Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Aktifitas


__ADS_3

"Darimana, nak? Kok baru pulang. Mana tuh mata kaya kamu habis nangis. Ada apa?" tanya Mama Ningrum dengan sedikit khawatir.


Pasalnya saat anaknya masuk dalam rumah itu terlihat sekali kalau Lili itu sehabis menangis. Matanya memerah dan terlihat sembab. Walaupun sebenarnya Lili sudah mencuci muka dengan air namun masih terlihat juga. Apalagi naluri Mama Ningrum yang kini kuat terhadap anaknya.


"Lili bersih-bersih dulu ya, ma. Soalnya habis dari makam, baru cuci tangan dan kaki saja. Nanti Lili pasti cerita" ucap Lili sambil tersenyum tipis.


Mama Ningrum pun menganggukkan kepalanya mengerti. Lili segera masuk dalam kamarnya untuk membersihkan diri. Sedangkan Mama Ningrum harus sabar menanti Lili yang tengah membersihkan diri. Mama Ningrum pun langsung menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.


***


Lili dan orangtuanya sudah berada di ruang keluarga setelah makan malam. Lili yang kini tengah dalam mode manja pun langsung merebahkan kepalanya di paha sang mama. Mama Ningrum mengusap lembut rambut anaknya itu.


"Jadi tadi kenapa mata Lili sembab? Lili habis menangis karena apa?" tanya Mama Ningrum yang sudah sangat penasaran.


"Lho... Kamu kenapa, nak? Ada yang jahatin kamu? Atau gimana?" tanya Papa Dedi dengan nada paniknya.


Pasalnya Mama Ningrum tak menceritakan tentang hal ini kepada Papa Dedi. Tentu saja mendengar apa yang diucapkan oleh Mama Ningrum itu membuatnya terkejut. Tak lupa kalau Papa Dedi begitu khawatir dengan keadaan Lili itu.


"Tenang dulu, pa. Biar Lili yang menjelaskan" ucap Mama Ningrum yang langsung memberi pesan kepada suaminya itu.


Papa Dedi pun menganggukkan kepalanya. Walaupun perasaannya kini sedang kalang kabut karena kepanikannya sendiri, namun ia berusaha untuk tenang. Papa Dedi pun langsung memilih untuk memfokuskan pandangannya pada Lili.


"Lili menagis karena rindu sama anak kecil yang dulunya ada di rumah sakit tempat Lili mengadakan penelitian. Waktu Lili hari ini datang ke sana, ternyata dia sudah meninggal. Makanya tadi sepulang dari rumah sakit, Lili langsung pergi ke makamnya. Lili rindu dengan dia" ucap Lili sambil tersenyum sendu.


Kedua orangtua Lili sedikit menghela nafasnya lega karena tahu kalau anaknya baik-baik saja. Ini tentang perasaan kehilangan seseorang yang disayangi oleh Lili. Mama Ningrum langsung mengelus lembut lengan atas Lili untuk memberinya kekuatan.

__ADS_1


"Kamu tak boleh berlarut-larut sedih akan kehilangan dia. Dia pasti sudah bahagia di atas sana. Buat dia bangga padamu saat melihatnya dari atas sana" ucap Mama Ningrum.


"Iya, ma. Sedikit sedih saja ini soalnya dia meninggal waktu Lili sedang koma waktu itu" ucap Lili sambil tersenyum.


Mama Ningrum dan Papa Dedi memaklumi kesedihan anaknya itu. Tentu saja itu wajar karena kehilangan sosok yang dulunya dekat. Namun tak boleh sampai terlalu berlarut-larut agar yang meninggal tak terlalu terbebani.


"Oh ya... Itu anak kecil yang anaknya dosenmu itu kok nggak ke rumah lagi?" tanya Mama Ningrum mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Kei maksud mama?" tanya Lili dengan tatapan penasarannya.


Mama Ningrum menganggukkan kepalanya antusias. Pasalnya ia sudah rindu dengan Kei yang membuatnya sibuk dan tak kesepian di rumah itu. Sedangkan Papa Dedi yang tak tahu nama anak dari dosen Lili itu hanya bisa geleng-geleng kepala.


