
"Lho kok Nadeline ada di sini? Tadi ke sini sama siapa?" tanya Lili yang terkejut dengan kehadiran Nadeline di rumah.
Setelah selesai praktik, Lili yang dijemput oleh Aldo itu langsung pulang ke rumah. Namun sebelum itu ia membelikan dulu es krim di supermarket untuk anaknya. Beruntung Lili membeli beberapa es krim sehingga Nadeline nanti bisa ikutan makan bersama Kei.
"Sama nenek dan Kei. Nadeline ke sini barengan sama mereka setelah pulang sekolah. Mau jenguk adek Della" ucap Nadeline sambil tersenyum manis.
"Sudah ijin sama papanya?" tanya Lili.
"Sudah, tante. Nanti papa mau jemput ke rumah kata opa" ucap Nadeline.
Lili hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Sedangkan Aldo sudah cemberut karena mengetahui jika Brama nanti akan datang ke rumahnya ini. Walaupun untuk menjemput Nadeline, namun Andre merasakan sedikit kecemburuan.
"Kenapa sih itu papanya Nadeline pakai jemput ke sini segala? Lebih baik sopir keluarga saja yang jemput atau kita yang antar. Malas sekali aku lihat mukanya itu" bisik Aldo tepat pada telinga Lili.
"Hush..."
Lili bahkan langsung menegur suaminya dari tatapan tajamnya itu. Keduanya segera saja pergi memasuki kamar setelah menyapa Kei juga. Mereka tak ingin terlalu dekat dengan anak-anak sebelum membersihkan diri.
***
"Selamat sore menjelang malam, Tuan Tito. Saya ke sini untuk menjemput Nadeline agar segera pulang ke rumah" ucap Brama pada Papa Tito yang menyambut kedatangannya.
"Jangan kaku begitu, panggil saya om atau papa juga boleh. Ayo masuk ke ruang keluarga, Nadeline ada di sana sedang bermain dengan adiknya" ajak Papa Tito.
Brama dan Papa Tito pun berjalan menuju ke ruang keluarga sambil berbincang mengenai perusahaan. Tak berapa lama, keduanya sampai di ruang keluarga. Di sana sudah ada Mama Nei dan tiga anak kecil yang tengah bercanda di ruang keluarga.
"Serunya... Pada ngomongin apaan sih?" tanya Brama yang langsung menyapa anaknya dan teman Nadeline.
"Papa..." seru Nadeline saat melihat sang papa sudah datang.
Nadeline telah berganti pakaian dan mandi. Ia menggunakan baju ganti yang dibawanya dari mobil sang sopir yang biasa disimpannya itu. Nadeline langsung memeluk papanya dengan erat, seakan rindu itu terobati.
"Anak papa sudah wangi. Kamu sudah mandi, nak?" tanya Brama pada anaknya.
"Iya, papa. Nadeline sudah mandi. Tadi dibantu sama oma" jawab Nadeline.
__ADS_1
Brama menganggukkan kepalanya dan mengucapkan terimakasih kepada Mama Nei. Brama dan Papa Tito ikut duduk di sana kemudian membahas tentang beberapa hal. Bahkan Brama sempat juga betinteraksi dengan Baby Della.
"Papa, Baby Della lucu lho. Nadeline juga nau punya adik kaya Baby Della" ucap Nadeline yang menatal penuh harap kearah papanya.
"Do'akan saja ya biar keluarga kita segera ada adik kecil lagi" ucap Brama dengan bijaknya.
"Jangan lama-lama ya, papa" ucap Nadeline.
Brama hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan kaku. Ia juga bingung harus menjawab apa mengenai pertanyaan yang diajukan oleh anaknya itu. Padahal ia belum punya calon istri lagi, namun anaknya malah meminta adik.
"Cari istri makanya. Jangan kebanyakan bekerja keras tapi nggak ada yang bisa dipeluk" bisik Aldo yang baru saja datang.
Brama sampai tersentak kaget dan mengelus dadanya sabar. Ia tak menyangka kalau Aldo akan membisikkan sesuatu yang membuatnya kesal. Papa Tito hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah keduanya yang seperti anak kecil kalau bertemu.
"Sialan. Banyak perempuan yang antri jadi istriku. Tapi aku memang belum niat cari istri lagi" ucap Brama dengan pelan.
"Dih... Nggak laku aja pakai ngelak segala" ucap Aldo yang memang tak suka dengan kehadiran Brama di rumahnya.
Aldo langsung duduk di samping Baby Della dan mencium pipinya berulangkali. Baby Della sampai merengek karena ulah dari Aldo itu. Bahkan Kei sampai menatap kesal kearah papanya yang mulai memonopoli adiknya itu.
"Baby Della itu anakku. Kamu saja sana yang pergi" ucap Aldo mengusir anaknya sendiri.
Kei kesal karena diusir oleh Aldo itu. Kei menatap mamanya yang tersenyum kearahnya. Lili langsung memeluk Kei dari samping sambil mengusap rambutnya dengan lembut.
