
Kei sama sekali tak mau dipisahkan dari Lili. Setelah bermain dan makan bersama dengan pasien anak-anak tadi, Kei yang kelelahan hanya bisa bergelayut manja pada Lili. Sedangkan anak-anak yang lainnya segera beristirahat menuju kamar rawat inapnya masing-masing.
"Kei senang?" tanya Lili sambil mengelus lembut rambut bocah kecil itu.
"Cenang, ante. Keo balu lacain lho puna teman banak cepelti ini. Pototna becok Kei mau ke cini yagi" ucap Kei dengan antusias.
Walaupun Kei merasa kelelahan, namun ia masih menjawab pertanyaan Lili itu dengan antusias. Sedangkan Mama Nei yang melihat kedekatan keduanya itu merasa begitu terharu. Keduanya yang sudah seperti ibu dan anak itu membuatnya ingin menjadikan Lili sebagai menantunya.
"Harus ijin dulu sama papamu kalau mau ke sini lagi. Nanti yang ada waktu ketemu papa bingung lho jawabnya kaya apa" ucap Mama Nei.
"Memangnya tadi Pak Aldo ke sini, ma? Kayanya agenda rapat sudah selesai. Apa ada masalah dengan rumah sakit ini ya? Soalnya tadi waktu Lili masun rumah sakit, para staff di sini agak tegang mukanya" ucap Lili dengan mengerutkan dahinya heran.
"Masalahnya banyak, Lili. Mama aja kadang pusing lihat papa kalau pulang ke rumah selalu ngomel dan cerita tentang permasalahan di rumah sakit" ucap Mama Nei.
Lili hanya menganggukkan kepalanya sebagai respons. Apalagi masalah rumah sakit ini bukanlah berkaitan dengan urusannya di sini. Ia takkan pernah untuk ikut campur mengenai permasalahan rumah sakit yang bukan haknya.
"Ayo pulang, Tante Lili mau absen dulu ke ruangan. Kei sama oma dulu ya" ucap Lili yang mengajak Kei dan Mama Nei pulang.
"Ayo Kei sini dulu sama oma. Biar Tante Lili pamitan dan absensi dulu di ruangan dokter" ucap Mama Nei membujuk cucunya.
Bukannya segera menyambut bujukan dari omanya, Kei malah mengeratkan pelukannya pada lengan tangan Lili. Hal ini membuat Mama Nei harus ekstra dalam membujuk cucunya itu. Lili juga membantu Mama Nei agar bisa membujuk Kei.
"Ndak mawu. Kei mau cama Ante Lili. Oma, ilang cama papa talo Kei mau ninap di lumahna Ante Lili. Catu mindu" ucap Kei.
Lili dan Mama Nei yang hendak membujuk Kei itu langsung menganga tak percaya. Pasalnya sedari tadi tak ada sama sekali pembicaraan mengenai menginap ini. Keduanya langsung menatap Kei yang memang memeluk erat lengan atas tangan Lili.
Bahkan Kei seakan tak mendengarkan apapun. Walaupun mereka sudah membujuk Kei, namun keduanya tak berhasil. Alhasil Kei langsung saja digendong oleh Lili hingga di ruangan dokter. Mereka untuk sementara ini tak membahas tentang acara menginap dari Kei ini. Sedangkan Mama Nei menunggu di luar ruangannya.
__ADS_1
Padahal Mama Nei sudah berusaha untuk membujuk Kei agar masuk dalam gendongannya. Namun Kei sama sekali tidak mau dan malah mengeratkan pelukannya pada leher Lili. Mama Nei pun hanya pasrah dengan tingkah cucunya itu.
"Ayo, ma. Kita pulang sekarang" ucap Lili tiba-tiba yang baru saja keluar dari ruangan dokter itu.
"Ayo. Berarti kamu udah selesai semua?" tanya Mama Nei.
Keduanya berjalan beriringan untuk keluar dari rumah sakit melewati beberapa lorong dan menuju lobby keluar. Sedangkan Kei masih anteng dalam gendongan Lili, tanpa sedikit pun menimpali pembicaraan keduanya. Lili menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Mama Nei.
"Oleh ninap ya, oma? Olong tepon papa" ucap Kei dengan tatapan memelas.
Padahal keduanya sama sekali sedang tidak membicarakan tentang acara menginap Kei. Namun ternyata Kei masih mengingat tentang keinginannya untuk menginap di rumah Lili. Mama Nei bingung harus menjawab seperti apa, pasalnya sedikit heran dengan tingkah cucunya itu.
