
"Brama mengerti, om. Di sini ada banyak orang yang mengawasi dan mendukung Nadeline agar kondisi mentalnya lebih baik. Apalagi setelah kejadian itu, Nadeline lebih dekat sama Lili dan Kek. Denganku saja terkadang ia takut" ucap Brama sambil tersenyum.
"Tapi Brama tak mungkin merepotkan kalian terus. Brama sudah terlalu banyak merepotkan. Apalagi dengan tinggal di sini, waktu kalian semua tersita untuk Nadeline. Terutama Mbak Lili dan Kei" lanjutnya tak enak hati.
Papa Tito tersenyum tipis mendengar apa yang diucapkan oleh Brama itu. Tak salah jika Brama tak enak hati dengan keluarganya. Apalagi Aldo dan Lili sampai turun tangan langsung dalam mengurus kesehatan Nadeline.
"Kalau kamu sudah punya istri sekaligus ibu untuk Nadeline, kamu bisa pulang ke rumah. Atau Nadeline di sini saja, kamu tidurnya di rumah" ucap Papa Tito sambil terkekeh pelan.
"Nanti aku malah rindu berat sama Nadeline, om. Mending saya sekalian ngrepotin keluarga om alias numpang hidup" ucap Brama sambil terkekeh pelan.
"Lumayan ya uang yang buat beli beras jadi irit" ucap Papa Tito sambil terkekeh geli.
Brama memutuskan untuk tinggal di rumah Papa Tito. Ini pun ia lakukan demi anaknya yang memang butuh pendampingan khusus. Papa Tito juga sudah menganggap Nadeline sebagai cucunya.
***
"Aduh... Ini cucu-cucu oma pada habis ngapain? Kok pada keringatan gini" tanya Mama Nei yang melihat Nadeline dan Kei memasuki rumah.
Terlihat sekali kalau wajah keduanya basah dengan keringat yang bercucuran. Rambutnya juga lepek karena keringat. Entah apa yang dilakukan keduanya, namun Mama Nei terlihat lega melihat Nadeline yang wajahnya begitu ceria.
"Kami tadi habis tangkap mangga sama mamang, oma. Kami dapat banyak lho tapi dibawa sama mamangnya ke dalam nanti. Kami sudah lelah dan ingin minum makanya masuk rumah duluan" jelaa Kei pada Mama Nei.
Mama Nei hanya menganggukkan kepalanya kemudian mengajak mereka masuk dapur. Di sana Mama Nei langsung memberi keduanya minuman dan membersihkan wajah mereka.
"Kalian ini kalau mau bantu tangkap buah itu ya jangan sampai kecapekan begini, nak. Kalian kalau sudah tahu panas dan capek itu berhenti" ucap Mama Nek mengomeli keduanya.
"Oma mending jangan bawel deh. Mana ngomongnya pas di telinga Kei lagi. Kan Kei jadi pusing" ucap Kei mengeluh pada omanya itu.
__ADS_1
"Astaga..." ucap Mama Nei yang kemudian menggelitiki perut Kei.
"Ampun oma. Ish... Geli..." seru Kei membuat Mama Nei terkekeh geli.
Tak lupa dengan Nadeline juga ikut tertawa karena melihat adegan itu. Namun tiba-tiba pandangannya berubah sendu saat melihat kedekatan Mama Nei dengan Kei. Ia juga ingin merasakan dicintai oleh nenek dan kakeknya. Namun apalah daya kalau ia tak bisa lagi bertemu mereka yang sudah ada di surga.
"Oma..." bisik Kei pada Mama Nei sambil melirik kearah Nadeline.
Padahal keduanya asyik bercanda namun Nadeline kini malah terlihat melamun dengan pandangan mata lurus ke depan. Kini keduanya telah selesai adegan bercanda itu setelah melihat keadaan Nadeline. Sepertinya Nadeline tak sadar kalau Mama Nei dan Kei sudah tak lagi bercanda berdua.
"Peluk Nanad sama-sama" seru Kei yang langsung memeluk Nadeline bersamaan dengan Mama Nei.
Hal ini membuat Nadeline tersentak kaget. Nadeline tak menyangka kalau akan mendapatkan pelukan hangat dari Mama Nei. Sosok seorang nenek yang biaa menyayanginya selayaknya cucu.
"Nadeline kenapa? Cerita sini sama oma. Apa Kei nakalin Nadeline?" tanya Mama Nei dengan lembut.
