Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Khawatir


__ADS_3

Sore hari, Lili terbangun dari tempat tidurnya dan melihat kearah Kei yang masih terlelap. Lili mengusap dahi anaknya itu dengan sayang. Sedangkan Kei sama sekali tak terganggu dengan kegiatan mamanya itu.


Bahkan infusnya juga sudah terlepas dari telapak tangannya. Ia yakin jika Aldo tadi terus memeriksa kondisi istrinya. Lili begitu bahagia mengetahui jika Aldo perhatian kepadanya.


"Kei, ayo bangun. Mandi dulu" ucap Lili membangunkan anaknya itu.


"Bental, mama. Kei macih nantuk nih" jawab Kei lirih.


"Ayo buruan dong. Mama juga mau mandi nih, dah sore lho. Nanti dingin kalau nggak mandi-mandi" ucap Lili mencoba membujuk Kei.


"Napa cih halus mandi cegala? Dahal tindal tidul caja tan ndak tena debu mama" ucap Kei yang kini sudah membuka matanya.


"Tapi kan ada kumannya. Manusia berkeringat, itu sudah ada kuman atau bakterinya lho. Makanya kita harus mandi. Masa iya nggak mandi, nanti kotor dan bau badan" ucap Lili mencoba membujuk anaknya.


Kei hanya bisa mengerucutkan bibirnya kesal karena tetap disuruh mandi oleh mamanya itu. Lili langsung saja menggendong anaknya itu memasuki kamar mandi dan memandikannya dengan telaten. Kei pun bukan anak yang riweh kalau sudah berada di dalam air.


"Sekarang tunggu di sini sebentar. Mama mau ambilkan baju kamu dulu" pesan Lili pada anaknya.


Lili segera keluar dari kamarnya kemudian menuju kamar Kei. Sedangkan Kei masih menunggu kedatangan sang mama dengan duduk di atas kasur menggunakan balutan handuk. Kei duduk dengan antengnya bahkan hanya terus bernyanyi lagu anak-anak.


"Lho Kei... Mama mana?" tanya Aldo yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.


"Mama ke kamalna Kei. Ambil baju buat atu" ucap Kei membuat Aldo menganggukkan kepalanya mengerti.


Aldo langsung duduk di samping Kei yang wajahnya kelihatan segar. Tak ada lagi pancaran sendu saat ini seperti tadi saat Lili pulang ke rumah. Aldo mengusap lembut kepala anaknya itu agar fokusnya teralihkan kepadanya.


"Kei, kita jaga mama sama-sama ya. Jangan biarkan mama sakit lagi. Pokoknya mama harus selalu tersenyum bahagia" ucap Aldo.


"Papa napa nomong tayak ditu? Papa tawatil ya talo mama cakit ladi?" tanya Kei dengan tatapan polosnya.

__ADS_1


"Iya, papa takut dan khawatir kalau sudah berhubungan dengan rumah sakit" ucap Aldo.


"Tapi papa puna lumah cakit pasti belhubunan telus tan?" tanya Kei dengan pandangan bertanya.


Lili yang sedari tadi melihat interaksi keduanya dari balik pintu hanya bisa menahan tawanya. Apalagi saat Aldo mengatakan agak takut berhubungan dengan rumah sakit. Bahkan Kei sendiri paham jika papanya itu akan selalu berhubungan dengan tempat itu.


"Papa itu lagi bingung. Itu rumah sakitnya kok banyak banget, siapa yang ngurusin gitu" ucap Lili yang kemudian masuk dalam kamar.


"Woh... Becok bial Kei dan adit-adit caja yang nulus lumah cakit. Papa tan cudah tua, bial bica itilahat caja" ucap Kei penuh bijak.


"Ish... Papa belum tua ya, Kei. Enak saja..." kesal Aldo pada anaknya yang malah mengatainya tua itu.


"Sudah... Mending kamu mandi saja, pa. Soalnya ini udah sore lho" ucap Lili menyuruh Aldo segera membersihkan dirinya.


