
Beberapa perawat dan dokter berlarian menuju ruang ICU dengan pasien yang tengah dalam kondisi gawat darurat. Orangtua yang menunggu pasien yang ada didalam ICU begitu terpukul karena anaknya kini telah dalam kondisi antara hidup dan mati Tadi mereka yang tengah melihat keadaan anaknya, tiba-tiba dikejutkan dengan keadaan pasien yang kejang-kejang.
"Pa, kita coba lihat keadaan Lili. Mama kok kangen ya" ucap seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Mama Lili.
Mama Ningrum yang tak lain adalah ibu dari Lili untuk mengungkap sedikit kerinduannya pada sang anak yang sampai saat ini belum juga sadarkan diri. Biasanya mereka hanya akan menengok melalui kaca yang ada pada pintu, namun entah mengapa kini Mama Ningrum ingin langsung masuk kedalam.
Papa Lili yang bernama Dedi pun menganggukkan kepalanya. Saat keduanya telah menggunakan pelindung khusus dan memastikan bersih, mereka segera masuk kedalam ruangan Lili. Hati keduanya menghangat saat tangan mereka disatukan dengan kepunyaan Lili.
"Cepat sadar, anak papa. Sudah cukup kamu hukum kami dengan tidak sadarkan diri seperti ini. Papa janji akan lebih meluangkan waktu untukmu, begitu pula dengan mama. Mama akan berhenti bekerja demi selalu menemani kamu lho. Kamu bahagia nggak?" bisik Papa Dedi pada telinga anaknya.
Mama Ningrum yang mendengar bisikan itu tentunya hanya bisa menyabarkan hatinya. Ia memang sudah keluar dari tempat kerjanya demi bisa memperbaiki hubungannya dengan anaknya. Terlebih sang suami juga menyetujui keputusan itu dan ingin kembali memperbaiki hubungan keluarganya.
"Benar kata papa, nak. Mama sudah jadi pengangguran nih, bisa tiap hari temani dan gangguin Lili. Maaf ya kalau nanti kamu kemana-mana, pasti akan diikuti mama" ucap Mama Ningrum sambil terkekeh geli.
Tanpa Mama Ningrum sadari, sudut matanya sudah mengeluarkan cairan bening hingga mengalir pada pipinya. Mama Ningrum mengucapkan beberapa kalimat yang membuat hatinya merasa sesak karena dirinya sangat bersalah pada sang anak. Disaat seperti ini, dirinya baru disadarkan kalau anaknya begitu berharga.
"Kita terus berdo'a untuk Lili ya, ma" ucap Papa Dedi pada sang istri yang kini memeluknya dari samping.
Mama Ningrum hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Namun tiba-tiba saja, tubuh Lili bereaksi. Lili mengalami kejang-kejang bahkan monitor alat pendeteksi jantung pun terlihat bergerak tak beraturan.
"Pa, panggil dokter" seru Mama Ningrum dengan raut wajah paniknya.
__ADS_1
Sontak saja, Papa Dedi dengan sigap memencet tombol panggilan perawat yang ada diatas brankar milik Lili. Keduanya begitu panik dan langsung keluar untuk mencari bantuan karena perawat atau dokter begitu lama datang. Tak berapa lama saat keduanya keluar, dokter dan perawat datang dengan berlarian. Dan kini, mereka duduk menunggu kabar dari dokter yang tengah memeriksa keadaan Lili.
***
Ceklek...
Pintu ruang ICU itu terbuka menampilkan raut wajah sang dokter yang sangat sulit diartikan. Kini kedua orangtua Lili yang tadinya menunggu dikursi tunggu akhirnya berdiri kemudian beranjak mendekat kearah dokter itu. Keduanya harap-harap cemas dengan kondisi anaknya yang baru kali ini kejang-kejang lumayan lama.
"Bagaimana keadaan anak kami, dok?" tanya Papa Dedi.
"Alhamdulillah... Selamat pak, bu... Anak kalian sudah melewati masa kritisnya, kemungkinan akan sadar beberapa jam kedepan" ucap dokter itu sambil tersenyum.
