Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Kekuatan Arlin


__ADS_3

"Tidak. Kalau pun saat ini aku sehat dan bisa berjalan, pastinya akan sangat ingin aku melakukan hal seperti yang kamu lakukan tadi. Sayangnya... Kakiku belum kuat untuk itu" kesal Arlin.


Sebenarnya Arlin kesal pada dirinya sendiri yang tak bisa melakukan apapun karena hanya duduk diatas kursi rodanya. Seharusnya dia yang melakukan ini pada keluarga parasitnya itu bukan malah hanya mengandalkan Aldo yang notabene adalah seorang menantu. Yang ada kalau ada tetangga tahu, pasti mereka berpikir kalau Aldo adalah seorang menantu durhaka. Beruntungnya mereka tinggal di area perumahan yang memang jarang ada orang berada di rumah jam-jam segini.


"Kamu bahkan terlihat lebih jahat dariku" ucap Aldo sambil terkekeh.


Apalagi melihat wajah Arlin yang terlihat menyeringai jahat seolah nanti akan ada suatu rencana besar yang segera dijalankannya. Sedari dulu Aldo memang mengetahui sifat licik dari istrinya itu jika sudah tak menyukai sesuatu. Bahkan ia rela menyingkirkan sahabat wanitanya yang menceritakan tentang dirinya yang menyukai suaminya sendiri.


"Apa kamu menyesal menikah dengan wanita jahat sepertiku?" tanya Arlin dengan tatapan tajamnya.


"Oh tentu tidak. Justru aku senang mempunyai seorang istri yang tangguh dan tak mudah untuk diinjak harga dirinya oleh oranglain" ucap Aldo dengan menaikturunkan alisnya berulangkali berusaha menggoda istrinya itu.


"Dih...".


Alin melengoskan kepalanya walaupun sebenarnya kini kedua pipinya sudah memerah malu arena godaan dari suaminya itu. Ia cukup bahagia mendapatkan pujian dari suaminya. Selama ini dirinya bahkan tak pernah yang namanya dipuji oleh seseorang terutama orangtuanya sendiri. Aldo hanya bisa terkekeh melihat tingkah dari istrinya itu.


Aldo segera saja membawa masuk istrinya dengan mendorong kursi rodanya. Ia sungguh bahagia karena hari-harinya dilingkupi kebahagiaan karena bisa dekat dengan istrinya itu. Dulunya yang bagaikan sebuah mimpi di siang bolong agar bisa sedekat ini namun pada faktanya kini menjadi kenyataan.


"Aldo, Kei... Kalian lah kekuatan Arlin sesungguhnya untuk menjalani hidup ini" gumam Arlin sangat pelan.


***

__ADS_1


"Mama... Napa Kei inggal alam tamal cendilian" ucap Kei yang protes saat Alin juga Aldo masuk dalam kamar.


Tadi Kei terbangun dari tidur pulasnya kemudian baru menyadari jika ia berada di kamar orangtuanya itu sendirian. Tentunya ia malas untuk turun dari ranjang yang lumayan tinggi dengan pintu yang tertutup rapat itu. Pasti nantinya akan menggunakan seluruh tenaganya untuk melompat-lompat agar bisa menggapai handle pintu.


Saat dirinya menggerutu kesal, tiba-tiba saja handle pintu berbunyi membuat Kei langsung mengalihkan pandangannya. Ternyata kedua orangtuanya masuk dalam kamar itu membuatnya langsung mengajukan protes.


"Maaf sayang, tadi kami baru mengusir ulat bulu. Kan nggak mungkin Kei disana, nanti bisa gatal-gatal lho" ucap Arlin sambil terkekeh geli.


"Mana lulat uluna? Ada blapa? Tlus tok mama papa ndak atal-atal" tanya Kei dengan tatapan penasarannya.


Arlin dan Aldo seketika tertawa melihat raut polod penuh penasaran dari Kei itu. Tentunya Aldo segera membawa Arlin berada didekat anaknya itu kemudian duduk disebelahnya.


"Ulat bulunya ada 2, besar-besar. Sukanya marah-marah, tadi sudah diusir sama papa. Hebat kan papa?" ucap Arlin dengan memuji suaminya itu.


