Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Kepulangan


__ADS_3

Hari ini Lili dan bayi perempuan yang belum diberi nama itu akan pulang ke rumah. Selama 3 hari, Lili dan bayinya dipantau di rumah sakit. Hari ini merupakan kepulangan keduanya yang akan disambut suka cita oleh keluarga, terutama Kei.


"Ini Kei nggak ikutan jemput?" tanya Lili yang bergandengan tangan dengan Aldo.


Sedangkan bayi perempuannya kini berada dalam gendongan Mama Ningrum. Ada Papa Dedi dan Aldo yang membawa barang-barang milik Lili juga bayinya. Sedangkan Mama Nei dan Papa Tito menemani Kei di rumah.


"Kei mau menyambut kepulangan kalian di rumah. Dia sudah menyiapkan kejutan untuk menyambut kepulangan kalian," ucap Mama Ningrum.


"Kejutan apa itu, ma?" tanya Lili yang sangat penasaran.


"Nggak tahu. Kata cucu mama itu, rahasia" ucap Mama Ningrum membuat Lili mendengus kesal.


Ia sudah sangat rindu dengan anaknya itu. Apalagi celotehan bawelnya dan sikap posesif yang ditunjukkan kepada adik perempuannya. Mereka segera menaiki mobil dengan Aldo yang mengemudikan kendaraan itu. Lili tersenyum melihat anak perempuannya begitu anteng dalam gendongan Mama Ningrum.


"Antengnya anak mama" ucap Lili sambil menoel-noel pipi anaknya itu.


"Jangan digangguin, Li. Dia itu lagi tidur lho" tegur Mama Ningrum dengan posesifnya.


"Habisnya dia tidur terus sih, ma. Kan Lili ingin ajak dia main" ucap Lili yang begitu gemas dengan anaknya.


"Namanya juga bayi, Li. Kalau siang tidur, malamnya begadang" ucap Mama Ningrum.


Lili hanya menganggukkan kepalanya. Walaupun baru tiga hari menjadi ibu dari seorang bayi, Lili sudah merasakan sedikit kerepotan. Apalagi setiap malam, ia harus begadang untuk menyusui anaknya. Beruntung ada Aldo yang setia menemaninya dan membantunya menenangkan anaknya.


***


"Selamat datang di rumah yang indah dan besar ini" seru Mama Nei yang menyambut kedatangan Lili dan bayi perempuannya.

__ADS_1


"Mamat atang adit tecil dan mama tantik," seru Kei yang langsung memeluk kaki Lili.


Lili hanya bisa mengusap lembut kepala anak laki-lakinya itu. Untuk berjongkok dan menggendong, tentu Lili belum bisa. Jahitan pada perutnya masih sedikit ngilu jika ia terlalu lama bergerak.


"Kejutannya mana?" tanya Lili dengan tatapan penasaran.


Pasalnya mereka keluar dengan biasa saja dan hanya mengucapkan kalimat selamat. Hal itu membuat Lili penasaran dengan kejutan yang disampaikan oleh Mama Ningrum.


Tanpa menjawab pertanyaan Lili, Kei langsung saja menggandeng tangan mamanya itu. Kei membawa mamanya ke kamar tamu dan di sana sudah ada dekorasi indah dengan bunga mawar merah juga putih.


"Buna buwat mama yang tantik. Mama yang celalu halum dan mewalnai idupna Kei. Telimatacih mama, ini utuk mamatu" ucap Kei yang langsung memberikan satu buket bunga mawar merah segar.


"Buat papa mana dong?" tanya Aldo dengan wajah memelasnya.


"Biacana wowok tuh ndak cuka cama buna lho. Nemangna papa cuka?" tanya Kei dengan polosnya.


Semua yang ada di sana terkekeh geli mendengar apa yang diucapkan oleh Kei. Bahkan Aldo hanya memberengut kesal karena anaknya itu tak memberinya ucapan selamat juga. Kei tak peduli dengan wajah Aldo yang memberengut. Kei juga memberikan kue untuk mamanya itu.


"Tuena Kei yang pilih lho dali toto lotina. Talo dekol ini tuh nemang idena Kei tapi yang teljain oma dan opa. Meleta ebat lho, mama. Ndak encok pundungna adahal dah naik-naik ke atas," ucap Kei yang langsung mengacungkan kedua jempolnya kearah oma dan opanya.


