
"Kamu kok sendiri di sini, Kei?" tanya Lili sambil mengelus lembut rambut bocah kecil itu.
"Ndak papa. Yagi mayas cama papa, ngin di cini caja" jawab Kei dengan mengedikkan bahunya acuh.
Kei begitu menikmati usapan lembut yang adal pada rambutnya. Rasanya hampir sama saat dia diusap oleh sang mama. Kei bahkan sampai memejamkan matanya untuk lebih meresapi perlakuan lembut dari Lili. Namun tak berapa lama, Kei kembali membuka matanya.
"Ante tau nama Kei dali capa?" tanya Kei dengan tatapan penasarannya.
"Dari sahabat tante. Dia kan mamanya Kei. Dia selalu menceritakan tentang anaknya yang paling dia sayang yaitu Kei" ucap Lili sambil tersenyum.
Kei yang mendengar itu sontak saja langsung mengalihkan pandangannya kearah Lili. Senyuman Lili benar-benar membuat perasaan Kei tenang dan nyaman ketika dekat dengannya. Bahkan kini tiba-tiba saja Kei memeluk Lili dari samping membuat gadis itu sedikit terkejut.
Namun tak ayal membuat Lili langsung mengusap bahu Kei dengan lembut. Kei tiba-tiba terisak dalam pelukan Lili yang begitu menenangkannya. Lili paham kalau kini Kei pasti teringat dengan mamanya yang telah tiada. Lili merasa kasihan dengan Kei yang hanya diberi kesempatan tak lebih dari sebulan untuk merasakan kasih sayang seorang ibu.
"Mama cayang ndak cama Kei, ante? Kok cekalang inggalin Kei di cini cendili. Kei lum lama lho nglasain pelutan dan tacih cayang mama" ucap Kei dengan lirih.
"Sayang dong. Mama Arlin sayang sama Kei. Mama Arlin selalu cerita sama tante kalau dia sangat menyayangi Kei. Sekarang Mama Arlin sudah bahagia di atas sana dan Kei harus selalu mendo'akannya" ucap Lili dengan berbohong.
Dia yang masih menjadi Lili tentu tak mengenal tentang Kei ataupun Arlin. Ia hanya beberapa kali bertemu dalam mimpi saja saat dirinya menjadi Arlin. Terlihat sekali kalau memang Arlin menyayangi Kei walaupun harus ditunjukkan dengan cara berbeda.
Lili terus saja memeluk Kei yang kini malah terisak dalam pelukannya. Ia paham bagaimana Kei kehilangan sosok yang berharga dalam hidupnya saat usia masih sangat kecil. Kalau ia menjadi Kei pun, ia pasti juga akan sangat sedih.
__ADS_1
"Kei celalu beldo'a agal mama di cana didaga tama Tuhan" ucap Kei yang kemudian melepaskan pelukannya dari Lili.
Lili hanya menganggukkan kepalanya untuk menanggapi semua yang diucapkan oleh Kei. Lili mengambil tisue dalam tasnya kemudian menghapus air mata yang membasahi wajah bocah kecil itu. Wajahnya tampak menggemaskan dengan mata sembab dan kedua pipi yang kemerahan.
"Kei anak yang hebat. Mama Arlin pasti bangga punya anak seperti Kei. Apalagi Kei anak baik yang mau mendo'akan beliau" puji Lili sambil tersenyum.
Kei menampilkan senyumannya dengan memperlihatkan gigi putihnya yang rapi. Hal itu membuat Lili terkekeh pelan karena ternyata Kei begitu teramat lucu. Lili bahkan sampai menciumi pucuk kepala bocah kecil itu.
Beban Lili yang dirasakan setelah berasal dari ruangan Aldo ternyata menguap karena adanya Kei di sisinya. Ia tak menyangka kalau Kei bisa menjadi penenang dan penyemangatnya di saat dia down dan moodnya jatuh karena Aldo. Ia hanya bisa berharap dengan hadirnya Kei membuat semangatnya kembali membara untuk menghadapi Aldo.
