
"Saya, kenapa? Nggak terima? Anak situ duluan yang membuat masalah dengan keponakanku. Dia itu sampai membuat keponakanku nangis. Main rebut bekal orang aja sih," ketus Fina menanggapi seruan dari ibu-ibu itu.
"Halah... Badan kerempeng gitu aja pakai sok-sokan nantangin saya. Kena injak jempol saya sudah langsung pada patah itu tulang" ledek ibu dari Kevin, Ibu Nami.
Fina sontak saja berkacak pinggang dan melotot tak terima kearah Ibu Nami. Ia tak menyangka kalau Ibu Nami itu bisa-bisanya menyepelekan dirinya yang jago beladiri. Walaupun badannya terbilang kurus, namun ia bukanlah lawan yang mudah dikalahkan.
"Sembarangan kalau ngomong. Saya tendang itu perutnya baru tahu rasa entar berdirinya susah," kesal Fina karena badannya dikomentari oleh oranglain.
Beberapa anak-anak yang menyaksikan pertengkaran itu segera saja ditarik keluar kelas. Anak seusia Kei itu memang belum pantas melihat kejadian seperti ini. Bahkan Lili langsung meminta tolong pada Ibu Nawang agar Kei dibawa sedikit menjauh.
Sedangkan Lili sendiri mencoba untuk menahan sahabatnya agar tak hilang kendali. Walaupun tubuh Fina kecil, namun ia yakin dapat mengalahkan Ibu Nami.
"Udah, Fin. Ini kan lagian bekalnya juga sudah habis dimakan sama itu anaknya. Besok suruh Kei buat makan di luar saja, biar nggak diganggu. Jangan buat keributan di sekolahan gini" ucap Lili berusaha menenangkan sahabatnya.
"Aku nggak mau kalah sama ibu-ibu ini, Li. Enak aja mereka nggak ada rasa bersalahnya sama sekali sudah membuat Kei menangis. Setidaknya minta maaf karena ambil makanan oranglain dong" seru Fina yang tak mau mendengarkan ucapan Lili.
"Dih... Kalian ini siapa? Saya ini nggak level sama kalian. Nggak maulah saya kalau sampai minta maaf sama hal yang tidak kami lakukan. Dasar tukang fitnah" ucap Ibu Nami yang malah placing victim.
Perdebatan terus sana terjadi antara Fina dan Ibu Nami. Sungguh Lili dibuat pusing dengan seruan yang keluar dari mulut keduanya itu. Bahkan beberapa wali murid lebih memilih membubarkan diri karena pusing.
"Kalian ini jadi berantem nggak sih? Kok malah adu mulut kaya gini" kesal Lili.
"Bodo amat" seru Fina dan Ibu Nami bersamaan.
Sontak saja hal itu membuat Lili kesal. Lili memilih pergi dari sana karena malas dengan keduanya. Fina dan Ibu Nami terus saja berdebat hingga gadis itu menyadari kalau sahabatnya itu sudah tak ada di sana.
"Huh... Gara-gara ibu, teman saya malah ninggalin" ketus Fina.
__ADS_1
"Situnya aja yang pantas untuk ditinggalkan" ledek Ibu Nami.
Fina sudah malas meladeni ocehan dari Ibu Nami kemudian pergi dari hadapan wanita paruh baya itu. Fina juga sampai menabrak bahu Ibu Nami dengan kencangnya membuat wanita paruh baya itu oleng dan terjatuh.
Bugh...
Brugh...
"Woiii... Gue jatuh ini, nggak bisa bangun. Tanggungjawab dong" seru Ibu Nami dengan bahasa gaulnya.
Tubrukan bahu Fina pada Ibu Nami itu membuatnya terjatuh. Bahkan ia sampai menubruk pintu kelas yang ada di belakangnya. Fina hanya bisa menahan tawanya karena melihat Ibu Nami terjatuh.
"Gue nggak hamilin situ, ngapain harus tanggungjawab?" jawab Fina dengan santainya.
