Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Penculikan


__ADS_3

Polisi ikut mengejar Dokter Adnan yang membawa Lili. Apalagi bukti rekaman CCTV yang ada dikirim pada pihak yang berwajib, membuat mereka bergerak dengan cepat. Aldo sendiri sudah menghubungi papanya agar membantu memantau posisi Lili.


"Pak, lebih baik kita bawa senjata apa gitu. Kalau dengan tangan kosong, khawatirnya itu Dokter Adnan bawa sesuatu yang membahayakan" ucap satpam itu memberitahu.


"Apa gunanya itu pemukul di baju seragam kamu? Itu di belakang juga ada balok kayu yang lumayan kalau buat getok kepala orang" ucap Aldo dengan sedikit sinis.


Pasalnya Aldo sedang panik dan memikirkan cara menyelamatkan istrinya. Namun malah satpam yang ada di sebelahnya itu sangat berisik. Ia jadi sedikit terganggu konsentrasinya setelah mendengar ucapam dari satpam itu.


Sedangkan satpam itu hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Namun tak ayal ia juga melihat kearah belakang mobil dan benar saja kalau ada sebuah balok kayu. Satpam itu sedikit heran dengan Aldo yang membawa balok kayu di dalam mobil. Namun ia tak berani bertanya.


"Ikuti maps yang dikirim oleh papa saya. Kalau saya salah jalan, langsung bilang" titah Aldo pada satpam itu.


Satpam itu pun langsung saja menatap pada ponsel yang di pasang pada dekat kemudi. Ia terus mengarahkan Aldo hingga jam sampai menunjukkan pukul 1 dini hari, maps yang ada di ponselnya itu berhenti.


"Pak, kita sudah sampai. Ini mapsnya sudah nggak jalan" ucap satpam itu.


Aldo segera menghentikan mobilnya dan melihat kearah sekitar. Ternyata ini mengarah pada sebuah gedung tua yang terbengkalai. Bahkan Aldo sendiri tak tahu ini dimana tempatnya. Namun kini matanya menyipit saat melihat sebuah mobil yang dikenalinya.


"Itu mobilnya Adnan. Sialan... Berani-beraninya dia bawa istriku ke tempat kotor dan tak berpenghuni seperti ini" ucap Aldo sambil mengumpati pegawainya itu.


"Ayo kita turun. Eh... Kamu di sini saja. Kalau ada polisi sudah sampai sini, suruh nyusul saya ke dalam" ucap Aldo memberi perintah.


"Baik, pak" ucap satpam itu dengan patuh.


Satpam itu sebenarnya sudah mengantuk. Hanya saja demi nyawa seorang manusia, ia rela untuk membuka matanya lebar-lebar. Apalagi ini yang mengalami kejadian adalah istri dari pemilik rumah sakit.


"Ada-ada aja sih, dok. Main culik istri orang. Nggak sayang apa sama pekerjaannya? Apalagi fasilitas dan tunjangan yang diberikan oleh Pak Aldo juga nggak main-main. Kehilangan berlian hanya demi obsesi semata" gumam satpam itu sambil geleng-geleng kepala.


***

__ADS_1


Aldo masuk ke dalam gedung tua itu dengan pelan. Bahkan ia melangkahkan kakinya pelan agar Dokter Adnan tak mengetahui kedatangannya. Ia juga tak tahu ada jebakan apa di sini sehingga harus berhati-hati.


"Sial... Mana di sini gelap amat" gumamnya sambil geleng-geleng kepala.


Ia tak mungkin menyalakan senter pada ponselnya karena akan menimbulkan kecurigaan. Ia hanya mengandalkan cahaya bulan untuk menerangi jalanan yang ada di sana. Apalagi di sini banyak sekali bahan material bangunan yang tak terpakai.


"Awas saja kau, Adnan. Kau belum pernah melihat bagaimana kemarahan seorang Aldo. Jangan pernah menyesal karena mengusik milikku" gumamnya dengan kedua tangan yang mengepal erat.


