Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Kesal


__ADS_3

Lili pulang dengan keadaan lesu. Tadi ia sudah berkonsultasi dengan kepala prodinya tentang keinginannya mengenai penggantian dosen pembimbing skripsinya. Namun apa yang diinginkannya ternyata tak dapat dikabulkan. Kalau sampai mengulang semuanya dari awal, tentunya akan sangat susah terlebih mereka harus menyesuaikan dengan dosen lainnya.


Hampir semua dosen sudah penuh dengan pembagian mahasiswanya masing-masing. Yang masih tersisa hanyalah Aldo sehingga mau tak mau Lili harus menyelesaikan skripsi itu di bawah bimbingan duda beranak satu itu. Kalau memang mau mengganti dosen pembimbing skripsi, mereka harus menunggu semester depan.


"Kamu kenapa kok lesu gitu, nak?" tanya Mama Ningrum kepada anaknya itu.


Apalagi Lili memasuki rumah dengan menyeret tas selempangnya. Bukannya merasa sedih atas nasib dari anaknya namun melihat Lili seperti anak kecil itu malah membuatnya terkekeh pelan. Terlebih wajah anaknya yang lesu dengan bahu yang meluruh itu. Lili segera saja duduk di ruang tamu bersama dengan mamanya.


"Skripsi Lili ribet kalau sudah berhadapan sama si duda itu" kesal Lili mengadukan yang menjadi keluh kesahnya.


"Siapa duda?" tanya Mama Ningrum penasaran.


Tentunya Mama Ningrum tidak tahu mengenai duda yang dimaksud oleh Lili. Lili belum pernah menceritakan apapun mengenai kampus dan semua yang berkaitan dengan kuliahnya. Yang ia pahami, Lili menggunakan beasiswa untuk sekolahnya.


Mama Ningrum merasa sangat bersalah karena anaknya harus mencari beasiswa demi melanjutkan kuliahnya. Padahal kedua orangtuanya mampu untuk menguliahkan namun malah anaknya harus berjuang sendiri. Bahkan Lili harus berjuang keras dalam mempertahankan nilainya agar beasiswanya tak dicabut.


"Itu dosen pembimbing skripsi Lili. Duda ngeselin, habis itu suka mempersulit skripsi" kesal Lili sambil mengerucutkan bibirnya.


"Jangan terlalu kesal atau membenci sesuatu. Nanti bisa jadi kalau kamu malah menyukainya dengan teramat sangat" ucap Mama Ningrum memperingatkan setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Lili.


Lili mendelik kesal mendengar ucapan dari mamanya itu. Pasalnya ia tak mau berurusan dengan Aldo itu namun malah seakan mamanya mendukung pihak sana atau menggodanya. Lili memilih untuk berdiri kemudian berjalan pergi berlalu dari hadapan mamanya dengan raut muka yang masih kesal.


Mama Ningrum hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia merasa kalau ucapannya itu biasa saja namun malah membuat Lili sedikit tersinggung. Lili yang masuk dalam kamarnya segera saja merebahkan badannya di atas ranjangnya. Tentu ia langsung memejamkan matanya dan memilih untuk tidur.

__ADS_1


***


"Kamu mau kemana, Li? Kok udah rapi gitu" tanya Mama Ningrum yang melihat anaknya keluar dari kamarnya.


Lili yang sudah menggunakan celana jeans, kaos, jaket, dan tas selempangnya dengan sepatu ketsnya itu pun keluar santai dari kamar. Tentunya Mama Ningrum yang melihat anaknya telah rapi dan wangi saat jam segini pun langsung saja menanyakannya. Tak biasanya Lili sehabis ashar begini sudah rapi karena gadis itu akan membersihkan dirinya saat hari menjelang malam. Hal itulah yang membuat ia harus menyuruh Lili untuk segera mandi.


"Lili mau ke mall, ma. Mau cari buku buat referensi skripsi Lili yang baru" ucap Lili.