"Mama, papa akal. Macak Kek diucil bial ndak detat-detat cama adit" ucap Kei yang mengadu pada Lili tentang sikap papanya.
"Dasar tukang ngadu" ucap Aldo yang meledek anaknya itu.
Kei hanya menjulurkan lidahnya seakan tengah mengejek Aldo. Nadeline juga mendekat kearah Lili membuat peremuan itu memeluk gadis cilik itu. Lili tahu kalau Nadeline memang kekurangan kasih sayang dari seorang ibu. Jadi Lili takkan melarang Nadeline untuk menganggapnya seorang ibu.
"Nadeline kok lesu?" tanya Lili yang penasaran dengan wajah cemberut Nadeline.
"Nadeline ingin menginap di sini saja terus tidur sama adek" ucap Nadeline.
"Nggak bisa gitu, nak. Nanti papa sama siapa tidurnya kalau kamu menginap di sini? Kasihan juga di sini nggak ada kamar kosong" ucap Brama menyela pembicaraan mereka.
__ADS_1
Sontak saja Aldo langsung menatap kearah Brama. Ia menatapnya dengan sinis karena seperti diremehkan oleh Brama ini. Padahal mansionnya ini besar dan luas, tak mungkin jika tidak ada kamar kosong di dalamnya.
"Masa rumah sebesar ini nggak ada kamar kosongnya? Kamu meledek atau menyindir saya?" tanya Aldo dengan sinisnya.
"Berisiklah kau ini. Ini cuma alasan basa-basi. Udah gede gitu aja nggak tahu" ucap Brama yang kesal dengan Aldo.
Tentu saja Brama kesal dengan Aldo yang sama sekali tak peka dengan apa yang dilakukannya. Padahal Brama itu hanya berniat untuk memberi alasan kepada anaknya agar tak menginap di rumah Aldo. Namun malah Aldo mengacaukan semuanya membuat Nadeline semakin ingin menginal di sini.
"Papa, Nadeline mau tidur sama adik Della. Boleh ya?" tanya Nadeline pada Brama.
"Besok kan masih bisa ketemu lagi, nak. Kita pulang ya? Papa juga nggak bawa baju ganti nih kalau harus menemani kamu di sini. Kamu juga nggak bawa baju tidur kan?" tanya Brama mencoba membujuk anaknya.
Nadeline manampakkan raut sedihnya karena mendengar larangan dari Brama. Padahal ia sungguh ingin menginap di rumah ini. Ia ingin tidur bersama Baby Della yang tentu tak bisa. Apalagi Baby Della pasti akan tidur dengan Lili dan Kei. Sedangkan jika Nadeline di sini, posisi Aldo pasti akan tergusur.
"Pokoknya Nadeline mau nginap di sini. Papa tinggal pinjam bajunya Om Aldo saja. Kan Om Aldo badannya hampir sama dengan papa. Kalau enggak, nanti minta sopir antar baju papa dan Nadeline" ucap Nadeline memutuskan.
Brama menatap Lili dan Mama Nei agar membantunya membujuk Nadeline untuk ikut pulang. Namun keduanya malah tersenyum seakan tak setuju dengan keinginan Brama.
"Papa kamu itu juga nggak akan mau menginap di rumah ini, Nad. Jadi yang menginap di sini kamu saja ya?" ucap Mama Nei.
"Ya sudah, Nadeline menginap di sini sendiri saja. Besok kan weekend dan sekolah Nadeline libur, jadi nggak papa kalau menginap di sini. Ya kan, papa?" tanya Nadeline.
Melihat tatapan anaknya membuat Brama tak tega dengan Nadeline. Brama segera saja menganggukkan kepalanya membuat Nadeline dan Kei bersorak senang. Akhirnya mereka hanya akan menyusahkan Aldo. Malam ini Aldo harus tidur di sofa atau tidak pada beda kamar.
***
"Papa tidulna di lual caja. Tempat tidulna ndak muat talo papa tidul di cini" ucap Kei yang mengusir papanya dari kamar.
"Hei... Masa begitu sih. Nggak maulah kalau papa tidur di luar. Orang tempat tidurnya luas begitu kok" ucap Aldo yang tak mau kalau sampai tidur beda kamar dengan istrinya.
Lili langsung mendekat kearah Aldo dan Kei yang masih berdebat. Lili menarik tangan suaminta agar ikut keluar dari kamar. Aldo kebingungan dengan apa yang dilakukan oleh istrinya itu.
"Papa tidurnya di kamar lain saja ya. Mama nggak mau sempit-sempitan. Apalagi ada Nadeline juga di sini" ucap Lili yang langsung masuk dalam kamarnya.
Jika kejadiannya seperti ini, lebih baik Aldo tadi ikut menurut ucapan Brama. Pasti ia takkan mengijinkan Nadeline menginap di sini kalau ia malah disuruh tidur di kamar lain. Dengan langkah gontainya, Aldo berjalan kearah kamar Kei dan tidur di sana.
__ADS_1