Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Kenyataan


__ADS_3

"Ini Nadeline..." seru Brama saat melihat seragam sekolah dan tas yang dipakai anaknya.


Walaupun saat ini wajahnya tertutup rambut dan berbaring di atas tanah, namun Brama tahu itu merupakan anaknya. Ternyata memang gadis cilik yang terjatuh tepat pada depan mobil yang dikendarai Aldo adalah Nadeline.


Aldo dan Papa Tito langsung membantu Nadeline terbangun. Nadeline hanya bisa meringis kesakitan sambil menahan rasa pusingnya. Ia memang mendengar ada suara yang memanggil namanya, namun ia tak kuasa untuk mengeluarkan satu patah kata pun.


"Ya Allah, nak. Ayo langsung bawa masuk ke mobil dan pergi dari sini. Sepertinya Nadeline tadi kabur dari mantan istrimu" ucap Papa Tito yang melihat wajah Nadeline pucat dalam gendongan Aldo.


"Iya, pa" ucap Aldo yang langsung masuk dalam mobil sambil menggendong Nadeline.


Sedangkan Brama masih menatap lurus ke depan dan mengepalkan kedua tangannya. Brama emosi karena ternyata anaknya dalam keadaan tak baik-baik saja. Jika bertemu dengan mantan istrinya itu, ia pastikan untuk membuat perhitungan dengannya.


"Brama, jangan pikirkan mantan istrimu itu. Lebih baik kita selamatkan dulu Nadeline" ucap Paoa Tito yang langsung menepuk bahu Brama yang masih terdiam di tempatnya.


"Huft... Baiklah, om. Tapi jangan halangi Brama untuk membuat perhitungan dengannya" ucap Brama yang kemudian menghela nafasnya pasrah.


"Om takkan menghalangimu untuk membuat perhitungan dengannya. Bahkan om juga akan ikut karena tak terima jika Nadeline diperlakukan seperti itu. Pokoknya kita akan membalas perlakuan wanita itu bersama-sama" ucap Papa Tito.


Brama hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Ia yakin kalau dengan bantuan dari rekan kerjanya itu membuat semuanya lebih mudah. Apalagi kekuasaan Papa Tito yang mempunyai banyak relasi untuk membantu.


Papa Tito dan Brama segera memasuki mobil kemudian kendaraan itu melaju menuju rumah sakit terdekat. Kini Nadeline juga sudah berada dalam pelukan Brama. Nadeline begitu lemah dengan terus menggumamkan kata pusing.


"Pusing..." gumam Nadeline lirih.


"Ini papa, nak. Mana yang pusing?" tanya Brama sambil memijat pelipis anaknya.

__ADS_1


"Papa... Pusing. Nadeline nggak mau lagi sama mama. Mama jahat, pa. Selamatkan Nadeline, pa. Nadeline mohon..." seru Nadeline tiba-tiba yang histeris.


"Jangan bentak-bentak Nadeline. Papa..." serunya.


Brama, Aldo, dan Papa Tito yang mendengar teriakan histeris itu seketika terkejut. Apalagi kondisi Nadeline yang seperti orang trauma. Mereka berpikir jika tadi saat bersama dengan Ajeng, pasti ada peristiwa yang membuat Nadeline seperti ini.


"Brama, peluk anakmu itu. Beri usapan dan ketenangan. Bisikkan kalimat penenang kalau semuanya akan baik-baik saja" ucap Aldo memberi perintah pada Brama yang sangat shock.


Brama pun seketika sadar dan langsung menambah pelukannya pada tubuh Aldo. Brama mengusap lembut punggung Nadeline dengan terus membisikkan kalimat penenang. Ia hanya bisa menahan sesaknya saat melihat kondisi Nadeline yang jauh dari kata baik-baik saja.


"Nadeline, dengarkan papa. Nadeline sekarang sudah aman. Ada Papa Aldo, kakek, papa, dan keluarga Kei yang lainnya. Nadeline jangan takut lagi. Perempuan itu takkan pernah membawa Nadeline jauh dari papa" ucap Brama dengan suara seraknya.


"Harusnya tadi Nadeline dengar pesan papa dan Kei buat nggak ikut sama orang asing. Akhirnya malah gini, Nadeline dibentak-bentak" seru Nadeline di sela-sela isak tangisnya.


"Nggak akan ada yang berani bentak-bentak kamu, nak. Papa janji akan menjagamu, begitu pula dengan keluarga Kei. Ayo semangat dan hilangkan pikiran burukmu itu" ucap Brama.


