
Aldo datang dengan wajah memerah dan kedua tangan terkepal dengan eratnya. Padahal ia hanya sebentar meninggalkan anaknya itu namun ternyata sudah ada seseorang yang mendekatinya. Aldo tak suka ada orang asing yang mendekati anaknya terlebih seseorang itu yang membuatnya marah.
"Kei, ngapain kamu di sini? Seharusnya kamu jangan asal bicara dan didekati oleh orang asing" seru seorang laki-laki dewasa yang tak lain adalah Aldo.
Lili dan Kei langsung mengalihkan pandangannya kearah Aldo yang baru saja datang. Kei sampai menjatuhkan sendok yang digenggamnya karena sedikit takut dengan tatapan milik papanya itu. Kei juga segera turun dari kursinya karena tak menyangka kalau papanya akan semarah ini.
Beberapa penjual yang ada di kantin juga segera mengalihkan pandangannya kearah Aldo dan Lili yang ada di sana. Beruntung di sana hanya ada penjual kantin saja, sedangkan untuk mahasiswa sama sekali tidak terlihat. Lili kini langsung menghadap kearah Lili.
"Aku bukan orang asing. Aku orang yang berkuliah di sini. Bukannya dulu kamu pernah berharap kalau aku jadi istrimu ya? Masih ingat kan dengan apa yang kamu teriakkan dulu sesaat sebelum aku kecelakaan?" ucap Lili sambil terkekeh geli.
Tentunya Lili masih mengingat tentang apa yang diucapkan oleh Aldo itu. Lili berniat mengingatkannya sekaligus menggoda dosennya itu agar tak marah-marah terus. Terlebih menurutnya, duduk bersama dengannya itu tak ada masalah. Yang terpenting Lili tak berniat untuk menyakiti Kei.
"Itu hanya bualan biar kamu semangat mengerjakan revisian skripsi. Saya tahu kalau kamu tertarik padaku hingga membuat kesalahan pada skripsimu. Biar lama-lama kan kamu dekat dan bertemu denganku?" ucap Aldo dengan penuh percaya diri.
Lili berdecih sinis mendengar apa yang diucapkan oleh Aldo itu. Sungguh percaya diri sekali dosennya itu padahal sudah jelas kalau yang menyusahkan itu Aldo sendiri. Lili ingin sekali memukul wajah tengil Aldo yang awalnya memerah emosi itu. Namun ia masih waras untuk tak berurusan lagi dengan dosennya itu kalau tak mau skripsinya disusahkan lagi.
"Kei, tante pergi dulu ya. Tante malas lihat muka papamu yang sok kegantengan itu. Kamu hati-hati dan jangan dekat dengan papamu yang kalau marah sudah seperti singa itu" ucap Lili yang kemudian berlalu dari hadapan Kei yang hanya berdiri melihat perdebatan keduanya.
Sebelum Aldo menyadari dirinya mengibaratkan laki-laki itu seperti singa, lebih baik dirinya segera pergi. Lili langsung meninggalkan uang di atas meja untuk membayar makanan yang telah dipesan dan segera berlalu pergi. Lili tak mau mendapatkan amukan kembali dari Aldo yang galak itu.
__ADS_1
Kei hanya menganggukkan kepalanya dan menatap kepergian Lili yang sudah berjalan menjauh. Sedangkan Aldo kesal karena dipanggil seperti singa oleh Lili namun tak ingin melampiaskan kekesalannya ini di depan Kei. Aldo menutup matanya untuk menetralkan emosi yang ada di dadanya.
"Ayo pulang. Besok lain kali jangan lagi kamu bertemu dengan gadis itu. Bisa saja kan kalau dia kasih racun dalam makananmu" ucap Aldo segera memperingati anaknya.
Kei mendengus kesal dengan ucapan yang dilontarkan oleh Aldo. Kalau diberi racun, sudah pasti dirinya telah pingsan atau mual-mual karena memakan makanannya itu. Faktanya dia baik-baik saja dan sehat walaupun sudah makan beberapa sendok.
