Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Beres


__ADS_3

"Bagaimana, pak?" tanya Arlin.


Setelah dari kampus tadi, Papa Tito melajukan mobilnya menuju ke area komplek perumahan untuk mengetahui apakah semua orang yang diusir dari sana sudah pergi atau belum. Setelah beberapa menit dalam perjalanan, segera saja mobil yang dikendarai Papa Tito itu berhenti didekat pos satpam. Arlin langsung membuka kaca jendela mobilnya kemudian bertanya kepada satpam yang ia minta untuk mengawasi tadi.


"Sudah, mbak. Saya sudah memeriksa ke semua rumah, kosong" ucap satpam itu sambil tersenyum tipis.


Arlin menganggukkan kepalanya kemudian memberikan selembar uang untuk satpam itu. Satpam itu pun menerimanya dengan senang hati karena dulunya Arlin memang sering memberikannya. Kalau ditolak, Arlin akan marah makanya satpam itu langsung menerimanya.


Mobil melaju kembali masuk kedalam area perumahan. Arlin ingin memeriksa sendiri semua yang dikatakan oleh satpam yang berjaga. Ia tak mau terlalu percaya pada orang hingga nantinya malah akan kecewa. Lagi pula hanya untuk memeriksa mereka sudah pergi atau belum itu adalah hal yang mudah.


"Pa, coba turunin Arlin disini saja. Yang utama perlu kita geledah itu rumah yang ditempati oleh Pak Cipto. Siapa tahu karena buru-buru jadi ada barang yang tertinggal sehingga bisa buat bukti" ucap Arlin membuat Papa Tito segera menepikan mobilnya.


Papa Tito membantu menantunya keluar dari mobil kemudian Mama Nei mendorong kursi rodanya itu. Kei dan Papa Tito pun malah ikut berjalan dalam area perumahan tanpa menggunakan mobil. Kei berlarian kesana kemari seakan kegiatan ini merupakan acara liburan.


Mereka segera menuju ke rumah Pak Cipto yang pintunya sedikit terbuka namun kunci masih berada di luar. Bahkan ada bekas tadi pukulan yang dilayangkan oleh Papa Tito di depan rumah. Arlin hanya tersenyum sinis mengingat orang-orang yang sukanya playinh victim itu.


"Wah... Padahal rumah di perumahan kaya gini itu udah mewah menurut papa. Karyawan perusahaanku aja nggak ada lho yang dapat fasilitas kaya gini" ucap Papa Tito sambil geleng-geleng kepala setelah masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Mereka pada keenakan dikasih fasilitas mewah dan lengkap kaya gini makanya pada nggak tahu diri" ucap Mama Nei dengan sinis.


Arlin hanya menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan dari mertuanya itu. Terkadang terlalu nyaman dan aman dengan posisi yang didapat malah membuat mereka tak tahu diri. Padahal perusahaan memberikan fasilitas itu agar mereka bekerjanya semakin semangat dan setia pada tempat kerjanya. Namun malah memilih ingin mendapatkan hal lebih dan bukan haknya.


"Udah ayo, kita cari ke kamar" ajak Arlin.


Mereka pun langsung menuju kamar yang kini sudah terlihat berantakan. Hanya ada kasur dan lemari yang memang masih merupakan barang dari perusahaan yang tersisa disana. Arlin langsung menggerakkan kursi rodanya kearah lemari kayu yang ada disana. Ia membukanya kemudian memeriksa apakah ada sesuatu yang mereka dapatkan atau tidak.


Saat Arlin tak menemukan sesuatu dan ingin menutup lemari itu, tiba-tiba saja pandangannya melihat sesuatu yang janggal. Ada bagian belakang lemari yang menempel pada dinding seperti ada pintunya. Hal ini terlihat ada sekat kecil diantara dinding lemari dengan temboknya.


