Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Kusut


__ADS_3

"Kenapa mukamu kusut seperti itu, Al?" tanya Papa Tito yang kini berada di ruang keluarga bersama istri dan cucunya.


Hari ini Papa Tito sama sekali tak ke perusahaannya atau berkunjung ke rumah sakit. Waktunya hari ini untuk istri dan cucunya. Pasalnya semalam istrinya itu bilang kalau tak kemana-mana karena tak ada pekerjaan. Apalagi Kei yang tak mengajak pergi karena Lili yang sedang sibuk.


Bahkan untuk memeriksa salah satu rumah sakit saja ia meminta Aldo. Tentu saja itu demi dirinya yang ingin berleha-leha di rumah. Sudah lama dirinya tak bersantai seperti ini. Kemarin-kemarin, dirinya terlalu sibuk dengan bekerja hingga tak ada waktu untuk sekedar bermain bersama cucunya. Biarlah anaknya itu sekarang yang sibuk bekerja dengan segala bisnis dan usahanya.


"Papa kenapa nggak bilang kalau di rumah sakitku lagi ada masalah serius kaya gitu? Papa juga kan sering ke sana, kenapa nggak diselesaikan sekalian sih?" kesal Aldo yang langsung duduk di sebelah anaknya.


"Dangan malah-malah, pa. Ntal epat tuwa lho" ucap Kei menegur Aldo.


Aldo mendelik sinis mendengar anaknya yang malah tak membela dirinya. Padahal ia itu sedang kesal namun ini malah disalahkan dan dinasihati oleh anaknya. Padahal sudah jelas kalau kali ini papanya yang salah karena tak memberitahukan padanya dan malah menyuruhnya memeriksa langsung. Seharusnya papanya itu juga yang menyelesaikannya.


"Seharusnya kamu itu belain papa, Kei. Opamu itu lho yang salah. Masa dia kasih papa pekerjaan yang banyak, padahal opa itu bisa mengerjakannya. Kamu nggak kasihan sama papa kalau kecapekan?" tanya Aldo.


Dengan polosnya, Kei menggelengkan kepalanya. Bahkan mata bulatnya itu memandang Aldo tanpa merasa bersalah sedikitpun. Hal ini tentunya membuat Mama Nei dan Papa Tito yang sedari tadi melihat perdebatan keduanya pun hanya bisa terkekeh geli.


Aldo semakin sebal dengan tingkah anaknya yang tak membela dirinya itu. Seharusnya sang anak membelanya dibandingkan opanya itu. Eh malah ini kebalikannya, seakan opanya seperti papanya sendiri.


"Opa cudah tuwa, tacian talo bekelja telalu banak. Yebih aik papa caja yan kelja, bial opa itilahat yan banak. Papa cebage yan ebih muda halus cemanat" ucap Kei sambil mengepalkan kedua tangannya keatas.


"Benar tuh apa yang dikatakan oleh Kei. Kamu sebagai laki-laki muda dan masih kuat itu harus bekerja keras. Masa pekerjaan seperti itu saja kamu berikan pada papa yang sudah tua itu" ucap Mama Nei yang setuju dengan ucapan dari cucunya itu.


Aldo yang kesal karena tak ada yang membelanya pun memilih untuk pergi saja. Papa Tito yang melihat hal itu tersenyum penuh kemenangan. Setidaknya banyak yang membelanya agar keluar dari belenggu pekerjaan yang dimiliki oleh Aldo.

__ADS_1


Walaupun sebenarnya Papa Tito sedikit kesal karena cucunya itu bilang ia sudah tua. Alasan yang dimililiki oleh cucunya memang bisa dimaklumi. Apalagi rambutnya kini sudah terdapat tumbuh uban.


***


"Mama sama anak nggak ada tuh yang belain Aldo. Awas aja, pa. Pusing Aldo mikirin pekerjaan yang sebanyak tumpukan sampah itu" gerutunya sambil melepas kancing jasnya.


Jasnya ia buka hingga tampaklah Aldo hanya mengenakan kemeja biru saja. Ia meletakkan asal jasnya kemudian mendudukkan diri di sofa yang ada pada kamarnya. Aldo menyandarkan tubuhnya kemudian memejamkan matanya sejenak.


Ia sedikit kelelahan hari ini karena harus mengikuti dua rapat penting. Rapat di kampusnya mengenai beberapa agenda penting dan di rumah sakit. Ternyata rumah sakitnya yang jarang ia kunjungi itu bermasalah. Walaupun secara administrasi dan pelayanan sangat baik namun dalamnya bobrok. Hanya ada beberapa divisi saja yang menjalankan pekerjaan sesuai SOP.


Hal ini membuat Aldo saat rapat tadi sampai marah-marah. Aldo marah pada semua orang yang tidak bekerja sesuai prosedur yang diterapkan rumah sakit. Bahkan mereka seperti seenaknya sendiri. Aldo menghela nafasnya lelah saat mengingat tentang kejadian rapat tadi.


