Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Pernikahan


__ADS_3

Hanya butuh waktu sebulan hingga semua rencana pernikahan itu selesai dipersiapkan. Bahkan pernikahan itu akan digelar satu minggu sebelum Lili melaksanakan kegiatan pendidikan profesinya atau KOAS. Moment yang benar-benar membuat Lili geleng-geleng kepala.


Ada rasa senang dan sedih dirasakan oleh Lili. Senang karena dua moment dalam hidupnya akan terlaksana dalam waktu dekat. Namun Lili sedikit sedih karena nanti pasti dia akan sibuk di rumah sakit dibandingkan bersama keluarganya.


"Apa Lili bisa melakukan kegiatan ini secara bersamaan, ma? Kan jam jaganya juga diatur pihak rumah sakit. Lili takut nggak bisa bagi waktu antara keluarga dan rumah sakit" tanya Lili pada mamanya.


"Kamu pasti bisa. Kalau ada waktu luang, gunakan untuk bersama keluargamu. Aldo pasti sudah mempertimbangkannya. Apalagi dia juga profesinya sama dengan kamu. Dia tahu bagaimana sibuknya orang yang sedang praktik" ucap Mama Ningrum menenangkan anaknya.


Sebenarnya dalam hati Mama Ningrum juga ia sedikit khawatir jika kesibukan Lili akan menimbulkan masalah dalam rumah tangga anaknya. Namun ia yakin kalau Aldo itu bisa memahami anaknya. Terlebih mereka berkecimpung dalam dunia yang sama.


"Huft... Semoga saja semuanya baik-baik saja. Lili nggak bisa bayangin kalau itu jadi masalah. Apalagi kalau menyangkut Kei yang sedang aktif-aktifnya dan butuh perhatian lebih. Jika Lili kesusahan menjaga Kei, bantuin ya ma" ucap Lili.


"Pasti" jawab Mama Ningrum dengan yakin.


Setidaknya Lili bisa mengandalkan orangtuanya atau sang mertua saat nanti tak bisa menjaga Kei 24 jam. Lagi pula ini salahnya Aldo juga yang malah memajukan rencana pernikahan mereka.


***


Pihak kampus tak lagi gempar dengan berita pernikahan Lili dan Aldo. Pasalnya waktu itu hubungan keduanya sudah terbongkar oleh Bu Amel yang nyinyir. Mereka memaklumi jika cepat atau lambat pasangan itu pasti akan segera menikah.


"Wah... Saya sudah dapat undangan nih dari Pak Aldo" ucap Pak Sandy sambil menunjukkan undangan yang ada di tangannya.


"Saya belum nih, pak. Apa saya nggak diundang ya?" tanya Pak Lukman.


"Apa mungkin karena masalah yang waktu Bu Amel itu? Saya sempat memojokkan beliau, jadinya sakit hati terus nggak ngundang saya lagi" lanjutnya menduga-duga.


"Nggaklah, pak. Pak Aldo itu nggak sampa seperti itu hanya karena masalah Bu Amel. Apalagi masalah Bu Amel itu kan memang bikin keki semua orang. Ini juga nggak ada sangkutpautnya sama Pak Lukman" ucap Bu Ais.


Pasalnya Bu Ais juga belum mendapatkan undangan itu. Dia mah santai santai saja. Pasalnya ia juga tak ada masalah dengan Aldo maupun Lili, jadi pasti akan diundang. Lagi pula undangan yang disebar itu banyak sehingga tak mungkin bisa datang bersamaan.


"Memangnya Pak Aldo hanya mengundang Pak Lukman saja? Kan tamunya banyak. Sabar aja" ucap Bu Nining, dosen yang ada di sana sambil geleng-geleng kepala melihat kekhawatiran rekan kerjanya.

__ADS_1


Pak Lukman hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Ia juga tahu pasti yang diundang juga bukanlah orang sembarangan. Apalagi Aldo itu terkenal dan banyak client penting yang didahulukan. Aldo saat ini sudah cuti dari pekerjaannya karena harus mengurus tentang pernikahannya.


***


Hari ini pernikahan yang ditunggu oleh Aldo dan Lili tiba. Mereka sudah berada di kamar hotel masing-masing untuk bersiap. Semua keluarga sudah berada di hotel sejak semalam. Apalagi Kei yang sejak semalam memang tidur bersama dengan Lili.


Aldo sendiri tak diperbolehkan bertemu dengan Lili sejak satu minggu yang lalu. Hal itu membuat Aldo kesal dan iri dengan anaknya yang bisa tidur dengan Lili. Bahkan semalam Lili yang dihubungi olehnya pun yang mengangkat adalah Kei.


"Papa ndak oleh tepon-tepon mama. Pamali..." ucap Kei sesuai dengan pesan dari omanya.


"Hei... Dia calon istri papa lho. Masa papa nggak boleh cuma dengar suaranya saja" ucap Aldo kesal dengan anaknya yang malah meniru Mama Nei.


"Ndak oleh tuh. Ini duda mamana Kei tok. Tamu balu calon caja cudah minta naneh-naneh" ucap Kei yang setelah itu menutup panggilan telfon dari papanya.