"Memangnya kamu mau ngapain sih, Kei? Kok pakai menginap di rumah Tante Lili segala" tanya Mama Nei penasaran.
"Penen tidul dipeluk cama Ante Lili. Pelutan Ante Lili tu cepelti ladi dipeluk cama mama. Angat lho, oma" ucap Kei memberitahu dengan antusias.
Jantung Lili berdetak lebih kencang karena ucapan dari Kei itu. Ia tak menyangka kalau sebenarnya Kei merasakan tentang pelukannya dulu saat masih masuk dalam raga Arlin. Lili langsung saja mengelus lembut punggung bocah cilik itu agar sedikit lebih tenang.
Pasalnya Lili sempat merasakan kalau punggung Kei sedikit bergetar. Lili langsung saja menatap kearah Mama Nei untuk meminta persetujuan tentang menginapnya Kei. Mama Nei sebenarnya juga ingin sekali mengijinkan Kei menginap, apalagi alasannya tentang cucunya yang rindu dengan mamanya.
Namun ia malas kalau harus berdebat dengan Aldo. Pasti nanti ia disalahkan oleh Aldo karena mengijinkan Kei menginap di rumah Lili. Bahkan Aldo bisa juga nanti malah menuduhnya membiarkan Kei dekat dengan oranglain.
"Mama hubungi dulu Pak Aldo. Bujuk dan rayu Pak Aldo biar mengijinkan" ucap Lili memberi saran.
"Anak mama itu paling susah buat dirayu. Yang ada mama harus ngajak debat dulu biar Kei bisa menginap di rumamu" ucap Mama Nei sambil menghela nafasnya kasar.
"Ayolah, oma. Pisss... Idinin Kei buwat inap di lumahna Ante Lili. Kei ndak atan akal tok, Kei tan nanak baik" ucap Kei dengan pandangan memohon.
__ADS_1
"Baiklah... Menginaplah di rumah Tante Lili. Biar urusan papamu itu menjadi urusannya oma" putus Mama Nei.
Mata Kei langsung berbinar dengan cerahnya. Bahkan Kei langsung memeluk omanya dari samping membuat Nadia sedikit kuwalahan untuk mengatur posisi. Mama Nei langsung memblas pelukan itu dan mencium kening Kei sedikit lama.
Mereka berpisah di tempat parkir karena Lili langsung masuk ke dalam mobilnya yang dikendarai oleh Pak Yono. Sedangkan Mama Anisa langsung menuju tempat parkir khusus untuk mencari keberadaan sopir keluarganya.
Mobil Lili melaju dengan kecepatan sedang untuk pulang ke rumah. Lili yakin kalau Mama Ningrum akan senang karena kehadiran Kei di rumah. Lili tak sabar menantikan moment itu. Tak berapa lama, mobil yang dikendarai oleh Pak Yono itu memasuki halaman rumah Lili.
"Makasih, Pak Yono. Sudah mengantar kami pulang" ucap Lili sambil tersenyum.
"Sama-sama, nona. Lagi pula ini sudah menjadi tanggungjawab saya" ucap Pak Yono.
Lili pun langsung masuk ke dalam rumah dengan Kei yang berada di gandengan tangannya. Untuk perlengkapan seperti baju ganti Kei itu sudah dibawa oleh Lili. Memang tadi saat masuk dalam rumah sakit, Mama Nei sudah membawa baju ganti dan perlengkapan Kei. Mama Nei berpikir karena nanti pasti akan menunggu Lili lama sehingga berjaga-jaga saja.
"Nenek... Kei atang" seru Kei saat memasuki rumah Lili.
"Assalamu'alikum. Kalau masuk rumah itu salam dulu, Kei" ucap Lili memberitahu.
"Calamikum" seru Kei yang menirukan ucapan Lili.
Lili hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah lucu dari Kei itu. Segera saja mereka masuk dalam rumah dan menuju ke dapur. Ternyata Mama Ningrum sedang berada di sana dan kemungkinan besar tak mendengar ucapan salam mereka.
"Ma..." panggil Lili.
Mama Ningrum yang mendengar ada suara yang memanggilnya pun segera saja mengalihkan pandangannya. Mata Mama Ningrum membulat karena melihat adanya Kei di sana. Bahkan Mama Ningrum langsung meninggalkan kompornya kemudian berlari menuju Kei.
"MasyaAllah... Akhirnya cucu nenek ini datang lagi ke rumah. Pokoknya wajib banget ini buat kakekmu tahu kalau kedatangan cucu yang lucu ini" seru Mama Ningrum dengan begitu hebohnya.
__ADS_1