Aldo segera menggendong anaknya itu kemudian berjalan pergi dari kantin. Kei hanya diam tanpa merespons apapun tentang ucapan papanya karena kalau di kampus ini pasti dirinya mau untuk bertemu dengan Lili. Ia sudah terlanjur nyaman bersama dengan gadis itu walaupun memang belum tahu namanya.
***
"Oma, Opa... Adi atu temu cama wewek yang temalin ada di kantol polici lho" ucap Kei saat sudah tiba di mansionnya.
Ia tak mau anaknya kenapa-napa dan harus bersikap waspada dengan orang asing. Terlebih mahasiswanya itu tahu kalau Kei adalah anaknya. Bisa saja Lili balas dendam dengan menggunakan Kei gara-gara skripsinya belum di acc olehnya.
"Maksud kamu cewek yang mana, Kei?" tanya Papa Tito yang penasaran.
"Itu lho yang dimalahi cama papa di epan kantol polici" ucap Kei yang mencoba mengingatkan opanya.
Papa Tito menganggukkan kepalanya karena berhasil mengingat siapa yang dimaksud. Sedangkan Mama Nei bingung tentang siapa yang dimaksud oleh mereka semua. Ia yang tak ikut ke kantor polisi itu membuatnya sedikit kebingungan.
__ADS_1
"Memangnya cewek itu ngapain di kampus?" tanya Papa Tito dengan raut kebingungan.
"Ya belajal dong, opa. Dia tan mahaciwa di kampusna papa kelja. Adi atu dijajak matan di tantin lho, mana baik amat cama Kei. Tepala Kei dielus, naman cepelti elucan mama" ucap Kei dengan antusias kemudian sedikit lesu diakhir.
Tentunya mendengar hal itu membuat ketiga orang dewasa yang ada di sana itu terkejut. Mereka saling pandang karena merasa sedikit kasihan dengan Kei yang pasti sangat kehilangan Arlin. Mama Nei segera saja mendekat kearah Kei kemudian menggendongnya dan mengelus lembut punggung cucunya itu.
"Tapi tata ante itu, Kei ndak oleh cedih anti mamana adi itutan angis. Kei halus beldo'a cama Tuhan bial mama enang di atas cana" lanjutnya.
Aldo yang mendengar hal itu tersentak kaget kemudian memilih untuk pergi masuk kamarnya. Ia sungguh tak tega dan tidak kuat mendengar apa yang akan dikatakan oleh Kei. Anaknya yang begitu sedih membuatnya juga mengingat kembali rasa kehilangannya.
Mama Nei begitu sedih melihat anak dan cucunya masih begitu terpukul dengan kematian Arlin. Terlebih Kei yang senyumnya seakan menjadi irit. Sedangkan Papa Tito hanya memberikan seulas senyum tipis kepada istrinya agar tak memperlihatkan kesedihannya.
"Benar apa yang dikatakan oleh tante itu. Kamu nggak boleh sedih. Kei harus jadi anak baik dan kuat agarm Mama Arlin tidak sedih di atas sana. Berdo'a terus untuk kebahagiaan mama di sana, Kei" ucap Papa Tito.
Kei menganggukkan kepalanya setuju dengan apa yang diucapkan oleh Papa Tito. Tentunya ia takkan sedih-sedih lagi. Terlebih banyak orang yang menyayangi dan menemaninya, termasuk Lili. Lagi pula Lili juga dapat ia temui hampir setiap harinya jika nanti datang ke kampus.
"Kei oleh atang ke tampus wuwat temu ante itu?" tanya Kei.
"Boleh dong, nak" ucap Mama Nei tersenyum.
__ADS_1
Apapun yang membuat cucunya itu bahagia pasti akan sebisa mungkin dikabulkan oleh keduanya. Terlebih ini hanya mempertemukan dengan sosok perempuan yang telah mengubah kehidupan Kei. Walaupun nantinya Aldo mengomeli, namun mereka akan membantu memberi pengertian pada laki-laki itu.