Saking penasarannya, Arlin segera saja mencoba membuka kayu itu dan benar disana ada ada tembok yang sengaja dibuat lubang. Ada beberapa kertas disana membuat Arlin langsung mengambilnya dengan segera. Mata Arlin melotot saat melihat beberapa perjanjian kerjasama di perusahaannya berada disini. Padahal yang ia tahu, kerjasama ini katanya dibatalkan sepihak oleh client.


Ia tak menyangka kalau sebagian kerjasama yang diajukan oleh client ternyata dimanipulasi oleh Pak Cipto. Bahkan disini sudah terlihat jelas tandatangan Pak Cipto dan Papa Madin dalam surat perjanjian ini. Semua uang dan modal berasal dari perusahaannya namun tak mendapatkan apa-apa karena semua hasilnya dinikmati oleh dua orang ini.


Bahkan Papa Tito dan Mama Nei saja hanya bisa geleng-geleng kepala melihat bukti yang mereka dapatkan ini. Ini sudah jelas kalau mereka melakukan penggelapan dan manipulasi data kerjasama perusahaan.


"Kita cari yang lainnya. Mungkin masih ada yang tersisa disini" ucap Papa Tito yang langsung menggeledah seluruh ruangan.

__ADS_1


Kei sendiri mengikuti kemanapun mamanya pergi agar tak terjadi sesuatu dengan wanita itu. Setiap kali melihat wajah mamanya suram, Kei selalu berusaha menghiburnya dengan mengusap lembut lengan Arlin. Hal ini tentunya membuat Arlin tersenyum dan menampakkan wajah kesalnya lagi.


"Mama nang ja, da papa dan atek wuwat aga cemuana" ucap Kei yang melihat raut sedih pada wajah mamanya itu.


"Iya, mama akan selalu kuat karena ada keluarga yang menyayangi mama. Terutama anak mama yang tampan ini" ucap Arlin yang langsung mengusap rambut anaknya.


Mereka pun sibuk masing-masing untuk mencari semua yang perlu dicurigai. Tak hanya kamar, namun ruangan sebelah-sebelahnya pun tak luput dari pemeriksaan. Setelah semuanya dirasa sudah diperiksa, segera saja mereka keluar dari rumah itu kemudian menguncinya.


Mereka juga kembali memeriksa rumah-rumah lainnya satu persatu. Memang benar, semua rumah telah kosong. Bahkan mobil fasilitas perusahaan pun ditinggalkan begitu saja. Arlin begitu lega karena satu masalahnya telah beres. Arlin menatap kedua mertunya itu dengan mata berkaca-kaca.


"Mama, papa... Terimakasih sudah menemani dan membantu Arlin. Bahkan rela ikut terjun langsung memeriksa seperti ini. Padahal mama dan papa bisa saja lho saat ini liburan ke luar negeri tanpa memikirkan masalah Arlin. Tapi kalian malah menemani Arlin disini, panas-panasan lagi" ucap Arlin sambil tersenyum dengan tulus.


Kedua orangtua Aldo itu langsung saja berjongkok didepan kursi roda Arlin. Keduanya mengelus lembut lengan Arlin agar menantunya itu sedikit lebih tenang. Kei pun yang berada ditengah-tengah kakek dan neneknya juga melakukan hal yang sama.


"Menyelesaikan masalah ini mah malah kaya kita lagi liburan dan main detektif-detektifan tahu. Apalagi kita harus menyelesaikan teka-teki dalam misi ini. Sungguh menyenangkan daripada liburan ke luar negeri" ucap Mama Nei dengan antusiasnya.


"Benar, kamu tak perlu merasa bersalah pada kami. Pokoknya kita bakalan selalu ada untuk kamu, kapanpun butuh. Tinggal kamunya ada yang harus kuat mental karena masalah lain pasti akan segera datang seiring kita menemukan bukti-bukti ini" ucap Papa Tito.

__ADS_1


Arlin menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Kedua mertuanya langsung memeluk dirinya dengan erat seakan mereka harus saling menguatkan dan bergenggaman tangan menghadapi semua masalah yang ada.


"Atek, nek... Kei jepit" seru Kei dengan sedikit memberontak membuat mereka semua yang ada disana tertawa.


__ADS_2