"Bagaimana bisa kalian tak membuat laporan selama tiga bulan ini? Lalu yang kalian laporkan tiap hari dan bulannya ke email papa saya itu apa? Jangan seenaknya di sini. Kalian memang tenaga kesehatan yang sangat dibutuhkan masyarakat, tapi kalian harus bekerja secara profesional. Saya takkan segan-segan untuk mengganti posisi kalian. Jangan dikira saya takut kehilangan orang-orang tak berkompeten seperti kalian" seru Aldo sambil menatap semua orang yang berada di ruang rapat itu.


Ternyata tidak ada laporan apapun dari mereka setiap hari dan bulannya kecuali dari empat divisi. Pantas saja papanya itu seringkali memintanya agar memeriksa rumah sakitnya ini. Sebelumnya memang Papa Tito sudah memaksa Aldo agar ke rumah sakit ini namun sering diacuhkan olehnya.


"Saya akan mengkaji ulang semua orang yang bekerja di sini. Tak berkompeten, langsung akan saya ganti. Di luaran sana masih banyak tenaga medis yang lebih profesional dan berkompeten yang mau bekerja di rumah sakit ini" ucap Aldo yang langsung berdiri.


Aldo bahkan langsung keluar dari ruang rapat itu tanpa berpamitan pada peserta rapat. Semua peserta rapat hanya menundukkan kelalanya karena takut akan amukan Aldo itu. Mereka tak menyangka kalau rumor pemilik rumah sakit ini yang tegas itu adalah benar adanya. Nasib mereka benar-benar dipertaruhkan karena sudah berbuat seenaknya di rumah sakit ini.


"Makanya kerja. Jangan malah pada gosip. Ada pasien ya langsung dilayani dengan baik dan setiap harinya buat laporan. Jangan cuma mau gajinya aja yang setiap bulan baru telah satu jam saja sudah ngomel" ucap Dokter Yuni sambil menatap sinis mereka semua.


"Namanya juga ingin enaknya saja tanpa mau keluar keringat, dok" sindir Nina yang langsung menimpali ucapan Dokter Yuni.

__ADS_1


Dokter Yuni menganggukkan kepalanya kemudian pergi bersama Nina dan beberapa divisi lain yang tak bermasalah. Bagi mereka yang tak bermasalah, rumah sakit ini bukan hanya sebagai tempat mencari rupiah saja melainkan untuk pengabdiannya pada masyarakat luas.


Sedangkan mereka yang masih duduk di ruang rapat seakan tengah berperang dengan pikiran dan batinnya sendiri. Mereka seperti tengah berpikir cara untuk mengembalikan kepercayaan Aldo. Namun sangat susah bagi mereka karena bertemu dengan Aldo saja tak bisa sembarangan.


"Bisa-bisanya mereka seenaknya bekerja di rumah sakitku. Padahal aku sangat susah membangun rumah sakit itu agar bisa membantu orang banyak" gumam Aldo pelan sambil memejamkan matanya.


***


"Amira, Kak Lili sudab ada di sini lho. Tenanglah di sana ya, sekarang kamu udah sehat dan lari-larian kan? Pokoknya kamu tenang saja sama teman-teman yang lain. Pasti mereka juga sudah mengikhlaskan kamu" ucap Lili dengan suara seraknya.


Kini Lili tengah berada di tempat pemakaman umum. Setelah dari rumah sakit tadi, Lili langsung meminta nomor ponsel orangtua Amira. Ia memintanya langsung dati Dokter Yuni. Beruntung Dokter Yuni yang memang menangani Amira secara langsung itu mempunyai nomor ponsel orangtua gadis cilik itu.


Lili menghubungi orangtua Amira untuk memberitahunya dimana letak makam gadis cilik itu. Tentunya dengan sedikit cerita dari orangtua Amira yang membuatnya sangat terharu. Ternyata Amira sempat meninggalkan sebuah surat untuknya sebelum meninggal.


Besok orangtua Amira akan datang ke rumahnya untuk memberikan surat itu. Di sinilah sekarang Lili, berada di makam tempat Amira dikebumikan. Lili menatap batu nisan bertuliskan nama gadis cilik itu "Amira Delica Adisty".


"Kok Kak Lili jadi cengeng gini ya?" ucapnya terkekeh pelan karena tiba-tiba saja air matanya mengalir pada kedua pipinya.


"Kak Lili akan terus mendo'akanmu. Sampaikan juga sama Allah dan malaikatnya, minta sama mereka buat jaga orang-orang yang Amira sayangi yang masih hidup ya" lanjutnya.


Lili segera meletakkan satu bucket bunga mawar putih kesukaan Amira di atas makam. Lili mengecup sekilas batu nisan Amira kemudian berdo'a sejenak. Setelah selesai, Lili segera pergi dari sana karena hari sudah mulai beranjak sore.


Tanpa Lili sadari, bayangan seorang gadis cilik bernama Amira melihat semua kejadian itu. Amira sudah lebih tenang sekarang karena keinginan terakhirnya untuk bertemu Lili sudah tercapai. Walaupun tak bisa berjabat atau berpelukan secara langsung namun itu sudah membuatnya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2