"Oma hanya bercanda, Kei. Gitu aja sensi lho" ucap Mama Nei sambil terkekeh geli.
Perdebatan keduanya itu sungguh menghibur Nadeline. Mama Nei langsung mengecup pipi Nadeline dan mengelus punggungnya lembut. Badan Nadeline sedikir bergetar karena sepertinya bocah cilik itu akan menangis.
"Jangan menangis. Oma cuma peluk aja ini, nggak cubit atau nyakitin Nadeline" ucap Mama Nei sambil tersenyum.
"Makasih, oma. Melalui oma ini, Nanad merasakan kasih sayang seorang nenek. Jangan tinggalkan Nanad ya, oma" ucap Nadeline di sela isak tangisnya.
"Nggak akan ada yang meninggalkan Nadeline. Kamu kan anak baik, jadi semua orang pasti akan menyayangi kamu. Oh ya... Kalau mau nggak ditinggalin oma itu ya tinggal di sini terus. Nadeline mau kan buat tinggal di rumah ini?" tanya Mama Nei.
"Nanad tergantung papa, oma. Kasihan nanti papa di rumah tidur sendirian kalau nggak ada Nadeline" ucap Nadeline.
__ADS_1
"Papamu nggak akan pernah mungkin jauh dari kamu. Papamu pasti akan ikut denganmu tinggal di sini. Urusan papamu biar oma yang urus. Pokoknya sekarang Nadeline tinggal di sini seterusnya sama oma dan lainnya" ucap Mama Nei dengan antusias.
Nadeline juga menganggukkan kepalanya antusias. Ia akan mendapatkan keluarga yang lengkap. Apalagi ada oma dan opa yang memberinya perhatian. Ia juga mempunyai adik perempuan yang bisa diajaknya bermain.
***
"Itu suaminya Ajeng" tunjuk Aldo pada Lili yang berada di sampingnya.
Aldo sudah menceritakan kejadian Ajeng kepada Lili. Bahkan Lili sudah mengetahui kalau mereka tengah mencari keberadaan suami Ajeng. Apalagi suami Ajeng itu juga bisa ia jadikan saksi kunci. Dalang dari kejadian ini juga masih terus diselidiki polisi.
"Kita ikuti saja, mas. Ngapain juga dia di rumah sakit ini? Kita kan nanti bisa kalau tanya rekam medis pasien atas orang yang sakit di sini. Itu pun kalau di sini suaminya itu sakit atau ada sanak saudaranya yang sedang sakit" ucap Lili.
"Benar. Setidaknya kita mempunyai banyak petunjuk untuk mencari kebenaran kasus ini. Bisa saja nanti kalau Ajeng itu ternyata hanya suruhan dari suaminya atau orang terdekatnya" ucap Aldo.
Lili hanya menganggukkan kepalanya. Keduanya bergegas mengikuti suami Ajeng yang bernama Ryan itu dengan berjalan biasa. Beruntung mereka menggunakan jas dokter sehingga takkan mencurigakan jika memasuki beberapa ruangan pasien.
"Kok itu masuknya ke ruangan Dokter Anastasia ya? Siapa yang hamil? Kan istrinya di penjara. Apa mungkin kalau saudaranya?" tanya Lili pada suaminya dengan pelan.
"Nggak tahu juga. Kita nanti tanya langsung sama dokternya. Kita bisa masuk ruang istirahat agar tak kelihatan mengikutinya" ucap Aldo mengajak istrinya pergi.
Lili menganggukkan kepalanya mengerti. Lagi pula mereka sebenarnya bisa memeriksa dari CCTV. Hanya saja Lili dan Aldo ingin merasakan adrenalin menjadi mata-mata. Apalagi ini dari orang yang belum kita ketahui bagaimana sifatnya.
***
"Lama amat dia keluarnya dari ruangan dokter. Ngapain aja sih?" gerutu Lili sambil melihat kearah ponsel suaminya yang terdapat rekaman CCTV.
"Sabar. Mungkin konsultasi dan banyak pertanyaan" ucap Aldo yang melihat istrinya sudah tak sabaran.
__ADS_1
Tak berapa lama, Ryan keluar dengan menggandeng seorang wanita. Wanita hamil yang perutnya sudah membesar itu terlihat kesusahan berjalan sehingga dibantu oleh Ryan. Lili dan Aldo saling pandang seolah memberi kode mengenai apa yang ada di pikiran keduanya.