
Perasaan Aldo semakin tak menentu setelah mendengar ungkapan bernada pilu dari anaknya. Ia semakin merasa bersalah pada anaknya itu karena tak bisa memberikan yang terbaik untuknya. Padahal ia sudah berjanji pada Arlin untuk bisa membahagiakan anaknya, namun Kei ternyata belum sebahagia itu.
"Apa yang harus aku lakukan, sayang? Aku lemah tanpa kamu. Seharusnya kau tak pergi meninggalkanku secepat ini. Aku masih butuh kamu" gumam Aldo lirih sambil menatap kearah langit-langit kamarnya.
Ternyata Aldo yang kelihatan begitu keras dan sombong ketika di kampus itu lemah juga saat sendiri di kamarnya. Ia menampilkan wajah keras dan kuat agar oranglain tak mengasihaninya. Tentu saja hal itu agar orang-orang tak juga memandangnya lemah karena kehilangan belahan jiwanya.
Padahal jelas kalau ia memang begitu lemah kehilangan sosok sang istri. Aldo hanya manusia biasa yang tentu mempunyai titik terendah dalam hidupnya. Dan kehilangan sang istri yang begitu ia cintai membuatnya begitu lemah.
"Tolong hadir dalam mimpiku walaupun sejenak. Setidaknya berikan aku petunjuk bagaimana harus membahagiakan Kei" gumamnya yang langsung memejamkan matanya.
Aldo tertidur untuk mengistirahatkan jiwa dan pikirannya yang sedang tidak baik-baik saja. Tanpa Aldo sadari, ada cairan bening yang merembes keluar dari sudut matanya itu. Ia merasa ingin segera keluar dari beban dan rasa kehilangan yang membelenggunya hingga saat ini.
***
"Arlin..." teriak Aldo yang terbangun dengan nafas tersendat-sendat.
Aldo tak menyangka kalau apa yang diinginkannya terkabul. Aldo bertemu dengan istrinya di alam mimpi dan ucapan Arlin yang begitu mencengangkan itu langsung membuatnya bangun dengan nafas yang ngos-ngosan. Bahkan kini Aldo tengah terduduk diatas kasurnya dengan menyandarkan tubuhnya di dashboard kasur.
Aldo terus menarik dan menghembuskan nafasnya berulangkali. Ada rasa sesak dalam dadanya seperti sehabis berlari jauh. Aldo mengusap wajahnya dengan kasar karena tak ingin larut dalam mimpi menyebalkan itu.
"Astaga... Arlin, kenapa kau malah mendatangiku dengan mengucapkan hal yang tak mungkin ku lakukan" gumamnya kesal.
Aldo masih ingat dengan apa yang diucapkan Arlin dalam mimpinya. Namun saat Aldo menolak apa yang diucapkan oleh Arlin itu, istrinya itu marah dan langsung mengucapkan kalimat yang tak ia sukai. Bahkan Arlin juga langsung pergi begitu saja setelah mengucapkan kalimat itu.
__ADS_1
"Sayang, akhirnya kita bertemu. Aku ingin bertanya padamu, apa yang harus aku lakukan agar membuat Kei bahagia?" tanya Aldo dengan tatapan penuh harap.
"Satu yang bisa membuat Kei bahagia. Dia ingin punya ibu, maka menikahlah. Menikahlah dengan orang yang mempunyai jiwa keibuan sehingga Kei nyaman. Apa kamu ingin tahu siapa jodohmu kelak?" tanya Arlin sambil tersenyum.
Terlihat sekali kalau Aldo tak suka dengan apa yang diucapkan oleh Arlin itu. Ia tak ingin menikah lagi dengan siapapun itu. Walaupun nantinya ia ditakdirkan dengan siapa, ia akan berusaha untuk menolaknya. Namun Aldo hanya mampu menganggukkan kepalanya saat ditanya mengenai keingintahuannya tentang jodohnya kelak.
"Mahasiswamu yang kini tengah dekat dengan Kei. Dia adalah separuh dari jiwaku, aku yakin kamu dan Kei akan bahagia jika bersama dengannya" ucapnya saat melihat Aldo menganggukkan kepalanya.