Semuanya hanya bisa terkekeh geli mendengar ucapan Kei, kecuali Mama Nei dan Papa Tito. Keduanya menatap sinis kearah Kei yang secara tak langsung mengatakan kalau mereka sudah tua. Sebal sekali keduanya itu pada cucunya yang sudah dibantu itu.


"Awas ya kamu, Kei. Nggak akan kami bantuin lagi" ucap Mama Nei yang kesal dengan cucunya itu.


"Woh... Oma nambekan. Cudah tuwa ndak oleh nambekan" ucap Kei dengan santainya.


"Kei, nggak boleh kaya gitu sama omanya. Selama ini kan yang jaga kamu itu oma dan opa lho. Minta maaf gih" tegur Lili mencoba mengajarkan anaknya agar minta maaf pada mertuanya.

__ADS_1


Kei hanya bisa mengerucutkan bibirnya kesal. Namun tak ayal Kei langsung menghadap kearah omanya yang kini tersenyum penuh kemenangan. Tanpa sepengetahuan Lili, Kei menatap sinis omanya itu.


"Li, ada yang nggak serius nih minta maafnya. Malah kaya ngejek mama lho" ucap Mama Nei mengadu pada menantunya.


"Kei, yang serius dong. Masa sama orangtua gitu sih" ucap Lili memberitahu.


"Oma boong lho, mama. Kei dalitadi diam caja" ucap Kei membela diri.


"Sudah... Sudah... Kalian ini malah ribut terus. Biarkan Lili dan baby istirahat. Kasihan masa mereka baru pulang sudah disuguhi oleh perdebatan kalian" ucap Papa Tito melerai perdebatan keduanya.


Aldo membantu Lili dan anaknya tiduran di atas kasur. Kei juga ikut naik ke atas kasur dan berada di sisi kiri adiknya. Sedangkan Lili berada di sisi kanan anaknya. Semua orang dewasa keluar kecuali Aldo yang ingin quality time bersama keluarga kecilnya.


"Mama, napa adit tecil tidul mulu? Cetiap didenuk Kei di lumah cakit celalu caja tidul. Ni campe lumah duga tidul" ucap Kei yang kini mengelus pipi adiknya itu dengan lembut.


"Kalau masih kecil memang kaya gitu, Kei. Dulu Kei juga begitu kok" ucap Lili sambil mengelus lembut rambut anak laki-lakinya itu.


"Tayakna Kei dulu ndak ditu deh. Ceinat Kei nih, dulu jalan tidul coalna celing dengal mama malah-malah. Papa duga, ndak pelnah temani Kei tidul. Kei ndak inat banak coalna Kei macih tecil" ucap Kei yang mencoba mengingat lagi masa kecilnya.


Deg...


Jantung Aldo langsung berdetak dengan cepatnya. Ia tak menyangka jika anaknya itu masih mengingat sedikit memori tentang masa kecilnya. Aldo langsung memalingkan wajahnya kearah lain karena tak kuasa merasa bersalah dengan anaknya itu.


"Ah... Itu mungkin hanya kisahnya siapa gitu. Faktanya Kei sekarang disayangi sama mama dan papa juga yang lainnya. Ayo Kei tidur, susul adiknya" ucap Lili yang langsung mengalihkan pembicaraan.


Kei pun menganggukkan kepalanya kemudian tidur di samping adik perempuannya. Lili terus mengusap kepala Kei membuat bocah laki-laki itu mengantuk. Bahkan Lili terus saja membuat Kei tertidur lelap.


"Kei sudah tidur?" tanya Aldo pada Lili dengan pelan.

__ADS_1


"Sudah. Jangan bahas itu dulu. Lebih baik kita tidur dan istirahat agar badan juga nggak lelah untuk menyiapkan acara aqiqah dan syukuran baby" ucap Lili.


Aldo hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Aldo memeluk Lili dari belakang membuat perempuan itu tertidur dengan lelapnya. Aldo tersenyum melihat kebersamaan keluarga kecil keduanya yang begitu hangat itu.


__ADS_2