
"Papa, napa di cini? Halusna papa tuh najal di tampus, tok malah di lumah cakit. Pati mau nemuin Ante Lilina atu ya?" tuduh Kei yang melihat Aldo kini tengah duduk di kantin.
Tadi saat Kei sampai di rumah sakit, bocah cilik itu segera saja menuju kantin. Ia ingin membeli cemilan untuk nantinya dibawa agar tak bosan kalau menunggu Lili lama. Ia sudah berjanji pada omanya untuk tak mengganggu Lili jika gadis itu sedang sibuk.
Kei juga berjanji untuk sabar menunggu Lili sampai selesai dengan urusannya. Saat sampai di kantin, terlihat di sana Aldo sedang membeli roti dan air minum. Tentu saja hal itu membuat Kei dan Mama Nei terkejut. Pasalnya tadi pagi Aldo berpamitan untuk bekerja di kampusnya.
"Enak saja kalau ngomong. Siapa juga yang mau nemuin Tante Lili kesayanganmu itu? Papa ke sini mau ambil laporan dulu sebelum ke kampus. Jangan sembarangan nuduh ya" kesal Aldo.
Sebenarnya Aldo sedikit terkejut dengan kehadiran anak dan mamanya itu. Mereka tadi tak memberi kabar atau memberitahunya kalau akan pergi. Namun tiba-tiba keduanya sudah ada di sini saja. Ia seperti tengah ketahuan berbuat sesuatu yang jahat karena mendengar tuduhan dari Kei itu.
Ia datang ke rumah sakit ini memang karena ingin mengambil beberapa laporan dan file mengenai identitas dokter dan perawat yang bekerja di sini. Tak lupa dengan karyawan lainnya yang akan diselidiki oleh Aldo. Aldo tak ingin sampai kecolongan, apalagi rumah sakit ini berhubungan dengan nyawa manusia.
"Mana lapolanna?" tanya Kei dengan tatapan selidiknya.
"Masih di ruangan papa. Ini papa mau beli minum sama roti dulu lalu pergi ke sana. Kei mau ikut papa ke ruangan sebentar? Lalu nanti ke kampus" tanya Aldo pada anaknya itu.
Aldo harus mengalihkan pembicaraannya ini sebelum nantinya Kei malah mengucapkan sesuatu yang membuatnya terpojok. Sedangkan Mama Nei sudah melayangkan tatapan selidiknya karena merasa kalau Aldo tengah mengalihkan sesuatu.
"Ndak, napain itut ke luangan papa dan tampus. Ante Lili tan ndak ada di cana. Kei mawu beli matanan bulu telus cali Ante Lili" ucap Kei yang menolak ajakan Aldo.
__ADS_1
Aldo sangat kesal karena anaknya itu sangat dekat dengan Lili. Bahkan hanya untuk Lili saja sampai menolak ajakan papa kandungnya. Mama Nei meledek anaknya yang menatapnya dengan tatapan permohonan untuk membantu membujuk Kei.
"Sudahlah, sana kerja. Nggak usah pedulikan kami. Kami bisa pergi atau pulang sendiri. Kerja yang benar, jangan karena ada sesuatu jadi rajin bekerja. Padahal sebelumnya sama sekali nggak mau tuh datang ke rumah sakit ini" ucap Mama Nei dengan sediki menyindir anaknya.
Mama Nei segera menarik lembut tangan Kei masuk dalam area kantin untuk membeli makanan. Sedangkan Aldo melotot tak terima dengan apa yang diucapkan oleh mamanya itu. Mama Nei memang seakan tahu dengan apa yang dipikirkan oleh Aldo.
Mama Nei berpikir kalau Aldo itu datang ke rumah sakit ini karena ada sesuatu. Tentunya sesuatu yang membuat pikiran dan perasaan Aldo bertambah baik-baik saja. Aldo meraup wajahnya kasar, ia lupa kalau mamanya itu mempunyai insthink yang peka terhadap anaknya.