Lili sudah memikirkan matang-matang mengenai ucapan Aldo yang memintanya untuk memulai skripsi dari awal. Walaupun agak sedikit susah, namun Lili yakin kalau ini akan membuatnya jauh lebih kuat mental. Daripada terus-terusan disuruh mengerjakan yang kemarin namun sama sekali tak membuatnya paham.


"Baiklah. Mau mama temani? Biar sekalian mama belanja kebutuhan bulanan" ucap Mama Ningrum menawarkan.


"Mama di rumah saja menunggu papa pulang. Untuk belanja bulanannya biar kasihkan Lili saja daftarnya, nanti biar aku yang beli" ucap Lili.


"Hati-hati. Kalau ada apa-apa segera hubungi mama" pesan Mama Ningrum dan diangguki kepala oleh Lili.


Lili pun keluar rumah berlalu setelah berpamitan dengan mamanya. Lili kali ini diantar oleh taksi online untuk mengantarnya ke mall. Ia tak mau diantar oleh sopir keluarganya yang bisa saja jadi penguntit atau pengadu kepada orangtuanya.


***


Lili mengitari toko buku dengan mencari beberapa macam hal yang menarik baginya. Setelah selesai dengan beberapa plastik buku yang ada di tangannya, Lili segera saja pergi le sebuah restorant cepat saji. Ia ingin ke sana karena merasa rindu dengan moment kebersamaannya bersama Kei dan Aldo.


Ternyata saat sampai di depan restorant cepat saji itu, suasana di dalam sangat ramai. Terlebih ini sudah hampir memasuki jam makan malam. Namun karena keinginannya yang begitu kuat, akhirnya Lili tetap ikut mengantri dengan yang lainnya.

__ADS_1


"Papa, mau matan itu caja" seru seorang bocah kecil dari luar restorant.


"Tidak" seru seorang laki-laki dewasa.


Mereka semua yang ada di sana langsung saja mengalihkan pandangannya. Pasalnya suara seruan anak kecil uang merengek itu benar-benar mengundang perhatian orang-orang di sana. Lili yang ikut mengalihkan pandangannya pun matanya membulat.


Lili melihat dua orang yang dikenalnya tengah tarik-tarikan tangan. Pantas saja saat dia mendengar rengekan itu, ia merasa mengenali suaranya. Lili pun memilih keluar dari barisan antrian kemudian mendekat kearah keduanya.


"Kei..." panggil Lili sambil berjalan mendekat kearah bocah laki-laki itu.


Ternyata dua orang yang sedang tarik-tarikan itu adalah Kei dan Aldo. Kei yang menginginkan makan di restorant cepat saji sedangkan Aldo tak ingin menurutinya. Bagi Aldo, anak kecil seperti Kei tak boleh terlalu sering makan-makanan seperti itu. Namun Kei terus merengek dan bersikukuh agar bisa makan di sana.


Mendengar ada suara yang memanggilnya, Kei segera mengalihkan pandangannya. Mata Kei berbinar cerah saat melihat siapa yang memanggilnya itu. Kei bahkan langsung saja berlari kearah Lili dengan tangan yang memang tadi sudah dilepaskan oleh Aldo.


"Ante..." seru Kei begitu ceria.


Bahkan kini Kei sudah berada di dalam pelukan Lili. Mereka tak menyangka kalau hari ini akan bertemu lagi di sebuah mall. Sedangkan Aldo sudah mendengus kesal karena melihat aksi keduanya itu. Sungguh hal itu membuatnya muak, terlebih nanti Kei pasti hanya ingin menuruti apa yang diinginkan oleh Lili.


"Kei ngapain di sini?" tanya Lili sambil tersenyum setelah melepaskan pelukannya.


"Mau matan, tapi ndak oleh cama papa. Ayo ante, tita macuk ke alam telus matan" ajak Kei dengam santainya.


Lili menganggukkan kepalanya mengerti kemudian menggandeng tangan bocah kecil itu. Mereka segera saja masuk ke dalam restorant, meninggalkan Aldo yang menatap tak percaya kearah keduanya. Sungguh dirinya merasa tak dianggap sama sekali oleh Kei dan Lili.

__ADS_1


__ADS_2