Aldo menganggukkan kepalanya mengerti. Berdebat dengan Kei pasti hanya akan menguras tenaganya. Lebih tepatnya harus menjelaskan semua yang ada dipikirannya pasti hanya akan menguras tenaga. Apalagi Kei memang belum mengerti tentang dunia bisnis.


"Nggak usah dipikirkan omongan papamu itu, Kei. Kamu akan tahu saat nanti dewasa" ucap Lili mencoba mengalihkan fokus anaknya.


"Ladian papa naneh. Macak puna lumah cakit tapi tatut cama tempat itu" ucap Kei.


Lili hanya terkekeh pelan. Ia juga sama bingungnya dengan ucapan Aldo yang kadang nyeleneh itu. Setelah selesai mempersiapkan Kei, Lili membawa anaknya itu keluar dari kamar.


***


"Lho... Mama kok ada di sini?" tanya Lili yang terkejut melihat kedatangan mamanya ke mansion saat sore hari.


Bahkan kini Mama Ningrum berada di dapur bersama dengan mertuanya. Mama Ningrum dan Mama Nei pun langsung mengalihkan pandangannya kearah Lili yang menggendong Kei. Keduanya langsung mendekati Lili terutama Mama Ningrum yang raut wajahnya terlihat khawatir.


"Kamu sudah sehat, Li? Kalau masih sakit mending di kamar saja" ucap Mama Ningrum dengan raut khawatirnya.

__ADS_1


"Lili sudah sehat, ma. Lagian tadi tuh Lili cuma kecapekan karena harus membantu dokter lain yang kebanyakan pasien" ucap Lili mencoba menenangkan mamanya itu.


Mama Nei segera saja mengambil alih Kei dari gendongan Lili. Ketiganya segera duduk di ruang makan, sedangkan proses memasak langsung diambil alih oleh maid.


"Kamu harus jaga kesehatan, Li. Mama tuh suka khawatir kalau tiba-tiba dapat kabar kamu kelelahan" ucap Mama Ningrum.


"Iya, mama. Lagian ini tadi kan memang lagi banyak kerjaan jadi sudah sewajarnya kalau kelelahan. Lili akan terus jaga kesehatan dan tidak lagi merepotkan mama" ucap Lili sambil mengelus lembut lengan tangan mamanya.


"Mama nggak repot kalau cuma datang ke rumah ini saja. Lagian mama juga kan sering bolak-balik ke sini buat antar jemput Kei" ucap Mama Ningrum.


Beberapa maid langsung saja meletakkan semua masakan yang telah siap di atas meja makan. Makanan lengkap yang begitu menggiurkan. Bahkan Kei juga sudah menelan air liurnya berulangkali karena menahan laparnya.


"Wah... Makanannya banyak sekali" seru Lili dengan mata berbinar.


"Iya, mama. Mana nih pelut tayakna dah ndak cabal buat nicipin ladi" ucap Kei sambil menepuk-nepuk perut kecilnya.


"Kalian ini sama. Kalau soal makanan pasti nomor satu" ledek Mama Ningrum.


"Tan tita juda butuh matanan bial ndak kelapalan, nek. Nenek duga mau tan? Talo ndak mau bial Kei yang abicin caja" ucap Kei.


Lili hanya bisa menahan tawanya melihat Mama Ningrum mati kutu. Apalagi Mama Ningrum langsung mengerucutkan bibirnya kesal. Mama Nei begitu senang dengan interaksi yang terjadi di dalam ruang makan ini.


"Tunggu papamu, opa, dan kakek biar kita bisa makan bersama" ucap Mama Nei saat melihat Kei akan mengambil satu udang goreng.


"Ish... Lama meleta. Kei kebulu tatut talo udanna idup ladi lho" ucap Kei menakut-nakuti para orang dewasa.


"Kagak gitu juga konsepnya, Kei" ucap Mama Nei sambil geleng-geleng kepala.


Tak berapa lama, para laki-laki dewasa sudah berkumpul di meja makan. Semuanya makan dengan tenang dan lahap. Suasana yang begitu hangat membuat keluarga itu terlihat sangat harmonis.

__ADS_1


__ADS_2