"Katanya tadi lawannya kerempeng. Baru kena senggol dikit saja sudah oleng, lawan dong si kerempeng ini" lanjutnya meledek Ibu Nami.
"Kevin panggil bu guru dulu ya, ma" ucap Kevin berpamitan.
"Jangan lama-lama, Kevin. Pinggang mama keburu sakit" serunya sambil mengelus pinggangnya.
Kevin hanya menganggukkan kepalanya kemudian pergi mrncari guru. Jam istirahat masih cukup lama bagi mereka sehingga guru-guru tak berada di luar ruangan. Bahkan kejadian ini pun luput dari perhatian guru.
***
"Kei makan ini dulu saja, ya. Nanti habis pulang sekolah, kita bisa langsung ke kantin kampus untuk makan. Habisnya di kantin sekolah Kei adanya cuma cemilan" ucap Lili sambil mengelus kepala Kei.
"Iya, ante. Ini caja cudah cutup tenyang tok" ucap Kei.
__ADS_1
Beruntung Lili membawa roti di tas kuliahnya itu. Ia kasihan pada Kei yang tadi pagi hanya makan roti saja. Bayangan makan siang dengan nasi langsung pupus saat bekal makanan Kei diambil. Lili yang tadinya ingin memesankan makanan lewat online juga dilarang oleh Kei.
"Kalau begitu, habiskanlah" ucap Lili sambil tersenyum.
"Lili... Kenapa loe ninggalin gue sih? Loe nggak lihat adegan seru. Itu ibu-ibu gue senggol aja jatuh nabrak pintu lho" ucap Fina sambil tertawa saat sampai di hadapan Lili dan Kei.
"Memangnya kamu apain?" tanya Lili dengan tatapan penasarannya.
"Gue senggol bahunya, langsung ambruk. Jangan remehkan badan kerempeng gue ini dong" ucap Fina dengan bangganya.
Lili dan Kei yang mendengar hal itu hanya bisa menganga tak percaya. Hal yang tak mungkin bagi seseorang dengan tubuh kurus seperti Fina yang baru menyenggol bahu saja sudah bisa menjatuhkan ibu-ibu berbadan gempal. Namun terlihat dari ekspresi yang ditunjukkan oleh Fina, membuat Lili tahu kalau sahabatnya itu tak bohong.
"Lalu ante itu dimana cekalang?" tanya Kei dengan raut penasaran.
"Masih di kelas. Biarin ajalah, siapa suruh songong sama Fina dan main ganggu keponakan tante yang tampan ini" ucap Fina dengan acuhnya.
Ada rasa kasihan di hati Kei pada Kevin, teman satu kelasnya itu. Walaupun ia tak akrab dengan Kevin, namun ia menganggap semuanya adalah teman. Pasti sekarang Kevin sedang mencari bantuan untuk membantu mamanya bangun dari posisi duduknya.
"Sudah, nggak usah dipikirin. Lagi pula itu akibat dari jahat sama orang. Jadi Kei nggak boleh jahatin oranglain ya" ucap Fina yang tahu isi pikiran Kei.
Lili hanya bisa mengelus lembut punggung Kei. Ia tahu juga pergolakan batin dari Kei. Pasti ia tak bisa melihat temannya itu kesusahan. Padahal ini adalah suatu akibat dari apa yang dia perbuat.
"Sekarang lebih baik Kei habiskan makanannya ya. Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi" ucap Lili.
Kei pun menganggukkan kepalanya mengerti. Setelah makanannya habis, Kei segera saja pergi untuk masuk sekolah. Sedangkan Lili dan Fina duduk di bawah pohon sambil menunggu Kei hingga pulang sekolah.
"Kalau di depan Kei jangan ngomong aneh-aneh. Otaknya masih polos, jangan sampai waktu dewasa nanti malah berbuat yang tidak-tidak. Bisa saja malah Kei meniru apa yang kamu ucapkan tadi" tegur Lili pada sahabatnya yang malah cengengesan itu.
__ADS_1