Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Hati-Hati


__ADS_3

Aldo berjalan dengan cepat keluar dari mansionnya diikuti Lili dan kedua orangtua laki-laki itu di belakangnya. Tak lupa Lili yang digandeng tangannya erat oleh kedua orangtua Aldo. Bahkan Mama Nei dan Papa Tito berusaha untuk acuh saja dengan kemarahan Aldo.


Keduanya ingin mengajarkan Aldo tentang pentingnya bertanggungjawab. Apalagi Lili adalah seorang perempuan, tak pantas bagi Aldo untuk membiarkab dia pulang sendirian waktu malam hari begini. Tentu saja hal ini bisa membahayakan keamanan gadis itu.


"Aldo, jangan cepat-cepat seperti itu jalannya. Kamu tuh harus ingat kalau di belakangmu ada Lili. Dia tanggungjawabmu, salah siapa tadi maksa dia buat ikutan ke sini" seru Mama Nei.


"Salahnya dia juga yang mau dipaksa buat ikutan sama Aldo" seru Aldo yang tidak merasa bersalah sama sekali.


Lili hanya bisa tersenyum kikuk kearah orangtua Aldo yang sepertinya merasa tak enak hati kepadanya. Lili pun segera pamit pada keduanya setelah sampai di dekat mobil milik Aldo. Bahkan Aldo sudah masuk dalam mobil dan menyalakan kendaraan itu.


"Lili pamit pulang dulu ya ma, pa" pamit Lili pada kedua orangtua Aldo.


"Hati-hati ya, nak. Kalau Aldo bawa mobilnya kencang, langsung tampar saja dia. Jangan lupa sering mampir ke sini atau bisa nanti mama saja yang jemput" ucap Mama Nei yang kemudian memeluk Lili dengan erat.


Tin... Tin... Tin...


Aldo terus saja membunyikan klakson mobilnya karena merasa kalau Lili dan kedua orangtuanya itu sangatlah lama. Orangtua Aldo yang melihat hal itu segera saja membuka pintu mobil kemudian mendorong Lili masuk. Setelah Lili masuk, Aldo segera saja melajukan mobilnya dengan tiba-tiba. Hal ini membuat kedua orangtua Aldo begitu terkejut.


"Astaga... Padahal Lili mungkin belum sempat pakai sabuk pengaman. Aldo itu sungguh keterlaluan" kesal Mama Nei sambil mengusap dadanya karena sangat terkejut.


"Sabar, ma. Namanya juga duda baru, mana sifatnya labil banget lagi" ucap Papa Tito sambil geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Tapi itu bahaya lho" kesal Mama Nei.


Papa Tito memilih untuk menggiring istrinya itu agar masuk dalam mansion. Kasihan juga kalau Mama Nei dibiarkan terlalu lama memikirkan tentang keadaan Lili. Papa Tito yakin kalau Lili akan baik-baik saja karena Aldo takkan mungkin setega itu melukai seorang perempuan. Apalagi Aldo pasti juga memikirkan keselamatannya.


***


"Pak Aldo..." seru Lili yang kini memegang erat pegangan atas mobil Aldo.


Lili sama sekali belum sempat untuk menggunakan sabuk pengamannya namun Aldo sudah melajukan mobilnya dengan kencang. Lili tak menyangka kalau Aldo akan tega melajukan mobilnya dengan kencang saat ada seorang perempuan di dalam mobil itu. Bahkan terlihat sekali kalau Aldo tengah menahan emosinya karena disuruh mengantarkan dia pulang.


Aldo tetap bergeming di tempatnya tanpa mempedulikan Lili yang ketakutan. Bahkan Aldo hanya melirik sekilas wajah Lili yang sudah pucat kemudian fokus dengan kemudinya kembali. Mata Lili sudah berkaca-kaca karena merasa takut apalagi dia yang tidak menggunakan sabuk pengaman.


Tanpa Aldo ketahui, Lili mempunyai rasa trauma yang besar dengan mobil yang melaju kencang. Dulunya ia juga pernah mengalami peristiwa yang sama seperti ini waktu kecil. Papanya marah besar padanya karena dimintai tolong datang dan menjemputnya di sekolah saat pengambilan rapor.


