saja sudah membuatnya pusing apalagi harus mengulangnya dari awal. Penelitian dan segala macamnya dengan kembali membuat proposal baru.
"Saya tidak peduli. Pokoknya saya mau kalau kamu membuatnya dari awal dengan judul yang baru. Kalau bisa sekali konsultasi harus sudah benar, tanpa revisi. Saya malas berurusan terlalu lama denganmu, dasar pembawa sial dan parasit" sentak Aldo.
Sepertinya Aldo masih terbawa suasana oleh kejadian istrinya yang membantu Lili mengungkap semua kebusukan Rio dan Nada. Walaupun sebenarnya apa yang dilakukan oleh Arlin itu atas kemauan dari jiwa Lili sendiri.
"Saya akan mengajukan pada kepala prodi untuk mengganti dosen pembimbing skripsi saya. Anda itu malah seperti bukan dosen pembimbing skripsi, tapi seseorang yang mempersulit hidup saya" seru Lili protes.
"Silahkan saja kalau bisa" ucap Aldo sambil tersenyum miring.
Lili menatap Aldo dengan tatapan penuh kebencian. Lili segera saja membalikkan badannya dengan kedua tangan mengepal dengan eratnya. Bahkan ia belum sempat duduk dan mengatakan tujuannya datang ke ruangan ini. Sudah terlanjur kesal dan emosi, Lili segera saja berjalan keluar dari ruangan Aldo dengan membanting pintunya.
__ADS_1
Brakkk...
"Awas saja tuh dosen. Aku nggak terima diginiin. Aku mau protes ke kaprodi, dekan, atau kalau bisa sampai rektor biar tuh dosen satu ditegur dan sekalian dipecat" ucap Lili dengan menggebu-gebu sambil berjalan keluar dari ruang dosen.
Beberapa dosen yang berpapasan dengannya bahkan tak ia hiraukan. Ia masih dikuasai oleh emosinya itu membuatnya acuh tak acuh pada keadaan sekitar. Lili kesal bukan main karena tindakan semena-mena dari Aldo yang tak memikirkan otaknya yang sudah pas-pasan.
Lili pun memilih duduk di taman dekat kantin untuk menenangkan pikiran dan meluruhkan emosinya. Lili bahkan segera saja duduk di salah satu kursi kemudian menyandarkan tubuhnya dengan mata yang memejam. Bahkan Lili tak menyadari kalau sedari tadi gerak-geriknya diperhatikan oleh seseorang yang ada di sana.
"Heh... Tamu yang temalin pandil atu di kantol polici tan?" tanya seorang bocah laki-laki yang langsung mendekat kearah Lili.
Dia adalah Kei yang langsung saja mendekat kearah Lili yang sedari kemarin membuatnya penasaran. Pasalnya Lili mengetahui namanya sedangkan dia sendiri belum pernah bertemu dengannya. Kei sendiri memang dibebaskan Aldo untuk berada di kantin saat tadi papanya harus segera masuk dalam ruang dosen.
Kei yang bosan berada di kantin pun segera saja berpindah tempat kearah taman yang ada di dekatnya. Kei di sana juga hanya bermain dengan mobil-mobilan yang dibawanya. Ia tak takut sendirian karena saat masih bersama Arlin sering pergi ke kampus.
Lili yang mendengar suara seorang bocah kecil yang masih cadel itu pun segera saja membuka matanya. Matanya membulat saat tahu kalau orang yang ada di hadapannya itu adalah Lili. Dalam pancaran matanya, ada rasa rindu yang membuncah pada bocah laki-laki itu.
"Tuyul..." seru Lili dengan pura-pura terkejut.
Tentunya akting itu hanya ingin membuat suasana sedih yang dirasakan oleh Lili itu menghilang. Sedangkan Kei yang disebut tuyul pun langsung saja menatap kesal kearah Lili.
__ADS_1
"Atingna delek. Ndak totok. Maca yihat bebelapa lama balu telkejut" ucap Kei sambil geleng-geleng kepala.
Bahkan kini Kei langsung duduk di samping Lili. Entah mengapa, Kei merasa nyaman di dekat gadis itu. Seperti ada ikatan batin yang kuat diantara mereka. Sedangkan Lili hanya bisa cengengesan mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Kei.