Sontak saja itu membuat Aldo menganga tak percaya. Sepertinya ajaran Mama Nei pada cucunya itu sangatlah manjur. Padahal Aldo bukanlah orang yang akan bertingkah aneh atau memancing keributan.


***


Walaupun ini bukan pernikahannya yang pertama, namun ini jauh lebih membuatnya gugup. Apalagi dulu saat menikah dengan Arlin itu masih belum ada cinta diantara keduanya. Walaupun ia langsung jatuh cinta pada Arlin setelah menikah selang dua bulan.


"Do'a, Al. Jangan menggerutu" tegur Mama Nei saat mendengar gumaman Aldo yang seperti mengumpat.


"Telinga mama kayanya perlu dikorek deh. Ini Aldo berdo'a bukan menggerutu" ucap Aldo yang langsung meluruskan apa yang sebenarnya ia ucapkan.


Mama Nei diam saja dan tak menggubris ucapan anaknya itu. Aldo memasuki sebuah gedung yang akan jadi saksi pernikahan keduanya ini. Dekorasi indah dengan banyak bunga kesukaan Lili membuatnya tampak mewah. Bahkan lampu-lampu menyala saat dirinya masuk dalam ruangan itu. Sungguh dekorasi yang mewah nan elegant.


"Kamu menggelontorkan dana berapa buat pesta kaya gini? Ini semuanya bunga segar lho. Ini yang kita injak juga bunga kan yang di bawah kaca ini" bisik Mama Nei pada Aldo yang tersenyum tipis kearah semua tamu yang sudah hadir.


Aldo sudah kesal dengan mamanya ini. Pasalnya ini situasi bukan untuk membahas uang yang habis demi pesta ini. Namun malah Mama Nei membahas ini di depan banyak tamu undangan. Walaupun mereka juga tidak mendengar apa yang diperbincangkan.


"Ma, jangan bahas hal gituan di saat seperti ini napa" ucap Aldo geram dengan pertanyaan sang mama.

__ADS_1


Mama Nei hanya cengengesan saja. Mereka bertiga terus berjalan menuju area untuk ijab kabul. Di dekat sana sudah berdiri kedua orangtua Lili yang akan menyambut kedatangan ketiganya. Setelah Aldo sampai di depan keduanya, Mama Ningrum langsung mengalungkan kalunh rangkaian bunga melati kearah leher Aldo.


Keduanya juga segera menggandeng tangan Aldo menuju kursi akad. Sedangkan kedua orangtua Aldo duduk di kursi khusus keluarga. Mama Nei melihat banyak sekali tamu yang hadir malah membuatnya sedikit pusing.


"Ngapain juga aku pakai undang banyak teman ya kalau tamunya aja sudah sebanyak ini? Bikin pusing" gumam Mama Nei yang sepertinya menyesali keputusannya.


***


"SAH"


Akad nikah telah dilangsungkan dan diucapkan oleh Aldo beberapa detik yang lalu sebelum para saksi menyerukan kata "sah". Aldo menghela nafasnya lega karena akhirnya dapat bersanding dengan Lili yang notabene adalah perempuan yang ia sayangi dan cintai.


"Silahkan Pak Aldo untuk segera berdiri dan menyambut kedatangan mempelai wanita" ucap MC memberi perintah pada Aldo.


Aldo pun segera berdiri untuk menyambut kedatangan istrinya. Pintu gedung terbuka, terlihatlah Lili berjalan dengan di depannya ada Kei dan Nadeline yang melemparkan bunga dari keranjangnya. Bahkan Kei dan Nadeline terkadang membuat ulah yang membuat semua tamu tertawa.


"Ya Allah, anak gue gitu amat sih" gumam Aldo sambil geleng-geleng kepala saat melihat Kei memasangkan bunga yang masih utuh pada telinga Nadeline.


Bahkan Lili juga sempat berhenti melangkah karena adegan itu. Lili membiarkan saja mereka menikmati adegan seru itu. Walaupun langkahnya menuju sang suami harus tertunda akibat dari adegan tersebut. Setelah selesai, barulah Lili kembali berjalan menuju Aldo.


Sesampainya di depan Aldo, Lili segera saja mencium telapak tangan suaminya dengan takzim. Sedangkan Aldo mencium kening istrinya setelah mengucapkan do'a pada ubun-ubun Lili. Setelah merasa selesai, mereka segera saja menandatangani semua dokumen pernikahan.


***


"Kei mau pantu papa" seru Kei yang langsung berjalan kearah panggung pelaminan.


Kei pun segera saja duduk diatas pangkuan papanya membuat Aldo memelototkan mata. Sedangkan Nadeline ikut duduk di atas pangkuan Lili membuat Brama hanya bisa menepuk dahinya pelan. Keduanya bahkan hanya bisa membalas jabat tangan dari tamu dengan posisi duduk.


"Kalian berdua ini ganggu tahu nggak" gerutu Aldo.


"Ndak boleh mecla-meclaan di depan nanak tecil" ucap Kei.

__ADS_1


Semua tamu yang melihat adegan itu hanya bisa menahan tawanya. Bahkan melihat raut wajah kesal yang ditampakkan oleh Aldo. Mereka yakin kalau Aldo tersiksa dengan keadaan ini.


__ADS_2