Saat itu juga, Papa Dedi langsung membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bahkan papanya itu sama sekali tak mempedulikan Lili yang begitu ketakutan. Hal itu yang membuat kejadian menakutkan itu begitu membekas dalam ingatannya. Bahkan sampai saat ini, rasa traumanya itu sama sekali belum menghilang walaupun papanya sudah meminta maaf atas semuanya.


Mendengar suara lirih itu, Aldo langsung menurunkan kecepatan mobilnya. Terlebih ia melihat sekilas kalau Lili sudah berwajah pucat dan pegangan tangannya melemah. Tanpa Aldo sadari, ada sedikit ketakutan dalam hatinya kalau sampai terjadi sesuatu dengan Lili.


"Minumlah..." ucap Aldo sambil menyerahkan satu botol air mineral pada Lili setelah menepikan mobilnya ke tepi jalan.


Lili segera mengambil botol air mineral itu kemudian meneguknya dengan cepat. Bahkan Lili langsung menghela nafasnya lega setelah berhasil menguasai dirinya. Namun dalam matanya terlihat sekali kalau Lili begitu shock dengan peristiwa yang baru saja terjadi.

__ADS_1


"Dasar lemah, gitu aja udah mau pingsan. Gimana bisa mendampingi anak saya? Kalau baru begini saja sudah ketakutan" ucap Aldo dengan sinis.


Padahal dalam otaknya sudah kepikiran tentang apa yang akan diucapkannya. Itu tentang keinginannya mengucapkan sesuatu untuk menenangkan Lili dan menanyakan keadaannya. Namun yang keluar dari mulutnya sangat berbeda dengan apa yang dipikirkannya.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Aldo itu sontak saja membuat Lili langsung menegakkan badannya. Entah berasal dari mana kekuatan itu, namun Lili yang masih lemah langsung menatap tajam kearah Aldo. Lili benar-benar dibuat kesal dengan ucapan yang terlontar dari mulut dosennya itu.


"Saya juga tak berniat atau bahkan berharap bisa mendampingi Kei, terutama anda. Bahkan kalau bisa, saya berharap tak mengenal anda. Seorang laki-laki arogant dan bermulut pedas tanpa memikirkan perasaan oranglain. Kalau bisa, silahkan anda urus saja agar saya sebagai mahasiswa itu tak perlu berurusan dengan anda" seru Lili yang sudah tak tahan untuk meluapkan emosinya.


Lili langsung saja keluar dari mobil Aldo setelah mengucapkan hal itu. Lili sangat sakit hati mendengar apa yang diucapkan oleh Aldo. Bahkan kini Aldo langsung terdiam dan pikirannya kosong setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Lili.


Brakkk...


Lamunannya buyar saat terkejut melihat pintu mobilnya ditutup dengan keras. Bahkan mobilnya sampai bergetar. Aldo tak menyangka kalau Lili akan semarah ini dengan apa yang diucapkannya. Gadis itu ternyata juga berani memutuskan untuk pulang sendiri dan Aldo baru menyadari hal itu.


Aldo yang melihat Lili sudah berjalan pergi dengan berlari pun seperti bimbang. Ia sedikit bingung apakah akan menyusulnya atau membiarkannya saja. Kalau menyusulnya, dia terlalu gengsi untuk melakukan hal itu. Sedangkan untuk membiarkannya, dia malah seperti laki-laki tak bertanggungjawab.


"Arrgghhh... Sialan. Kenapa jadi kaya orang bodoh kaya gini sih?" seru Aldo sambil mengacak rambutnya frustasi.


Saat Aldo masih berperang dengan pikirannya, Lili sendiri kini sudah menemukan taksi yang bisa membawanya pulang. Tanpa Aldo sadari, Lili sudah sangat sakit hati dengan ucapannya. Bahkan gadis itu sampai menangis di dalam taksi karena mendengar ucapan menyakitkan itu.


Ia tak berharap untuk dapat bertemu dengan Aldo lagi. Bahkan untuk dekat dengan Kei, ia rasanya sudah tak mampu kalau harus menghadapi Aldo. Yang Lili inginkan adalah hidup tenang tanpa harus terbayang-bayang dengan kehidupannya saat menjadi Arlin.

__ADS_1


__ADS_2