
"Makan dulu. Menyelamatkan nyawa orang juga butuh tenaga yang banyak" ucap Aldo yang kemudian membuka bekal makanan yang dibawakan oleh istrinya itu.
"Brama, kamu juga makan. Itu ada empat kotak makanan yang dibawakan oleh Lili" titah Papa Tito.
Brama menganggukkan kepalanya. Benar apa yang diucapkan oleh Aldo kalau menyelamatkan Nadeline ini memang membutuhkan tenaga yang banyak. Apalagi mereka tak tahu dengan halangan apa yang akan dihadapi nanti. Terlebih Brama memang tak tahu banyak informasi mengenai mantan istrinya kini. Brama segera makan dengan pelan walapun sebenarnya ia sama sekali tak berselera.
Papa Tito juga memutuskan membawa seorang sopir agar bisa bergantian menyetir. Sedangkan Papa Tito yang duduk di samping kemudi juga ikut makan karena memang ia sama sekali belum makan siang. Perjalanan mereka cukup jauh apalagi melihat maps yang dilalui mobil Ajeng.
"Sepertinya mobil itu menuju area perbatasan kota. Mau apa dia ke sana? Bukannya di sana itu area untuk pemulung dan pengemis cilik ya" tanya Papa Tito yang makan sambil melihat kearah maps yang ada di dalam ponselnya.
"Apa jangan-jangan Nadeline mau dijual ke sana ya, pa? Bukannya di sana sudah umum terjadi kalau melihat seorang anak kecil menjadi pemulung dan pengemis di daerah sana" ucap Aldo menimpali.
"Jangan sembarangan ngomong kamu itu. Memangnya anakku barang bisa diperjualbelikan kaya gitu. Kalau sampai itu terjadi, saya akan langsung menghabisi Ajeng dengan tanganku sendiri" ucap Brama dengan mata yang berkilat marah.
"Jangan gegabah, Brama. Kalau kau menghabisinya, yang ada malah kamu kena getahnya terus dipenjara. Nanti Nadeline siapa yang mengurusnya kalau kau dipenjara" ucap Papa Tito memperingatkan.
"Terimakasih sudah mengingatkan saya, om" ucap Brama sambil mencoba menetralkan emosinya.
Brama masih terus terpancing emosinya jika mengingat tentang mantan istrinya itu. Ingin sekali dia menghabisi Ajeng dengan tangannya sendiri. Namun benar apa kata Papa Tito kalau ia tak boleh gegabah. Mereka juga belum tahu apa motif dari Ajeng yang membawa Nadeline ini.
***
"Nadeline, kamu di sini dulu ya. Mama mau keluar sebentar" ucap Ajeng membuat Nadeline menganggukkan kepalanya.
Nadeline memilih diam dan menurut dibandingkan harus dibentak lagi oleh mamanya itu. Nadeline semakin yakin jika mamanya itu tak menyayanginya. Apalagi setiap kali ia meminta sesuatu pasti akan dibentaknya. Tak seperti Lili yang walaupun bukan ibu kandungnya namun selalu menyayanginya.
"Apa Nadeline kabur saja ya? Apalagi tempat ini sepi. Nadeline yakin kalau mama pasti ada niat jahat sama aku" gumam Nadeline yang mewaspadai perbuatan mamanya.
__ADS_1
Apalagi area sekitar yang benar-benar sepi. Ia melihat kearah mamanya yang menemui dua orang laki-laki berbadan besar. Ia yakin kalau dua orang laki-laki itu adalah preman. Nadeline takut jika akan ada kejadian yang membuatnya tak bisa pulang.
Dengan polosnya, Nadeline merencanakan kabur. Baginya yang penting selamat dari mamanya dulu. Ia akan ke rumah warga untuk meminta tolong agar bisa pulang. Nadeline keluar dari mobil yang beruntung pintunya tak terkunci.
"Selamatkan Nadeline ya, Tuhan. Nadeline hanya ingin kembali pada papa dan bertemu yang lainnya. Nadeline nggak mau sama mama yang jahat itu" gumam Nadeline berdo'a.
Dengan mengendap-ngendap, Nadeline pergi berlari kearah area perkampungan warga. Suasana sedikit gelap, apalagi hari memang sudah malam dan jarang ada penerangan jalan. Nadeline terus berlari sambil memegang perutnya yang terasa lapar.