Walaupun memang benar adanya kalau kedatangan Kei ke rumah kemarin sudah membuat suasana di sini menjadi ramai. Walaupun ia hanya melihat sekilas saja dan segera pergi kembali ke kantor agar tak mengganggu moment mereka. Namun begitu terlihat kalau istri dan anaknya sangat bahagia dengan kehadiran Kei.


"Kan Lili nggak seharian ada di rumah. Lili juga beberapa hari ke depan bakalan sibuk di rumah sakit. Jarang ke kampus dan di rumah, jadi kasihan nanti Kei kalau ke sini nggak ada yang temani main" ucap Lili memberi alasan.


Lili pun langsung bangkit dari posisi rebahannya kemudian duduk bersandar kursi sofa. Lili menatap mamanya yang kini menatapnya dengan tatapan memohon. Lili melihat mamanya yang sangat berharap kalau Kei akan datang ke rumah.


"Mama mau ada anak kecil seperti Kei di rumah ini?" tanya Lili dengan seringai jahilnya.


Dengan polosnya sang mama menganggukkan kepalanya. Sedangkan Papa Dedi sudah tahu dan paham dengan raut wajah anaknya yang akan menjahili sang istri. Namun Papa Dedi membiarkannya saja, yang terpenting rumah ini tak sepi seperti dulu.


"Buat adik buat Lili sama papa sana, ma" seru Lili yang kemudian bangkit dari posisi duduknya.


Bahkan Lili langsung berlari keluar dari ruang keluarga kemudian menuju kamarnya. Meninggalkan kedua orangtuanya yang melongo tak percaya. Mama Ningrum kesal karena anaknya ternyata malah menjahilinya, padahal ia sudah sangat serius mendengarkannya.

__ADS_1


"Harusnya mama dan papa yang menantikan cucu dari kamu, Li" seru Mama Ningrum yang kesal.


"Gimana sih Lili itu? Mana bisa mama kasih adik buat dia. Orang mamanya aja udah tua gini" gumamnya kesal.


Mama Ningrum terus menggerutu tanpa mempedulikan suaminya yang geleng-geleng kepala. Tiba-tiba saja Papa Dedi terlihat mendapatkan suatu ide cemerlang. Papa Dedi langsung berdiri kemudian duduk di samping istrinya itu.


"Kayanya ide Lili tuh bagus banget deh. Mending kita program baby lagi. Biar mama nggak kesepian di rumah kalau papa dan Lili lagi tidak bisa menemani" ucap Papa Dedi sambil menaikturunkan alisnya.


Mama Ningrum yang melihat suaminya seperti itu pun seperti geli sendiri. Mama Ningrum segera berlari untuk menghindari suaminya itu. Bisa remuk badannya nanti kalau sampai malam ini tak tidur.


"Lili... Ini gara-gara kamu. Tuh papamu jadi pengen" seru Mama Ningrum.


Tentu saja Papa Dedi hanya bisa terkekeh geli karena berhasil menjahili istrinya. Ternyata dengan bercandaan seperti ini saja sudah membuat suasana rumah bahagia. Bahkan teriakan dan tawaan dari anak juga istrinya itu sudah membuatnya bahagia.


***


"Oma, Kei mau nusul Ante Lili ke lumah cakit. Ayo antal Kei" kesal Kei yang terus merengek pada Mama Nei agar segera mengantarnya ke rumah sakit dimana Lili melakukan penelitian.


Pagi ini Kei begitu rewel karena ingin bertemu dengan Lili. Kei terus membujuk omanya itu setelah Papa Tito dan Aldo berangkat bekerja. Papa Tito terpaksa berangkat bekerja karena Aldo yang memohon kepadanya untuk membantunya menyelesaikan masalah.


"Tapi kan Tante Lilinya sedang sibuk" ucap Mama Nei yang merasa frustasi dengan rengekan cucunya itu.


"Ndak mawu tau. Ayo oma" seru Kei dengan mata yang berkaca-kaca.


"Baiklah. Tapi nanti kalau Tante Lilinya sibuk, jangan diganggu ya" peringat Mama Nei.

__ADS_1


Kei menganggukkan kepalanya antusias. Matanya berbinar cerah karena akan segera bertemu dengan Lili. Sudah beberapa hari tak bertemu membuat Kei begitu rindu dengan Lili. Kei dan Mama Nei segera saja bersiap-siap di dalam kamarnya.


__ADS_2