"Papa mah temen... Balu wuwa lulat ulu, toba talo celibu. Pati papa uga lali telbilit-bilit" ledek Kei yang tak terima pujian dilayangkan kepada papanya itu.


Sontak saja Arlin tertawa mendengar ledekan yang dilontarkan oleh anaknya. Sedari dulu memang Aldo itu takut atau geli dengan ulat bulu sehingga kalau melawat hewan satu itu tentunya akan lari. Namun ini yang dimaksud bukan lah ulat bulu hewan namun kedua parasit keluarganya.


Sedangkan Aldo sendiri sudah kesal dengan anaknya yang tak mau mengalah dengan memberikan pujian kepadanya. Walaupun aslinya memang dia juga takkan mau melawan jika itu ulat bulu beneran. Kini Aldo langsung mendekati anaknya kemudian menciumi pipi Kei bertubi-tubi.


"Ish... Papa..." teriak Kei sambil memberontak dalam pelukan papanya.

__ADS_1


"Sini papa cium banyak-banyak. Habisnya nggak terima banget sih kalau papa dapat pujian dari mama" ucap Aldo dengan masih menciumi pipi Kei hingga basah.


Cup... Cup... Cup...


Sedangkan Arlin hanya bisa tertawa melihat kepasrahan Kei saat ini. Matanya menatap kearahnya seakan meminta pertolongan namun dengan jahilnya Arlin mengabaikan tatapan itu. Ia paling suka melihat wajah anaknya yang sedang kesal dan marah itu.


"Mama ndak duli cama Kei" seru Kei sambil mencebikkan bibirnya kesal.


Tentunya mendengar hal itu, Arlin langsung saja meminta Aldo melepaskan pelukannya dari sang anak. Melihat Aldo sudah melepaskan Kei, segera saja Arlin memeluk dari samping anaknya itu. Ia sedih mendengar Kei ternyata malah menuduhnya tak menyayanginya itu.


"Kei jangan ngomong gitu dong. Kei dan papa itu adalah kekuatan mama dalam bertahan hidup lho. Mama bahkan bangun dari koma juga berkat do'a kalian jadi nggak mungkin kalau mama tidak sayang sama Kei" ucap Arlin dengan lembut.


Bahkan kini Arlin langsung mengelus rambut Kei dengan lembut sedangkan Aldo sendiri membersihkan wajah anaknya yang basah menggunakan tisue. Kei hanya terdiam melihat perlakuan lembut dari kedua orangtuanya itu.


Beberapa hari ini ia begitu terlena dengan perlakuan keduanya membuatnya sering merasa sedih dan galau kalau orangtuanya tak memperlakukannya dengan lembut. Bahkan jika keduanya saling perhatian, kadang ia iri hingga ingin diperhatikan juga.


"Abisna mama ndak mawu olongin Kei. Kei tayak ndak anggap" kesal Kei dengan menggerutu pelan.


Tentunya Arlin dan Aldo hanya bisa terkekeh pelan mendengar protesan anaknya itu. Mereka berdua malah senang karena anaknya ini sudah mau protes dan mengungkapkan apa yang tidak disukainya. Sebelumnya Kei sangat tertutup membuatnya harus berpikiran untuk menggunakan berbagai cara agar anaknya lebih terbuka.


"Nah gini dong... Kalau ada apa-apa itu protes sama mama dan papa. Jangan dipendam sendirian nanti bisa-bisa pusing" ucap Arlin mencoba memberi pengertian pada anaknya.

__ADS_1


Kei hanya menganggukkan kepalanya. Ia masih butuh waktu untuk terbuka dengan orangtuanya itu. Dulunya dia yang tak pernah terbuka atau lebih tepatnya tak ada yang mau mendengarkan keluh kesahnya itu membuatnya tak bisa dengan cepat terbuka dengan orangtuanya.


Kei memeluk mamanya dari samping begitu pula dengan Aldo yang langsung bergabung dengan keduanya. Aldo dan Kei hanya bisa berharap kalau selamanya keluarga kecil mereka akan seperti ini. Sedangkan Arlin sendiri berharap kalau setelah kepergiannya nanti, keduanya bisa melanjutkan hidup dengan lebih baik.


__ADS_2