"Papa, tolong Nadeline..." gumamnya sambil terus berlari.
***
"Baiklah. Ini uang yang kami janjikan asal kamu membawa seorang anak kecil ke sini untuk kami jadikan pengemis" ucap salah seorang preman yang ada di sana.
"Wah... Terimakasih. Anak itu masih ada di dalam mobilku" ucap Ajeng yang menatap berbinar kearah amplop tebal yang ada di tangannya.
Ia membutuhkan uang banyak dan nantinya juga akan meminta tebusan kepada Brama. Namun tebusan itu tentunya tidak akan pernah mengembalikan Nadeline pada Brama. Itulah alasannya kenapa dia bersikap sok baik pada Nadeline.
"Ya sudah. Ayo kita bawa anak itu. Hari sudah malam, pasti akan semakin susah kalau nanti anak itu bertambah rewel. Bisa-bisa ada warga yang mendengar rengekannya" ucap preman itu.
Ajeng menganggukkan kepalanya kemudian membawa kedua preman itu ke mobilnya. Saat sampai di depan mobil, Ajeng segera membuka pintunya dan matanya melotot tak percaya. Nadeline tidak ada di dalam mobil itu membuat tubuhnya bergetar hebat.
"Apa kalian melihat anak kecil keluar dari mobil ini? Ini anak kecil yang ku bawa tak ada di dalam" seru Ajeng yang begitu terkejut.
"Mana kita tahu ada anak kecil keluar dari mobil. Orang kita saja berdiri lumayan jauh dari mobil ini. Jadi mana ini anak kecilnya? Kita sudah bayar lho" seru salah satu preman yang tak sabaran.
"Ya bantu cari dong. Orang tadi ada di sini sebelum saya pergi menemui kalian" seru Ajeng tak kalah kesalnya mendengar ocehan preman itu.
__ADS_1
Ajeng melihat kearah sekitarnya untuk mencari keberadaan Nadeline. Ia yakin kalau anaknya itu tak mungkin sampai bisa pergi jauh dari sini. Para preman itu juga langsung membantu mencari. Namun sudah beberapa menit mereka mencari, tak ada juga Nadeline.
"Kembalikan uang kami. Yang kami butuhkan adalah anak kecil itu. Jika tak membawanya, maka jangan harap kami memberikan uang itu" ucap salah satu preman itu.
"Nggak bisa gitu dong. Saya sudah jauh-jauh ke sini membawa anak itu. Tapi kalian seenaknya malah membatalkan semuanya dan ingin mengambil uang ini" ucap Ajeng tak terima.
"Tapi ini anaknya nggak ada. Mana bisa kita kasih uang kalau anaknya saja nggak ada" kesal preman itu.
Salah satu preman langsung saja merebut amplop yang ada di tangan Ajeng. Sehingga terjadi tarik-tarikan amplop itu. Rekan preman lainnya langsung saja mendorong Ajeng hingga amplop itu kembali pada mereka.
Brugh...
"Kasar sekali kalian ini" seru Ajeng yang tak terima dengan apa yang dilakukan preman itu.
"Bodo amat. Yang kami butuhkan tidak ada jadi uangnya ini akan kembali pada kita" ucap preman itu yang kemudian pergi.
Kedua tangan Ajeng mengepal dengan erat. Ia tak menyangka kalau rencananya gagal total. Ia bisa dikibuli oleh seorang anak kecil yamg notabene adalah anaknya. Kalau sampai Nadeline bertemu dengan Brama lagi, pasti nyawanya akan terancam. Brama tak mungkin membiarkan orang yang menculik Nadeline bebas begitu saja.
***
Cittt...
Dugh...
"Apa itu tadi yang lewat di depan kita?" seru Aldo yang langsung menghentikan mobilnya dengan cepat saat melihat ada sesuatu yang menyebrang.
Bahkan ada suara seperti menabrak sesuatu. Hal itu membuat mereka langsung keluar dari mobil. Mereka tak ingin jika nanti yang ditabrak adalah orang. Apalagi kondisi lingkungan yang sangat sepi seperti ini akan susah untuk meminta tolong.
__ADS_1
"Nadeline..."