"Kei sudah makan belum? Kalau belum, kita makan di kantin yuk. Tante lapar nih" ucap Lili sambil mengelus perut ratanya.
"Ya, Kei mau matan agi" seru Kei dengan antusias.
Lili pun kemudian berdiri dan menggandeng tangan Kei menuju ke kantin. Beberapa mahasiswa yang mengenal Kei dan Lili tentu merasa aneh dengan kedekatan mereka. Mereka tentu tahu kalau keduanya bahkan belum pernah terlihat dekat. Namun mereka berpikir kalau Lili sengaja mendekati Kei agar skripsinya yang dibimbing oleh Aldo semakin lancar.
Lili merasa kalau dirinya jadi pusat perhatian beberapa mahasiswa yang ada di sana. Namun Lili tak peduli, toh ia tak berbuat jahat kepada siapapun. Terlebih Kei anak yang baik, jadi dekat dengannya bukan karena ingin memanfaatkannya.
"Kei mau makan apa?" tanya Lili setelah mereka duduk di kursinya.
"Naci goleng cama cucu cokelat caja, ante" ucap Kei sambil tersenyum.
__ADS_1
Lili menganggukkan kepalanya kemudian memesankan makanan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Kei. Sedangkan ia sendiri memilih untuk membeli salad sayur saja untuk menu makan kali ini. Bukan diet, hanya saja ini masih terlalu pagi untuknya makan nasi.
"Berdo'a dulu sebelum makan, Kei" ucap Lili saat melihat bocah kecil itu sudah langsung akan memakan nasi goreng yang tersedia di depannya.
Kei yang mendengar hal itu langsung saja menganggukkan kepalanya. Bocah kecil itu menundukkan kepalanya sebentar kemudian segera meraup wajahnya dengan kedua tangannya. Setelahnya, Kei dan Lili makan bersama dengan diiringi oleh canda tawa dari keduanya.
Keduanya malah terlihat seperti kakak adik yang tengah makan bersama. Terlebih perawakan Lili yang terbilang pendek sehingga sangat cocok menjadi kakak dari Kei. Lili tersenyum melihat Kei yang kini tampak ceria karena sudah mau berceloteh seperti saat dirinya menjadi Arlin.
"Ante, itut ulang ke lumah Kei yuk anti. Anti Kei tenalin cama oma dan opa atu. Meleta bait lho, ndak dalak tayak papa" ucap Kei yang mengajak Lili datang ke rumahnya.
"Aduh... Maaf Kei, tante nggak bisa ikut kamu ke rumah. Soalnya hari ini papanya tante jemput ke kampus" tolak Lili membuat alasan.
Padahal saat pulang nanti, Lili akan menggunakan taksi online karena papanya tidak bisa menjemput. Ia tak mau berurusan atau bertemu dengan Aldo terlebih dahulu. Bisa tambah sakit hati dan moodnya berantakan kalau sampai bertemu dia lagi.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Lili itu membuat Kei meluruhkan bahunya lesu. Padahal dia sudah sangat antusias untuk mengenalkan teman barunya ini kepada oma dan opanya. Namun sepertinya hal itu harus dibatalkan karena Lili yang akan dijemput oleh papanya.
"Yah... Dahal Kei cudah cangat cenang lho ini talo tante atang ke lumah atu" ucap Kei dengan lesu.
"Suatu saat nanti, tante akan datang ke rumah Kei kok. Temani Kei bermain seharian" ucap Lili tanpa sadar.
Lili mengucapkan sesuatu yang tanpa sadar bisa menjadi boomerang untuk kedepannya nanti. Terlebih ucapan Lili itu seakan seperti janji yang akan ditagih oleh anak kecil jika sampai tak dituruti. Kei yang mendengar hal itu tersenyum dengan antusias. Ia yakin kalau Lili akan menepati janjinya itu.
__ADS_1
"Kei, ngapain kamu...."