Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Penyelesaian


__ADS_3

"Gara-gara seorang anak, kamu menikah dengan perempuan lain. Padahal aku ini tak bisa punya anak juga karena kecelakaan waktu itu" seru Ajeng pada Ryan yang datang bersama dengan istri mudanya.


Papa Tito, Aldo, dan Brama membawa Ryan juga istri mudanya menemui Ajeng yang meringkuk di jeruji besi. Ada juga beberapa polisi yang berjaga di sana. Ini untuk mengorek informasi lebih agar menemukan titik terang dari kejadian ini.


"Aku benci dengan seorang anak. Makanya aku memilih buat menyingkirkan anakku sendiri. Kalau bayi yang ada di kandungan istrimu itu lahir, akan ku pastikan untuk aku melakukan hal yang sama" lanjutnya.


Ternyata benar dugaan Lili mengenai Ajeng. Perempuan itu menjadi benci dengan anak kecil karena suaminya yang memilih menikah lagi agar mendapatkan keturunan. Sebagai seorang dokter, tentu Lili juga mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan psikis pasien. Walaupun itu tak menyeluruh dan mendalam seperti psikiater atau psikolog.


"Kamu kan sudah menyetujui kalau memang kita akan merawat anak ini sama-sama. Lagian selama ini kalian terlihat akur. Jadi jangan seperti ini. Kita menikah juga atas persetujuan kamu. Kita nggak diam-diam lho" ucap Ryan yang langsung berbicara dengan nada lembut.


Saat perjalanan menuju kantor polisi, Papa Tito menjelaskan mengenai permasalahan Ajeng akan menjual Nadeline pada preman. Tentu saja hal itu membuat Ryan tak percaya karena selama ini Ajeng bersikap sangat baik. Walaupun tingkahnya kadang manja dan egois.


"Cih... Aku tak sudi dimadu. Kau pikir perempuan mana yang tak tersakiti karena suaminya menikah lagi? Aku bukan perempuan beragama sempurna, jadi aku seperti yang lainnya. Akan sakit hati jika hati suaminya dibagi" ucap Ajeng dengan sinisnya.


Ryan hanya bisa mengusap wajahnya kasar. Ia tak menyangka jika Ajeng akan berbuat senekat itu. Apalagi kini malah mengancam anak dalam kandungan istri mudanya. Ia sangat mencintai Ajeng, namun orangtuanya yang menginginkan seorang keturunan membuat ia nekat menikah lagi.


"Seharusnya kau bilang sejak dulu. Kau menyetujuinya karena memang tahu kalau cinta aku hanya buat kamu" ucap Ryan sambil mendengus kesal.


"Sampai sini saya sudah paham kalau latar belakang ini semua memang karena sakit hati pada suaminya dan tekanan dari orang sekitarnya. Intinya saya sudah memaafkan apa yang dilakukan oleh Ajeng. Saya memang marah anak saya dan dia diperlakukan seperti itu, namun saya memahami apa yang dirasakan Ajeng" putus Brama membuat Aldo dan Papa Tito tak menyangka.


"Tapi perlu kalian ingat kalau saya melakukan ini demi kemanusiaan. Jadilah sosok perempuan yang kuat dan jangan bertindak buruk. Apalagi itu pada anak kandungmu sendiri" lanjutnya yang kemudian menepuk bahu Ajeng pelan.


Ajeng kini malah menundukkan kepalanya karena merasa tertampar dengan apa yang diucapkan oleh Brama. Ia tak menyangka kalau semuanya akan diselesaikan dengan cara damai. Baru juga beberapa hari dia tinggal di jeruji besi, namun ia cukup menyadari kesalahannya.


Brama keluar dari ruangan yang digunakan untuk penyidikan. Diikuti oleh Lili, Aldo, dan Papa Tito yang berusaha menerima keputusan dari Brama. Pasalnya ini semua memang yang berhak menentukan semuanya adalah Brama.


***


"Kamu yakin dengan keputusanmu, nak? Kamu yakin kalau dia akan berubah setelah keluar dari penjara dan dimaafkan olehmu? Kamu juga yakin kalau dia takkan mengincar Nadeline lagi?" tanya Papa Tito beruntun untuk memastikan keputusan dari Brama.

__ADS_1


"Brama yakin, om. Brama dan Nadeline ingin hidup dengan tenang tanpa ada dendam. Apalagi itu adalah ibu kandung dari Nadeline. Tak sepantasnya anakku menyimpan dendam pada ibu kandungnya sendiri" ucap Brama.


"Kalau sampai ia mengulangi perbuatannya lagi, akan Brama pastikan dia akan pergi selama-lamanya" lanjutnya.


Mereka yang mendengar keputusan dari Brama pun hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Lagi pula Ajeng bersikap seperti ini juga karena diperngaruhi oleh keadaan lingkungannya. Tadi polisi memberitahu jika Ajeng meminta untuk dicarikan seorang psikiater agar sikap iri dan buruknya bisa hilang. Brama pun dengan senang hati membantu untuk mencarikannya.


***


"Baby Della yang lucunya kaya boneka. Besok kalau sudah besar mainnya sama Kak Nadeline ya" celoteh Nadeline dengan antusias.