"Jangan sentuh pipiku dengan tangan kotormu itu"


"Jangan memberontak atau kau akan mengandung benihku di dalam perutmu itu"


"Kau nggak waras. Kau tak cocok sebagai seorang dokter"


Seruan itu membuat Aldo mempercepat langkahnya. Ia mendengar kalau harga diri istrinya tengah dinodai. Ia tak terima, ia akan menghabisi siapapun yang merusak miliknya itu. Aldo pergi berjalan kearah suara Lili itu dan bersembunyi di balik tembok.


"Suamimu itu takkan pernah bisa menemukanmu di sini. Apalagi baru saja aku sudah mengacak-acak sinyal yang ada di sekitar sini" ucap Adnan dengan penuh keyakinan.


Plakk...


Tamparan yang menggema di salah satu ruangan pada gedung tua itu membuat Aldo yang tadi melamun langsung tersentak kaget. Bahkan ia melihat rambut Lili berantakan dan menutupi wajahnya. Saat ini Lili tengah duduk di sebuah kursi dengan kedua tangan dan kaki diikat ke belakang menggunakan tali.


"Brengsek..." seru Aldo yang melihat istrinya itu tak berdaya seperti ini.


Aldo tak terima dengan apa yang dilakukan oleh Dokter Adnan itu pada istrinya. Aldo memilih keluar dari tempat persembunyiaannya membuat Dokter Adnan terkejut. Bahkan Lili juga sama terkejutnya dengan kehadiran suaminya itu.


"Kalau berani, lawan saya. Bukan malah menampar atau menyiksa fisik istriku. Pengecut..." sentak Aldo.


"Bagaimana kalau kau melihat ibumu ku siksa di depanmu, ha? Mikir jadi orang" lanjutnya.

__ADS_1


Bahkan kini Dokter Adnan langsung berhadapan dengan Aldo. Posisi Lili sendiri berada di belakang tubuh Dokter Adnan. Tak terlihat raut wajah bersalah sama sekali dari laki-laki itu karena menculik istri atasannya. Hanya ada setitik sendu saat Aldo mengancamnya dengan kata ibu.


"Terserah saya dong. Ini juga salah istrimu yang tak mau menerima cintaku. Padahal perempuan lain saja mengantri untuk menjadi kekasihku" seru Dokter Adnan tak terima dengan ucapan dari Aldo.


"Kau ini sekolah tinggi-tinggi tapi bodoh karena perempuan ya. Dia itu statusnya seorang istri, mana ada seorang istri menerima cinta dari seorang laki-laki lain? Hanya orang nggak waras yang akan melakukan itu" ucap Aldo sambil terkekeh pelan.


Aldo masih tak menyangka jika bisa menemukan seorang dokter yang kejiwaannya terganggu di rumah sakitnya. Padahal semuanya sudah melalui tes seleksi kompetensi dan kejiwaan.


"Itu hanya berlaku bagi anda. Bagi saya, itu normal" ucap Dokter Adnan dengan santainya.


Tentu saja ucapan itu memicu kekesalan pada diri Aldo. Tanpa berkata apapun lagi, Aldo langsung menyerang Dokter Adnan. Apalagi melihat wajah Lili yang sudah sangat lelah.


Bugh... Dugh... Bugh..


Arrghh...


Sialan...


"Rasakan itu, makanya jangan main-main denganku" ucap Aldo yang berhasil menumbangkan Dokter Adnan.


Bahkan kini Dokter Adnan sudah terbaring di atas lantai yang kotor. Melihat hal itu, Aldo segera saja mendekat pada Lili dan mencoba melepaskan ikatan talinya dengan cepat. Lili tersenyum tipis melihat aksi Aldo yang rela wajahnya kena pukul demi menyelamatkannya.


"Tenang ya. Kita pasti akan segera keluar dari sini dengan selamat" ucap Aldo mencoba menenangkan istrinya itu.


"Takkan semudah itu kalian pergi dari sini" teriak Dokter Adnan yang tiba-tiba bangkit dari baringannya.


Bahkan Dokter Adnan mengangkat sebuah kursi dan hendak memukulkannya kearah Aldo. Sontak saja itu membuat Aldo dan Lili membelalakkan matanya.


Awas...

__ADS_1


Dor...


__ADS_2