"Apa kita langsung pulang saja? Nggak perlu ke rumah sakit. Aku akan panggil dokter buat memeriksa kesehatannya esok hari. Kayanya dia butuh pendampingan dari keluarganya dulu" ucap Brama bertanya pada Papa Tito dan Aldo.


"Pulang ke rumah kita saja. Aku yakin kalau mantan istrimu itu masih mengincar Nadeline. Setidaknya tak sembarangan orang bisa memasuki tempat tinggal kami. Ada juga Aldo dan Lili yang lebih mengerti dalam merawat Nadeline yang kondisinya seperti ini" ucap Papa Tito memberi saran.


"Tapi apa tak merepotkan? Kita sampai di rumah dini hari. Nanti kedatangan kami berdua malah membuat heboh seisi rumah, apalagi kondisi Nadeline yang seperti ini" ucap Brama tak enak hati.


"Nadeline itu cucuku juga. Jangan bilang tak enak hati pada kami. Keamanan dan kenyamanan dia saat ini adalah yang utama. Di rumahmu tak ada yang mengurus Nadeline kan? Jangan ngeyel" ucap Papa Tito.


"Baiklah. Brama ikut saja. Terimakasih, om" ucap Brama.

__ADS_1


Papa Tito hanya menganggukkan kepalanya. Mobil melaju membelah jalanan malam yang sepi. Brama masih tak menyangka kalau mantan istrinya berani melewati jalanan ini sendirian. Brama melihat kearah Nadeline yang tertidur dalam pelukannya. Brama mengelus lembut pipi anaknya dan mencium keningnya.


"Kamu adalah belahan jiwa papa. Apapun akan papa lakukan demi kesembuhan juga kebahagiaan kamu" bisik Brama tepat pada telinga Nadeline.


***


Tepat pukul 2 dini hari mereka sampai di kediaman Aldo. Perjalanan yang jalanannya begitu sepi dan jalan yang terjal membuat mereka harus berhati-hati. Apalagi mereka sampai beberapa kali pindah arah jalan karena lupa dengan jalanan yang dilalui.


"Bawa saja Nadeline ke kamar tamu. Biasanya Lili jam segini bangun karena Baby Della. Biar nanti Lili yang menggantikan pakaian Nadeline" ucap Aldo.


"Iya, nanti kamu langsung bersih-bersih juga. Pakai bajunya Aldo saja tidak apa" ucap Papa Tito.


Brama hanya menganggukkan kepalanya kemudian masuk dalam kamar tamu. Setelahnya ia pergi keluar ke kamar mandi dekat dapur dengan membawa pakaian yang ia pinjam dari Aldo. Lili yang memang belum tidur segera saja memasuki kamar tamu dan mengganti pakaian Nadeline.


"Ya Allah, nak. Wajahmu pucat gini" ucap Lili yang juga langsung memberikan plester demam pada dahi Nadeline.


Pasalnya Nadeline juga demam dan seperti mengigau lirih. Lili yakin kalau Nadeline tadi mengalami peristiwa yang mengguncang mentalnya. Lili juga mengambilkan minum dan diletakkannya di atas nakas jika nanti Nadeline bangun.


"Pak Brama, ini Nadeline sedikit demam. Ini biar Nadeline saya temani tidurnya. Bapak ke kamar tamu sebelah saja. Apalagi nanti kalau Nadeline bangun pasti dia akan sedikit terkejut" ucap Lili membuat Brama tampak khawatir.


Namun tak ayal juga Brama menganggukkan kepalanya. Ia yakin jika Lili dan Aldo mampu mengatasi Nadeline. Apalagi ia juga harus istirahat dan memikirkan rencana balas dendam pada Ajeng.


"Terimakasih, Lili. Tadi Nadeline sempat histeris dan ketakutan. Nanti kalau bangun, tolong diawasi dan ditenangkan. Saya sendiri bingung harus melakukan apa. Saya akan bayar berapa pun biayanya demi Nadeline dirawat pada orang yang tepat" ucap Brama.


"Jangan pikirkan hal itu dulu, Pak Brama. Saya ini mamanya Nadeline juga lho. Apalagi Baby Della sangat dekat dengan Nadeline. Saya akan menjaga dan membuat dia sembuh seperti kemarin" ucap Lili.

__ADS_1


Brama menganggukkan kepalanya. Ia beruntung karena Nadeline dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya. Brama keluar kemudian tidur di kamar tamu sebelah. Lili mengabari suaminya kalau dia akan menemani Nadeline di kamar tamu.


__ADS_2