Sontak saja mendengar ucapan dokter itu membuat kedua orangtua Lili langsung saling berpelukan. Mereka menangis haru karena akhirnya penantian keduanya selama beberapa minggu ini terbayar sudah. Mereka sangat bahagia karena anaknya selamat dan akan segera sadar kembali.
"Kalau begitu saya pamit dulu. Pasien sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang rawat inap. Nanti kalau ada apa-apa, bisa hubungi saya" ucap dokter itu kemudian pergi berlalu dari hadapan kedua orangtua Lili.
Kedua orangtua Lili hanya menganggukkan kepalanya mengerti kemudian segera mendekat kearah pintu ruang ICU. Keduanya tersenyum saat melihat semua alat penunjang hidup Lili sudah dilepaskan satu per satu. Bahkan terlihat dari monitor kalau detak jantungnya sudah berangsur normal.
***
Kini Lili sudah dipindahkan ke ruang rawat inap biasa dengan ditemani oleh kedua orangtuanya. Mereka sungguh tak sabar menunggu anaknya terbangun dari komanya hingga tidak sadar kalau keduanya belum makan sejak pagi hari.
__ADS_1
"Mama udah nggak sabar lihat anak kita bangun. Lihat ekspresinya saat mengetahui ada kita yang menjaganya disini" ucap Mama Ningrum dengan antusias.
"Iya, ma. Papa juga udah nggak sabar kita bisa berkumpul bersama lagi" ucap Papa Dedi sambil tersenyum.
Mama Ningrum menciumi telapak tangan Lili berulang kali karena merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Bahkan kini suaminya juga berada disampingnya sambil terus mengusap bahunya dengan lembut. Kebahagiaan Mama Ningrum begitu luar biasa karena sebentar lagi akan kembali berkumpul seperti dulu.
Tak berapa lama, tangan Lili bergerak membuat Mama Ningrum sontak saja berdiri. Papa Dedi begitu terkejut dan menatap kearah apa yang dilihat istrinya. Kedua mata mereka membulat tak percaya karena sebentar lagi anaknya akan terbangun dari tidur panjangnya.
Kelopak mata itu bergerak hingga terbuka sedikit demi sedikit. Papa Dedi langsung menggunakan telapak tangannya untuk menghalangi pandangan mata anaknya agar tak silau terkena cahaya lampu. Mata itu kini sudah terbuka dengan lebar hingga terus mengerjap untuk menetralkan rasa perih yang ada.
"Alhamdulillah... Akhirnya kamu sadar juga, nak" seru Mama Ningrum yang sudah tidak sabar.
Bahkan kini Mama Ningrum langsung saja memeluk anaknya yang masih linglung. Mama Ningrum bahkan langsung menciumi seluruh wajah anaknya membuat gadis yang masih bingung itu tersadar. Lili kini telah sadar kalau dia sudah kembali pada tubuh aslinya dan akan menjalani takdir hidup seperti dulu sebelum kecelakaan.
"Mama..." ucap Lili lirih untuk meyakinkan apa yang ada dipikurannya.
"Iya, nak. Ini mama... Mamanya Lili ada disini bersama papa" ucap Mama Ningrum dengan suara seraknya.
Lili terisak karena kini kembali dalam dunianya sendiri. Ia bingung menangis karena apa pasalnya ada rasa sedih dan haru yang menyelimutinya. Ia sedih karena meninggalkan Kei dan mertuanya yang begitu baik hati juga Aldo yang selalu memberinya perhatian. Namun ia juga terharu karena kini orangtuanya hadir disini dan menanti dia kembali membuka mata.
Papa Dedi juga langsung memeluk anaknya itu dengan erat. Ketiganya menangis bersama walaupun Lili sendiri masih bingung. Sedangkan kedua orangtuanya menangis karena bahagia dengan kembalinya sang anak.
__ADS_1
"Aku bingung harus melakukan apa, Tuhan? Tolong jaga Kei, Aldo, dan kedua mertuaku agar mereka bisa tabah karena kehilangan Arlin" batin Lili.