Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Perkara Pulang


__ADS_3

Lili heran dengan Aldo yang kini malah tak membiarkannya pulang ke rumah sama sekali. Padahal ia tadi sudah dihubungi oleh sopirnya kalau sudah sampai di taman. Akhirnya ia meminta Pak Yono untuk datang ke rumah Aldo dan mengantarkan Ageng ke cafe tempatnya bekerja.


Sebenarnya Lili juga ingin ikut pulang sekalian, namun Aldo tak mengijinkannya. Aldo dan Kei menahan Lili untuk makan bersama di sana. Padahal Lili sangat tak enak hati dengan Pak Yono itu.


"Kalian ini, kasihan kan Pak Yono. Kaya di PHP gitu, padahal tadi seharusnya beliau sudah pulang tapi harus ditunda karena menjemputku" kesal Lili yang masih membahas kepergian Pak Yono.


"Sudah, tak usah dibahas lagi. Toh Pak Yono juga nggak rugi-rugi amat. Tadi ada fee nya yang saya kasih" jawab Aldo dengan santainya.


Aldo tadi memang memberikan beberapa lembar uang sebagai ganti rugi karena Pak Yono tak jadi menjemput Lili. Sebagai gantinya, Pak Yono mendapatkan uang dan mengantarkan Ageng kembali ke cafe tempatnya bekerja.


"Iya, ante. Yuk matan caja bial tenyang," ucap Kei dengan antusias.


Sungguh... Lili hanya bisa mendengus kesal dengan tingkah sepasang ayah dan anak itu. Apalagi Lili yang belum mandi dan ini sudah malam, membuat badannya terasa lengket. Untuk menghemat waktu, Lili segera saja menyanggupi permintaan keduanya.


Mereka makan dengan tenang. Lili masih terus menyuapi Kei yang sangat manja kepadanya. Sedangkan Aldo tersenyum melihat adegan di depannya ini. Aldo ingin sekali suasana di mansionnya ini kembali lengkap seperti ini. Pasti akan sangat membahagiakan.


***


"Pak, antar saya pulang dong" seru Lili yang kini sudah berdiri dengan tas yang ada di tangannya.


"Makanya jadi istri saya biar nggak usah ributin tentang pulang mulu" ucap Aldo dengan senyuman mautnya.


Lili hanya bisa mendengus kesal mendengar apa yang diucapkan oleh Aldo itu. Ia sedang tak ingin diajak bercanda karena tubuhnya sudah lelah. Ia ingin segera tidur di atas kasurnya. Lili pun memilih beranjak pergi dibandingkan menggubris ucapan Aldo.


Aldo yang melihat Lili pergi pun langsung menyusulnya. Tentu saja ia tak tega membiarkan Lili pulang sendirian malam-malam begini. Apalagi yang membuat Lili pulang malam seperti ini adalah Kei. Anaknya itu ingin ditemani tidur oleh Lili.


"Buruan masuk" seru Aldo memberi perintah pada Lili agar memasuki mobilnya.


Tanpa menjawab apapun, Lili segera saja memasuki mobilnya di kursi samping pengemudi. Setelah masuk mobil dan menggunakan sabuk pengamannya, Lili langsung merebahkan kepalanya dengan bersandar pada jendela.

__ADS_1


"Kamu lelah sekali?" tanya Aldo dengan sedikit melirik kearah Lili.


"Sangat. Jadi jangan ganggu tidurku" ucap Lili dengan pelan.


Lili pun langsung saja tertidur dengan bersandar pada jendela mobil. Beberapa kali ia menggeliat saat tak sengaja mobil Aldo melewati sebuah lubang di jalan raya. Aldo yang tak tega dengan Lili pun langsung mengarahkan kepala gadis itu pada pundaknya.


"Sudah lama nih nggak romantis-romantisan sama cewek" gumam Aldo sambil terkekeh pelan.


Bahkan Aldo hanya mengemudikan mobilnya dengan satu tangan memegang kemudi. Sedangkan sebelah tangannya lagi mengusap rambut panjang Lili. Aldo seperti menertawakan dirinya sendiri yang sudah kaya anak baru gede yang merasakan jatuh cinta.


Tak berapa lama, mobil yang dikendarai oleh Aldo memasuki halaman rumah Lili. Aldo segera saja memperbaiki posisi tiduran Lili kemudian keluar dari mobil. Setelahnya Aldo segera menggendong Lili ala bridalstyle memasuki rumah.


"Kau apakan anakku?" pekik Papa Dedi tertahan saat melihat anaknya digendong oleh Aldo memasuki rumah.


Aldo memberi kode pada Papa Dedi agar diam saja karena Lili yang memang tengah tertidur. Papa Dedi yang mengerti pun langsung mengarahkan Aldo menuju kamar anaknya. Sebenarnya Papa Dedi ingin sekali menghajar Aldo karena tak terima anaknya digendong laki-laki itu.