"Mainnya sama Kei dong. Main mobil-mobilan dan tembak-tembakan" ucap Kei yang tak terima dengan ucapan Nadeline itu.


"Baby Della kan cewek. Dia harus main boneka dan masak-masakan" ucap Nadeline kekeh dengan keinginannya.


"Ish... Nanad ngalah dong sama Kei. Masa iya Kei nggak ada temannya main. Lagian main mobil-mobilan itu tak harus anak cowok kok" ucap Kei memberitahu.


Kei hanya bisa menjatuhkan rahangnya. Kei menatap tak percaya kearah Nadeline yang memintanya untuk bermain boneka dan masak-masakan. Sedangkan Mama Nei yang mengawasi ketiganya itu hanya bisa menahan tawa.


Apalagi melihat wajah frustasi Kei yang seperti tak punya teman. Mama Nei langsung membawa Baby Della ke atas pangkuannya karena balita itu sepertinya terganggu dengan perdebatan keduanya.


"Kei, nggak papa lho kalau kamu main masak-masakan dan boneka. Besok biar oma minta papamu buat bikin istana boneka di salah satu ruangan di mansion ini. Kalian nggak perlu keluar rumah untuk bermain" ucap Mama Nei sambil menaikturunkan alisnya untuk menggoda cucu laki-ĺakinya itu.


"Nggak perlu repot-repot, oma. Menuh-menuhin mansion saja. Lebih baik itu ruangan dikasihkan sama Kei saja buat simpan robot-robotan milikku yang sudah penuh di kamar" ucap Kei menatap omanya dengan tatapan permohonan.


"Enggak. Ruangan khusus buat mainan kamu itu sudah luas, Kei. Masa iya minta lagi. Lagian mainan yang sudah nggak pernah dipakai itu mbok ya disumbangkan saja" ucap Mama Nei.


"Disumbangkan pada siapa, oma? Lebih baik yang disumbangkan itu ya mainan yang masih baru" ucap Kei.


"Pada yang membutuhkan dong" jawab Mama Nei dengan santai.

__ADS_1


Kei hanya bisa mendengus kesal dengan jawaban yang diberikan oleh omanya. Ia juga tahu kalau memberi itu pada yang membutuhkan. Namun ia membutuhman referensi lembaga yang pasti.


"Wah... Lagi pada kumpul nih. Lagi ngomongin apa? Kok kelihatannya seru sekali" tanya Lili yang baru saja datang diikuti oleh Aldo, Brama, dan Papa Tito.


"Ini lho, Li. Kei minta ruangan lagi buat taruh mainannya. Padahal sudah ada kamar dan satu ruangan lagi yang dia pakai. Sebanyak apa sih tuh mainannya" ucap Mama Nei sambil geleng-geleng kepala.


"Oh... Mainannya Kei sebenarnya nggak banyak. Cuma pengaturannya itu lho yang memakan tempat" ucap Lili sambil tersenyum.


"Kami bersih-bersih dulu sebelum gabung sama kalian" ucap Aldo.


Aldo, Lili, Brama, dan Papa Tito segera membersihkan dirinya sebelum berkumpul bersama. Apalagi di sana ada Baby Della yang imunnya belum kuat sehingga tak mungkin mereka langsung asal bergabung.


***


"Kei, Nanad ingin balik lagi ke sekolah" ucap Nadeline tiba-tiba pada Kei yang tengah sibuk mengerjakan PR di ruang keluarga.


Selama masa penyembuhan, Nadeline sama sekali tak melanjutkan pendidikannya. Tak lupa kalau Nadeline masih ketakutan jika keluar rumah. Bahkan teman-teman sekolah Nadeline belum diijinkan menjenguk sampai dipastikan jika kondisi gadis cilik itu sembuh dari traumanya.


"Nanad yakin? Nanad nggak takut lagi kalau keluar rumah? Kalau masih takut, mending nggak usah berangkat. Kei aja malas sekali lho kalau harus berangkat sekolah. Apalagi teman-teman Kei pada nyebelin" ucap Kei bercerita.


"Memangnya teman Kei pada ngapain? Mereka nggak jahatin Kei kan?" tanya Nadeline dengan tatapan penasarannya.


"Ini gara-gara Kei lupa kalau mau main sepak bola. Udah janjian, tapi Kei lupa. Mereka malah menggosipkan Kei di belakang. Jadinya Kei sebal, padahal mereka nggak tahu aja kalau Kei sibuk" ucap Kei dengan ekspresi kesalnya.


"Sabar, Kei. Suatu saat nanti Kei pasti akan mendapatkan sahabat yang mau mengerti" ucap Nadeline.


"Kan Kei sudah punya sahabat yang mengerti. Dia adalah Nadeline. Sahabat perempuan terbaiknya Kei. Pokoknya Kei sayang sama Nadeline" ucap Kei yang kemudian memeluk Nadeline.


Nadeline juga memeluk erat Kei. Ia merasa terharu saat Kei menganggapnya seorang sahabat. Apalagi bersahabat dengan Kei juga membuat dia merasakan arti keluarga yang sebenarnya.

__ADS_1


__ADS_2