
Pagi harinya, Aldo uring-uringan karena semalaman tak bisa memeluk istrinya. Padahal ia sudah halal dengan Lili, namun ada saja sesuatu yang menghalanginya agar berduaan dengan istrinya itu. Apalagi Lili yang malah memeluk Kei dan bocah cilik itu sangat posesif pada mamanya.
"Kei, kenapa sih kamu tidur di kamar mama dan papa? Nggak tahu apa, kalau kami itu sedang ingin berduaan" ucap Aldo yang memarahi anaknya itu.
"Napa cih papa nomel-nomel mulu? Telus Kei halus tidul dimana? Talo ndak cama mama. Mama Lili tan mama atu. Nanak tecil ya tidulna cama olangtuana dong" ucap Kei tak mau kalah saat beradu argumen dengan papanya.
"Kan kemarin kamu bilang mau tidur sama oma dan opa. Kenapa semalam pindah?" tanya Aldo sambil berkacak pinggang di depan Kei.
"Oma cama opa ladi cibuk. Tatana meleta ladi cibuk buwat adikna papa" ucap Kei dengan jujur.
Sontak saja Aldo memelototkan matanya tak percaya dengan apa yang diucapkan anaknya. Ia berpikir kalau ini adalah ulah sang mama yang tak menginginkan dia berduaan dengan Lili. Bahkan alasan yang dibuat itu sama sekali tak baik jika didengar oleh Kei.
"Kamu dibohongi sama oma, Kei. Mulai sekarang, nggak usah percaya sama omamu itu. Percaya sama papa saja" ucap Kei yang meminta anaknya itu agar tidak mendengarkan ucapan Mama Nei.
"Wooo... Pelcaya itu cama Tuhan, tata bu dulu" ucap Kei membantah ucapan Aldo.
Aldo sendiri langsung mengacak rambutnya frustasi karena merasa kalah dengan perdebatannya kali ini. Sedangkan Lili yang melihat perdebatan keduanya hanya bisa menahan tawanya. Apalagi tingkah Kei yang lucu dan seperti orang dewasa yang tengah memarahi anaknya.
"Sudah... Sudah... Kei, kamu mandi gih sama papa. Biar mama ambilkan pakaian ganti milikmu di kamar oma" ucap Lili.
Kei menganggukkan kepalanya kemudian merentangkan kedua tangannya. Kei ingin digendong oleh Aldo membuat laki-laki dewasa itu mendengus kesal. Bahkan anaknya itu sama sekali tak terlihat merasa bersalah padanya.
Aldo dan Kei memasuki kamar mandi, sedangkan Lili keluar dari kamarnya. Lili membiarkan ayah dan anak itu menikmati waktu bersama. Lili tak ingin kalau sampai mereka marahan hanya karena memperebutkan perhatian dirinya.
***
"Ma, apa-apan sih? Kok semalam mama kasih Kei ke kami" protes Aldo pada mamanya yang kini berada di sampingnya.
__ADS_1
Kini keluarga Lili dan Aldo sudah pulang ke rumah masing-masing. Lili dibawa Aldo pulang ke mansionnya. Ada sedikit rasa sedih dirasakan oleh Lili karena harus berpisah dengan orangtuanya. Namun ini sudah resiko karena Lili memutuskan untuk menerima lamaran dari Aldo.
Kini Aldo sedang bersama Mama Nei di ruang keluarga. Sedangkan Lili dan Kei memilih ke kamar untuk istirahat. Sebenarnya hanya Lili saja yang membutuhkan istirahat karena seharian capek berdiri di atas pelaminan. Sedangkan Kei terus saja menempeli Lili karena tak ingin papanya selalu berada di dekat mamanya.
"Ya gimana dong? Mama kan juga ingin berduaan sama papamu. Ya Kei juga ingin merasakan tidur lengkap bersama kedua orangtuanya" ucap Mama Nei memberi alasan.
"Tapi nggak juga pakai alasan kalau mau bikin adik untuk aku dong, ma. Kei masih kecil lho. Kalau tiba-tiba dia cari tahu dan tanya ke oranglain kan bahaya" ucap Aldo yang kesal dengan alasan yang diberikan mamanya ini.
"Ya maaf, mama kan keceplosan karena bingung mau kasih alasan apa" ucap Mama Nei yang malah cengengesan.
Aldo hanya bisa mendengus kesal dengan apa yang dilakukan oleh mamanya itu. Aldo pun memilih pergi dari ruang keluarga menuju kamarnya. Bahkan kini Kei sudah memindahkan semua barang-barangnya ke kamar Aldo.
"Astaga... Mainan dan baju Kei sudah ada di sini. Ya Allah, mau buka puasa gini amat ya. Pasti Kei sudah diracuni sama mama biar tidur terus sama mamanya" gerutu Andre saat melihat lemarin berisi mainan Kei berada di kamarnya.