***


"Maafkan saya, calon papa mertua. Saya menahan Lili di mansion itu karena masih merindukan dia. Oh ya... Tak lupa kalau anak kami masih membutuhkan kasih sayang seorang ibu" ucap Aldo dengan gaya percaya dirinya.


Papa Dedi yang mendengar ucapan dari Aldo hanya bisa menganga tak percaya. Padahal pria paruh baya itu mengenal Aldo sebagai pribadi dingin dan pedas dalam tutur katanya. Namun ternyata bisa sepercaya diri ini dalam berucap di hadapannya.


Apalagi Aldo yang sudah mengklaim dirinya sebagai calon mertuanya. Bahkan dirinya saja belum merestui hubungan dari Aldo dan Lili. Namun malah seenaknya berbicara seperti itu.


"Hei... Percaya diri sekali anda itu. Mana bisa aku ini kau akui sebagai calon mertuamu? Kau pikir saya merestui hubungan kalian?" seru Papa Dedi dengan senyuman sinisnya.


"Tolonglah calon bapak mertua. Masa iya saya yang tampannya melebihi seorang artis ini tak direstui kalau pacaran dengan anak anda. Saya jamin kalau dia akan bahagia dunia akhirat," ucap Aldo dengan yakin.


"Perbaiki dulu ucapanmu itu kalau sama orangtua. Barulah nanti melamar anak gadis saya. Saya tak butuh harta atau tampangmu itu, yang kami butuhkan adalah anak kami bahagia lahir dan batin" ucap Papa Dedi dengan tegasnya.

__ADS_1


Aldo yang mendengar ucapan dari Papa Dedi hanya bisa menelan ludahnya kasar. Ia tak menyangka kalau papa dari Lili ini begitu tegas dan berprinsip. Ia jadi sedikit ragu untuk memperjuangkan cintanya pada Lili.


"Sanggup tidak? Kalau tidak, mending sekarang anda keluar dari rumah saya" lanjutnya yang kemudian malah mengusir Aldo.


Aldo hanya bisa menghela nafasnya berulangkali. Ia tak menyangka kalau Papa Dedi wajahnya begitu serius seperti ini. Aldo kemudian menatap wajah Papa Dedi dengan penuh keyakinan.


"Saya sanggup. Tapi tolong ijinkan saya untuk berdekatan dengan Lili. Saya tak sanggup jauh dari dia dan Kei pun sudah terlanjur menyayanginya" ucap Aldo dengan penuh keyakinan.


Papa Dedi menatap lama mata dan wajah Aldo yang begitu tegang menghadapinya. Papa Dedi melihat ada sedikit keraguan pada matanya namun lebih banyak keyakinan. Akhirnya Papa Dedi menganggukkan kepalanya untuk memberikan kesempatan pada Aldo agar dekat dengan Lili.


"Jadi saya nggak perlu bawa martabak untuk meluluhkan hati anda kan, papa?" tanya Aldo dengan sedikit menggoda Papa Dedi.


"Dih... Dikira orang pacaran jaman dulu yang bawain orangtuanya martabak. Bawanya saham perusahaan atau rumah sakit dong" ucap Papa Dedi dengan sedikit meledek Aldo.


Aldo menepuk dahinya pelan. Sepertinya ia salah bercanda dengan Papa Dedi. Ternyata calon mertuanya itu menginginkan sesuatu yang membuatnya menelan ludahnya kasar. Memang calon mertua yang bukan kaleng-kaleng.


***


"Lho... Kok Lili sudah berada di dalam kamar? Perasaan Lili semalam masih ada di dalam mobil. Apa mungkin Pak Aldo yang gendong karena aku ketiduran? Tapi pasti dimarahi sama papa kalau sampai lihat aku digendong sama Pak Aldo" gumam Lili yang kebingungan karena dirinya saat bangun tidur sudah berada di kamarnya.


Daripada bingung, Lili pun segera saja membersihkan dirinya. Semalam pakaiannya sudah berganti, pasti ini adalah ulah mamanya. Namun hanya pakaian saja yang berganti sedangkan ia belum mandi sama sekali.


Setelah selesai membersihkan diri dan berganti baju, Lili segera keluar dari kamarnya. Hari ini ia harus ke kampusnya untuk mengetahui kabar dari kertas-kertas skripsinya kemarin. Ia langsung menuju ke ruang makan yang di sana sudah ada kedua orangtuanya.


"Pagi ma, pa..." sapa Lili pada kedua orangtuanya itu.


"Pagi juga, nak" jawab keduanya secara bersamaan.


"Oh ya... Semalam yang gendong Lili masuk kamar siapa?" tanya Lili setelah duduk di meja makan.

__ADS_1


"Si duda" jawab Mama Ningrum.


"APA?" seru Lili yang terkejut dengan ucapan mamanya.


__ADS_2