Aldo pun memilih pergi saja dari kantin kemudian menuju ruangannya. Aldo memilih langsung mengambil laporan di ruangannya kemudian pergi dari rumah sakit. Itu ia lakukan demi tak membuat mamanya curiga atas kelakuannya ini.
***
"Ante Lili..." seru Kei memanggil Lili yang sedang berkumpul bersama dengan anak-anak lainnya.
Lili melambaikan tangannya kearah Kei sambil tersenyum. Ia tak terlalu terkejut dengan kedatangan Kei dan Mama Nei karena memang sudah tahu kalau rumah sakit ini milik keluarga mereka. Mereka pasti ada urusan di sini atau mungkin hanya sekedar berkunjung saja.
"Wah... Kei di sini juga?" tanya Lili setelah Kei sampai di hadapannya itu.
"Iyq, coalna Kei kau temu Ante Lili. Tangen banak-banak" seru Kei dengan antusias.
__ADS_1
"Tante Lili juga kangen sama Kei. Kenalin nih Kei, ada kakak-kakaknya Kei lho" ucap Lili sambil memperkenalkan anak-anak yang ada di sana.
Anak-anak itu sedikit takut dengan Kei. Pasalnya saat berteman dengan orang yang ada di luaran sana, pasti hanya ada ejekan saja. Deo dan yang lainnya memilih beringsut mundur membuat Kei mengerutkan dahinya heran.
"Ante, tok meleka mundul dan ndak mau liat Kei? Kei lutu dan ampan lho ini, tok pada tatut cama Kei cih?" tanya Kei yang langsung memegang kedua pipinya dengan tangan.
Lili yang paham dengan ketakutan mereka pun segera saja mengalihkan pandangannya. Lili tersenyum dan menganggukkan kepalanya, pertanda bahwa Kei ini adalah anak yang baik. Buktinya setelah melihat keadaan anak-anak kecil yang ada di sana itu, raut wajahnya terlihat biasa saja.
"Kenalkan namanya Kei. Dia anak yang baik lho, jadi nggak usah takut ya" ucap Lili sambil tersenyum meyakinkan.
Deo dan yang lainnya saling pandang kemudian mendekat kearah Lili kembali. Mereka segera berkenalan dengan Kei yang menyambutnya begitu hangat. Lili tersenyum melihat mereka berbincang seru. Bahkan Kei sama sekali tak menghina mereka, justru malah menceritakan hal-hal lucu.
"Kei saat berada di dekatmu itu ternyata malah lebih terbuka untuk berteman dengan siapa saja. Terimakasih sudah membuat Kei langsung bisa beradaptasi dengan orang banyak" ucap Mama Nei yang kini sudah berada di samping Lili.
"Itu bukan hal yang sulit, ma. Lagi pula Kei itu anaknya mudah bergaul dan ceria. Buktinya baru dekat sebentar saja sudah langsung akrab begitu" ucap Lili sambil terkekeh pelan.
Mama Nei hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Lili segera mengajak mereka semua untuk ke ruang bermain karena hari sudah beranjak siang. Kei begitu senang karena bermain ditemani oleh banyak orang. Mama Nei pun ikut duduk di sana bersama dengan orangtua pasien.
"Nggak nyangka lho, bu. Cucu anda mau berteman dengan anak kami yang kondisinya tidak sempurna" ucap salah satu orangtua dari pasien.
__ADS_1
"Semua anak terlahir suci dan sempurna, bu. Hanya saja mereka ini anak-anak spesial yang dikirimkan Tuhan untuk melengkapi dan membuat warna dalam kehidupan kita. Jangan pantang menyerah dan terus beri mereka semangat untuk hidup normal" ucap Mama Nei sambil mengelus lembut lengan tangan orangtua pasien itu.
Mama Nei dan orangtua lainnya yang melihat Kei berceloteh bersama teman-temannya pun hanya bisa terkekeh pelan. Pasalnya suara riuh tawa benar-benar terjadi. Hal itu membuat tawa orangtua benar-benar tak bisa ditahan.