Bahkan ia juga membuka lemari kecil di sebelah lemari bajunya. Ternyata itu adalah milik Kei dan berisi baju-bajunya. Sepertinya Kei memang berniat untuk pindah ke kamar Aldo dan mengganggu acara kedua orangtuanya.
"Papa napa ditu? Tacian cama mama nanti keblicikan" ucap Kei menegur Aldo.
"Ini semua gara-gara kamu ya. Ngapain sih kamu pindah ke kamar papa? Kamu kan punya kamar sendiri. Apa gunanya papa buatkan kamar kalau nggak dipakai?" ucap Aldo sambil menyipitkan matanya kearah Kei.
"Napa cih papa tayak ndak cuka talo detat-detat Kei? Apa Kei butan anakna papa dadi ceenakna ditu?" tanya Kei dengan wajah yang disedih-sedihkan.
"Jangan kebanyakan nonton sinetron yang ditonton sama omamu, Kei. Aktingmu nggak bagus" ucap Aldo yang meledek anaknya itu.
Kei memang tadi hanya berpura-pura saja jika sedang sedih. Apalagi memang dirinya tadi yang meminta mamanya memindahkan semua barang-barangnya ke kamar Aldo. Kei ingin terus bersama dengan mamanya agar ditemani tidur dan dibacakan dongeng.
"Huh... Cudahlah, malas nomong cama papa. Kei mau tidul. Papa tidul caja di lantai. Kaculna ndak cukup buwat papa. Papa ndak ada tempat di cini" ucap Kei yang seakan mengusir papanya.
__ADS_1
Aldo tak membiarkan itu terjadi. Aldo segera saja naik ke atas kasur kemudian memeluk erat anaknya itu. Kei hanya bisa memberontak dalam pelukan Aldo. Pergerakan keduanya itu membuat Lili terbangun. Apalagi kasur yang bergerak tak teratur.
"Kalian ini ada apa? Kok kasurnya gerak-gerak kaya gempa gini? Ayo istirahat. Mumpung masih siang ini" ucap Lili dengan suara seraknya karena sehabis bangun tidur.
"Papa ni, ma. Mau betap mulutna Kei. Talo Kei kehabican napas dimana ini" ucap Kei yang mengadu pada mamanya.
Sontak saja Lili langsung terjaga matanya akibat ucapan dari Kei itu. Lili menatap tajam kearah Aldo yang langsung melepaskan tangannya dari wajah Kei. Lili langsung mengambil alih Kei dari pelukan Aldo itu.
"Jangan sakiti anakku. Dia itu masih kecil, jangan digituin. Nanti kehabisan nafas. Kalau mau bercanda jangan keterlaluan" tegur Lili pada suaminya.
Aldo hanya diam sambil menatap sinis Kei yang seakan tengah meledeknya karena dimarahi oleh Lili. Setelah mengomeli Aldo, Lili pun memeluk Kei dan mengajaknya tidur. Sedangkan Aldo hanya bisa gigit jari karena keduanya yang begitu lengket.
Tak habis akal, Aldo langsung saja merangkak kearah sisi kanan Lili yang berbaring. Aldo langsung memeluk istrinya itu dari belakang. Walaupun Lili sedikit memberontak, namun Aldo tak mempedulikannya.
"Jangan gerak-gerak terus. Nanti kalau ada yang bangun, kamu harus tanggungjawab" ucap Aldo dengan sedikit mengancam istrinya itu.
Akhirnya Lili hanya bisa diam dan memilih untuk tidur saja. Lili paham dengan apa yang dimaksud oleh suaminya itu. Sedangkan Kei kini sudah tertidur pulas dalam pelukan Lili.
***
Keesokan harinya, Lili sudah bangun dari tidurnya. Ia memasak makanan untuk sarapan bersama mertua dan beberapa ART di mansion Aldo. Mama Nei begitu senang karena ada teman yang bisa diajaknya bereksperimen di dapur.
"Udah diunboxing belum sama Aldo?" tanya Mama Nei dengan sedikit berbisik.
Lili yang mendengar hal itu hanya meringis pelan. Walaupun itu mertuanya sendiri, namun ia masih malu kalau membicarakan hal seperti ini. Mama Nei yang melihat menantunya malu-malu pun tahu kalau keduanya belum melakukan itu. Apalagi selama dua hari ini Kei selalu tidur bersama keduanya.
"Ma, jangan bahas itu di sini. Lili malu" ucap Lili dengan berbisik.
__ADS_1
"Baiklah. Nanti kita cerita-cerita lagi ya. Mama bakalan ajarin gaya-gaya apa saja biar suami puas. Pokoknya dijamin bikin suami ketagihan" ucap Mama Nei.
Lili yang mendengar hal itu hanya bisa bergidik ngeri. Pasalnya Mama Nei ini kadang idenya suka berada di luar nalar. Hal itu membuat Lili sedikit was-was dan khawatir dengan apa yang akan diucapkan Mama Nei kepadanya.