Tentu saja Aldo yang mendengar clue yang disampaikan oleh Arlin itu mengernyitkan dahinya heran. Ia mengingat-ingat lagi siapa mahasiswa yang dekat dengan anaknya itu. Namun tak berapa lama, matanya membulat karena ingat dengan Lili.
"Tidak. Aku tidak akan mau menikahi dia sekalipun dia adalah takdirku sendiri" ucap Aldo dengan tegas.
"Kamu tak bisa melawan takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan. Aku yakin kalau sebentar lagi kau akan jatuh cinta pada gadis itu seiring berjalannya waktu" ucap Arlin sambil tersenyum.
Padahal Aldo sudah memanggil-manggil nama istrinya itu namun sama sekali tak digubris. Hingga akhirnya Aldo terbangun dengan nafas yang tak beraturan. Sungguh Aldo masih tak menyangka mendapatkan mimpi yang sangat buruk menurutnya.
"Jangan sampai aku jatuh cinta sama gadis itu. Sudah ceroboh, ngeyel, ngerepotin, mana jadi penyebab meninggalnya Arlin lagi" kesalnya.
Aldo melihat kearah jam yang menggantung pada dinding kamarnya. Ia tak menyangka kalau hari masih begitu pagi untuknya terbangun. Karena sudah tak bisa tertidur lagi, Aldo memutuskan keluar dari kamarnya. Ia pergi ke kamar Kei yang saat sampai di sana terlihat kalau anaknya itu masuh tertidur pulas.
"Selamat tidur, jagoannya papa dan mama. Mimpi indah" bisik Aldo tepat pada telinga anaknya.
Bahkan Aldo kini langsung naik ke atas kasur kemudian membaringkan tubuhnya di samping Kei dan memeluk anaknya itu. Beruntung Kei tidur di ranjangnya, bukan box sehingga ia bisa langsung masuk dalam pelukan anaknya. Sepertinya beberapa pembatas yang ada di samping anaknya itu yang melakukan adalah omanya.
__ADS_1
Kini Aldo malah tertidur pulas sambil memeluk anaknya. Padahal niatnya tadi hanya ingin melihat keadaan anaknya, namun malah tidur bersamanya.
***
"Ya Allah... Kenapa anak sama cucu kok jam segini belum pada bangun" gerutu seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Mama Nei.
Tadinya Mama Nei ingin membangunkan dan memandikan cucunya, namun malah melihat pemandangan antara anak dan ayah masih tertidur pulas. Sungguh Mama Nei hanya bisa geleng-geleng kepala sambil menghela nafasnya pasrah. Mama Nei mendekat kearah keduanya yang masih saling berpelukan itu.
"Bangun, Al" ucap Mama Nei sambil menggoyangkan bahu anaknya dengan brutal.
"Bentar, ma. Masih ngantuk ini" gumam Aldo pelan.
"Jangan nanti-nanti. Udah terang ini, rezekinya dipatok ayam baru tahu rasa. Ayo bangun" ucap Mama Nei dengan tegas.
Dengan malas, Aldo membuka matanya dan terlihatlah sang mama yang tengah berkacak pinggang. Aldo juga langsung terduduk kemudian turun dari kasur Kei. Sedangkan Kei masih tertidur dengan pulasnya diatas ranjang, tanpa terganggu dengan omelang sang opa pada papanya.
"Kei, ayo bangun" panggil Mama Nei setelah melihat Aldo telah keluar dari kamar cucunya.
Bukannya bangun, Kei malah menarik selimutnya yang melorot. Hal itu membuat Mama Nei begitu gemas dengan apa yang dilakukan oleh cucunya itu. Ternyata Kei, Aldo, dan Papa Tito itu sama-sama susah dibangunkan.
Dengan nekat, Mama Nei mengangkat tubuh Kei masuk dalam gendongannya. Walaupun Kei sama sekali tak terbangun, namun Mama Nei langsung menepuk-nepuk punggungnya. Berulangkali membangunkan cucunya itu, akhirnya Kei mau juga membuka matanya.
"Ish... Oma ndak acik. Kei macih ngin obok lho ni" kesal Kei yang melihat wajah omanya berada di depan matanya.
__ADS_1
"Biarin. Jangan jadi kebo kaya papa dan opamu, Kei" ucap Mama Nei dengan mengalihkan pandangannya.